Untuk Mbak Yolanda, jangan kecil hati bahwa suara kita tidak akan didengar.
Yang penting PEMASARAN-nya! Masalah pemikiran-pemikiran kita, wah
orang-orang Indonesia (dalam hal ini pejabat) sangat mengharapkan. Saya
pribadi saja malah dikejar-kejar untuk memberi sumbang saran (tentunya untuk
bidang saya). Kenapa begitu? Karena sebagai student, kita ini dianggap bebas
dari bias politik. Apa yang kita pikirkan masih murni. Bahkan untuk student
yg di luar negeri malah lebih disenangi. Bukan karena made-in LN, tetapi
karena dianggap lebih objektif dalam memandang permasalahan dalam negeri
dari luar (plus keunggulan akses informasi).
Hasil-hasil pemikiran kita itu AKAN selalu kurang karena pijakannya kurang
kuat. Terlalu teoritis dan tidak mampu melihat permasalahan di lapangan
secara lengkap. Tapi jangan kecil hati. Hasil-hasil ini akan diramu oleh
para pejabat dengan landasan yg betul, sehingga akan dihasilkan suatu
tindakan baru. Jadi jangan expect akan dikerjakan persis seperti yg kita
mau, tapi akan direvisi seperlunya.
Bentuk tindakan kita itu macam-macam. Paling mudah adalah penyebaran
pernyataan atau resolusi. Biarpun saya bilang paling mudah, untuk
menyusunnyapun butuh tenaga ekstra. Jangan salah lagi bahwa menyusunnya yang
sulit. Bukan itu. Menyusunnya gampang sekali. Yang sulit adalah bagaimana
agar semua mau ikut memberi sumbang saran, dan mau menyetujui. Ini banyak yg
non-teknis ya mbak. Detailnya saya akan berikan di posting lainnya.
Cara kedua adalah sumbang saran pemikiran macam hasil SEMINAR. Ini butuh
waktu untuk MENGADAKAN, MENYUSUN, dan MENDISEMINASIKAN. Masalah visi
PERMIAS, wah, dulu sudah bicara sebelum jaman reformasi, yaitu dengan
membuat ancang-ancang CETAK BIRU ALA PERMIAS. Sayang terlalu banyak faktor
non-teknis yang akhirnya mengkandaskannya. Banyak sekali orang yg mau
enaknya saja ya mbak. Jauh lebih banyak rekan-rekan yang ingin
menggagalkannya daripada yg berusaha mendukungnya.
Sejauh ini, ya hanya dua itu saja yg dapat dilakukan.
Masalah pemasaran. Ini yang perlu diperhatikan dengan sangat. Sekarang ini
pemerintah sangat kerepotan oleh berbagai isu yg harus ditangani. Sementara
itu terlalu banyak orang yg hanya menuntut pemerintah. Orang lupa bahwa
PEMERINTAH itu harus ada yg diperintah, dalam pengertian diatur. Sekarang
ini masyarakat tidak mau diatur. Nah, tugas kita adalah mengingatkan kembali
kepada masyarakat bahwa tanpa kerja sama masyarakat, maka sistem
pemerintahan tidak akan jalan (apalagi dengan tubuh pemerintah sendiri yg
bonyok melulu). Sasaran kedua baru pemerintah. Makanya, menurut saya
hendaknya resolusi PERMIAS lebih ditujukan ke masyarakat itu sendiri, baru
sampingannya ke pemerintah.
Menanggapi masalah draft, wah itu gampang saja. Berhubung ada saja yang
lebih senang mencerna isi berdasarkan siapa yg membawakannya, maka saya
berkeberatan kalau membuat draftnya secara pribadi. Paling saya akan
mengkoordinasikan dengan ketua permias lokal, dan disumbangkan oleh ketua
permias lokal (setelah diolah oleh semua yg ikut di permias lokal kami).
Dengan demikian tidak akan timbul bias, atau mengesankan hasil pribadi. Jadi
jangan kawatir kalau saya cuma mau cuap saja. Sementara itu mengapa saya
selalu bilang tidak akan ikut-ikut, dan melihat dari pinggir saja? Itu
semata-mata untuk mendidik diri saya sendiri, dan teman-teman yg lain agar
benar-benar berkarya bukan atas pamrih apapun. Ini sangat penting ya mbak.
Mengenai apa yg ditulis oleh Mas Arya bahwa "kita tidak butuh kaum
pesimistis dan provokator", wah, mesti dilihat dulu. Sebagai contoh posting
Oom Nasrul Indroyono itu, wah, memang betul kalau Indonesia di pinggir
jurang kehancuran. Semua tidak ada yg mau diatur, dan mau mengatur diri
sendiri. Sedangkan ancaman LN memang ada. Siapa sih yg mau bertetangga
dengan bangsa yang besar? Makanya Singapura dan Malaysia kan selalu ribut
kalau Indonesia hendak meremajakan persenjataan, sementara mereka terus
berlomba. Australia lebih-lebih lagi. Padahal mereka anggota negara
persemakmuran lho. Pokoknya selalu buat reservasi lah kalau mensikapi
pernyataan-pernyataan negara lain.
Demikian agar kita-kita semua memahami. Selamat berkarya.
Nah, ayo. Paling tidak sudah ada tiga permias plus nanti saya ithik-ithik
PERMIAS saya. Hitung aja sudah ada empat.
Anjasmara
Catatan:
1. Nah, bagaimana nih Oom Marianus? Sudah diteliti belum tata tertibnya?
Jangan mem-politicing yang bukan bersifat politik lho! Masak mau ikutan
bermental "kalau bisa dibuat ruwet, kenapa dibuat simple"? Okay, anda kita
angkat jadi pipa saluran antara PERMIAS@ dengan FORUM@. Pipa doang lho,
hehehe...:)
2. Bagaimana dengan FORUM@? Kalau cuman menjadi model DPR yg mandul lebih
baik dibubarkan saja, dan diganti dengan PERMIAS@ yang nyata-nyata lebih
menasional dan lebih dinamis? Bagaimana? Hehehe...:)
3. Bagaimana dengan PPI Jerman? Dulu cuman ngomong anti Suharto lalu pakai
acara meludahi segala? Apa cuman mau jadi organisasi pelajar tukang demo
gaya FORKOT? Kalau begitu ganti saja namanya jadi PPI Jerman (Persatuan
Pendemo Idih-Amit-Amit-Deh Jerman). Kalau si ketuanya sudah unsubcribe,
tolong diforward email saya ini. Gitu saja kok repot.
________________________________________________________________________
Get Your Private, Free E-mail from MSN Hotmail at http://www.hotmail.com