Rekan-rekan yth.,

Saya pernah melemparkan gagasan untuk sedikit 'membantu' mengatasi
permasalahan di Indonesia saat ini. Kalau gagasan ini bisa didiskusikan
untuk dimatangkan lalu dikirimkan ke pejabat pemerintah, legislatif,
pimpinan partai, dan para pengamat ekonomi/politik atas nama Permias
barangkali ada baikknya pula, mengingat segala keterbatasan kita sebagai
mahasiswa saat ini.

Perkenankan saya memposting ulang tulisan saya di bulan Januari lalu:

Subject: Re: gimana caranya...(sibukkan dengan hal lain)
Date: Tue, 4 Jan 2000 12:06:53 -0800
From: Budi Haryanto <[EMAIL PROTECTED]>

Saya terpikir satu cara untuk mengatasi kemelut ini, yaitu sibukkan
masyarakat dengan hal lain, yang menyentuh ke permasalahan perorangan,
yaitu duit atau penghasilan. Kenapa? Saya masih berkeyakinan bahwa akar
dari beringasnya masyarakat adalah karena beratnya beban ekonomi dalam
kurun 3 - 4 tahun terakhir. Segala sesuatu menjadi mahal dan sulit
terjangkau bagi kebanyakan rakyat. Sementara itu pemerintah dan aparat
keamanan banyak melakukan hal-hal yang melanggar hukum dan tidak adil.
Akumulasi dari berbagai hal inilah yang menjadikan masyarakat kita
'sakit'. Kasus Ambon, Aceh, lalu Halmahera hanya tinggal menunggu waktu
saja untuk terjadi juga di daerah-daerah lain. Kenapa tidak? Saudara,
famili, dan teman dari mereka yang saling membantai tersebut adalah
tersebar di seluruh Indonesia, dan yang namanya balas dendam, tidak
pernah mengenal batas wilayah dan waktu. Apakah kita hanya menunggu saja
kejadian buruk ini terjadi lagi di daerah lain? Saya yakin, tentu tidak!

Lalu bagaimana caranya?
Pertama kali, bagi daerah yang bertikai, sudah barang tentu harus
dihentikan pertikaian tsb. Dan ini tentulah tugas dari aparat keamanan
yang netral dan tidak berpihak. Bagaimana caranya? Ya biar TNI/POLRI
yang mikirin ini, khan sudah pekerjaan dan bidangnya. Kalau nggak bisa,
ya masak saya yang rakyat jelata ini harus jadi Pangab dulu untuk
mengatasi hal tsb? Bisa gila dunia ini kalau itu terjadi.

Kedua (untuk seluruh daerah di Indonesia), terapkan modifikasi UU No.25
tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah dan UU No.22 tentang
Pemerintah Daerah (otonomi) segera. Maksud saya modifikasi di sini
adalah, kalau di UU 25 hanya sebesar sekitar 18% pendapatan daerah yang
akan dikembalikan ke daerah tsb, ubah menjadi 50%. Ini akan bikin pening
daerah karena datangnya duit yang sedemikian banyaknya. Modifikasi UU 22
adalah beri peluang luas bagi daerah untuk membuat sendiri visi dan misi
(arah) pembangunan daerah yang diinginkannya. Dengan dua hal tsb, akan
terjadi guliran dinamisasi pembelanjaan dana dan pembangunan di daerah.
Misalnya saja, gaji pegawai akan ditingkatkan (dengan konsekuensi harus
profesional dan tidak boleh mangkir). Karena banyak duit, maka peluang
terbukanya pasar kebutuhan berbagai keperluan akan marak. Sudah barang
tentu hal ini akan dimanfaatkan sebaik mungkin oleh para swasta. Di sisi
SDM, karena duit sekarang ada di daerah, maka banyak orang berkualitas
di pusat akan hijrah ke daerah (karena kemungkinan bisa digaji lebih
atau gaji sama dengan tingkat pengeluaran yang lebih murah) yang pada
gilirannya akan menjadikan lebih dinamisnya segala kegiatan di daerah.
Nah kalau secara natural hal ini terus bergulir, jadi sibuklah setiap
orang dan bergairah untuk bekerja. Lupalah orang akan pekerjaan tambahan
banta-membantai seperti selama ini.

Mungkin nggak sih?
Nunggu komentar untuk tulisan berikutnya.

Salam,
Budi

Dody Ruliawan wrote:
>
> Saya menduga-duga pikiran bung Anjas, apakah "harapan" bung Anjas terhadap
> mahasiswa-mahasiswa di USA (juga sekaligus organisasinya - PERMIAS) ini
> terlalu tinggi?
>
> Realistis saja, namanya juga mahasiswa, dimana pun sama - pasti sibuk
> belajar supaya
> bisa lulus dengan nilai yang baik. Sebagian lainnya juga sibuk bekerja
> karena tidak
> semua mahasiswa memiliki uang yang cukup untuk membayar ini itu sampai
> dengan lulus nanti.
>
> Sementara itu di - nun jauh di sana - di Indonesia, banyak terjadi
> peristiwa-peristiwa
> yang mengakibatkan perekonomian "terpuruk" dan kehidupan tidak bisa berjalan
> normal. Banyak
> PHK, yang tidak diPHK juga banyak yang tidak cukup punya uang untuk membeli
> kebutuhan
> dasar seperti pangan dan obat-obatan karena harga-harga melambung tinggi
> sedangkan gajinya
> tidak naik (sudah syukur tidak diPHK). Yang lebih buruk lagi adalah adanya
> kerusuhan
> di beberapa daerah sehingga banyak warga yang terpaksa mengungsi dari
> daerahnya sehingga
> otomatis akan mempersulit mereka untuk mendapatkan uang untuk hidup.
>
> Kalau mau bicara angka-angka, pada tahun 1997 itu penduduk yang hidup di
> bawah garis
> kemiskinan sekitar 20%, tahun 1999 dilaporkan lebih dari 60%, berarti memang
> kondisinya
> benar-benar memburuk.
> Nah, siapa yang jadi korban? Umumnya korban ini yang dibilang sebagai
> "rakyat kecil" yaitu
> mereka-mereka yang tidak mampu mengatasi pengaruh memburuknya ekonomi.
> Sebenarnya "rakyat
> kecil" ini yang memerlukan bantuan. Mereka mengharapkan para pemimpin
> (istilah sekarang
> elite politik) agar mampu memperbaiki perekonomian dan meniadakan kerusuhan,
> tetapi seperti
> kita ketahui bersama, saat ini para elit politik itu kan sekarang dinilai
> tidak mampu
> untuk memecahkan masalah, malah mereka cenderung untuk mengutamakan
> kepentingan mereka
> sendiri, misalnya rebutan untuk jadi presiden (sampai-sampai jabatan Ketua
> MPR-pun
> dibilang "memang tinggi tetapi kakinya tidak menyentuh ke bumi", jadi
> jabatan ini dinilai
> tidak lebih berharga daripada Presiden).
> Kemudian, masalah yang dihadapi ini kan tidak bisa dipecahkan dengan cara
> demo mahasiswa.
> Rezim yang lama sudah diganti (demo mahasiswa memberikan kontribusi besar),
> lalu apa lagi?
>
> Yang mesti kita cermati adalah statement bung Amien Rais. AR menyatakan
> bahwa gus Dur tidak
> punya visi dalam menyelesaikan masalah di Indonesia. Berita yang saya baca
> terakhir sih
> AR sebenarnya tidak hanya menunjuk gus Dur, tetapi juga dirinya sendiri,
> saya kurang jelas
> mana yang benar.
> Point yang saya soroti adalah bahwa "Pemerintah tidak punya visi".
>
> Point ini yang saya hubungkan dengan peluang PERMIAS untuk memberikan
> kontribusi
> bagi pemecahan masalah di Indonesia. Sederhana saja, dari dulu kelebihan
> mahasiswa itu
> kan dalam hal "olah pikir". Ada juga sih mahasiswa yang maunya memberikan
> kontribusi lewat "olah demo" yang ada akibat positif dan negatifnya.
>
> Jadi jelas yang diharapkan dari PERMIAS (oleh rakyat kecil) adalah
> kontribusi "olah pikir"
> ini.
> Kalau dulu-dulu PERMIAS kontribusinya dengan mengirimkan "pernyataan
> keprihatinan",
> sekarang saya usulkan diganti dengan mengirimkan "Visi PERMIAS dalam
> penyelesaian
> masalah pokok yang dihadapi RI".
> Tidak usah berkotek-kotek bilang gus Dur tidak punya visi, langsung saja
> berkokok
> "ini visi (PERMIAS) saya"........
>
> Caranya? Buat saja seminar semacam Seminar Perubahan UUD'45 yang
> diselenggarakan
> di College Station minggu lalu.
> (buat Yolanda, berapa yang hadir, dan hasilnya apa? tolong dong disebarkan
> lewat milis,
> pasti rekan-rekan juga ingin tahu, thanks).
> Saya yakin panitia yang sama bisa menyelenggarakan seminar "Visi PERMIAS"
> ini dengan
> lebih sukses.....
>
> Kalau perlu ya undang saja bung Dubes (termasuk Konjen) supaya lebih mantap
> diskusinya.
>
> Salam,
> Dody
>
> Note:
> Saya tidak mengharapkan bung Anjas untuk menyelenggarakan seminar atau
> menulis draft duluan
> karena saya yakin kelebihan masing-masing orang itu berbeda, dalam hal ini
> saya melihat
> bahwa kelebihan bung Anjas adalah mendorong (ngompori gitu) agar PERMIAS
> bergerak.
> Saya sih yakin presiden PERMIAS di masing-masing state lebih tahu kelebihan
> para
> anggotanya, mana yang ahli menyelenggarakan seminar, mana yang jago nulis,
> mana yang pemikir
> dsb.....jadi kita dorong agar ada sinergi gitu. Saya lihat presiden yang
> beraksi kok
> cuma bung Faran saja ya.....(sorry yang lain ngga' tahu jabatannya sih...).
>
> -----Original Message-----
> From: Indonesian Students in the US [mailto:[EMAIL PROTECTED]]On
> Behalf Of MAgrETa yOLanDA
> Sent: Tuesday, July 18, 2000 1:32 AM
> To: [EMAIL PROTECTED]
> Subject: Re: Mana suara PERMIAS?
>
> halo..
>
> selama ini saya ga pernah bersuara, tapi kayaknya kali ini, ga ada
> salahnya saya kasi komen pribadi dikit...
>
> kenapa permias sepertinya ga ada yang peduli?  selaen dari jawaban yang
> mas faran berikan, saya ingin menambahkan, kalo memang kita peduli dan
> ingin membantu, kira2 bantuan seperti apa yang bisa kita berikan?
>
> kita semua kan mahasiswa indonesia yang berada di US, jauh dari
> indonesia...  kalo pun tindakan permias yang hanya membuat pernyataan
> prihatin, saya rasa itu tidak cukup, kalo mas anjas memang bermaksud laen
> dalam ajakannya itu...  pernyataan prihatin itu kan cumah hitam diatas
> putih, yang kadang2 malah akan disepelekan...
>
> nah, kira2 kalo mas anjas mau mengajak kita2 mahasiswa di US untuk
> bergerak, kira2 gerakan dan bantuan seperti apa yang bisa kita berikan?
> itu pertanyaannya..
>
> *peace*
>
>               ++++++++++ smile can brighter your day ++++++++++
>
> ____________NetZero Free Internet Access and Email_________
> Download Now     http://www.netzero.net/download/index.html
> Request a CDROM  1-800-333-3633
> ___________________________________________________________

Kirim email ke