Selamat membaca.
Helson SIAGIAN
---------------------------
Pelajar di Luar Negeri Prihatinkan Krisis di Indonesia
Reporter: A. Asydhad
detikcom - Jakarta, Komisi Kemanusiaan PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia)
di luar negeri menyatakan keprihatinannya atas masalah-masalah di
Indonesia yang semakin tidak menentu. Karena itu, Komisi PPI meminta
supaya pemerintah dan elit politik untuk menuntaskan dengan
sungguh-sungguh kasus itu.
Demikian rilis Komisi PPI yang diterima detikcom, Jumat (30/3/2001).
Komisi PPI ini merupakan perkumpulan para pelajar yang tersebar di
berbagai negara di antaranya Permias (Amerika Serikat), Permika (Kanada),
Paminda (Kanada), Permapi BC (Kanada), PPI-Jepang, PPI-Australia, PPI-UK,
PPI-Perancis, PPI-Jerman, dan PPI-Italia.
Dalam rilisnya, mereka menyatakan prihatin atas situasi ekonomi, politik,
sosial, hukum, dan keamanan serta ketertiban umum di Indonesia yang
semakin berlarut dan tidak menentu. Mereka menyadari, masalah-masalah
serius yang berkaitan dengan krisis kepercayaan, krisis kepemimpinan
(nasional dan daerah), dan krisis etika politik telah melahirkan
ketidakpastian yang semakin dalam bagi semua pihak dan telah mengakibatkan
hilangnya harapan dan solidaritas sosial/kemanusiaan di antara sesama anak
bangsa.
Di samping itu, mereka juga menyatakan keprihatinannya tentang masalah
besar yang sedang mengancam masa depan generasi muda akibat
perkelahian/tawuran antar pelajar dan penyalahgunaan narkoba yang semakin
meningkat. Mereka meminta supaya para elit memprioritaskan dalam
menuntaskan masalah ini.
Berkaitan dengan hal-hal penting tersebut diatas, setelah mencermati
rentetan tragedi kemanusiaan yang terjadi di tanah air telah melahirkan
banyak korban kemanusiaan, khususnya setelah kejadiaan berdarah di Sampit,
Palangka Raya, dan Kuala Kapuas-Kalimantan Tengah. Karena Komisi PPI
menyatakan sikap:
1. Kami menyampaikan rasa prihatin dan belasungkawa yang sedalam-dalamnya
atas jatuhnya kembali korban jiwa, dan harta benda secara biadab dan
sia-sia yang sekaligus telah mengakibatkan pengungsian dalam jumlah yang
relatif besar.
2. Demi kemanusiaan dan nurani, kami mengutuk dengan sangat kepada setiap
pelaku dan provokator/inisiator atas tindakan yang sangat biadab dan kejam
walau dengan alasan apapun, telah sengaja menghilangkan nyawa manusia
secara paksa dan dengan cara yang sangat keji sehingga mengakibatkan
kesengsaraan bagi sejumlah besar penduduk.
3. Demi kemanusiaan, kami meminta dengan sangat kepada PEMERINTAH untuk
segera melakukan penanganan terpadu akibat terhadap korban-korban
pengungsi, serta melakukan rehabilitasi fisik terhadap prasarana kebutuhan
hidup yang hancur akibat rentetan bencana kemanusiaan ini.
4. Demi hukum dan keadilan, kami meminta kepada pemerintah, aparat
keamanan, dan penegak hukum untuk segera melakukan pengusutan secara
tuntas dan mengadili secara adil dan tegas berdasarkan hukum formal yang
berlaku terhadap individu-individu pelaku kejahatan kemanusiaan dan
individu-individu provokator/inisiator yang menyebabkan terjadinya
rentetan bencana tragedi kemanusiaan yang menyedihkan ini.
5. Kami mengimbau kepada semua pihak, khususnya pimpinan nasional dan elit
politik untuk mengambil hikmah dari rentetan tragedi berdarah ini, lebih
menyadari, melindungi, dan mengamalkan hakekat hidup rukun dan damai di
dalam masyarakat yang memiliki keanekaragaman suku, agama, ras, golongan,
dan budaya sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa demi terciptanya kerukunan
sosial dan kedamaian bagi kita semua.
6. Demi keutuhan bangsa dan negara, kami meminta dengan sangat kepada
Pimpinan Nasional dan Elit-elit politik untuk segera menempatkan
keselamatan dan keutuhan bangsa dan negara Indonesia sebagai prioritas
tertinggi di atas kepentingan individu, golongan, dan kelompok.
7. Kami mendesak pemerintah, aparat keamanan, dan penegak hukum untuk
segera dan sungguh-sungguh menjalankan tugas atau kewajiban utamanya
secara tegas dan adil dalam memberikan perlindungan, menciptakan, dan
menjaga keamanan, keselamatan, dan ketertiban bagi seluruh rakyat
Indonesia serta secara intensif melakukan tindakan preventif demi mencegah
terjadinya tindakan-tindakan anarkis dalam bentuk dan alasan apapun.
8. Demi kemanusiaan, kami sangat mengutuk tindakan dan ucapan pemimpin
formal nasional yang menganggap enteng tragedi kemanusiaan di Sampit dan
Palangka Raya, terutama hal tersebut disampaikan di luar negeri pada saat
rakyat membutuhkan sosok kehadiran pemimpinnya.
9. Demi masa depan bersama, dengan dilandasi independensi dan
intelektualitas, kami akan terus berusaha dengan segenap daya dan upaya
untuk secara intensif ikut membantu mencarikan alternatif pemecahan
terhadap masalah-masalah krusial yang sedang dan yang akan dihadapi oleh
bangsa dan negara.
10. Kami menyerukan kepada seluruh pihak, di dalam maupun di luar negeri,
untuk secara aktif dan intensif berpartisipasi dalam membantu korban
kemanusiaan yang timbul akibat tragedi-tragedi di Sampit, Palangka Raya,
Sambas, Maluku, Aceh, dan Poso serta korban-korban bencana alam beruntun
lainnya yang terjadi di hampir seluruh wilayah tanah air. (asy)