Dharma yang senang 'menggeliat' (Saya agak merinding dengar istilah
menggeliat-- apalagi jika untuk sesama jenis ini).

Soalnya, kata itu kadang berdekatan pula dengan kata-kata 'berbaring',
'telungkup', 'mendesah', 'melenguh panjang', 'sesuatu yang dikenakan
kemudian tersingkap', dan sejenisnya:-)

Bukan soal Piagam Jakarta nya yang menarik, tapi Dharma yang menggeliat lah
yang lebih bikin saya senyum:-) Barangkali ini ada hubungannya  dengan
'sesuatu yang tersisa dari SIPK Chicago silam':-)

Saking menggeliatnya, live Madonna-Eko Suprianto dulu pun dibawa-bawa
huahahahahah dalam waca Piagam Jakarta, bikin gua makin ngakak, Dhar.
Pengamat pinggiran yah pinggiran lah,nggak perlu dispesifikasi lebih jauh
lagi:-). Kita senasib sajalah:-)

Oke, Dharma,yg ini boleh serius deh. Soal Piagam Jakarta itu, seperti kalian
sepakati, memang jadi simbolis. Kalau saya sih, apa yang sudah ada, sudah
bagus. Piagam Jakarta, Negara Islam Indonesia, nggak bakalan ada. Penentang
terbesar dan terkuatnya, saya yakin, adalah termasuk orang Islam Indonesia
sendiri. Negara ini kita dirikan dan bangun bersama-sama tanpa berdasarkan
agama, etnis, golongan tertentu. Kita bukan negeri Arab Saudi, Vatikan,
Taliban dan sejenisnya, dan tidak akan pernah. Mereka punya jalan sendiri
dan kita hormati-- namun kita pun punya sejarah, latar sosial, politik
sendiri pula.

Sudah ah, Dharma, soal Piagam itu selesaian saja. Kalau masih penasaran,
kita bikin piagam sendiri saja. Mau kau bilang piagam Chicago boleh, piagam
pantai selatan juga boleh, piagam bu lurah juga oke. Tak mau punya piagam
juga nggak apa-apa hehehe. Kau atur saja lah itu...

salam,
penyimak pinggiran
(benar-benar pinggiran)
##




>From: Marianus DATUBARA <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: Indonesian Students in the US <[EMAIL PROTECTED]>
>To: [EMAIL PROTECTED]
>Subject: Re: Menggeliat..;)
>Date: Thu, 1 Nov 2001 09:43:38 -0500
>
> >Lae Dharma,
>
>Mas Anies yang baik,
>
> >Terima kasih komentarnya, cuma yang jelas pengamat pinggiran itu lebih
>tajam, jeli dan lugas :) Lihat saja kalau pertandingan bola, pengamat
>pinggiran itu pasti jago analisis, sementara para pemain malah cuma bisa
>"tendang-bola".
>
>Hehehe..bener juga ya, jadi pengamat pinggiran itu harus lebih tajam, jeli
>dan lugas. Sayangnya, mas Anies, saya tuch bukan seperti lae Pohan yang
>untuk jadi pengamat bisa dapet "duduk di depan" (inget khan show nya mbak
>Madonna?), tapi bener2 pengamat yang nggak dapet tiket buat nonton
>pertandingan sepak bola, yang akhirnya, nongkrong aja di luar stadion
>sambil makan bubur ayam..;). Jadi, pengamatannya, ya kelas bubur ayam
>dech..;)
>
> >Rasanya aneh ya kalau piagam Jakarta dimasukkan kembali ke UUD 45. why?
>bisa-bisa kita punya dua pembukaan? bukankah pembukaan UUD kita sekarang
>itu adalah Piagam Jakarta minus 7 kata :)
>
>Yup, tapi khan orang Indonesia (nggak semuanya ya) seneng dengan yang
>aneh2. Baca koran hari ini ndak? Aneh tapi nyata khan para wakil rakyat
>berantem dihadapan jutaan penduduk yang diwakili..;(
>
>Atau mungkin sudah nggak aneh lagi ya..;)
>
> >Lae, soal Piagam Jakarta itu debatnya sekarang sudah terlalu simbolis.
>Baik pihak yang mendukung ataupun menentang sama-sama memanfaatkan issu ini
>sebagai simbol untuk cari dukungan politik. Nah, kalau sudah simbolis
>begini jadi repot karena dari kedua pihak tidak akan ada yang melihat
>substansinya lagi. Karena itu, selama perdebatannya terfokus pada simbol
>saja  ... saya tidak tertarik untuk mendukung atau menentang.
>
>Well, sekali lagi, orang Indonesia (nggak semuanya juga ya) memang senang
>dengan yang simbolis2, jadi nantinya, kalau diserang, mudah nge-les, udah
>kayak koboi..;)
>
>Btw, terlepas dari simbolis atau tidaknya, saya mau jujur nich nanya ama
>mas Anies, setujukah mas Anies Piagam Jakarta dimasukkan kembali ke dalam
>Pembukaan UUD 45 atau di dalam sila pertamanya Pancasila?
>
>Soalnya, jujur aja nich, beberapa rekan saya yang beragama Islam berusaha
>menghindar pertanyaan yang satu ini, dan semoga mas Anies bukan termasuk
>dalam kelompok 'abu2' ini..;)
>
> >Barangkali Lae masih Iigat soal P-4 tahun 1978 dulu, atau soal asas
>tunggal tahun 1980-an? Kedua contoh ini menggambarkan betapa repotnya
>bangsa ini mendukung dan menentang simbol pancasila itu.  Ormas
>keagamaanpun  "menggeliat", dari mulai Koferensi Wali Gereja Indonesia
>(KWI) sampai Muhammadiyah. Tapi lihatlah hasilnya sekarang, pancasila itu
>ya tidak lebih dari sekedar simbol otoritarianisme orde baru.
>
>Setuju, mas.
>
> >Artinya, selama belum ada kejelasan detailnya maka issue piagam jakarta
>itu tidak lebih seperti usaha menggolkan pancasila sebagai asas tunggal ke
>semua institusi di Indonesia. Kalau sudah ada detailnya, maka bisa
>dibicarakan secara lebih transparan dan transaksional. Dengan begitu baik
>pendukung maupu penentang bisa berdebat secara substantif dan rasional,
>bukan yang dogmatik.
>
> >Saya pribadi berpandangan bahwa seorang yang mengaku warga negara
>Indonesia maka ia harus taat pada dan menjalankan tata hukum Indonesia.
>Begitu juga dengan seseorang yang mengaku memeluk agama Islam maka ia harus
>taat pada dan menjalankan tata hukum Islam. Dalam bahasa agama, tata hukum
>islam itu disebut syari'ah.
>
>Ya, saya pun berpandangan demikian, mas Anies, makanya aneh sekali bagi
>saya, mengapa masalah Piagam Jakarta ini diangkat kembali, padahal para
>pendiri negeri kita sudah cukup bijaksana menyelesaikan masalah tsb.
>
>Satu pertanyaan yang langsung muncul di benak saya (sudah saya lemparkan di
>email terdahulu), masak iya sich untuk menjalankan tata hukum agamanya,
>kita masih harus diyakinkan lagi? Bukan kah itu sama saja dengan "biar sreg
>diakui sebagai orang yang beriman, tetangga kiri kanan juga harus tahu
>tuch". Lha!!
>
> >Ok, ini dulu salam hangat dari DeKalb,
> >
> >Anies
>
>Salam hangat selalu dari Pantai Selatan Florida,
>Dharma


_________________________________________________________________
Get your FREE download of MSN Explorer at http://explorer.msn.com/intl.asp

Kirim email ke