Dari Notes Belajar Seorang Awam:



CERITA-CERITA KECIL UNTUK AGUK IRAWAN [15].

"Lembah Merapi" & Tante Hilda [4]

Bagaimana Ansambel Tari-Nyanyi "Lembah Merapi" dibangun? Siapa-siapa yang menjadi 
anggotanya? Bagaimana mengembangkannya? Apa hasil-hasil yang dicapainya? 
Masalah-masalah ini dibicarakan dalam diskusi bersama antara kedua Lekra Cabang: 
Klaten dan Yogya di rumah Tante Hilda yang juga dihadiri oleh Tante dan Mbak Esti. 
Bagi Mbak Esti, menyertai diskusi-diskusi begini merupakan kesempatan belajar dan 
mengenal adik-adiknya dari Lekra Yogya lebih lanjut sehingga akhirnya ia merasa bagian 
tak terpisahkan dari Lekra Cabang Klaten. 

Barangkali,Guk, dari proses Mbak Esti bergabung dengan Lekra Klaten, kau bisa 
mengetahui bagaimana orang-orang bergabung dengan Lekra. Adakah dari proses tidak tahu 
menjadi tahu ini,  terdapat unsur pemaksaan dan perintah atau tidak, adakah dari 
proses bergabungnya Mbak Esti ke Lekra Cabang Klaten unsur kesadaran dari diri Mbak 
Esti sendiri? Dalam diskusi bersama, yang utama kami bicarakan di rumah Tante Hilda  
adalah soal bagaimana Lekra bisa bisa memberikan solidaritas nyata melalui kesenian 
kepada gerakan tani yang sedang marak pada waktu itu. Bagaimana Lekra Cabang Klaten 
bisa mandiri? 

[Kau percaya atau tidak akan ceritaku, tidak menjadi permasalahanku, Guk.Itu adalah 
urusanmu. Timbul tenggelamnya negeri ini pun kemudian terletak di tangan angkatanmu 
yang sekaligus  menakar kadar angkatan kalian. Sekali lagi, harapan minimalku, jujur 
dan obyektif! Jangan gantikan apa yang kami lakukan dengan bayangan yang ada di 
benakmu. Selain secara berpikir metode ini tidak bertanggungjawab dan berbahaya untuk 
orang lain, metode berpikir inipun membuahkan ketidakadilan sikap. O, ada yang 
memprotesku bahwa masalahnya bukan masalah adil dan tidak adil, sementara ia dengan 
seenak perut menghakimi orang lain sesuai  isi benaknya. Menghakimi orang yang 
klayaban dan terhalang pulang sekarang sebagai ongkang-ongkang di luar negeri semata 
karena ia tidak tahu. Kebenaran dan kenyataan seakan ditakar dengan taraf 
pengetahuannya. Dirinya seakan jadi takaran benar dan salah. Aku menuntut si pengucap 
pendapat ini mempertanggungjawabkan ucapannya. Yang melakukan apa yang kami lakukan 
bukan angkatan kalian sekarang, tapi kami! Oleh apa yang kami lakukan ini kami 
membayarnya dengan darah, airmata dan nyawa dan kudapatkan masih ada di antara kalian 
yang menuding kami melakukan sesuatu yang tidak kami lakukan tanpa menyertai data tapi 
hanya atas dasar dengar-dengaran! Manusiawikah sikap begini? Wartawan di koran 
terkemuka dan apapun jabatan resminya orang begini, tidak penting, tapi yang jelas  
cara berpikirnya sudah tidak sehat, jika sejarah disusun atas dasar dengar-dengaran. 
Aku mengundangnya sekali lagi untuk bicara terbuka lengkap dengan data, kalau tidak 
ingin disebut jago fitnah! Kalau tidak bisa menyertai data lengkap apakah salah 
mengatakan orang begini sama dengan pembunuh ,paling tidak berpikiran seperti pembunuh 
dan bangga akan dirinya sebagai sepikiran dengan pembunuh? Tidak terbilang nyawa sudah 
melayang oleh metode berpikir dan pola mental begini.Masihkah kita teruskan dan 
pelihara dengan kebanggaan sebagai pahlawan kebenaran dan keobyektifan? Ajak orang ini 
keluar untuk bicara,Guk. Minta ia tuturkan datanya di hadapan umum selagi jantung kami 
berdenyut! Negeri ini tidak memerlukan gunjing! Aku tunggu benar kehadirannya!].

Jika kukatakan rumah Tante Hilda merupakan kantor penghubung kedua Lekra Cabang 
bertetangga [Klaten dan Yogya] karena umumnya Lekra tidak mempunyai kantor khusus 
seperti halnya dengan Lembaga-lembaga Swadaya Masyarakat [LSM] sekarang. Yang kami 
punya hanya alamat surat, dan alamat surat itu pun menggunbakan  alamat pribadi. Untuk 
melakukan kegiatan praktis, selamanya kami tidak pernah kekurangan ruangan. Selain 
sanggar-sanggar pelukis seperti beberapa sanggar Pelukis Rakyat Sentul, sanggar 
Seniman Indonesia Muda [SIM], ruang-ruang kelas Taman Siswa dan rumah teman-teman yang 
luas selalu tersedia. Barangkali kedengaran aneh jika kukatakan bahwa terkadang kami 
menggunakan ruang terbuka di Sentul. Mengapa tidak? Apa salahnya melakukan latihan 
teater di ruang terbuka? Yang aneh bagiku justru menyaksikan bahwa rapat-rapat ini itu 
sekarang dilakukan di hotel-hotel berbintang lengkap dengan hidangan. Usai rapat, 
ruangan ditinggalkan begitu saja. Sedangkan dahulu semuanya kami lakukan 
sendiri.Menata kursi dan merapikan kursi. Tanpa hidangan. Kecuali mimpi dan keinginan 
mewujudkannya. Dua angkatan, dua keadaan, dua perilaku.Dua mimpi dan idola barangkali. 
Barangkali mimpi dan perilaku angkatanku adalah perilaku dan mimpi kadaluwarsa 
sehingga pantas kalian ejek dan tertawai. Hanya saja andaikan aku bisa kembali muda, 
kembali berusia 20 tahun seperti dahulu, aku jelas tidak akan mengikuti pola pikir dan 
mentalitas angkatan sekarang demi mimpiku tentang keindonesiaan dan Indonesia. Aku 
tidak akan bergeming dari keinginan ini. Aku ingin kembali seperti Sun Wu Kung.

Dalam rapat bersama di rumah Tante Hilda diputuskan bahwa Ansambel Tari-nyanyi 
selayaknya beranggotakan anak-ank kaum tani sendiri dan mewakili seluruh kecamatan 
kabupaten Klaten. Dengan keanggotaan begini, maka seluruh kecamatan, melalui 
putera-puteri mereka akan merasa bahwa Ansambel Tari-nyanyi "Lembah Merapi adalah 
milik mereka. Jika perasaan begini tumbuh, maka mereka akan mememberikan sokongan 
untuk menghidupi ansambel tari-nyanyi, termasuk menerima pertunjukan dari 
ansambel-tari nyanyi sebagai tandaterimakasih dan setiakawan. Beaya pementasan akan 
ditanggung oleh kecamatan dan seluruh kelurahannya sendiri. Dengan cara ini maka kami 
menjadikan seluruh kelurahan di kabupaten Klaten sebagai panggung pertunjukan, 
sekaligus mendorong pembangunan ranting-ranting Lekra di seluruh kalurahan. Oleh rasa 
memiliki dan keperluan mereka akan kesenian, maka kelurahan secara berprakarsa 
membangun ranting-ranting mereka sendiri. Lekra meluaskan organisasi dan anggotanya 
yang tak pernah dicatat melalui prakarsa orang-orang kampung sendiri. Angka sekian 
juta anggota Lekra yang diumumkan oleh Pimpinan Pusat Lekra di jalan Tjidurian  
19,Jakarta, senyatanya tidak lain dari angka dugaan belaka. Angka politik! Lekra tidak 
pernah melakukan registrasi anggota. Aneh barangkali bagi kalian sekarang, tapi nyata 
kami lakukan di usia 20an kami.

Sebagai sekretaris Lekra Kota Yogyakarta, aku memang pernah diminta oleh pihak 
kepolisian kota untuk memberikan daftar anggota. Dengan tegas permintaan ini aku 
tolak, seperti halnya aku menolak pengadaan papan nama. Aku menolak dengan pikiran 
sederhana karena merasa polisi bukan tempatku melapor kegiatan berkesenian. 
Sastra-seni bagiku adalah republik merdeka. Berkesenian adalah hak manusiawi. Mengapa 
mesti lapor-melapor kepada polisi? Aku sangat marah kepada pihak kepolisian yang 
mengontrol sanjak yang kami bacakan dan menyensor sajak apa yang boleh dan tidak boleh 
dibaca. Kau percaya atau tidak, Guk ,bahwa ada tempat di Yogya untuk mendengarkan 
pidato Soekarno pun dilarang? Gus Dur, Rama Hardo dari KWI masih hidup. Tanya mereka 
tentang gerakan anti Soekarno sebelum meletusnya Tragedi September 1965. Kunjungi 
tempat rapat-rapat anti Soekarno di pinggiran Jakarta agar kau bisa mendapatkan 
gambaran nyata. Tragedi September 1965 adalah tragedi berdarah berskala nasional yang 
membuat negeri dan bangsa kita mundur beberapa dekade yang melahirkan angkatan 
sekarang, menjadikan kita sebagai korban intrik. Angkatanku, termasuk Lekra  yang 
banyak dihujat termasuk salah satu tumbalnya. Kalian pun masih rabun.Sibuk dan bangga 
dengan diri sendiri.

Ketika Tragedi September 1965 meletus, aku merasa lega karena penolakanku menyerahkan 
daftar anggota dan alamat mereka. Kalau tidak betapa tak tertanggungkan beban di 
nurani jika ada anggota kami yang dibunuh gara-gara daftar nama dan daftar anggota 
itu. Jangankan daftar nama, kartu anggota pun kami tidak adakan. Yang disebut anggota 
Lekra adalah pengakuan dan perasaan keterikatan masing-masing bahwa kegiatan 
berkesenian sesuai dengan keperluan masing-masing. Jika hari ini seseorang merasa 
sebagai anggota Lekra, maka ia adalah anggota Lekra dan dibuktikan dengan kehadiran 
pada berbagai kegiatan terutama latihan periodik. Jika besok ia tidak merasa Lekra dan 
tak hadir, maka ia pun akan tak menjadi anggota Lekra lagi. Bagaimana mungkin dalam 
keadaan begini meregistrasi keanggotaan? Hubungan perasaan dan tersalur tidaknya 
keinginan pribadi lebih mendasari yang disebut keanggotaan Lekra. Satu-satunya yang 
jelas benar dipahami oleh semua yang menyebut diri anggota hanyalah bahwa  sastra-seni 
Lekra [kau boleh mengatakannya bukan kesenian] adalah sastra-seni dari dan untuk 
rakyat. Semua orang memahaminya dan tak pernah ada perdebatan. Kedalaman lebih lanjut 
mengenai konsep ini diperoleh melalui diskusi-diskusi penyimpulan oleh kami sendiri. 
Karena itu kami merasa beruntung bahwa komposisi anggota kami selalu terdiri dari 
berbagai tingkat pendidikan dan kalangan sehingga keragaman ini membantu kami 
meningkatkan taraf diri.Saling isi dan saling belajar. Diskusi dan penyimpulan adalah 
sekolah mingguan kami. Barangkali dari tuturan ini kau bisa melihat bahwa orang yang 
sering dibilang bodoh, seperti orang kampung, desa dan lapisan bawah, sebenarnya tidak 
bodoh. Mereka penuh potensi. Lekra mengembangkan potensi ini. Paling tidak mereka tahu 
apa yang baik dan menguntungkan bagi mereka sendiri. Siapa yang membela mereka dan 
tidak. Siapa yang berbicara dengan bahasa mereka dan tidak . Kukira "sebodoh-bodohnya" 
orang, orang akan tahu apa yang diperlukannya dan siapa yang memihak dan memusuhi  
mereka. Lekra dengan demikian adalah milik orang kampung dan segala lapisan sadar di 
berbagai tingkat. Hal ini bisa berlangsung karena Lekra bukan orang-orang yang 
berbicara atas nama orang lain tapi atas nama diri mereka sendiri. Berapa jumlah 
mereka, aku sendiri, pimpinan pusat Lekra pun akan bohong besar jika mengatakan tahu 
persis.Tidak seorangpun yang perduli tentang angka keanggotaan. Yang kami perdulikan 
hanyalah bagaimana kegiatan kesenian bisa berkembang dan dikembangkan oleh orang 
kampung dan yang merasa sebagai  anggota sendiri. Lekra bukan partai politik, atau 
bawahan sebuah partai politik tertentu.Lekra adalah penyalur hasrat orang untuk 
berkesenian dan mengungkapkan diri. Komandoisme dan hirarkhi tidak berfungsi di Lekra. 
Saling asih, saling asah dan saling asuh, ya! Sekali lagi, jangan salahkan kami jika 
angkatanmu belum berhasil melakukan hal begini, Guk. Kalau belum berhasil, mengapa 
Lekra kalian kutuk? Apakah ketidakberhasilan kalian merupakan kesalahan Lekra? 


Siapa yang mengembangkan Lekra? Kau paham atau tidak, itu urusanmu. Tapi aku sudah 
mengatakan bagaimana Lekra dikembangkan dan berkembang. Tante Hilda dan Mbak Esti 
merasa sebagai anggota Lekra sejak kedatangan kami dari Yogya. Terlalu longgar sebagai 
organisasi, barangkali kau akan berkata. Tapi untuk apa terlalu ketat dan mendahului 
kesadaran orang dan menunjukkan kepentingan orang lain sementara orang lain itu tahu 
apa yang ia perlukan, bagaimana keinginan menungkapkan diri secara bersama tersalur? 
Mana organisasi kebudayaan lain yang menyalurkan hasrat ini?  Lekra kukira tidak lain 
adalah organisasi yang tumbuh dan berkembang karena orang-orang sudah menjadi faktor 
harapan mereka sendiri. Menyebut PKI bermain di belakang Lekra sama dengan mengumumkan 
diri tidak mengerti Lekra dan mengatakan rakyat, terutama lapisan bawah sebagai 
orang-orang bodoh. Sama dengan mempertontonkan keangkuhan elitis dan yang disebut 
intelektual, terutama mereka yang berkurung di menara gading. 

Inilah yang kami lakukan di bawah, "di akar rumput" alias grass root jika suka dengan 
istilah gagah-gagahan sekarang agar nampak "ngelit", atau "ngintelek", bukan seperti 
yang kau bayangkan di benakmu. Bahwa kalian tidak bisa berbuat seperti yang kami 
lakukan, sebabnya tanyakan pada diri sendiri. Tidak usah mencari dalih untuk 
ketidakmampuan diri. Tanyakan pada diri sendiri, apakah diri sendiri sudah terjun ke 
lapisan bawah di tempat-tempat terpencil untuk waktu yang lama dan bukan seperti 
"penunggang kuda melihat bunga" ataukah sebatas bicara tentang lapisan mayoritas dari 
puncak piramida atau menara gading? "Sosialisme" dan "kemanusiaan" tidak akan 
terejawantahkan jika berkurung di menara gading atau memandang kehidupan dari jendela 
apartemen dan rumah pribadi. Bersuara dari tempat demikian, sama dengan berbicara 
sendiri dan memuji diri sendiri atau mendambakan pujian dan pengakuan. Tidak heran 
jika tidak sedikit dari  angkatan sekarang sangat gila nama dan menjadikan diri 
sendiri sebagai poros sambil menjajakan rakyat, HAM, demokratisasi,kemiskinan, 
konflik,jender, sosialisme, posisi kiri dan sebagainya, bahkan sampai kepada 
penangkapan oleh militer,  tak lebih dari pisang goreng jajaan pagi hari dan ijazah 
untuk mendapatkan kedudukan dari pemegang kekuasaan politik. 

Untuk memilih anggota-anggota ansambel tari-nyanyi Lembah Merapi, berdasarkan 
keputusan rapat bersama di rumah Tante Hilda itu, ditetapkan menjadi pekerjaan Lekra 
Cabang Klaten. Jadwal kerja pun bersamaan dengan keputusan ini ditetapkan. Rapat 
bersama juga menetapkan bahwa masing-masing kecamatan diwakili oleh dua orang anak 
petani. Kepada Lekra Cabang Klaten juga disarankan agar dua orang ini selayaknya yang 
paling pontensial dan paling mewakili.


Paris, Agustus 2004.
-------------------
JJ. Kusni




[Bersambung....]

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke