Dear all:

Saya yakin bahwa e-mail ini bisa menyinggung perasaan para pembaca, karena
itu saya terlebih dulu minta maaf.

Menyimak beberapa pendapat diskusi di milis ini, saya rasa yang terjadi adalah
kita dibutakan oleh "nama" dan "agama."

Setiap kali kita mendengar kata "Jihad", "Laskar Merah," dsb, yang langsung
terbentuk
di kepala kita adalah image bahwa ini "perang agama." Karena itu tak heran,
beberapa
anggota milis yang beragama Kristen (termasuk saya) akan langsung bereaksi
begitu
mendengar berita yang memburuk-burukkan Kristen, dan yang beragama Islam
langsung
bereaksi jika mendengar berita yang memburuk-burukkan Islam.

Maaf jika saya salah, tapi saya rasa para peserta milis yang beragama Islam
tentu cukup
peka kalau mendengar atau membaca berita yang menyudutkan Laskar Jihad.
Begitu juga
kalau peserta milis yang Kristen membaca berita yang menyudutkan Laskar Kristen
di Maluku. Karena itu para peserta milis akan cenderung sangat kritikal
atau skeptik jika
membaca berita seperti itu. Saya yakin bukan karena semua mendukung Laskar
Jihad,
Laskar Merah ataupun gerakan yang menggunakan kekerasan, melainkan ada "defense
mechanism" di dalam diri masing-masing yang berusaha membela "agama"-nya
dan menganggap
tak mungkin berita-berita yang menyudutkan agama masing-masing benar.

Tapi untuk yang namanya Laskar Jihad ataupun Laskar Merah, apapun namanya,
sebetulnya
kita perlu sangat kritis. Saya berharap agar para pembaca "membongkar"
nama-nama itu
dan melihat apa yang terjadi di lapangan.

Yang saya lihat terjadi di Indonesia, baik di kalangan Laskar Jihad, Laskar
Kristen,
dsb adalah yang pertama: agama digunakan sebagai "pembenaran" bagi perbuatan
biadab yang mengakibatkan penderitaan rakyat. Silahkan "serbu" saya sebagai
provokator, tapi ada satu term yang saya gunakan untuk makhluk sejenis mereka:
"Thugs" atau bandit.

Mengapa saya katakan bandit? Tidak lain karena perbuatan laskar-laskar tersebut
yang menyatakan diri mereka sebagai "pembela agama" tak berbeda jauh dari
perbuatan kriminil yang mengorbankan rakyat yang tak berdosa. Coba kalau kita
belah kerusuhan di Maluku tahun 1999, apa awalnya? Keributan antara gang
kriminal
Islam lawan Kristen yang memperebutkan daerah kekuasaan yang menjalar karena
provokasi dari Jakarta menjadi "perang agama." Kenapa menjalar? Karena
polisi dan
militer yang tak becus menjaga keadaan, sehingga kriminal-kriminal tersebut
bebas
bertindak tanpa takut akan dilempar ke bui akibat perbuatan mereka. Rakyat
tentunya
yang menjadi korban, terpaksa "memilih" untuk lebih baik di bawah
"ganglord" yang mana.
Tapi apakah ini sebetulnya perang agama atau seperti kata Huntington "Clash
of Civilization"?
Tidak. Karena yang terjadi adalah perang antara kriminal.

Saya memandang bahwa pasukan-pasukan milisi dari semua agama termasuk
Laskar Jihad
yang masuk di tahun 2000 semakin memperkeruh suasana. Pasukan-pasukan tersebut
tidak lain adalah kaki tangan politikus ekstrimis yang gila kuasa dan
digunakan sebagai alat
teror kepada lawan-lawan politik lain. Saya menuduh bahwa laskar-laskar
baik di Maluku, Poso,
Jawa Timur, ataupun Kalimantan sebagai kaum fanatik yang sebetulnya
kalau di alam demokrasi yang sempurna adalah orang-orang di pinggir jalan yang
berteriak-teriak tanpa diacuhkan orang-orang yang lalu lalang. Di jaman
berantakan ini,
mereka bisa tampil di pentas karena dengan kekerasan yang menjadi sarana untuk
mereka agar bisa "didengar" oleh pemerintah pusat dan bisa menekan pemerintah.
Apalagi dengan angka pengangguran yang tinggi, yakni sekitar 20 juta orang,
merupakan sumber daya yang cukup sebagai "tentara bayaran."

Kriminal-kriminal itu beraksi sesuai dengan naluri mereka: merampok, menjarah,
memperkosa, dan menghancurkan. Tapi saya jamin, begitu kaum kriminal ini
dihadapkan dengan tentara yang berdisiplin, mereka akan kocar-kacir, karena
pada
dasarnya memang mereka pengecut yang hanya ingin "easy gain" dengan rampok.
Ngapain mengorbankan nyawa? Karena itu, saya yakin pasti ada semacam doa restu
dari Jakarta yang memberikan garansi agar perbuatan biadab mereka tak akan
dibawa
ke pengadilan.

Karena itu, satu jalan yang dibutuhkan: pasukan yang kuat, terlatih,
berdisiplin, serta
bersenjata lengkap. Laskar Jihad, Laskar merah, dsb merupakan paramilitary
unit, yang
mutunya setingkat diatas kriminal, tapi tetap bukan merupakan pasukan
militer betulan.
Dengan pasukan disiplin dan kepastian hukum, maka saya jamin kerusuhan
etnis di
Indonesia akan lenyap dengan sendirinya.

Beberapa informasi tambahan:
http://www.intl-crisis-group.org/
http://www.humanrightswatch.org/asia/indonesia.php

Salam,

YS





**********************
Yohanes Sulaiman
Department of Political Science
The Ohio State University
2043 Derby Hall, 154 North Oval Mall
Columbus, OH 43210-1373

Phone:
Office: (614)  292-3627
Home: (614)  268-4480

http://psweb.sbs.ohio-state.edu/grads/

ICQ: #27640045


"Pessimum facinus auderent pauci, plures vellent, omnes paterentur."
(The worst crime was dared by a few, willed by more and tolerated by all)

                                                         Tacitus

Kirim email ke