Asalamualaikum,

Terima kasih kepada semua teman atas ucapan selamat, doa dan dukungannya. Dlm 
perjalanan waktu nanti, saya harapkan ide-ide, masukan-masukan yg bisa memberi 
manfaat untuk warga RW 14 bisa disampaikan baik melalui email, tilpon maupun 
secara langsung dan semoga saya bisa mengemban amanah ini dengan 
sebaik-baiknya. Amien....... 

Terima kasih,
Wassalamualaikum wr wb,

Ary JM.


From: [email protected]
To: [email protected]
Date: Mon, 21 Dec 2009 08:44:22 +0700
Subject: [porsenipar] Kepercayaan Warga adalah Amanah











Dari Pemilihan Ketua RW-14
KEPERCAYAAN WARGA ADALAH 
AMANAH
 
 
Itulah kira-kira 
kesimpulan singkat dari sambutan Ketua RW 14 terpilih, Jauhari Mustafa,  sesaat 
setelah penghitungan suara yang 
memastikan suara terbanyak jatuh pada beliau dengan jumlah perolehan suara 
sebanyak 215 dari keseluruhan suara yang masuk sebesar 538 atau sebesar 40% 
pada 
pemilihan ketua RW 14 periode 2010 -2013 yang puncaknya berlangsung pada hari 
Minggu 20 Desember 2009 yang lalu.
 
Proses pemilihan yang 
telah dimulai sejak akhir November hingga berakhir pada hari Minggu tersebut 
diramaikan oleh 4 kandidat, masing-masing Ruben S. Pormes yang dicalonkan oleh 
RT 04/14, Chandra Ismet, calon dari RT 02/14, Jauhari Mustafa, calon dari RT 
01/14 dan Bambang Sulistyo, calon dari RT 06/14. 
 
Jumlah perolehan suara 
keempat calon itu dari urutan terbanyak adalah sebagai berikut 
:
 
                
Jauhari Mustafa                
215 suara (40%)
                
Bambang Sulistyo             
135 suara (25%)
                
Chandra 
Ismet           
        121 
suara (22%)
                
Ruben S. Pormes        
         51 suara (  9%)
               Suara 
rusak dan abstain    16 
suara (  4%)
 
Sebagaimana 
di sejumlah pemilihan RT, jumlah suara yang masuk melebihi rekor pemilihan 
kepala daerah, pemilihan anggota legislatif dan juga pemilihan presiden dan 
wakil presiden yaitu sejumlah 92% atau 538 suara dari jumlah seluruh 583 hak 
suara warga di mana satu kepala keluarga (KK) berhak atas 2 suara, suami dan 
isteri.
 
Proses 
penghitungan suara itu dihadiri oleh sekitar 80 warga termasuk Panitia 
Pemilihan, pengurus RT dan pengurus RW demisioner di lingkungan RW 14, para 
mantan pengurus, tokoh masyarakat serta ibu-ibu.
 
Kejutan
 
Calon yang dimunculkan 
boleh jadi sosok yang menjadi “kejutan” bagi sebagian warga lantaran di diskusi 
milis RW-14 sendiri yang muncul adalah “sekedar calon” dengan arah pembicaraan 
yang cenderung sekedar guyonan. Di pembicaraan warga sehari-hari juga tidak 
terlihat focus dan hanya pada pembicaraan-pembicaraan yang 
terbatas.
 
Secara pribadi, ketua 
terpilih, Pak Ari, demikian biasa dipanggil, juga merasa bahwa proses 
pencalonannya demikian singkat. Setelah secara kekeluargaan pengusulan oleh 
“tim 
sukses” untuk menjadi calon mewakili RT-nya sempat ditolaknya beliau merasa 
bahwa penolakan itu sudah final, “Sudah 
aman dari pencalonan nih”, kenangnya. Tak dinyana selang beberapa hari 
sejumlah wakil dari warga menyodorkan hasil pooling warga bahwa beliau 
diminta untuk bersedia dicalonkan mewakilit RT 01/14 menjadi calon Ketua RW. 
“Ya sudah, mau apalagi wong ini adalah 
amanah warga”, lanjutnya dengan ekspresi bahwa kepercayaan ini merupakan 
perhatian besar bagi warga di lingkungannya itu bagi dirinya dan juga 
keluarganya selain amanah tadi.
 
Persaingan yang 
ketat
 
Kalau di saat 
pencalonan Pak Ari didukung oleh lebih dari 60 kepala keluarga di RT 01/14 
khususnya, di kubu yang lain yaitu kubu Bambang Sulistyo atau yang kita kenal 
sebagai Pak Sulis secara teoritis didukung oleh 2 RT yaitu RT 05/14 dan RT 
06/14 
yang jumlah keseluruhan warganya sekitar 90 warga di kedua RT. “Di atas kertas 
semestinya Pak Sulis bisa 
memenangi pemilihan ini”, kata Ustan Aliman mantan Ketua RT 
06/14.
 
Dengan peta seperti itu 
tentu saja membuat proses penghitungan suara menjadi seru karena susul-menyusul 
jumlah perolehan suara tidak terhindarkan antara keduanya.
 
Yang tak 
kalah menariknya adalah perolehan suara dari Chandra Ismet. Perolehan sebesar 
121 suara tidak saja berasal dari wilayah pencalonan yaitu RT 02/14 tapi juga 
berasal dari wilayah RT yang lain mengingat jumlah warga di RT 02/14 itu 
sekitar 
43 kepala keluarga atau 86 suara saja.
 
Sikap 
Menghargai Warga
 
Ada 
calon lain yang hampir terlewat yaitu Ruben S. Pormes, siapakah beliau itu? 

 
Bagi warga 
yang selama ini ikut aktif di kegiatan RW dan lebih khusus di tempatnya beliau 
tinggal di RT 04/14 sosok Pak Ruben tidak asing lagi. Dedikasinya di setiap 
kegiatan tidak saja dari ide-ide dan pemikirannya tapi supportnya untuk 
setiap kegiatan itu susah dibandingkan dengan warga yang lain meski pengurus 
sekalipun. Teramat banyak peralatan yang ”disumbangkan” pada setiap kegiatan, 
sound system, peralatan band, in-focus, lampu-lampu hias, 
peralatan elektrik lain, sampai taplak meja dan kain background di 
samping tenaganya juga. Bahkan, Ketua RW yang baru saja lengser, Zainal 
Fitriyadi, pernah menyampaikan secara bergurau untuk tidak  meminta tolong atau 
menanyakan peralatan 
yang kurang di suatu kegiatan kepada beliau. Karena jawabannya hampir pasti 
selalu ada bahkan sampai harus keluar uang sekalipun.
 
Pencalonan 
beliau tidak saja sebagai penghargaan warga atas sikap ringan tangan sekaligus 
”ringan peralatan” bahkan ”ringan kantong” itu tetapi pada sikapnya selama ini 
yang sangat berhidmat pada kemaslahatan warga itu.
 
Sikap 
penghargaan atas warga ini tentu saja patut dilestarikan di tengah fenomena 
yang 
bisa saja muncul yaitu sikap individualisme, tidak respek, sok ”ngebos”, 
sok ”pejabat” dan sikap-sikap yang lain yang tidak mampu melihat potensi 
berbeda 
setiap warga yang harus diakomodasi dan dihormati.
 
Memimpin 
atau Dipimpin?
 
Sikap 
saling menghargai dalam konteks proses pemilihan baik pemilihan RT maupun 
pemilihan RW atau proses pemilihan di organisasi yang lain setidak-tidaknya 
memperlihatkan sikap kita atas pertanyaan di atas, ”bisakah kita memposisikan 
diri kita 
sebagai orang yang dipimpin atau memilih menjadi orang yang 
memimpin?”.
 
Adalah 
sirah nabawiyah yang mengajarkan kepada kita bahwa di jaman Nabi Muhammad SAW 
setiap orang yang bersedia sebagai pengikut beliau selalu didahului oleh bai’at 
(sumpah setia). Di jaman kita 
tentu saja hal itu tidak diperlukan dan sebagai gantinya adalah komitmen diri 
kita masing-masing dalam berkhidmat terhadap lingkungan baik lingkungan 
terkecil 
maupun lingkungan yang lebih besar semisal lingkungan RW 
ini.
 
Jika kita 
memilih sebagai orang yang dipimpin maka hormatilah apa yang menjadi ”titah” 
dari pemimpinnya itu meskipun di tempat lain kita itu adalah bos, manajer, 
pejabat, pakar dan orang dengan pangkat serta jabatan lain yang menyilaukan dan 
haus akan pengakuan. 
 
Jika kita 
memilih menjadi pemimpin lantaran amanah yang kita terima maka inventarisasilah 
bahwa setiap individu memiliki potensi unik yang tidak dimiliki orang lain. 
Bersikaplah ”seperti” Nabi yang bersikap sepadan dengan siapa yang dihadapi 
sehingga sunnah-sunnahnya selalu bernada posifit baik kepada si alim maupun 
terhadap para munafik. Sikap sabar menjadi kunci penentu dalam bertindak 
sebagai 
pemimpin itu.
 
Transformasi 
Kesalehan Individu
 
Sub 
judul di atas kelihatan terlalu berat disampaikan atau sebaliknya kelihatan 
seperti omongan  seorang pakar. 
Tidak!
 
Sering kita 
melihat seseorang yang kelihatan demikian ”khusyu’” menggeluti sesuatu. 
Pertanyaannya, apakah ”sesuatu” yang dia geluti demikian bernilai? Mungkin ya, 
tapi itu mungkin hanya terbatas pada dirinya secara individu atau paling banter 
bagi keluarganya. Bagi masyarakat? Serasa kekhusu’annya itu tidak pernah 
dirasakan di alam sadar.
 
Saya pernah 
mencermati seseorang yang ”vokal” dalam setiap kesempatan baik di rapat maupun 
di masyarakat. Tetapi setelah pada suatu saat dia didaulat untuk menjadi 
seorang 
pimpinan dia ”kalah” hanya karena desakan isterinya untuk mundur lantaran suara 
negatif yang dia terima di awal kepemimpinannya. Apakah kevokalan (baca: ide 
positif) dia bisa ditransformasikan seperti saat dia mengkritisi segala sesuatu 
di banyak kesempatan itu?
 
Yang perlu 
selalu diingat dalam konteks tulisan ini adalah bahwa yang sekarang dihadapi 
adalah masyarakat, warga, dan tetangga kita sendiri. Kearifan menjadi alat lain 
dalam menjalankannya karena di sana kita bercermin :  siapakah diri kita itu? 
Dan nantinya 
setelah berakhir, tidak perlu ada semacam pemaafan terhadap diri sendiri. Yang 
signifikan adalah apakah kebaikan, kearifan, pemikiran positif kita mengalami 
transformasi kepada kehidupan khalayak atau warga?
 
Kita memang 
harus terus belajar dan berani mendengar, bukan hanya berani menyangkal 
manakala 
tidak sesuai dengan pemikiran kita. Karena sikap arogansi kita akan membakar 
diri kita sendiri dan tidak bernilai selain menuju kondisi 
pecah-belah.
 
Semoga 
Allah senantiasa merahmati kita semua. Amiiiin ...
 
 
Selamat 
atas terpilihnya Pak Ari menjadi Ketua RW yang baru semoga menambah dinamika 
baru di lingkungan warga RW 14. 
 
 
(Jaeroni 
Setyadhi, Warga RT 02/14)                                         
_________________________________________________________________
NEW! Get Windows Live FREE.
http://www.get.live.com/wl/all

Kirim email ke