Rekan-rekan yth.,

Saya juga pernah mendapatkan cerita serupa dari teman, namun kejadiannya
di pulau Madura.

Ketika pak Habibie (waktu itu masih Menristek) berkunjung ke P. Madura
untuk suatu acara tertentu, beliau tergelitik oleh informasi stafnya,
bahwa kebanyakan orang Madura mau sekolah hanya sampai kelas 3 SD.
Setelah itu mereka terjun ke pekerjaan. Karena pingin tahu tingkat
kecerdasannya, pak Habibie secara informal mendekati salah satu orang
Madura yang ada di acara tsb dan bertanya:

"Pak, boleh nggak saya tanya sesuatu ke Bapak?"
"Oh....., boleh pak, boleh...", jawab pak Madura ini.
"Bapak lihat khan tiang bendera itu?, bagaimana cara mengukur
tingginya?" tanya lagi pak Habibie.
"Oh itu....., gampang pak. Bawa saja tali yang panjang. Ikat satu
ujungnya dengan batu, lalu panjat itu tiang bendera sambil bawa talinya.
Sampai diatas, ulur talinya sampai batunya menyentuh tanah, dan kasih
tanda tali yang kita pegang sesuai dengan tingginya tiang bendera.
Setelah turun, kita bisa dapat itu tingginya tiang bendera dengan
mengukur tali tadi", demikian jawab pak Madura tsb dengan bangganya.
"Wah pak, itu khan berbahaya pak. Beresiko pak", kata pak Habibie.
"Begini pak, ada cara yang praktis dan lebih mudah", lanjut pak Habibie.
"Di bawah tiang bendera itu khan ada engselnya. Nah, lepaskan itu
engselnya, lalu rebahkan tiang benderanya. Lalu, ukur itu tiang
benderanya. Gampang khan..?" kata pak Habibie lagi.
"Tidak pak. Sampeyan salah....., itu ngukur panjang, bukan ngukur
tinggi..!!", sanggah pak Madura dengan mendelik juga.
Pak Habibie:" .......??????".

Salam,
Budi

A. Syamil wrote:
>
> Salam Permias,
>
> Saya dapatkan cerita di bawah dari seorang teman.
> Selamat menikmati.
>
> Jabat erat,
>
> Ahmad Syamil
>
> -----------------------------------------------------------------------
> Mengukur Ketinggian dengan menggunakan Barometer
> ------------------------------------------------
>
> Cerita berikut berkisar sekitar salahsatu pertanyaan dalam ujian fisika
> di Universitas Copenhagen: "Jelaskan bagaimana menetapkan tinggi suatu
> bangunan pencakar langit dengan menggunakan sebuah barometer."
>
> Salah seorang mahasiswa menjawab: "Ikatlah suatu tali panjang pada leher
> barometer, lalu turunkan barometer dari atap pencakar langit sampai
> menyentuh tanah. Panjang tali ditambah panjang barometer akan sama dengan
> tinggi pencakar langit."
>
> Jawaban yang luar biasa orisinilnya ini membuat pemeriksa ujiannya begitu
> geram sehingga akibatnya sang mahasiswa langsung tidak diluluskan.  Si
> mahasiswa naik banding atas dasar bahwa jawabannya tidak bisa disangka
> kebenarannya, sehingga universitas menunjuk seorang arbiter yang
> independen untuk memutuskan kasusnya.
>
> Arbiter menyatakan bahwa jawabannya memang betul2 benar, hanya saja tidak
> memperlihatkan secuil pun pengetahuan mengenai ilmu fisika.  Untuk
> mengatasi permasalahannya, disepakati bahwa sang mahasiswa akan dipanggil,
> serta akan diberikan waktu enam menit untuk memberikan jawaban verbal yang
> menunjukkan paling tidak sedikit latar belakang pengetahuannya mengenai
> prinsip2 dasar ilmu fisika.
>
> Selama lima menit, si mahasiswa duduk tepekur, sampai dahinya terlihat
> berkerut.  Arbiter mengingatkan bahwa waktu sudah sangat terbatas, yang
> mana sang mahasiswa menjawab bahwa ia sudah memiliki berbagai jawaban yang
> sangat relevan, tetapi tidak bisa memutuskan yang mana yang akan dipakai.
> Saat diingatkan hakim untuk ber-buru2, sang mahasiswa menjawab sbb:
> "Pertama-tama, ambillah barometer dan bawalah sampai ke atap pencakar
> langit.  Lemparkan melewati pinggir atap, dan ukurlah waktu yang
> dibutuhkan untuk mencapai tanah.  Ketinggian bangunan bisa dihitung dari
> rumus H = 0.5g x t pangkat 2.  Tetapi ya sayang barometernya."
>
> "Atau, bila matahari sedang bersinar, anda bisa mengukur tinggi barometer,
> tegakkan diatas tanah, dan ukurlah panjang bayangannya.  Setelah itu,
> ukurlah panjang bayangan pencakar langit, sehingga hanya perlu perhitungan
> aritmatika proporsional secara sederhana untuk menetapkan ketinggian
> pencakar langitnya."
>
> "Tapi kalau anda betul2 ingin jawaban ilmiah, anda bisa mengikat seutas
> tali pendek pada barometer dan menggoyangkannya seolah pendulum, pertama
> di permukaan tanah kemudian saat diatas pencakar langit. Ketinggian
> pencakar langit bisa dihitung atas dasar perbedaan kekuatan gravitasi T =
> 2 pi akar dari (l/g)."
>
> "Atau kalau pencakar langitnya memiliki tangga darurat yang eksternal,
> akan mudah sekali untuk menaiki tangga, lalu menggunakan panjangnya
> barometer sebagai satuan ukuran pada dinding bangunan, sehingga tinggi
> pencakar langit = penjumlahan seluruh satuan barometernya pada dinding
> pencakar langit."
>
> "Bila anda hanya ingin membosankan dan bersikap ortodoks, tentunya anda
> akan menggunakan barometer untuk mengukur tekanan udara pada atap pencakar
> langit dan di permukaan tanah, lalu mengkonversikan perbedaannya dari
> milibar ke satuan panjang untuk memperoleh ketinggian bangunan."
>
> "Tetapi karena kita senantiasa ditekankan agar menggunakan kebebasan
> berpikir dan menerapkan metoda-metoda ilmiah, tentunya cara paling tepat
> adalah mengetuk pintu pengelola gedung dan mengatakan: 'Bila anda
> menginginkan barometer baru yang cantik, saya akan memberikannya pada anda
> jika anda memberitahukan ketinggian pencakar langit ini."
>
> Mahasiswa tersebut adalah Niels Bohr, satu-satunya warga Denmark yang
> memenangkan hadiah Nobel untuk Fisika.

Kirim email ke