Bung Michael,

Saya baru kembali dari luar kota, jadi tidak bisa merespon tulisan anda
immediately minggu lalu.

Pokok pikiran tulisan saya yang lalu - in case anda salah paham- adalah
untuk mengomentari bahwa aspirasi itu -apapun isinya- sah sah saja untuk
diproses melalui institusi demokrasi. Jadi, tidak perlu meminjam pemerintah
Amerika untuk menghabisi aspirasi. Serahkan saja pada proses politik yang
demokratis.

Lalu soal cita-cita anda itu, boleh-boleh saja. Tapi sekadar mengingatkan
bahwa negara tidak akan stabil, tentram dan damai kalau tidak ada keadilan.
Stabilitas semu adalah stabilitas yang ditegakkan dengan rasa takut bukan
dengan rasa adil. Sayangnya kriteria adil itu tidak masuk dalam cita-cita
anda.

Saya sebetulnya tidak tertarik untuk membahas tulisan anda per paragraph
karena tujuan komentar saya itu tidak membongkar tulisan anda secara
habis-habisan. Tapi kalau anda malah memintanya maka saya akan menuruti
anjuran anda itu.

Jadi, izinkan saya untuk membacanya dan mengomentarinya satu per satu.
Mudah-mudahan ini akan juga membuat rekan-rekan yang lain, seperti Bung
Dharma, jadi maklum mengapa tulisan Michael itu membuat "menggeliat".

Paragraph ke 4:
These people could already in contact with Bin Laden and
its allies. These very same people, thru their countless
underlings, sponsor the demonstrations that are staged by
those bunch of clowns already described above. These brains
are the ones that US should really keep a close eye.

Komentar Anies: Dengan dasar empirical evidence macam apa anda bisa menyebut
ada kontak dengan Bin Laden? Dan, apa empirical evidence bahwa mereka
mensponsori demonstrasi?

Spekulasi boleh-boleh saja,dan wajar. Tapi tuliskan kata "spekulasi" atau
"dugaan" itu. Ini yang membedakan antara komentator yang obyektif dengan
komentator yang kepentingan politiknya terlalu meluap-luap hingga tidak bisa
membedakan antara fakta, fiksi dan fitnah.

Paragraph ke 5:

It is known that despite their 'scary' name, they never
actually seen a single combat. In Ambon, i.e. Maluku, the
fightings are conducted by the rogue element of Indonesian
army v.s. the equally crooked Indonesian police. This same
bunch of buffoons also never set foot in Sambas, another
hotspot in Indonesia despite the butcher of their so called
Moslem brothers by local godless warrior.

Komentar Anies: Silahkan baca ulang tulisan anda sendiri itu. Ini khan
namanya memilintir informasi, sekedar untuk membenarkan argumentasi bahwa
yang patut dimusuhi adalah mereka yang di parlemen bukan yang di jalanan.
Padahal, pihak-pihak yang terlibat langsung di Maluku tahu persis bahwa
kelompok yang anda sebut "bunch of buffoons" itu benar-benar hadir di
Maluku. Jadi atas dasar apa anda menyebut "they never actually seen a single
combat"? Bagaimana anda menjelaskan protes di sana-sini yang meminta agar
kelompok yang anda sebut sebagai "bunch of buffons" itu dikeluarkan dari
Maluku?

Bung Michael, janganlah anda menulis karangan tanpa dasar.

Paragraph 5:
So, US should not really pay too much attention to this
bunch of retards. The more dangerous element of Islamic
Fundamental is actually the ones that sit on Indonesian
parlement. Some of them on Indonesian current cabinet,
even as high as Speaker of the House, and no. 2 spot in
the current government. These type of people are to whom US
should really pay attention to.

Komentar Anies: Anda menganjurkan Amerika untuk memantau Islamic
Fundamentalist? mengapa anda tidak menganjurkan agar AS memantau Christian
Fundamentalist? Anda sendiri bisa merasakan, alam bawah sadar kita digiring
untuk mengasumsikan bahwa AS harus memusuhi Islam. Lagi-lagi terlihat bahwa
gelora kepentingan yang memotivasi tulisan macam itu tentu bukan
obyektifitas tapi amuk kepentingan yang sempit dan rendah.

Paragraph 6 dan 7:

So, what US can do now is to use the 'carrot and stick' policy.
The 'carrot' can be the grant (not loan) to resuscitate the
economy, the so called join military training and opening up
the military embargo, as well as the special status in
state to state trading. The Indonesia military can be a very
useful allies, given their nature of greed and ruthlessness.

The sixth fleet acts as a frightening 'stick'. US must not
hesitate to demolish any potential threat that comes from
either the military or the civilian people. Unlike those of
Japanese, Vietnamese, Russian or Afghani, the physical
and mental feature of Indonesian people are not designed
to be a warrior. The Dutch already proved this by staying
for centuries despite of their population is less than ten
percent of those only at Java. One show of might of US forces
by bombing the oil rigs across Jakarta, and the entire military
-already on their lowest morale- will fold back. Don't forget
to keep in check those civilian that supplies this sick
ideology by any other means, of course.

Komentar Anies: Anda menganjurkan agar US mengintervensi Indonesia? Mengebom
wilayah Indonesia? Menggunakan TNI sebagai sekutu untuk membantai manusia
Indonesia? Menambah pertumpahan darah di Indonesia? haruskah
bantai-membantai anak manusia Indonesia itu diteruskan? Bung Michael,
fikirkanlah kata-kata anda itu dua-tiga kali lagi.

Lalu, bung Dharma silahkan merevisi kesimpulan anda tentang sebab
menggeliatnya Mas Syamil dan saya ketika membaca tulisan Bung Michael ini.
Sekaligus pertanyaan, Bung Dharma, tidak "menggeliatkah" anda membaca
kata-kata itu?

Bangsa Indonesia tidak punya mentalitas warrior? Bung Michael, silahkan anda
baca ulang tulisan sejarah mengenai perang kemerdekaan 1945-1950, lalu
bandingkan dengan mentalitas serdadu Belanda. Dan, baca ulang sejarah
kolonialisme agar tidak membuat kesimpulan yang elementery dan keliru ttg
penjajahan Belanda di Indonesia.

Bung Michael, sekarang saya tambahkan komentar terhadap paragraph pertama
anda.

Paragrapgh 1 Michael:
It is time for US to acts in one swift action to sweep
all of the terrorist groups, regardless where, and who
they are. In reality, fundamentalist group in Indonesia,
even though look tough from out appearance - they wear
modified ninja-look-alike muslim garment and carry
long blade during demonstration - is a bunch of cowards.

Komentar Anies: Anda menyebut perang terhadap terrorisme, lalu
mengarahkannya pada sekelompok muslim di Indonesia. Besar benar nafsu untuk
menyempitkan perang thd terrorist groups sebagai perang thd group Islam
fundamentalist.

Pernahkah anda mempelajari ttg apa itu Terrorisme? Tahukah anda definisi
terrorisme? Sebelum anda mendefinisikan terrorisme maka bagaimana mungkin
anda bisa menyebut sebuah kelompok sebagai terrorist? Apakah karena berlabel
Jihad lalu anda sebut terrorist?

Sekedar info tambahan, dalam buku political terrorism, ada 109 definisi
terorisme dan tidak pernah ada definisi yang diterima secara universal.
Bahkan di AS setiap government agency punya definisi yang berbeda-beda.

Jadi, cara anda mengarahkan perangnya Amerika thd terorisme sebagai perang
terhadap sekelompok muslim di Indonesia menggambarkan cara berfikir yang
keliru, sempit, dan dogmatik.

Akibatnya tulisan anda yang sepintas kaya-vocabulary itu jadi nampak
miskin-substansi karena terlalu berat gelora untuk sekadar menghantam
sekelompok orang dengan godam "terrorisme".

Sayang sekali  .... !


Salam,

Anies Baswedan


----- Original Message -----
From: "Michael Tjiptaputra" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Sunday, October 14, 2001 7:23 PM
Subject: Piagam Jakarta (Re: Lain dulu dan sekarang)


Sdr(i?) Anies yang baik.

Anda menulis dengan bahasa yang eloquent. Sayang dalam
hal ini anda masih salah mengerti dalam membaca artikel
saya. Artikel itu ditulis dalam satu keutuhan, maka masing2x
paragraph akan bergandengan terus, satu sama lain. Cara anda
yang mengambil paragraph 3 (misalnya), dan kemudian
menggabungkan dengan paragraph 7 tanpa melihat konteks dari
paragraph 4,5,dan 6, dapat membuat salah paham yang
cukup dalam. Saya mohon agar tulisan saya sekali lagi dibaca,
sambil tetap mengingat point2x saya di-paragraph2x sebelumnya.


Ini tulisan anda:
>Dari paparan ini terlihat anda sudah menempatkan diri sebagai penentang
>aspirasi pro-piagam Jakarta, dan menyebutnya sebagai aspirasi berbahaya.
>Bahkan anda menyebut pejuang aspirasi itu sebagai "perusak nama Islam".
>Lebih jauh lagi, anda telah menganjurkan pemerintah asing -Amerika Serikat-
>supaya ikut campur proses politik dalam negeri agar proses demokrasinya
>sesuai dengan aspirasi anda.

TJ:
Ini loh,contoh dari apa yang saya maksud diatas. Jujur ngomong, saya
sebenarnya nggak gitu care kok, dgn cara apa negara kita ini
mau diatur. Mau demokrasi, mau militer, mau komunis,
mau cara taliban juga saya nggak keberatan. ASAL: (1) Negara
tenang dan tertib tanpa ada daerah yang bergolak pake bedil,
(2) hukum dijunjung tinggi, (3) Warga negara diberi kebebasan
untuk melakukan apa saja selama tidak merugikan org lain. Cukup
simple kan, cita2x saya ini..??

Balik ke cerita Piagam Jakarta. Partai / golongan yang
punya cita2x ini kan cuman dapat 12% dari total suara
pemilu 1999 (http://museum-kpu.com/hasil99.htm).
Ini berarti cuman satu dari sembilan muslim yang
setuju dgn ide ini. Kalau hasil ini dicross-reference
lagi dgn 90% muslim di Indonesia, maka cuman satu dari 10
org indonesia yang seia sekata dgn penggunaan piagam jakarta.

Hal ini saja masih tidak membuat saya risau, asal mereka
ini tetap berada dijalur demokrasi seperti yang anda sudah
tuliskan dibawah ini:

>Selama aspirasi diproses melalui institusi demokrasi, maka aspirasi itu
>sah-sah saja.

Tapi sayangnya, hal yg terjadi sebaliknya, persis seperti yang
sudah anda sendiri ungkapkan:

>Justru kegiatan extra-institutional democracy yang menggunakan kekerasan
>itulah yang berbahaya. Sementara semua kegiatan institutional demokrasi
>adalah kegiatan yang legitimate.

Bagaimana cara yg 12% itu mencapai cita2x ini..? Ya persis
dgn apa yang anda ungkapkan diatas. Melaksanakan "kegiatan
extra-institutional democracy" dgn kelompok badut berpedang
untuk mengintimidasi serta ancaman kekerasan. Juga "kegiatan
extra-institutional democracy" dgn mereka yang bersenjata untuk
membuat kekacauan diseluruh negara. Tujuan akhirnya..? Ya
seperti yang sudah saya jelaskan diartikel original saya
beberapa hari yang lalu.

Sedikit komentar mengenai tulisan sdr/i dibawah ini:
>Dari paparan ini terlihat anda sudah menempatkan diri sebagai penentang
>aspirasi pro-piagam Jakarta, dan menyebutnya sebagai aspirasi berbahaya.

Aspirasi Piagam Jakarta ini -biarpun nanti di-gol-kan secara damai-
memang berpotensi membuat kekacauan. Buat yang tidak tahu,
Piagam ini akan menambahkan 7 kata: "dgn kewajiban melaksanakan
syariat Islam bagi pemeluknya" pada pembukaan UUD45. Saya sih
sebenarnya cuek bebek, wong saya nggak termasuk kok. Tapi mereka
yang di Indonesia Timur jelas2x akan protes, karena ini -menurut
mereka - akan menjadi pretext untuk menerapkan hukum suatu agama
menjadi hukum negara. Sdr/i kan tahu sendiri kalau di Indonesia,
protes tidak akan tinggal protes. Protes melahirkan demo, yang
melahirkan kekacauan, yang melahirkan separatis, yang melahirkan
kekerasan bersenjata.

Hal ini jelas2x berlawanan dengan cita2x simple saya
yang "(1) Negara tenang dan tertib tanpa ada daerah yang
bergolak pake bedil." Makanya tidak diikut sertakan dari
dulu. Saya juga yakin, menggunakan cara legal demokrasi,
Piagam Jakarta ini tidak akan gol, karena terlalu besar
resikonya. Jadi Piagam ini berbahaya bukan karena isinya,
tapi karena potensi konflik yang akan ditimbulkan, terutama
di Indonesia bagian timur.

Sebagai kesimpulan (agar tidak ada missunderstanding lagi ya),
saya menentang pendukung Piagam Jakarta karena mereka
menggunakan cara2x kekerasan and inkonstitusional (resmi
banget yah..:o) melalui para badut berpedang untuk
mengintimidasi golongan yang lain, serta mendiskreditkan
pemerintah sekarang agar dapat mencapai cita2x mereka.
Kekerasan bersenjata akan terjadi kalau Piagam ini gol, yang
akan berlawanan dgn cita2x simple saya yang "(1) Negara tenang dan
tertib tanpa ada daerah yang bergolak pake bedil."


Mengenai komentar anda dibawah ini:
>Dalam milis ini jadi bermasalah karena anda pernah menganjurkan agar milis
>ini bebas dari perseteruan antar golongan, sebuah anjuran yang selalu
>digalakkan dalam politik orde baru. Karena itu, seperti kata Mas Syamil,
>tulisan anda yang partisan dan bermuatan kepentingan golongan itu jadi
>bukti otentik bahwa anda telah melanggar anjuran anda sendiri.

TJ:
Mas Syamil cuman ngasih komentar beberapa baris, saya
juga nggak gitu jelas "perseteruan antar golongan" yang
dia maksud. Tapi karena mas Syamil mengambil contoh email
saya yang dulu, saya tebak ini perseteruan antara golongan
berdasarkan agama (yang sudah saya minta maaf kalau ada
kata2x yang kurang tepat).

Yang masih saya bingung sampai sekarang, kenapa attack saya
kepada Fundamentalist Islam bisa di-salah arti-kan dgn attack kepada
seluruh Islam ya..? Ada yang bisa membantu..?

Dari penjelasan panjang lebar saya diatas, saya harap
sdr/i anies tidak lagi melihat tulisan saya itu partisan dan
bermuatan kepentingan golongan. Kepentingan saya sih cuman
tiga cita2x simple diatas: 1) Negara tenang dan tertib
tanpa ada daerah yang bergolak pake bedil, (2) hukum
dijunjung tinggi, (3) Warga negara diberi kebebasan
untuk melakukan apa saja selama tidak merugikan org lain.

salam,
tj



_________________________________________________________________
Get your FREE download of MSN Explorer at http://explorer.msn.com/intl.asp


_________________________________________________________
Do You Yahoo!?
Get your free @yahoo.com address at http://mail.yahoo.com

Kirim email ke