Salam netters sekalian.
Saya ingin memberi beberapa kesimpulan terakhir
mengenai diskusi FPI/Terroris/Piagam Jakarta
yang akhir2x ini memanas. Agar tidak ada salah
paham diantara kita, yang menuduh saya tidak
patriotis, anti Islam, etc,etc.


Ehem, buat yang sudah bosan, mohon maaf dari saya,
serta silakan di-delete saja dari sini.

-------------------------------------------------------
Anies:
>Pokok pikiran tulisan saya yang lalu - in case anda salah paham- adalah
>untuk mengomentari bahwa aspirasi itu -apapun isinya- sah sah saja untuk
>diproses melalui institusi demokrasi. Jadi, tidak perlu meminjam pemerintah
>Amerika untuk menghabisi aspirasi. Serahkan saja pada proses politik yang
>demokratis.

TJ:
Demokratis..? Well, jauh panggang dari api. Saya kita pemerintah
Amerika juga tidak akan mau menghabisi "aspirasi yang demokratis"
yang anda sebutkan. Kita perlu meminjam mereka untuk menjadi wasit
yang baik, agar segelintir manusia tidak memaksakan cita2x mereka
dengan menggunakan nama mayoritas. Ingat paragraph saya mengenai
hasil pemilu 99 ?


Anies:
>Lalu soal cita-cita anda itu, boleh-boleh saja. Tapi sekadar mengingatkan
>bahwa negara tidak akan stabil, tentram dan damai kalau tidak ada keadilan.
>Stabilitas semu adalah stabilitas yang ditegakkan dengan rasa takut bukan
>dengan rasa adil. Sayangnya kriteria adil itu tidak masuk dalam cita-cita
>anda.

TJ:
Adil itu kan relatif. Anda bisa liat tukang becak yang bekerja
18 jam sehari, dibanding dgn mereka yang kaya raya dengan korupsi.
Dimanakah rasa keadilan..? Terus, hukuman potong tangan ala taliban
bagi mereka yang mencuri. Adilkah ini? bagaimana kalau mereka
terpaksa mencuri agar tidak mati kelaparan..?

So, keadilan itu bisa diinterpretasi seribu macam cara. Bisa
dimanipulasi, sama seperti kasus bebasnya Tommy. Karena
itu tidak termasuk dalam kriteria saya. Hukum dijunjung
tinggi (kriteria #2) lebih menjanjikan negara yang gemah
ripah loh jinawi, serta mensejahterahkan rakyat.


>Anies:
>>Paragraph ke 4:
>>These people could already in contact with Bin Laden and
>>its allies. These very same people, thru their countless
>>underlings, sponsor the demonstrations that are staged by
>>those bunch of clowns already described above. These brains
>>are the ones that US should really keep a close eye.

>Komentar Anies: Dengan dasar empirical evidence macam apa anda bisa
>menyebut ada kontak dengan Bin Laden? Dan, apa empirical evidence bahwa
>mereka mensponsori demonstrasi?

>Spekulasi boleh-boleh saja,dan wajar. Tapi tuliskan kata "spekulasi" atau
>"dugaan" itu. Ini yang membedakan antara komentator yang obyektif dengan
>komentator yang kepentingan politiknya terlalu meluap-luap hingga tidak
>bisa
>membedakan antara fakta, fiksi dan fitnah.


TJ:
Harap baca link ini:
http://www.detik.com/peristiwa/2001/11/01/2001111-112309.shtml

Dan harap diingat, tujuan mereka ini sejalan dengan siapa saja,
dan diposisi manakah mereka sekarang. Siapa menyandang dana
(demo ginian nggak murah loh, minimal makan siang dan uang
transport), siapa organisasi induk mereka, siapa PR mereka,
dll,dll.

Soal hubungan dengan Al-Qaeda, pimpinan gerombolan ini sendiri
kok, yang gembar-gembor soal masa perjuangannya sbg mujahidin
di Afghan. Dan saya sudah menggunakan kata "could" sebagai
ganti "spekulasi" yang anda sarankan.

So, bung Anies, saya bukan memfitnah, atau membuat cerita
fiksi. Dan jujur saja, kalau anda mau sedikit objective,
serta membaca surat kabar yang "netral", anda dapat menarik
kesimpulan yang sama. Dosa buat saya untuk memfitnah.


Anies:
>Paragraph ke 5:

>>It is known that despite their 'scary' name, they never
>>actually seen a single combat. In Ambon, i.e. Maluku, the
>>fightings are conducted by the rogue element of Indonesian
>>army v.s. the equally crooked Indonesian police. This same
>>bunch of buffoons also never set foot in Sambas, another
>>hotspot in Indonesia despite the butcher of their so called
>>Moslem brothers by local godless warrior.

>Komentar Anies: Silahkan baca ulang tulisan anda sendiri itu. Ini khan
>namanya memilintir informasi, sekedar untuk membenarkan argumentasi bahwa
>yang patut dimusuhi adalah mereka yang di parlemen bukan yang di jalanan.
>Padahal, pihak-pihak yang terlibat langsung di Maluku tahu persis bahwa
>kelompok yang anda sebut "bunch of buffoons" itu benar-benar hadir di
>Maluku. Jadi atas dasar apa anda menyebut "they never actually seen a
>single combat"? Bagaimana anda menjelaskan protes di sana-sini yang meminta
>agar kelompok yang anda sebut sebagai "bunch of buffons" itu dikeluarkan
>dari Maluku?

>Bung Michael, janganlah anda menulis karangan tanpa dasar.


TJ:
Begini bung Anies. 'Benar2x hadir', sama 'see a combat' itu
dua hal yang sangat berbeda. 'See a combat' itu benar2x
aktif tempur, sedangkan laskar2x badut ini cuman datang
-hadir menurut anda- setelah pertempuran selesai untuk hanya
menjarah.

Ingat kerusuhan Ambon yang menewaskan kolonel polisi di
markas Brimob..? Laskar badut ini datang hanya untuk
merampasi amunisi yang tercecer dari gudang polisi. Sedangkan
'actual combat'-nya dilakukan oleh komponen liar dari Kostrad.
Banyak lagi contoh2x dari penjarahan yang dilakukan badut2x ini.
Satu hal yang pasti, mereka datang menjarah / mengacau seusai
pertempuran antara polisi dan TNI.

Kalau memang badut2x ini 'gagah berani' kenapa mereka tidak
nongol di Sambas..? Jawabnya cuman satu, tidak ada tentara
yang "bersimpati" yang dikirim ke Sambas. Mau kesana sendirian
ya mati konyol namanya. Wong pada dasarnya mereka ini cuman
segerombolan badut kok.

So, bung Anies, andalah yang harus memperluas sumber informasi
saudara.


Anies:
>>Paragraph 5:
>>So, US should not really pay too much attention to this
>>bunch of retards. The more dangerous element of Islamic
>>Fundamental is actually the ones that sit on Indonesian
>>parlement. Some of them on Indonesian current cabinet,
>>even as high as Speaker of the House, and no. 2 spot in
>>the current government. These type of people are to whom US
>>should really pay attention to.

>Komentar Anies: Anda menganjurkan Amerika untuk memantau Islamic
>Fundamentalist? mengapa anda tidak menganjurkan agar AS memantau Christian
>Fundamentalist? Anda sendiri bisa merasakan, alam bawah sadar kita digiring
>untuk mengasumsikan bahwa AS harus memusuhi Islam. Lagi-lagi terlihat bahwa
>gelora kepentingan yang memotivasi tulisan macam itu tentu bukan
>obyektifitas tapi amuk kepentingan yang sempit dan rendah.


TJ:
Tanpa saya anjurkan, pemerintah US sudah memantau Christian
Fundamentalist ini kok. Anda pernah dengar Klu Klux Klan kan..?
Satu alasan mengapa pelajar Indo dapat bersekolah dgn aman di
Florida, Tennessee, Alabama, serta daerah2x selatan lainnya
ya karena FBI sudah mengkontrol Kristen Fundamental yang keblinger
ini. Catholic Fundamental di IRA sendiri sudah gencatan senjata
kok minggu lalu. Thank you buat MI-5 yang sudah memantau
mereka.

Nah, agar pelajar indonesia dapat naik pesawat tanpa was2x,
serta bekerja di gedung tinggi tanpa rasa cemas, giliran Islam
Fundamental yang harus dipantau, termasuk mereka di Indonesia.
Cukup objective kan..??


Anies:
>>Paragraph 6 dan 7:

>>So, what US can do now is to use the 'carrot and stick' policy.
>>The 'carrot' can be the grant (not loan) to resuscitate the
>>economy, the so called join military training and opening up
>>the military embargo, as well as the special status in
>>state to state trading. The Indonesia military can be a very
>>useful allies, given their nature of greed and ruthlessness.

>>The sixth fleet acts as a frightening 'stick'. US must not
>>hesitate to demolish any potential threat that comes from
>>either the military or the civilian people. Unlike those of
>>Japanese, Vietnamese, Russian or Afghani, the physical
>>and mental feature of Indonesian people are not designed
>>to be a warrior. The Dutch already proved this by staying
>>for centuries despite of their population is less than ten
>>percent of those only at Java. One show of might of US forces
>>by bombing the oil rigs across Jakarta, and the entire military
>>-already on their lowest morale- will fold back. Don't forget
>>to keep in check those civilian that supplies this sick
>>ideology by any other means, of course.

>Komentar Anies: Anda menganjurkan agar US mengintervensi Indonesia?
>Mengebom wilayah Indonesia? Menggunakan TNI sebagai sekutu untuk membantai
>manusia Indonesia? Menambah pertumpahan darah di Indonesia? haruskah
>bantai-membantai anak manusia Indonesia itu diteruskan? Bung
>Michael,fikirkanlah kata-kata anda itu dua-tiga kali lagi.


TJ:
Satu lagi kesimpulan yang dibuat terburu-buru tanpa benar2x
menyimak artikel saya. Bung Anies tahu tidak -serta mereka
yang mengganggap saya tidak patriotis, terlalu american, etc-
kenapa saya specific menyebutkan oil rigs ? Kalau anda mengira
oil rigs (tanjungan minyak) itu milik Pertamina, berarti anda
salah informasi. Tanjung minyak itu milik perusahaan amerika/inggris
semacam Chevron, BP, Texaco, MobilOil, etc. Tentu didalamnya banyak
warga asing. AS tidak sembarang mengebom tanjungan ini tanpa
mengevakuasi mereka.

Kalau toh mereka sampai mengebom tanjungan ini, itu kan cuman
demonstrasi kekuatan technology mereka saja dengan mengebom
bangunan kosong, tanpa adanya korban jiwa satupun, dan tanpa
terdeteksi. F-16 kita di Madiun...?? Lagi di grounded karena
tidak ada suku cadang. Kapal angkatan laut yang bertugas menjaga..?
Well, kecuali kalau saat itu mereka punya Patriot serta system Aegis,
mereka cuman bisa melihat tanpa berbuat apa2x. Which is very good
karena menghindari jatuhnya korban jiwa.

Tujuan serangan ini..? Ya membuat ciut moral mereka tanpa
adanya satupun korban jiwa dari pihak Indonesia.
Bluffing istilahnya

Sekarang masalah menggunakan TNI sebagai sekutu untuk
membantai manusia. Tanpa dijadikan sekutupun, TNI sudah
banyak masalah mengenai HAM di Timor,Aceh, Irian, Lampung,
Jakarta, etc. Menggunakan mereka untuk menjaga stabilitas
negara dari kaum fundamentalis, apa salahnya..? Untuk menangkap
tikus, bukan masalah memakai kucing putih atau hitam.

Tahukah bung Anies, jumlah mereka yang terbunuh, mengungsi,
serta jatuh miskin jauh meningkat sejak berakhirnya jaman
represi militer Suharto..? Bukan berarti saya setuju represi militer,
tapi statistik sendiri berkata sebaliknya. Ditimor sendiri, 1/4 juta
org harus mengungsi, puluhan ribu terbunuh sejak 99. Di Aceh,
Maluku, Sambas, Poso, Lampung, Irian, dll, puluhan ribu org terbunuh,
ratusan ribu lainnya mengungsi. Tahukah bung Anies kalau Indonesia
menduduki peringkat kedua dalam jumlah pengungsi -setelah Afghanistan-
didunia ? Semua ini 'prestasi' selama 4 tahun.


Anies:
>Lalu, bung Dharma silahkan merevisi kesimpulan anda tentang sebab
>menggeliatnya Mas Syamil dan saya ketika membaca tulisan Bung Michael ini.
>Sekaligus pertanyaan, Bung Dharma, tidak "menggeliatkah" anda membaca
>kata-kata itu?

TJ:
Masalah menggeliat atau tidak, ini kan dari cara
anda dan Mas Syamil menginterpretasikan tulisan saya.
Dan ini hak anda tentunya, disertai ucapan terima kasih
dari saya buat anda -dan yang lain- yang sudah
meluangkan waktu untuk membacanya.

Anies:
>Bangsa Indonesia tidak punya mentalitas warrior? Bung Michael, silahkan
>anda baca ulang tulisan sejarah mengenai perang kemerdekaan 1945-1950, lalu
>bandingkan dengan mentalitas serdadu Belanda. Dan, baca ulang sejarah
>kolonialisme agar tidak membuat kesimpulan yang elementery dan keliru ttg
>penjajahan Belanda di Indonesia.



TJ:
Bung Anies, tidakkah anda merasa janggal..? Sudah selama
hampir 300 tahun belanda bercokol di Batavia, lalu tiba2x
sekelompok pemuda kita mempunyai ide untuk berjuang,
bertarung mati2x-an, serta berhasil 'merebut' kemerdekaan.
Tidak adakah faktor luar yang berperan secara signifikan
dalam membuat sejarah..? (baca:US)

Mentalitas serdadu Belanda..? Bung Anies, mereka itu
menang perang di Eropa.


Anies:
>>Paragrapgh 1 Michael:
>>It is time for US to acts in one swift action to sweep
>>all of the terrorist groups, regardless where, and who
>>they are. In reality, fundamentalist group in Indonesia,
>>even though look tough from out appearance - they wear
>>modified ninja-look-alike muslim garment and carry
>>long blade during demonstration - is a bunch of cowards.

>Komentar Anies: Anda menyebut perang terhadap terrorisme, lalu
>mengarahkannya pada sekelompok muslim di Indonesia. Besar benar nafsu untuk
>menyempitkan perang thd terrorist groups sebagai perang thd group Islam
>fundamentalist.


TJ:
Lho, bung Anies ini tidak mengganggap gerombolan ini
terroris yah..? Well, itu hak untuk Bung. Kalau bung
menyetujui adanya sweeping org asing, memaksa tempat
hiburan utk tutup demi alasan agama, mengacau di Maluku
(ini bung setuju loh dari balasan bung), ya terserah.
Buat saya, mereka ini gerombolan terroris yang mengacau
masyarakat.


Anies:
>Pernahkah anda mempelajari ttg apa itu Terrorisme? Tahukah anda definisi
>terrorisme? Sebelum anda mendefinisikan terrorisme maka bagaimana mungkin
>anda bisa menyebut sebuah kelompok sebagai terrorist? Apakah karena
>berlabel Jihad lalu anda sebut terrorist? Sekedar info tambahan, dalam buku
>political terrorism, ada 109 definisi terorisme dan tidak pernah ada
>definisi yang diterima secara universal. Bahkan di AS setiap government
>agency punya definisi yang berbeda-beda.


TJ:
Buat saya, nggak usah muluk2x pakai definisi serta mempelajari
apa itu terroris. Mau ada 109 atau 111 definisi, ya itu hak
yang membuat definisi itu sendiri. Hak saya dong kalau saya
tidak mau tau soal itu..

Yang penting Bung Anies, buat saya, golongan yang menyerang
penduduk sipil, tidak bersenjata, serta mengadakan
slogan2x kosong, itu terroris. Yang praktis saja.
KKK, IRA, FPI, Al-Qaeda, dan sejenisnya, itu terroris.
Terserah mau ada 1001 definisi sekalipun.



Anies:
>Jadi, cara anda mengarahkan perangnya Amerika thd terorisme sebagai perang
>terhadap sekelompok muslim di Indonesia menggambarkan cara berfikir yang
>keliru, sempit, dan dogmatik.

>Akibatnya tulisan anda yang sepintas kaya-vocabulary itu jadi nampak
>miskin-substansi karena terlalu berat gelora untuk sekadar menghantam
>sekelompok orang dengan godam "terrorisme".


TJ:
Aha.... ternyata selama ini anda mengganggap saya memusuhi
Islam/Muslim karena saya mencela golongan fundamentalis..??
Bung Anies, diatas anda menggambarkan tulisan saya sebagai
"amuk kepentingan yang sempit dan rendah". Saya kembalikan ini
kepada bung. Tidakkah bung mempunyai tulisan yang demikian..??

Islam itu indah. Islam dalam puncaknya telah membangun
peradaban tingkat dunia. Islam lah yang mem-preserve peradaban
Yunani dan Romawi, saat Eropa jatuh kedalam kegelapan. Islam
menghubungkan peradaban tingkat dunia dari China, India, sampai
kerajaan Cordoba di Spanyol. Kesultanan Ottoman di Turkey merupakan
Islam superpower menjelang WWI.

Saladin lebih bersikap kesatria saat perang salib. Penguasa
Islam di Damaskus and Baghdad menjamin yahudi dan kristen
dalam kebebasan beribadah. Panglima Islam membebaskan
Yahudi dan kristen saat mereka merebut Yerusalem dari
European crusader. Matematika, medicine, dan chemistry
yang menjadi dasar peradaban modern, semua bersumber
dari peradaban Islam.

Lalu, relakah anda melihat Al-Qaeda merusak nama Islam dengan
meledakan pesawat, FPI mensweeping org asing, Laskar Jihad
menjarah di Maluku, serta Taliban menghancurkan patung Budha
di Afghan ?? Buat saya, tindakan semacam ini merupakan tindakan
terroris. Bukan hanya untuk Amerika atau peradaban Barat,
tapi terlebih lagi terhadap Islam sendiri. Islam tidak
sepicik atau sesempit yang digambarkan oleh golongan ini.....



makasih,
tj

_________________________________________________________________
Get your FREE download of MSN Explorer at http://explorer.msn.com/intl.asp

Kirim email ke