Salam Permias,

Saya dapatkan cerita di bawah dari seorang teman.
Selamat menikmati.

Jabat erat,



Ahmad Syamil

-----------------------------------------------------------------------
Mengukur Ketinggian dengan menggunakan Barometer
------------------------------------------------

Cerita berikut berkisar sekitar salahsatu pertanyaan dalam ujian fisika
di Universitas Copenhagen: "Jelaskan bagaimana menetapkan tinggi suatu
bangunan pencakar langit dengan menggunakan sebuah barometer."

Salah seorang mahasiswa menjawab: "Ikatlah suatu tali panjang pada leher
barometer, lalu turunkan barometer dari atap pencakar langit sampai
menyentuh tanah. Panjang tali ditambah panjang barometer akan sama dengan
tinggi pencakar langit."

Jawaban yang luar biasa orisinilnya ini membuat pemeriksa ujiannya begitu
geram sehingga akibatnya sang mahasiswa langsung tidak diluluskan.  Si
mahasiswa naik banding atas dasar bahwa jawabannya tidak bisa disangka
kebenarannya, sehingga universitas menunjuk seorang arbiter yang
independen untuk memutuskan kasusnya.

Arbiter menyatakan bahwa jawabannya memang betul2 benar, hanya saja tidak
memperlihatkan secuil pun pengetahuan mengenai ilmu fisika.  Untuk
mengatasi permasalahannya, disepakati bahwa sang mahasiswa akan dipanggil,
serta akan diberikan waktu enam menit untuk memberikan jawaban verbal yang
menunjukkan paling tidak sedikit latar belakang pengetahuannya mengenai
prinsip2 dasar ilmu fisika.

Selama lima menit, si mahasiswa duduk tepekur, sampai dahinya terlihat
berkerut.  Arbiter mengingatkan bahwa waktu sudah sangat terbatas, yang
mana sang mahasiswa menjawab bahwa ia sudah memiliki berbagai jawaban yang
sangat relevan, tetapi tidak bisa memutuskan yang mana yang akan dipakai.
Saat diingatkan hakim untuk ber-buru2, sang mahasiswa menjawab sbb:
"Pertama-tama, ambillah barometer dan bawalah sampai ke atap pencakar
langit.  Lemparkan melewati pinggir atap, dan ukurlah waktu yang
dibutuhkan untuk mencapai tanah.  Ketinggian bangunan bisa dihitung dari
rumus H = 0.5g x t pangkat 2.  Tetapi ya sayang barometernya."

"Atau, bila matahari sedang bersinar, anda bisa mengukur tinggi barometer,
tegakkan diatas tanah, dan ukurlah panjang bayangannya.  Setelah itu,
ukurlah panjang bayangan pencakar langit, sehingga hanya perlu perhitungan
aritmatika proporsional secara sederhana untuk menetapkan ketinggian
pencakar langitnya."

"Tapi kalau anda betul2 ingin jawaban ilmiah, anda bisa mengikat seutas
tali pendek pada barometer dan menggoyangkannya seolah pendulum, pertama
di permukaan tanah kemudian saat diatas pencakar langit. Ketinggian
pencakar langit bisa dihitung atas dasar perbedaan kekuatan gravitasi T =
2 pi akar dari (l/g)."

"Atau kalau pencakar langitnya memiliki tangga darurat yang eksternal,
akan mudah sekali untuk menaiki tangga, lalu menggunakan panjangnya
barometer sebagai satuan ukuran pada dinding bangunan, sehingga tinggi
pencakar langit = penjumlahan seluruh satuan barometernya pada dinding
pencakar langit."

"Bila anda hanya ingin membosankan dan bersikap ortodoks, tentunya anda
akan menggunakan barometer untuk mengukur tekanan udara pada atap pencakar
langit dan di permukaan tanah, lalu mengkonversikan perbedaannya dari
milibar ke satuan panjang untuk memperoleh ketinggian bangunan."

"Tetapi karena kita senantiasa ditekankan agar menggunakan kebebasan
berpikir dan menerapkan metoda-metoda ilmiah, tentunya cara paling tepat
adalah mengetuk pintu pengelola gedung dan mengatakan: 'Bila anda
menginginkan barometer baru yang cantik, saya akan memberikannya pada anda
jika anda memberitahukan ketinggian pencakar langit ini."

Mahasiswa tersebut adalah Niels Bohr, satu-satunya warga Denmark yang
memenangkan hadiah Nobel untuk Fisika.

Kirim email ke