Very Kamil yang lagi usaha di Kupang,
Gara-gara kabinet ngawur, rupiah pontang-panting di pasar, semua isi koran
menghujat. Ada bagusnya itu. Supaya ada bahan mereka untuk belajar menjadi
pemimpin.
Bagaimana di Kupang? Kalau Gus Dur bersin atau pilek, Kupang menggeliat
nggak? Di Siantar mah, rakyat kami 'gak perduli.
Sorry, Indonesia itu hanyalah bagian pinggir dari tanah air kami.
salam,
penyimak pinggiran
###
>From: "laurel" <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: "laurel" <[EMAIL PROTECTED]>
>To: "Ramadhan Pohan" <[EMAIL PROTECTED]>
>Subject: Re: Kabinet, Ou Indonesia(nya)
>Date: Wed, 25 Aug 1999 07:10:15 -0400
>
>Salam lagi!
>'Dhan.. mudah-mudahan memang pesimisme-mu saja yang berlebihan. Tapi itupun
>bisa kuterima, karena pesimis, optimis atau penuh harap seseorang tak bisa
>dipaksa-paksakan atau dibuat-buat.
>
>Aku punya sedikit komentar juga tentang masalah ini.
>Aku pikir, kitapun perlu masing-masing berkaca dengan diri sendiri. Dengan
>tindakan, celetukan dan omongan di masa lalu. Banyak komentar tentang Gus
>Dur yang begitu mudah berceloteh atau nyeletuk. Tapi di sisi lain, banyak
>pula 'tokoh' yang lain juga impulsif untuk memberikan komentar atas
>celetukan atau ocehan si presiden. Aku tidak yakin bahwa celetukan yang
>mereka berikan itu akan ikut membangun situasi menjadi lebih baik atau
>hanya
>ikut-ikutan memperkeruh suasana saja.
>Kadang terpikir olehku, jangan jangan sebagian orang menjadi impulsif, asal
>memberi komentar karena mulutnya selama ini tidak boleh berbicara.
>Sekalinya
>ikatan mulut dilepas, jadi rajin ngomong dengan kurang mempertimbangkan
>lagi
>apakah omongannya akan menjadi pengurang kekeruhan situasi atau hanya
>menambah masalah baru.
>
>Aku pikir, boleh boleh saja menilai atau mengkritik atau mengomentari. Tapi
>jangan berhenti di situ saja. Berikan juga pendapat pribadi tentang
>bagaimana yang seharusnya. Minimal orang lain juga mengerti apa pendapat
>pribadi si pemberi komentar mengenai pilihannya/ pertimbangannya. Kalau
>dikutip di koran, minimal pembaca juga akan belajar sesuatu. Tidak sekedar
>disempali dengan pendapat-pendapat yang kebetulan saja muncul dari 'tokoh'.
>Pendapatku lagi, kalau sekedar mengomentari hasil kerja orang lain secara
>negatif (berkeluh-kesah), nenek nenek di pengungsian juga bisa. Dan
>kecenderungan untuk hanya bisa mengritik ini semakin menjadi warna utama
>ujud kepedulian politik kita. Menyedihkan.
>
>Aku pikir, yang perlu kita perbanyak sekarang ini adalah bagaimana mengajak
>orang untuk lebih banyak berbuat atau mengajak berbuat, atau mengambil
>bagian sekalian dalam proses perbaikan situasi ini. Yah.. berusaha
>sesuatu-lah. Memberikan alternatiflah. Karena memang kelihatnnya situasi
>ini
>sudah begitu jelek kok. Tak layak rasanya diperjelek lagi. Tapi yah, kalau
>kebiasaan mengomentari tanpa memberikan solusi atau alternatif adalah sikap
>pribadi, itupun boleh saja. Cuman... lumayan disayangkan sekali-lah...
>hanya
>akan memperbanyak golongan penghujat saja.
>
>
>salam,
>Ver
>
>-----Original Message-----
>From: Ramadhan Pohan <[EMAIL PROTECTED]>
>To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
>Cc: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]
><[EMAIL PROTECTED]>
>Date: 23 August 2000 10:49 PM
>Subject: Kabinet, Ou Indonesia(nya)
>
>
> >Salam!!!
> >Semula saya pikir, setelah pengumuman kabinet reshuffle situasi Indonesia
> >bakal lebih baik. Nyatanya, harapan memang tidak harus selalu bersanding
> >dengan kenyataan.
_________________________________________________________________________
Get Your Private, Free E-mail from MSN Hotmail at http://www.hotmail.com.

Share information about yourself, create your own public profile at
http://profiles.msn.com.

Kirim email ke