Pertama, saya mengucapkan selamat atas terpilihnya Bp.Jauhari Mustafa sebagai ketua RW 14. Kita harapkan RW 14 kedepan bisa menjadi lebih baik lagi. amin. Kedua, sebagai ketua RT.01,perlu sedikit saya jelaskan bahwa mekanisme pencalonan pa'ari awalnya memang lebih mengedepankan musyawarah pengurus RT.01 namun ternyata memang kondisi "warga lebih nyaman" untuk menjadi warga biasa dari daripada memimpin warga walaupun memang kita punya kandidat yang layak untuk diajukan menjadi ketua RW. Setelah melalui mekanisme musyawarah kami tidak bisa "menggolkan" calon ketua RW, alhamduillah masih ada waktu untuk melakukan pemilihan langsung calon RW melalui jalur "konvensi" warga bukan "poling lho" yang ternyata hasil musyawarah dg pemilihan langsung sama. dan akhirnya "calon tidak dapat menolak" hasil tersebut. dan akhirnya juga dengan usaha dan kekompakan seluruh warga 01 untuk mengkampanyekan calon ketua RW dari RT.01 serta takdir Allah SWT Pa'ari dapat terpilih menjadi ketua RW.
--- Pada Sen, 21/12/09, jaerony <[email protected]> menulis: Dari: jaerony <[email protected]> Judul: [porsenipar] Kepercayaan Warga adalah Amanah Kepada: [email protected] Tanggal: Senin, 21 Desember, 2009, 1:44 AM Dari Pemilihan Ketua RW-14 KEPERCAYAAN WARGA ADALAH AMANAH Itulah kira-kira kesimpulan singkat dari sambutan Ketua RW 14 terpilih, Jauhari Mustafa, sesaat setelah penghitungan suara yang memastikan suara terbanyak jatuh pada beliau dengan jumlah perolehan suara sebanyak 215 dari keseluruhan suara yang masuk sebesar 538 atau sebesar 40% pada pemilihan ketua RW 14 periode 2010 -2013 yang puncaknya berlangsung pada hari Minggu 20 Desember 2009 yang lalu. Proses pemilihan yang telah dimulai sejak akhir November hingga berakhir pada hari Minggu tersebut diramaikan oleh 4 kandidat, masing-masing Ruben S. Pormes yang dicalonkan oleh RT 04/14, Chandra Ismet, calon dari RT 02/14, Jauhari Mustafa, calon dari RT 01/14 dan Bambang Sulistyo, calon dari RT 06/14. Jumlah perolehan suara keempat calon itu dari urutan terbanyak adalah sebagai berikut : Jauhari Mustafa 215 suara (40%) Bambang Sulistyo 135 suara (25%) Chandra Ismet 121 suara (22%) Ruben S. Pormes 51 suara ( 9%) Suara rusak dan abstain 16 suara ( 4%) Sebagaimana di sejumlah pemilihan RT, jumlah suara yang masuk melebihi rekor pemilihan kepala daerah, pemilihan anggota legislatif dan juga pemilihan presiden dan wakil presiden yaitu sejumlah 92% atau 538 suara dari jumlah seluruh 583 hak suara warga di mana satu kepala keluarga (KK) berhak atas 2 suara, suami dan isteri. Proses penghitungan suara itu dihadiri oleh sekitar 80 warga termasuk Panitia Pemilihan, pengurus RT dan pengurus RW demisioner di lingkungan RW 14, para mantan pengurus, tokoh masyarakat serta ibu-ibu. Kejutan Calon yang dimunculkan boleh jadi sosok yang menjadi “kejutan” bagi sebagian warga lantaran di diskusi milis RW-14 sendiri yang muncul adalah “sekedar calon” dengan arah pembicaraan yang cenderung sekedar guyonan. Di pembicaraan warga sehari-hari juga tidak terlihat focus dan hanya pada pembicaraan-pembicaraan yang terbatas. Secara pribadi, ketua terpilih, Pak Ari, demikian biasa dipanggil, juga merasa bahwa proses pencalonannya demikian singkat. Setelah secara kekeluargaan pengusulan oleh “tim sukses” untuk menjadi calon mewakili RT-nya sempat ditolaknya beliau merasa bahwa penolakan itu sudah final, “Sudah aman dari pencalonan nih”, kenangnya. Tak dinyana selang beberapa hari sejumlah wakil dari warga menyodorkan hasil pooling warga bahwa beliau diminta untuk bersedia dicalonkan mewakilit RT 01/14 menjadi calon Ketua RW. “Ya sudah, mau apalagi wong ini adalah amanah warga”, lanjutnya dengan ekspresi bahwa kepercayaan ini merupakan perhatian besar bagi warga di lingkungannya itu bagi dirinya dan juga keluarganya selain amanah tadi. Persaingan yang ketat Kalau di saat pencalonan Pak Ari didukung oleh lebih dari 60 kepala keluarga di RT 01/14 khususnya, di kubu yang lain yaitu kubu Bambang Sulistyo atau yang kita kenal sebagai Pak Sulis secara teoritis didukung oleh 2 RT yaitu RT 05/14 dan RT 06/14 yang jumlah keseluruhan warganya sekitar 90 warga di kedua RT. “Di atas kertas semestinya Pak Sulis bisa memenangi pemilihan ini”, kata Ustan Aliman mantan Ketua RT 06/14. Dengan peta seperti itu tentu saja membuat proses penghitungan suara menjadi seru karena susul-menyusul jumlah perolehan suara tidak terhindarkan antara keduanya. Yang tak kalah menariknya adalah perolehan suara dari Chandra Ismet. Perolehan sebesar 121 suara tidak saja berasal dari wilayah pencalonan yaitu RT 02/14 tapi juga berasal dari wilayah RT yang lain mengingat jumlah warga di RT 02/14 itu sekitar 43 kepala keluarga atau 86 suara saja. Sikap Menghargai Warga Ada calon lain yang hampir terlewat yaitu Ruben S. Pormes, siapakah beliau itu? Bagi warga yang selama ini ikut aktif di kegiatan RW dan lebih khusus di tempatnya beliau tinggal di RT 04/14 sosok Pak Ruben tidak asing lagi. Dedikasinya di setiap kegiatan tidak saja dari ide-ide dan pemikirannya tapi supportnya untuk setiap kegiatan itu susah dibandingkan dengan warga yang lain meski pengurus sekalipun. Teramat banyak peralatan yang ”disumbangkan” pada setiap kegiatan, sound system, peralatan band, in-focus, lampu-lampu hias, peralatan elektrik lain, sampai taplak meja dan kain background di samping tenaganya juga. Bahkan, Ketua RW yang baru saja lengser, Zainal Fitriyadi, pernah menyampaikan secara bergurau untuk tidak meminta tolong atau menanyakan peralatan yang kurang di suatu kegiatan kepada beliau. Karena jawabannya hampir pasti selalu ada bahkan sampai harus keluar uang sekalipun. Pencalonan beliau tidak saja sebagai penghargaan warga atas sikap ringan tangan sekaligus ”ringan peralatan” bahkan ”ringan kantong” itu tetapi pada sikapnya selama ini yang sangat berhidmat pada kemaslahatan warga itu. Sikap penghargaan atas warga ini tentu saja patut dilestarikan di tengah fenomena yang bisa saja muncul yaitu sikap individualisme, tidak respek, sok ”ngebos”, sok ”pejabat” dan sikap-sikap yang lain yang tidak mampu melihat potensi berbeda setiap warga yang harus diakomodasi dan dihormati. Memimpin atau Dipimpin? Sikap saling menghargai dalam konteks proses pemilihan baik pemilihan RT maupun pemilihan RW atau proses pemilihan di organisasi yang lain setidak-tidaknya memperlihatkan sikap kita atas pertanyaan di atas, ”bisakah kita memposisikan diri kita sebagai orang yang dipimpin atau memilih menjadi orang yang memimpin?”. Adalah sirah nabawiyah yang mengajarkan kepada kita bahwa di jaman Nabi Muhammad SAW setiap orang yang bersedia sebagai pengikut beliau selalu didahului oleh bai’at (sumpah setia). Di jaman kita tentu saja hal itu tidak diperlukan dan sebagai gantinya adalah komitmen diri kita masing-masing dalam berkhidmat terhadap lingkungan baik lingkungan terkecil maupun lingkungan yang lebih besar semisal lingkungan RW ini. Jika kita memilih sebagai orang yang dipimpin maka hormatilah apa yang menjadi ”titah” dari pemimpinnya itu meskipun di tempat lain kita itu adalah bos, manajer, pejabat, pakar dan orang dengan pangkat serta jabatan lain yang menyilaukan dan haus akan pengakuan. Jika kita memilih menjadi pemimpin lantaran amanah yang kita terima maka inventarisasilah bahwa setiap individu memiliki potensi unik yang tidak dimiliki orang lain. Bersikaplah ”seperti” Nabi yang bersikap sepadan dengan siapa yang dihadapi sehingga sunnah-sunnahnya selalu bernada posifit baik kepada si alim maupun terhadap para munafik. Sikap sabar menjadi kunci penentu dalam bertindak sebagai pemimpin itu. Transformasi Kesalehan Individu Sub judul di atas kelihatan terlalu berat disampaikan atau sebaliknya kelihatan seperti omongan seorang pakar. Tidak! Sering kita melihat seseorang yang kelihatan demikian ”khusyu’” menggeluti sesuatu. Pertanyaannya, apakah ”sesuatu” yang dia geluti demikian bernilai? Mungkin ya, tapi itu mungkin hanya terbatas pada dirinya secara individu atau paling banter bagi keluarganya. Bagi masyarakat? Serasa kekhusu’annya itu tidak pernah dirasakan di alam sadar. Saya pernah mencermati seseorang yang ”vokal” dalam setiap kesempatan baik di rapat maupun di masyarakat. Tetapi setelah pada suatu saat dia didaulat untuk menjadi seorang pimpinan dia ”kalah” hanya karena desakan isterinya untuk mundur lantaran suara negatif yang dia terima di awal kepemimpinannya. Apakah kevokalan (baca: ide positif) dia bisa ditransformasikan seperti saat dia mengkritisi segala sesuatu di banyak kesempatan itu? Yang perlu selalu diingat dalam konteks tulisan ini adalah bahwa yang sekarang dihadapi adalah masyarakat, warga, dan tetangga kita sendiri. Kearifan menjadi alat lain dalam menjalankannya karena di sana kita bercermin : siapakah diri kita itu? Dan nantinya setelah berakhir, tidak perlu ada semacam pemaafan terhadap diri sendiri. Yang signifikan adalah apakah kebaikan, kearifan, pemikiran positif kita mengalami transformasi kepada kehidupan khalayak atau warga? Kita memang harus terus belajar dan berani mendengar, bukan hanya berani menyangkal manakala tidak sesuai dengan pemikiran kita. Karena sikap arogansi kita akan membakar diri kita sendiri dan tidak bernilai selain menuju kondisi pecah-belah. Semoga Allah senantiasa merahmati kita semua. Amiiiin ... Selamat atas terpilihnya Pak Ari menjadi Ketua RW yang baru semoga menambah dinamika baru di lingkungan warga RW 14. (Jaeroni Setyadhi, Warga RT 02/14) Jatuh cinta itu seperti apa ya rasanya? Temukan jawabannya di Yahoo! Answers! http://id.answers.yahoo.com
