Selamat Kepada Bapak Jauhari Mustafa (Bpk Ari),

Semoga dibawah kepemimpinan beliau RW 14 semakin
maju dan berkembang. Semoga lingkungan tempat kita
semakin tentram, aman, nyaman dan terciptanya harmonisasi.

Selamat Melayani...

    -- A. Yahya Sjarifuddin.


jaerony wrote:
>
> Dari Pemilihan Ketua RW-14
>
> *KEPERCAYAAN WARGA ADALAH AMANAH*
>
>  
>
>  
>
> Itulah kira-kira kesimpulan singkat dari sambutan Ketua RW 14
> terpilih, *Jauhari Mustafa*,  sesaat setelah penghitungan suara yang
> memastikan suara terbanyak jatuh pada beliau dengan jumlah perolehan
> suara sebanyak 215 dari keseluruhan suara yang masuk sebesar 538 atau
> sebesar 40% pada pemilihan ketua RW 14 periode 2010 -2013 yang
> puncaknya berlangsung pada hari Minggu 20 Desember 2009 yang lalu.
>
>  
>
> Proses pemilihan yang telah dimulai sejak akhir November hingga
> berakhir pada hari Minggu tersebut diramaikan oleh 4 kandidat,
> masing-masing Ruben S. Pormes yang dicalonkan oleh RT 04/14, Chandra
> Ismet, calon dari RT 02/14, Jauhari Mustafa, calon dari RT 01/14 dan
> Bambang Sulistyo, calon dari RT 06/14.
>
>  
>
> Jumlah perolehan suara keempat calon itu dari urutan terbanyak adalah
> sebagai berikut :
>
>  
>
>                 Jauhari Mustafa                215 suara (40%)
>
>                 Bambang Sulistyo             135 suara (25%)
>
>                 Chandra Ismet                   121 suara (22%)
>
>                 Ruben S. Pormes                 51 suara (  9%)
>
>                Suara rusak dan abstain    16 suara (  4%)
>
>  
>
> Sebagaimana di sejumlah pemilihan RT, jumlah suara yang masuk melebihi
> rekor pemilihan kepala daerah, pemilihan anggota legislatif dan juga
> pemilihan presiden dan wakil presiden yaitu sejumlah 92% atau 538
> suara dari jumlah seluruh 583 hak suara warga di mana satu kepala
> keluarga (KK) berhak atas 2 suara, suami dan isteri.
>
>  
>
> Proses penghitungan suara itu dihadiri oleh sekitar 80 warga termasuk
> Panitia Pemilihan, pengurus RT dan pengurus RW demisioner di
> lingkungan RW 14, para mantan pengurus, tokoh masyarakat serta ibu-ibu.
>
>  
>
> *Kejutan*
>
>  
>
> Calon yang dimunculkan boleh jadi sosok yang menjadi "kejutan" bagi
> sebagian warga lantaran di diskusi milis RW-14 sendiri yang muncul
> adalah "sekedar calon" dengan arah pembicaraan yang cenderung sekedar
> guyonan. Di pembicaraan warga sehari-hari juga tidak terlihat focus
> dan hanya pada pembicaraan-pembicaraan yang terbatas.
>
>  
>
> Secara pribadi, ketua terpilih, Pak Ari, demikian biasa dipanggil,
> juga merasa bahwa proses pencalonannya demikian singkat. Setelah
> secara kekeluargaan pengusulan oleh "tim sukses" untuk menjadi calon
> mewakili RT-nya sempat ditolaknya beliau merasa bahwa penolakan itu
> sudah final, /"Sudah aman dari pencalonan nih"/, kenangnya. Tak
> dinyana selang beberapa hari sejumlah wakil dari warga menyodorkan
> hasil /pooling/ warga bahwa beliau diminta untuk bersedia dicalonkan
> mewakilit RT 01/14 menjadi calon Ketua RW. /"Ya sudah, mau apalagi
> wong ini adalah amanah warga"/, lanjutnya dengan ekspresi bahwa
> kepercayaan ini merupakan perhatian besar bagi warga di lingkungannya
> itu bagi dirinya dan juga keluarganya selain amanah tadi.
>
>  
>
> *Persaingan yang ketat*
>
>  
>
> Kalau di saat pencalonan Pak Ari didukung oleh lebih dari 60 kepala
> keluarga di RT 01/14 khususnya, di kubu yang lain yaitu kubu Bambang
> Sulistyo atau yang kita kenal sebagai Pak Sulis secara teoritis
> didukung oleh 2 RT yaitu RT 05/14 dan RT 06/14 yang jumlah keseluruhan
> warganya sekitar 90 warga di kedua RT. /"Di atas kertas semestinya Pak
> Sulis bisa memenangi pemilihan ini"/, kata Ustan Aliman mantan Ketua
> RT 06/14.
>
>  
>
> Dengan peta seperti itu tentu saja membuat proses penghitungan suara
> menjadi seru karena susul-menyusul jumlah perolehan suara tidak
> terhindarkan antara keduanya.
>
>  
>
> Yang tak kalah menariknya adalah perolehan suara dari Chandra Ismet.
> Perolehan sebesar 121 suara tidak saja berasal dari wilayah pencalonan
> yaitu RT 02/14 tapi juga berasal dari wilayah RT yang lain mengingat
> jumlah warga di RT 02/14 itu sekitar 43 kepala keluarga atau 86 suara
> saja.
>
>  
>
> *Sikap Menghargai Warga*
>
>  
>
> Ada calon lain yang hampir terlewat yaitu Ruben S. Pormes, siapakah
> beliau itu?
>
>  
>
> Bagi warga yang selama ini ikut aktif di kegiatan RW dan lebih khusus
> di tempatnya beliau tinggal di RT 04/14 sosok Pak Ruben tidak asing
> lagi. Dedikasinya di setiap kegiatan tidak saja dari ide-ide dan
> pemikirannya tapi /support/nya untuk setiap kegiatan itu susah
> dibandingkan dengan warga yang lain meski pengurus sekalipun. Teramat
> banyak peralatan yang "disumbangkan" pada setiap kegiatan, /sound
> system/, peralatan band, /in-focus/, lampu-lampu hias, peralatan
> elektrik lain, sampai taplak meja dan kain /background/ di samping
> tenaganya juga. Bahkan, Ketua RW yang baru saja lengser, Zainal
> Fitriyadi, pernah menyampaikan secara bergurau untuk tidak  meminta
> tolong atau menanyakan peralatan yang kurang di suatu kegiatan kepada
> beliau. Karena jawabannya hampir pasti selalu ada bahkan sampai harus
> keluar uang sekalipun.
>
>  
>
> Pencalonan beliau tidak saja sebagai penghargaan warga atas sikap
> ringan tangan sekaligus "ringan peralatan" bahkan "ringan kantong" itu
> tetapi pada sikapnya selama ini yang sangat berhidmat pada
> kemaslahatan warga itu.
>
>  
>
> Sikap penghargaan atas warga ini tentu saja patut dilestarikan di
> tengah fenomena yang bisa saja muncul yaitu sikap/ individualisme/,
> tidak respek, sok "ngebos", sok "pejabat" dan sikap-sikap yang lain
> yang tidak mampu melihat potensi berbeda setiap warga yang harus
> diakomodasi dan dihormati.
>
>  
>
> *Memimpin atau Dipimpin?*
>
>  
>
> Sikap saling menghargai dalam konteks proses pemilihan baik pemilihan
> RT maupun pemilihan RW atau proses pemilihan di organisasi yang lain
> setidak-tidaknya memperlihatkan sikap kita atas pertanyaan di atas,
> *"bisakah kita memposisikan diri kita sebagai orang yang dipimpin atau
> memilih menjadi orang yang memimpin?"*.
>
>  
>
> Adalah sirah nabawiyah yang mengajarkan kepada kita bahwa di jaman
> Nabi Muhammad SAW setiap orang yang bersedia sebagai pengikut beliau
> selalu didahului oleh */bai'at/* (sumpah setia). Di jaman kita tentu
> saja hal itu tidak diperlukan dan sebagai gantinya adalah komitmen
> diri kita masing-masing dalam berkhidmat terhadap lingkungan baik
> lingkungan terkecil maupun lingkungan yang lebih besar semisal
> lingkungan RW ini.
>
>  
>
> Jika kita memilih sebagai orang yang dipimpin maka hormatilah apa yang
> menjadi "titah" dari pemimpinnya itu meskipun di tempat lain kita itu
> adalah bos, manajer, pejabat, pakar dan orang dengan pangkat serta
> jabatan lain yang menyilaukan dan haus akan pengakuan.
>
>  
>
> Jika kita memilih menjadi pemimpin lantaran amanah yang kita terima
> maka inventarisasilah bahwa setiap individu memiliki potensi unik yang
> tidak dimiliki orang lain. Bersikaplah "seperti" Nabi yang bersikap
> sepadan dengan siapa yang dihadapi sehingga sunnah-sunnahnya selalu
> bernada posifit baik kepada si alim maupun terhadap para munafik.
> Sikap sabar menjadi kunci penentu dalam bertindak sebagai pemimpin itu.
>
>  
>
> *Transformasi Kesalehan Individu*
>
>  
>
> Sub judul di atas kelihatan terlalu berat disampaikan atau sebaliknya
> kelihatan seperti omongan  seorang pakar. Tidak!
>
>  
>
> Sering kita melihat seseorang yang kelihatan demikian "khusyu'"
> menggeluti sesuatu. Pertanyaannya, apakah "sesuatu" yang dia geluti
> demikian bernilai? Mungkin ya, tapi itu mungkin hanya terbatas pada
> dirinya secara individu atau paling banter bagi keluarganya. Bagi
> masyarakat? Serasa kekhusu'annya itu tidak pernah dirasakan di alam sadar.
>
>  
>
> Saya pernah mencermati seseorang yang "vokal" dalam setiap kesempatan
> baik di rapat maupun di masyarakat. Tetapi setelah pada suatu saat dia
> didaulat untuk menjadi seorang pimpinan dia "kalah" hanya karena
> desakan isterinya untuk mundur lantaran suara negatif yang dia terima
> di awal kepemimpinannya. Apakah kevokalan (baca: ide positif) dia bisa
> ditransformasikan seperti saat dia mengkritisi segala sesuatu di
> banyak kesempatan itu?
>
>  
>
> Yang perlu selalu diingat dalam konteks tulisan ini adalah bahwa yang
> sekarang dihadapi adalah masyarakat, warga, dan tetangga kita sendiri.
> Kearifan menjadi alat lain dalam menjalankannya karena di sana kita
> bercermin :  siapakah diri kita itu? Dan nantinya setelah berakhir,
> tidak perlu ada semacam pemaafan terhadap diri sendiri. Yang
> signifikan adalah apakah kebaikan, kearifan, pemikiran positif kita
> mengalami transformasi kepada kehidupan khalayak atau warga?
>
>  
>
> Kita memang harus terus belajar dan berani mendengar, bukan hanya
> berani menyangkal manakala tidak sesuai dengan pemikiran kita. Karena
> sikap arogansi kita akan membakar diri kita sendiri dan tidak bernilai
> selain menuju kondisi pecah-belah.
>
>  
>
> Semoga Allah senantiasa merahmati kita semua. Amiiiin ...
>
>  
>
>  
>
> */Selamat atas terpilihnya Pak Ari menjadi Ketua RW yang baru semoga
> menambah dinamika baru di lingkungan warga RW 14. /*
>
>  
>
>  
>
> (Jaeroni Setyadhi, Warga RT 02/14)
>

Kirim email ke