Dari Notes Belajar Seorang Awam: CERITA-CERITA KECIL UNTUK AGUK IRAWAN [15].
"Lembah Merapi" & Tante Hilda [3] Sejak udangan dan pertunjukan ini, kerjasama antara kedua cabang Lekra: Klaten dan Yogyakarta makin meningkat. Keeratan kerjasama dua cabang ini nampak dari ucapan Soegiarti Siswadi, salah seorang cerpenis terkemuka Lekra, ketika secara kebetulan ke Klaten dan bertemu di sebuah rumah teman anggota Lembaga Seni Drama Cabang Klaten: - "Bung merangkap dua fungsi ya?" Tentu saja Mbak Giarti sedang mencandaiku. + "Maksud Mbak?" - "Ketika di Jakarta, kudengar kau sudah pindah ke Klaten, dan menjadi sekreris cabang Lekra dua kota: Klaten dan Yogya". +"Wah, Mbak. Kritik Mbak kayaknya "ngenyek" teman-teman Klaten. Mengapa kehadiran kami di Klaten tidak dilihat dari pengejawantahan prinsip "saling asih, saling asah dan asuh" untuk maju bersama? -"Eee, tidak, tidak demikian. Aku tidak mengkritik, aku hanya sedang bergurau, anak muda", ujar Mbak Giarti sambil merangkul bahuku mendengar jawabanku menjadi serius. "Kau tahu, adikku sayang bahwa aku bahkan sangat bangga akan kerjasama erat dua cabang begini. Kerjasama yang tumbuh dari bawah atas dasar prakarsa kreatif dari bawah". Rumah Tante Hilda pun selalu menjadi tempat menginap kami yang utama dan seakan-akan menjadi kantor penghubung dua cabang Lekra yang secara geografis bertetangga yaitu Klaten dan Yogya. Tante Hilda akan marah besar jika mengetahui kami berada di Klaten tapi tidak menginap atau singgah menjenguk beliau.Untungnya tidak seorang pun di antara kami yang mengabaikan Tante tercinta kami ini, hingga Tante tidak mempunyai alasan menjewer kuping anak-keponakannya. Tante Hilda mempunyai tempat khusus di hati kami. Dan barangkali, di hati Tante pun kami mengisi tempat istimewa yang tadinya kosong. Beliau yang tak mempunyai anak semata wayang pun dengan bertemu kami merasa telah menemukan puluhan anak kandung sekaligus. Barangkali dari hubungan kami dengan Tante Hilda, kau bisa melihat bagaimana Lekra sebagai organisasi sastrawan-seniman, berbeda dari organisasi politik. Sebagai organisasi kebudayaan, pertama-tama kami merasa disatukan oleh jalinan perasaan orang-orang yang mencintai kesenian -- tanpa pernah berpretensi dan mencari pengakuan sebagai seniman kecuali berkarya dan bekerja dengan keinginan memberikan sesuatu untuk tanahair dan bangsa. Ide umum "seni untuk rakyat" yang membimbing arah kegiatan kami melebur jadi satu dengan jalinan perasaan sesama anggota [tanpa tanda anggota]. Jalinan perasaan di antara kami demikian kuatnya -- lebih dari kesadaran politik. "Seni untuk rakyat" yang membimbing kegiatan dan merangsang prakarsa, terutama kami pahami sebagai segala sesuatu yang menguntungkan kepentingan orang banyak, bangsa dan negeri.Lekra memberikan kami wadah pewujud sistematik bagi keinginan demikian.Karena peranan faktor perasaan di dalam organisasi demikian kuat, maka "main perintah" sangat tidak kami sukai. Di sebuah harian Semarang untuk menolak adanya gejala ini pernah kutulis sebuah artikel yang garis besar isinya mengatakan bahwa "satra-seni bukanlah tempat main komando dan komandoisme". Aku pun biasa mendengar celaan orang yang merasa lebih berdisiplin bahwa "Lekra adalah kelompok orang-orang liberal". Tentu kau tak bisa membayangkan tajamnya kritik, rendahnya kualitas seseorang jika sudah disebut "liberal". Dan aku sendiri tidak tergertak oleh "cacian" begini. Salah satu kesimpulan diskusi penyimpulan bersama Lekra Cabang Klaten dan Yogya tentang pertunjukan yang dilakukan adalah mengkonsolidasi hasil yang dicapai pertunjukan, mempererat kerja sama saling bantu kedua Cabang, memperkuat Lekra Cabang Klaten. Secara kongkret, Lekra Cabang Yogya mempercayai Mas Saptroprio, Daulat Simangunsong untuk membangun Ansambel Tari Nyanyi "Lembah Merapi" dan Arifin dari ASDRAFI untuk memperkuat Lembaga Seni Drama Klaten. Lagi-lagi rumah Tante Hilda menjadi pangkalan dan "kantor penghubung" kedua Lekra cabang bertetangga tanpa papan nama. Sepanjang pengetahuanku tidak ada satupun kantor cabang Lekra di seluruh Indonesia yang mempunyai papan nama. Mesin ketik yang dipakai pun adalah mesin ketik pribadi.Memiliki mesin ketik bagi kami sudah merupakan hal yang mewah. Tahu akan keadaan Lekra Yogya yang begini, secara bercanda almarhum Arifin C.Noer berkomentar ketika melihat sebuah bus butut lewat di hadapan kami: -"Lekra!". +"Apa kau bilang?" tanyaku. -"Lekra!" ulang Arifin sambil ngakak geli. Teman-teman lain pun tertawa mendengar gurauan Arifin. +"Butut, butut ia masih penuh sesak penumpang dan bisa menyusup hingga pelosok", jawabku. +"Coba kau lihat sopirnya. Enerjik dan memacu bus bututnya dengan gairah", tambahku seusai gelak-bahak kami. Dengan kembali dan lagi-lagi bercerita tentang Arifin C Noer, aku memang mengenang sobatku ini, mengenang kebersamaan kami, mengenang betapa perbedaan pendapat tidak menghalang dan tidak merusak persahabatan kami.Sikap ini juga yang diperlihatkan oleh Deddi Sutomo saban ketemu di Klaten, atau Sanento Yuliman, Nizar, Kirdjomulio, Farida Djamin, Nasjah Djamin, Adjib Hamzah, dan lain-lain warga "Republik Merdeka Beringharjo"... Ansambel tari-nyanyi Klaten dinamakan "Lembah Merapi" berdasarkan letak geografis kabupaten yang terletak di lembah gunung Merapi. Ada yang agaknya ngotot bertanya tentang apa-siapa yang memerintahkan pembangunan ansambel tari-nyanyi ini? Kengototan pertanyaan begini terkesan menggiring pikiranku untuk menyetujui pikiran di benak sipenanya yang tidak lebih dari dugaan dan rekaan yang terbentuk oleh ajaran sejarah Orba selama lebih dari ,tiga dasawarsa, era di mana si penanya lahir dan dewasa. Kengototan dan kesukaan menggiring pikiran ini kulihat jelas merupakan ujud nyata pola pikir dan mentalitas Orba yang tersisa dan tidak disadari. Yuyud, seorang aktivis perempuan di Jakarta, menyebut pola pikir dan mentalitas begini sebagai "otoritarian dalam pikiran dan perasaan". Di balik kengototan menggiring pikiranku untuk jadi bahan bukti pembenaran rekaan dan dugaan, kami diduga juga tidak lebih dari "alat jinak" , "robot" yang tidak mampu berpikir dengan otak sendiri, merasa dengan hati sendiri dan melihat dengan menggunakan mata sendiri. Anggapan begini sama dengan anggapan mengabad bahwa "rakyat itu bodoh", sehingga lahir istilah "kampungan", "ndeso", "debat kusir" dan sejenisnya. Yang pintar dan beradab menurut alur pikiran begini adalah mereka yang bergelar , para bangsawan dan elit. Terlalu sulit agaknya bagi angkatan sekarang meyakini bahwa remaja kami dahulu adalah juga remaja anak manusia yang punya mata dan telinga serta otak sendiri untuk membaca keadaan dan bagaimana menjawab tuntutan keadaan. Keadaan zaman waktu itulah yang merangsang prakarsa muda kami. Prakarsa kami tidak turun dari langit, juga bukan "seperti durian runtuh". Sekali lagi. Percaya atau tidak, itu adalah hak masing-masing. Sebagai orang yang biasa sejak lahir berada "di atas angin", kau boleh dan adalah hakmu untuk membangun selaksa ide dan bayangan tentang diri kami, dan aku juga berhak mengatakan apa yang kami lakukan dan tidak kami lakukan. Karena yang melakukan kegiatan itu adalah kami dan bukan penanya. Mengapa sipenanya mereka-reka kegiatan kami sesuai bayangan di benak sendiri? Jika demikian, untuk apa bertanya? Jangan minta aku memberi kesaksian di ruang pengadilan benak si penanya tentang hal-hal yang tidak kami lakukan. Kalau mau menggantikan praktek kegiatan kebudayaan pada masa kami dengan khayalan sendiri, lakukanlah sekehendak Anda tapi jangan bawa-bawa nama kami. Jika ada yang bersikap demikian kepadaku, maka aku tidak punya pilihan lain, kecuali menatap matanya tajam-tajam tanpa berkedip untuk tahu "Siapa gerangan si penanya yang menyebut diri "kiri" tapi menghinaku ketika aku terpaksa harus "klayaban" dan "terhalang pulang" sebagai ongkang-ongkang di luarnegeri. Aku sungguh sedih jika hal minimal begini saja tidak dipahami. Lebih sedih lagi jika ketidakpahaman demikian dihiasi oleh kemilau pakaian kepongahan seorang yang menganggap diri sebagai "pejuang rakyat" atau demokratisasi negeri, dan dengan lagak berpura-pura rendah hati ingin "belajar dari sejarah". Apa yang sudah dia lakukan untuk membantuku kembali ke kampung-halaman. Apakah cercaan demikian suatu bantuan solidaritas atau hanya memamerkan pengetahuan sejarah dan politik di bawah garis minimal? Sikap begini disimpulkan oleh tetua kita sebagai "dengan kail panjang sejengkal hendak menduga dalamnya laut" sehingga "sekali ikan meloncat kita tahu jantan betinanya". Tidakkah ini petunjuk tentang sakitnya bangsa dan satu angkatan anak negeri dan bangsa?! Bagaimana Ansambel Tari-Nyanyi "Lembah Merapi" dibangun? Siapa-siapa yang menjadi anggotanya? Bagaimana mengembangkannya? Apa hasil-hasil yang dicapainya? Paris, Agustus 2004. ------------------- JJ. Kusni [Bersambung....] [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

