>Saya setuju dengan Ali. Berita-berita seperti ini masih sangat 'buram' >keabsahannya. Sekitar 6 bulan yang lalu memang ada kejadian >'perang-perangan' di Poso and I don't know how it is now. Anyway, let's >keep things cool.
>thanks, >[EMAIL PROTECTED] Okki, masalah buram atau tidaknya, tergantung dari sudut mana dan siapa yg melihatnya. Seperti dalam posting saya terdahulu, saya sudah menjelaskan bahwa informasi yg sebelumnya saya berikan tersebut bisa dijamin kevaliditasannya. Sevalid informasi URL laskarjihad yg saya berikan setelah posting pertama. Makanya saya simpulkan setelah itu, bahwa yg sedang terjadi di Poso saat ini ngga beda jauh dengan yg pernah (atau masih?) terjadi di Ambon. Ada dua pihak yg bertikai, kelompok Islam dan kelompok Kristen. Ini ada satu tambahan artikel informasi kalau rekan Okki atau pun rekan Ali masih meragukan kevaliditasan informasi yg saya terima sebelumnya. Artikel informasi yg saya kutipkan di bawah ini tingkatannya sudah lebih jauh lagi dari informasi yg awal saya berikan karena ruang lingkupnya sudah bicara sampai ke pihak internasional dalam hal ini PBB. Nah, silahkan menilai sendiri kevaliditasan informasi yg saya berikan. Untuk memastikan tidak ada kerancuan pengertian atas kata 'valid' yg kita gunakan disini, 'valid' itu tidak sama dengan 'akurat'. Hal ini bisa dimaklumi karena yg namanya berita 100% akurat menggambarkan situasi itu ngga akan pernah ada dalam kenyataan/prakteknya. jabat erat, Irwan Ariston Napitupulu > Menado Post, Sabtu 1 Desember 2001 > Uskup Manado Serukan 'SOS Poso' > > MANADO- Uskup Manado Mgr Yosephus Suwatan MSC menyerukan seruan sangat darurat -SOS (Save Our Soul: Selamatkan Jiwa Kami) bagi masyarakat Poso. > Seruan ini disampaikan Monsinyur Suwatan berkaitan dengan kondisi terakhir di Poso dan beberapa daerah di sekitarnya yang dinilainya sudah sangat memprihatinkan karena mengarah pada pembinasaan manusia. Bahkan, Kota Tentena yang kini sedang menampung 30 ribu warga tak berdosa tinggal selangkah lagi diserbu kelompok perusuh. Padahal saat ini tinggal Tentena kota relatif aman bagi pengungsi. > Sementara, Suwatan juga mengakui kalau dia telah menerima surat tembusan dari kelompok masyarakat yang menamakan diri Masyarakat Kristen Kabupaten Poso (MKKP). Kelompok ini dalam tembusannya telah menyurati Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Surat itu dialamatkan langsung ke Sekjen PBB Koffi Annan di Jenewa Swiss, berkaitan dengan pertikaian antar agama di Kabupaten Poso Sulawesi Tengah. > > > Ada lima poin pernyataan Masyarakat Kristen Kabupaten Poso dalam isi surat yang dikirimkan mereka ke Sekjen PBB langsung. > 1. Meminta intervensi dari PBB untuk menghentikan tindakan > kekerasan dan pelanggaran HAM yang sementara terjadi di > Kabupaten Poso, khususnya di desa-desa mayoritas penduduknya > beragama Kristen > 2. Aparat keamanan (TNI/Polri) tidak mampu mengendalikan > keamanan masyarakat, sehingga kendali keamanan dipegang > oleh 'Laskar Jihad.' > 3. Pemerintah Indonesia tidak mampu menghentikan dan > menyelesaikan konflik yang telah berlangsung selama 3 tahun > terakhir dan telah menelan ribuan korban jiwa serta harta benda. 4. Bilamana situasi ini tidak dihentikan, maka penyerangan akan > terus berlanjut dan mengakibatkan tragedi kemanusiaan yang > sangat dahsyat. > 5. Situasi terakhir (tanggal 29 November 2001, pukul 20.00) semakin > mencekam. Di mana terjadi penyerangan, pembakaran, pembunuhan > dan penjarahan yang dilakukan oleh kelompok teroris yang > berkedok 'Laskar Jihad.' > > Demikian isi pernyataan yang ditulis berbahasa Inggris untuk Sekjen PBB yang ditandatangani lima tokoh masyarakat dan tokoh agama, mewakili masyarakat Poso. Mereka terdiri dari Crisis Center Gereja Kristen Sulawesi Tengah sekretaris eksekutif Oldy Tacoh. Ketua Umum Forum Komunikasi Masyarakat Tanah Poso Drs J Santo, ketua umum Angkatan Muda Sintuwu Maroso (Amsimar) Kabupaten Poso F.WL. Sowolino SE MSi, Pastor Paroki Wakil Umat Katolik Kabupaten Poso Jimmy Tumbelaka Pr, dan Ketua Umum Majelis Sinode Gereja Kristen Sulawesi Tengah Pdt A Rampalodji. > > Oleh Suwatan, tembusan surat untuk PBB itu kemudian diteruskannya ke seluruh media cetak disertai siaran pers dari Keuskupan Manado, yang juga dikirimkan termasuk ke jaringan berita Manado Post Group yang diterima malam tadi. ''Poso merupakan wilayah pelayanan Keuskupan Manado, karenanya kami ikut prihatin bahkan sangat berharap bantuan keamanan secepatnya. SOS untuk Poso,'' seru Suwatan. > Dalam siaran pers itu, Uskup Manado Suwatan MSC mengakui, antara tanggal 27 hingga 29 November 2001, ia mendapat berita-berita yang amat mencemaskan tentang penyerangan, penjajahan, dan pembakaran rumah-rumah penduduk, gedung sekolah SD, kantor, balai desa, dan rumah-rumah ibadat di lima desa. > > > KRONOLOGIS PERISTIWA > Kronologis peristiwa itu menurut Uskup Suwatan yakni pada : > Selasa, 27 November bulan lalu, pada pagi hari Desa Bataleba diserang. Aparat gabungan TNI-Polri yang berjaga di desa tersebut bukan tandingan perusuh-perusuh yang bersenjata organik lengkap dan besar jumlahnya. Lepas tengah hari Desa Betalemba dikuasai perusuh. 74 rumah dibakar dan 3 orang korban luka tembak. > Rabu, 28 November 2001, serangan berlanjut ke Desa Patiwunga dan habis dibakar 200 rumah, sebuah bangunan sekolah dan sebuah rumah ibadat. > Berikutnya hari yang sama Desa Tengkura diserang dan sekitar jam 14.00 sudah habis dibakar perusuh 300 rumah, satu kantor desa dan sebuah rumah ibadat. Tiga orang dilaporkan meninggal. > Kamis, 29 November 2001, para perusuh terus mengadakan penyerangan dan pukul 09.00 memasuki desa Sanginora, hingga pukul 11.00 masyarakat coba mengadakan perlawanan. Aparat keamanan tidak ada di lokasi. Akhirnya pukul 17.00 Desa Sanginora dan Debua dikuasai perusuh. Kelima Desa yang sudah dikuasai para perusuh sudah mendekati daerah Tentena. Sebentar lagi para perusuh akan masuk ke Tentena dan diperkirakan akan terjadi pertikaian yang besar. Masyarakat di desa-desa yang diserang itu telah melarikan di > ke Tentena. > > > Menurut Uskup Suwatan, sedikitnya saat ini ada 30 ribu banyaknya orang yang ada di Tentena. Mereka penuh kecemasan, ketakutan dan kekuatiran. > ''Karena, dengan dikuasainya Desa Sanginaro dan Debua, gerak perusuh selangkah lagi akan memasuki Tentena.'' Lagi pula jumlah para perusuh ada sekitar seribu orang dengan persenjataan organik yang lengkap. > Jadi dari tanggal 27 hingga 29 bulan lalu, ada 5 desa yang diserang dan dibakar habis tenpa perlawanan berarti dari penduduk yang memang tidak siap bertempur melawan pasukan perusuh yang bersenjatakan organik lengkap. > Hak azasi manusia untuk hidup dengan aman dan damai dihancurkan. Amat mengecewakan bahwa tidak ada parat keamanan untuk menghalangi dan mengusir para perusuh. Rakyat tidak mendapat perlindungan yang diharapkan dari pemerintah dan aparat keamanan. Menurut Uskup Suwatan, mereka merasa dibiarkan saja. > > Uskup mengaku tidak dapat mengerti bahwa dalam negeri RI yang berdaulat ini tidak diambil tindakan terhadap sepasukan sipil bersenjata yang merajalela seperti itu. Ia pun menyerukan SOS! Mendesak minta perhatian sungguh-sunguh dari pemerintah dan bantuan aparat keamanan untuk penduduk Kabupaten Poso, terlebih saat ini amat kritis bagi penduduk di sekitar kota Tentena. ''Kiranya seruan ini didengar dan ditindaklanjuti,'' harap Uskup. (myw) jabat erat, Irwan Ariston Napitupulu
