jadi dalam demokrasi seharusnya mereka membiarkan penegakan syariah karena
itulah kebebasan yang akan membunuh habitatnya sendiri (baca:demokrasi)


----- Original Message -----
From: "dicky riyadi" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Saturday, August 28, 2004 4:11 PM
Subject: Re: [ppiindia] Survei Kebebasan Beragama, Memang Bebas


tidak beragama tidak apa-apa, pura-pura beragama juga tidak apa-apa, tetapi
jangan mengganggu dan menghambat orang lain yg taat beragama. Misalnya
mendesain acara pada saat orang harus menunaikan ibadah, menolah time break
untuk ibadah, mendesain acara pada saat hari jumat pas jumatan, atau
mendesain acara pas genting-gentingya harus ibadah magrib...

Tuhan juga tidak pernah memaksa manusia untuk beragama, hanya menjelaskan
bahwa setiap pilihan ada konsekuensinya.... ada harga yg harus dibayar
meskipun manusia tidak ngerti.... kapan Hari Pembayaran
itu...........................

himawan sutanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
dalam negara demokrasi tidak beragamapun merupakan sesuatu yang legal karena
agama hanya berlaku untuk pribadi tidak dalam ruang publik


----- Original Message -----
From: "Danardono HADINOTO" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Friday, August 27, 2004 8:13 PM
Subject: [ppiindia] Survei Kebebasan Beragama


>
>
>
>
> Sebuah tulisan dari Sukidi Mulyadi Kader Muhammadiyah; Alumnus Ohio
University; dan Mahasiswa Teologi di Harvard Divinity School, Harvard
University, Cambridge, Amerika
>
> Survei Kebebasan Beragama
>
> TEMA penting yang luput dari perhatian kita, terutama pasangan capres dan
cawapres, adalah bagaimana menyajikan model cetak biru tentang format
kebebasan beragama dan usaha merajut kerukunan beragama di tengah kenyataan
pluralisme agama dewasa ini.
>
> Pada awal 1990-an kita sempat menerima pujian dari sarjana dan pemimpin
agama tentang terbentuknya model jalan tengah kerukunan beragama di
Indonesia. Namun, tidak lebih dari satu dekade kemudian, model itu ternyata
berwatak semu dan rapuh seketika. Konflik memuncak di Ambon di mana variabel
agama bertemu dengan struktur sosial-ekonomi dan politik yang timpang.
>
> Relatif minimnya perhatian pemimpin agama dan politik terhadap penembakan
Pendeta Susianti Tinulele di Palu pada saat menyampaikan misi profetik
keagamaan di Gereja Efatha, justru semakin menegaskan bahwa kita bukan saja
miskin cetak biru kebebasan beragama, tapi juga sudah kehilangan rasa
kepekaan kemanusiaan kita terhadap pelanggaran hak asasi manusia, terutama
hak asasi dalam ekspresi keberagamaan.
>
> Padahal, jika sepenuhnya kita sadari, masa depan kita sebagai bangsa yang
plural, lebih-lebih dari segi agama, antara lain akan sangat ditentukan oleh
sejauh mana kita bersikap bijak dan tepat dalam mengelola kebebasan dan
kerukunan beragama secara demokratis. Hanya saja, selama ini kita belum
mendapatkan gambaran besar yang utuh tentang sejauh manakah peringkat
kebebasan beragama di Indonesia dibandingkan, misalnya, dengan dunia Islam
dan negara-negara Eropa dan Amerika. Sejauh manakah, misalnya juga, korelasi
antara penganut agama di suatu negara dengan peringkat kebebasan beragama.
>
> SEJAUH kita belum memiliki indeks peringkat kebebasan beragama yang
kredibel, maka, suka tak suka, kita hanya bisa merujuk pada data Freedom
House yang dikenal memiliki reputasi internasional dalam menyurvei peringkat
demokrasi negara-negara di dunia. Freedom House memiliki divisi Center for
Religious Freedom yang bertugas, salah satunya, menyurvei peringkat
kebebasan beragama negara-negara di dunia. Iran, Arab Saudi, dan Sudan,
misalnya, menempati peringkat "tidak bebas" (unfree) dalam hal kebebasan
beragama. Indonesia, berdampingan dengan Turki dan Mesir, sedikit lebih baik
dengan menduduki posisi "bebas sebagian" (partly free). Dua negara
Skandinavia, Norwegia, dan Finlandia, bersama Amerika dan negara-negara
Eropa seperti Belanda, Inggris, Jerman, dan seterusnya, menempati peringkat
"bebas" (free) dalam hal kebebasan beragama.
>
> Data Freedom House melalui Center for Religious Freedom menunjukkan, dunia
Islam secara umum masih relatif rendah peringkat kebebasan beragama; jauh
tertinggal dengan negara Amerika, Eropa, dan Skandinavia yang "bebas" dalam
indeks kebebasan beragama. Negara-negara ini umumnya didominasi oleh
Protestan dan Katolik. Secara akademis, bisa diajukan pertanyaan; apakah
nilai-nilai dan kultur Protestan dan Katolik memiliki pengaruh signifikan
terhadap kultur toleransi, kebebasan, dan demokrasi ketimbang kultur Islam?
>
> Jika kultur toleransi dan kebebasan diletakkan dalam kerangka turunan dari
nilai-nilai demokrasi, maka nilai-nilai Protestan dan Katolik memang
memiliki kontribusi signifikan terhadap indeks kebebasan beragama. Studi
klasik Alexis de Tocqueville (1969) tentang demokrasi di Amerika abad ke-19
secara jelas menunjukkan bahwa Kristen, baik dari segi nilai-nilai dan
asosiasi-asosiasi sosial-keagamaannya memiliki peran signifikan dalam
pengembangan kultur toleransi dan demokrasi di Amerika. Ketika warga negara
menjadi individu yang otonom dan aktif, maka gereja berperan sebagai
asosiasi-asosiasi sipil yang menjadi wadah kolektif keterlibatan sipil
(civic engagement) dalam isu-isu publik. Gereja perlahan-lahan mensinergikan
ritus-ritus keagamaan dengan isu-isu publik secara terpadu.
>
> Pengalaman saya dalam panel diskusi di the King Church di Ohio, 13 Mei
2003, bersama sejumlah aktivis gereja dan sosial sekaligus, malah sudah
bergerak jauh mentransendensikan iman untuk aksi toleransi, pluralisme, dan
kemanusiaan. Meski George W Bush begitu beringas menyerbu Irak, tapi pada
kutub lain aktivis gereja melakukan aksi kemanusiaan dan perdamaian secara
masif. Agama berubah menjadi identitas sosial, dan gereja, dengan demikian,
menjadi wadah asosiasi sosial yang berdampak positif terhadap pengembangan
kultur toleransi, kebebasan, dan demokrasi.
>
> Ketika Harvey Cox menulis The Secular City tahun 1965, dia memang mulai
merekam bahwa kota sekuler menjadi medium perayaan makna kebebasan sipil.
Institusi-institusi pendidikan perlahan-lahan terbebas dari intervensi
lembaga keagamaan; peradaban kota mulai bangkit bersamaan dengan kematian
agama-agama tradisional; dan nilai-nilai manusia mengalami relativisme
akibat sekularisasi yang berjalan masif. Namun, dua dekade kemudian,
tepatnya 1985, Harvey Cox buru-buru merevisi tesisnya dengan menulis
"risalah revisionis" sejarah kebangkitan agama justru di dunia sekuler,
Religion in the Secular City, (1985).
>
> Kematian agama di era sekuler memang terlampau prematur diumumkan. Agama,
institusi, dan elitenya justru menjadi kampiun konsolidasi demokratisasi di
berbagai belahan dunia; Asia, Afrika, Amerika Latin, dan Eropa Timur. Dalam
studinya yang sangat berpengaruh, The Third Wave: Democratization in the
Late Twentieth Century (1991), Samuel P Huntington mendokumentasikan bahwa
di antara 30 negara yang bertransisi menuju demokrasi antara tahun 1974 dan
1990, sekitar tiga perempat justru didominasi Katolik. Dan Katolik kemudian
mencatat tinta emas dalam menempati peringkat "bebas" dalam indeks kebebasan
beragama. Ini memang pola umum dalam membaca Katolik dalam kaitannya dengan
indeks kebebasan beragama dan demokratisasi.
>
> Tentu saja, ada studi-studi kecil yang tak terekam dan atau sengaja
dikesampingkan. Misalnya, riset ilmuwan politik Putnam di Italia
berkesimpulan bahwa Katolik mempunyai pengaruh negatif terhadap penampilan
demokrasi.
>
>
>
> MEMANG, Freedom House, dalam hal ini Center for Religious Freedom,
mengakui adanya sejumlah kritik dalam surveinya, terutama menyangkut soal
metodologi, standar dan isi pertanyaan, dan bias imperialistik terhadap
dunia Islam. Survei ini dituduh sebagai modus terbaru cara bekerjanya
pengetahuan dan kekuasaan Barat dalam pencitraan dunia Islam. Rendahnya
indeks kebebasan beragama di dunia Islam, dengan menggunakan logika ini,
dipakai Barat sebagai "instrumen ilmiah" untuk melakukan stereotyping
terhadap dunia Islam sebagai tidak toleran dari segi kebebasan beragama dan
relatif absen dalam sumbangsih terhadap demokratisasi.
>
> Tesis Edward Said tentang orientalisme sejak 1978 seolah masih berlaku dan
malah benar adanya bahwa orientalis adalah agen dan instrumen imperialisme,
dan ketertarikannya terhadap pengetahuan, terutama dunia Timur dan Islam,
dipakai sebagai sumber kekuasaan untuk memberikan stereotip negatif dan
kemudian menjajahnya, entah dalam bentuk kolonialisme, imperialisme, maupun
globalisasi. Karena itu, apa yang disebut Said (2003: 316) sebagai "skandal
kesarjanaan" sebenarnya merujuk pada perselingkuhan intelektual, terutama di
Perancis, Inggris, dan Amerika, yang mengabdikan pengetahuannya kepada
penguasa untuk melakukan kolonialisme dan imperialisme di Timur Tengah sejak
akhir abad ke-18 sampai awal abad ke-20.
>
> Namun, jika kita mau lebih adil, kritik itu muncul juga tak terlepas dari
tingkat rendahnya peringkat kebebasan beragama di dunia Islam. Terlepas dari
adanya bias imperialistik terhadap dunia Islam, tapi akal sehat kita akan
berkata yes bahwa Norwegia mempunyai kebebasan beragama yang jauh lebih baik
dibandingkan dengan, misalnya, Sudan, Arab Saudi, dan bahkan Indonesia
sekalipun. Karena itu, kita sebaiknya memosisikan survei itu sebagai bahan
introspeksi ke dalam bahwa ada sesuatu yang sangat mendasar, terkait dengan
toleransi dan kebebasan beragama yang harus segera kita benahi bersama-sama.
>
>
>
> ---------------------------------
> Gesendet von Yahoo! Mail - Jetzt mit 100MB kostenlosem Speicher
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
>
>
>
***************************************************************************
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia
yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
>
***************************************************************************
> __________________________________________________________________________
> Mohon Perhatian:
>
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
> 4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
> 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
>
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>
>
>
>
>





***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]



Yahoo! Groups SponsorADVERTISEMENT


---------------------------------
Yahoo! Groups Links

   To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

   To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]

   Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.


H�strusk och gr� moln - k�p en resa till solen p� Yahoo! Resor

[Non-text portions of this message have been removed]




***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]

Yahoo! Groups Links











------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi.4t.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke