Wah, Prof. Dr. Syamil yang budiman juga.

Saya sebagai student merasa sangat dihargai karena telah mendapat sambutan
dari seorang jempolan dari Indonesia yang bisa jadi staf pengajar di AS.
Dengan segala kesibukan seorang akademisi kelas Ameriki... keikutsertaan di
dalam forum sekecil organisasi mahasiswa harus kita hargai nih. Mungkin Dr.
Syamil ini harusnya jadi Atdikbud saja. Bagaimana kalau diusulkan demikian?
Mungkin lebih tepat lagi kalau Dr. Syamil menjadi seorang Jakgung
menggantikan Marjuki. Soalnya kalau nanya kayak jaksa.

Dr. Syamil:
Mohon kesediaan Anda untuk menulis nama yang bersangkutan. Di sekolah
manakah yang bersangkutan kuliah? Berkeley?

Anjas:
Malahan ada dua. Satunya di LA. Apa masih perlu disebut? Kan sudah
sangat-sangat transparan. Untuk ke saya, jelas sudah yg saya tuju, anda juga
tahu, Marianus juga tahu. Jadi dengan demikian saya tidak perlu takut
dituduh berdalih macam-macam karena takut.

Dr. Syamil:
Kapan terakhir Anda ikut forum@?

Anjas:
Dari awal sampai minta di-resign, akhir 1998.

Dr. Syamil:
Seminar apa saja yang Anda ikuti?

Anjas:
Ada, satu di FL (yg ini tidak ada apa-apa), dan satu di NYC (yg ini telat).
Tapi informasi jalan terus oom. Memang ada apa kok dihitung-hitung? Mau
distatistik bidang industri gitu?

Dr. Syamil:
Mohon juga diceritakan detail penunggangan PERMIAS oleh yang bersangkutan.

Anjas:
Penunggangan sudah dilakukan jauh sebelum kita bicara Maluku. Sejauh kita
terlibat, para ybs sudah bertindak seperti Dewan Direktur PERMIAS yang
mengatur perwakilan-perwakilan PERMIAS lokal. Saya rasa yg paling kentara
adalah saat pembahasan pernyataan pra-Suharto lengser. Pembuatan pernyataan
dilakukan dengan memaksakan opini pribadi. Draft yang sudah dimasak oleh
satu permias lokal yg melibatkan puluhan orang sama sekali tidak dihargai.
Dibahaspun tidak. Hanya dinilai tidak memenuhi syarat. Setelah itu diputus
tidak habis. Persis seperti putusan dewa. Waktu itu ybs tidak mewakili
permias manapun, dan bertindak melebihi kapasitas perutusan PERMIAS lokal.

YBS langsung menyodorkan draft versi mereka sendiri, dan memaksakan agar ini
yang diterima. Point-point yg ditawarkan akhirnya hanya direvisi berdasarkan
grammar saja. Ini terjadi sebelum Maluku. Setelah Maluku, hasil akhirnya
masih sama, jadi asumsinya prosesnya masih diatur-atur seperti dulu.

Dr. Syamil:
PERMIAS mana yang ditunggangi? PERMIAS Berkeley? PERMIAS SF? PERMIAS Bay
Area? PERMIAS Troy? PERMIAS Toledo? Atau PERMIAS seluruh Amerika?

Anjas:
Berkeley nggak punya PERMIAS mas. Apa sekarang ada? INI NANYA APA MARAH?
Kalau marah bilang-bilang ya oom! Biar saya rada takut gitu lho!

Wah, yang namanya ditunggangi itu nggak usah bilang-bilang, dan nggak perlu
yg ditunggangi tahu. Yang jelas lewat lokal dulu, tetapi jaringan
bujuk-bujukan sih ke mana-mana.

Dalam setiap kesempatan para YBS menempatkan diri sebagai bos panutan.
Tugasnya yang sebetulnya hanya dinamisator malahan jadi penentu jalannya
setiap diskusi. Untuk lebih mudah mengelola acara penunggangan, para YBS
selalu meng-encourage agar setiap permias lokal mengeluarkan pernyataannya
sendiri-sendiri. Hasilnya adalah keluarnya pernyataan dan unjuk rasa dari
beberapa Permias. Saya lupa, untuk pra lengsernya Suharto ada beberapa
PERMIAS kalau tidak salah ada dua di barat, dan 1 di timur. Saya lupa apakah
yg di timur akhirnya diwakili dengan nama PERMIAS atau bukan, yang jelas
ikut meminta agar IMF memutuskan bantuan, mendesak campur tangan PBB, dll.
Nggak hapal. Kejadian berulang saat gejolak Timtim muncul ke permukaan.

Yang paling penting untuk dicatat adalah pernyataan para YBS, bahwa lebih
baik Timtim pisah daripada diperlakukan tidak adil. Suatu pernyataan
sembrono yg didasari oleh informasi tidak jelas, atau memang dititipkan oleh
dalang si penyumbang dana LSM tersebut.

Dr. Syamil:
Dalam bentuk apa penunggangan itu? Surat pernyataan? Rangkuman pendapat
setelah seminar?

Anjas:
Sudah terjawab.

Dr. Syamil:
Kalau misalnya PERMIAS Bay Area bikin pernyataan, apakah itu berarti PERMIAS
lain setuju dan mendukung pernyataan itu?

Anjas:
Mohon diingat bahwa saya tidak bicara masalah PERMIAS BAY AREA. Kalau Dr.
Syamil bicara mengenai PERMIAS ini, mungkin cuma sebagai contoh. (Jadi orang
sana nggak usah sibuk, malah syukur numpang ngetop dikit).

PERMIAS BAY AREA tentu saja terserah melakukan keinginan mereka sendiri.
Tetapi lihat dulu prosesnya mengapa akhirnya masing-masing PERMIAS
mengeluarkan pernyataan. Wah oom, kalau lagi ada apa-apa, jelas PERMIAS lain
lebih memilih diam karena tidak mau timbul konflik. Tipikal budaya timur.

Ada satu hal yg sangat-sangat penting untuk diingat. Setiap kali PERMIAS
lokal memberikan pernyataan di tanah air, selalu dikesankan sebagai PERMIAS
nasional. Ini bukan salah PERMIAS lokalnya, tetapi banyakan kesalahan si
reporter. Sebagai contoh adalah satu permias lokal yg diwawancara TV. Sudah
barang tentu wakil ini tidak berkehendak mewakili PERMIAS nasional, tetapi
toh kesannya menjadi demikian. Untuk itu, seharusnya dibuat suatu aturan
khusus untuk melindungi PERMIAS lokal lain yg tidak setuju dg hal ini.
Sayangnya hal ini tidak diambil sebagai issue penting. Saya sih mengindikasi
memang ada udang di balik batu sehingga sistem akan berjalan seperti itu
terus, dan kepentingan tersembunyi dapat terus dijalankan.

Dr. Syamil:
Kemudian, tolong juga diberi tahukan seberapa besar tanggung jawab dan dosa
yang harus dipikul oleh PERMIAS sebagai organisasi. Seberapa besar pula
tanggung jawab dan dosa yang harus saya pikul sebagai anggota PERMIAS?

Anjas:
PERMIAS harus mau melihat ke belakang apa yang telah dilakukannya di masa
lalu dalam melakukan tindakan-tindakan di masa mendatang. Tanggung jawab
yang harus diambil adalah tanggung jawab moral, dengan memberitahukan kepada
pengurus-pengurus penerus bahwa dulu telah melakukan ini itu. Tanpa polesan
tentunya. Dengan begini, maka diharapkan ada kemajuan dari setiap PERMIAS
lokal dalam menganalsis implikasi dari "hasil-hasil" yg dibuatnya.

Tanggung jawab pribadi? Mungkin lebih tepat segera lengser bila sudah tidak
pada tempatnya lagi.

Dr, Syamil:
Gimana juga caranya menghapus dosa itu?

Anjas:
Wah, menghapus dosa? Urusannya sama yg di Atas mas. Memangnya anda mau bayar
ganti rugi? Kayak gereja abad pertengahan saja...:)

Yang jelas harus melakukan instrospeksi diri, dan tidak mengulangi kesalahan
serupa. Saran-saran yang selalu disampaikan dari dulu kan bikinh unjuk rasa
ke PBB, IMF, minta AS menyetop bantuan militer. Dari duluuuu....
begitu-begitu saja. Sekarang lihat sendiri, TNI tidak punya cukup prasarana
dan suku cadang untuk mengatasi masalah Maluku maupun di tempat lain. Pada
prinsipnya, PERMIAS baik secara langsung maupun terselubung dengan
menggunakan nama lain dengan personil yg sama berusaha ikut andil melibatkan
kekuatan asing untuk masuk ke Indonesia. Kalau memang dapat menganalisis
implikasi jangka panjang, silakan diajukan ke milis FORUM@ dan PERMIAS@
untuk dinilai dulu.

Dr. Syamil:
Tolong juga kalau ada anggota PERMIAS yang merasa ditunggangi harap tunjuk
tangan !  :)

Anjas:
Saya sudah ngacung kan? Yang lain sih akan memilih diam. Lagi-lagi tipikal
budaya timur. Mungkin juga takut sama Dr. Syamil. Ih, gilaaaa, jaman SD
kalau ngelawan tangan kita-kita suka dipukul penggaris sama bapak guru
sih.....:)

Dr. Syamil:
Terima kasih.

Anjas:
Sama-sama.

Oya, pak.... Bapak Syamiiiil....:) Kira-kira sudah punya wacana untuk bikin
PERPRIAS enggak? Ini singkatan dari Persatuan Profesor Indonesia di AS.
Hehehe...:) Kira-kira kalau kita ramai-ramai jadi student di sana bakal
dapet economic relieve program enggak ya Doc?

Wah, bener-bener sukses deh Oom Marianus dalam menggunakan taktik BSBSBS
(Bikin Syahril buat singkirkan Buloggate). Pada lupa deh kalau mau bikin
pernyataan. Kok nggak pada inget.... sekali di sini akan tetap di sini. Biar
dikerubutin, saya enggak ke mana-mana kok. Hehe..:)


________________________________________________________________________
Get Your Private, Free E-mail from MSN Hotmail at http://www.hotmail.com

Kirim email ke