Please bear in mind that in demoncrazy some are more equal than others :-))
> > Fr�n: Iwan Wibawa <[EMAIL PROTECTED]> > Datum: 2004/10/20 Wed PM 12:14:49 CEST > Till: [EMAIL PROTECTED] > �mne: Re: [ppiindia] Franz Magnis-Suseno SJ: Tidak Dapat Dijerat Hukum > > > > saya sangat sedih ternyata di bumi pertiwi ini masih ada hal-hal seperti ini, > bagaimana bangsa ini akan maju kalau urusan agama saja bisa jadi pertikaian, > kebencian dan iri dengki. betulkah itu yang diinginkan TUHAN dari diri kita, untuk > saling menghancurkan satu sama lain, hanya karena berbeda keyakinan. > TUHAN terlalu kuat untuk dibela seorang manusia seperti kita, TUHAN terlalu besar > untuk dipuja oleh manusia seperti kita, jika TUHAN berkehendak kita ini hanya bagai > seekor lalat, sekali tepuk mati, bumi yang luas ini, bisa sekali tepuk hancur > berkeping-keping, jadi haruskah kita menTUHANkan agama kita sendiri ? betapa > bodohnya kita ini dibanding ilmu TUHAN. > > salam damai dari seorang muslim yang sedang belajar memperbaiki shalat. dan akan > terus saya perbaiki sampai saya mati. > > IWAN W > > jonathangoeij <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > Tidak Dapat Dijerat Hukum > > Franz Magnis-Suseno SJ > > MINGGU (3/10/2004) pagi sekitar 150 orang yang menamakan diri 'Fron > Pemuda Islam Karang Tengah' mulai berkumpul di depan gerbang sekolah > Katolik Sang Timur Karang Tengah Cileduk. Mereka menuduh sudah > dilakukan pemurtadan dan menolak penggunaan sekolah sebagai tempat > ibadah. Demonstrasi menjadi kasar. Gerbang dirusak, dibakar ban, > seorang pria kedengaran berteriak "Kami harus memerangi orang kafir." > > Jam 9.00, di hadapan camat dan Kapolsek, pastor menandatangani surat > pernyataan akan menghentikan peribadatan di sekolah itu. Camat yang > namanya Syarif menyambut penandatangan itu dengan berpidato kepada > massa, di mana ia kedengaran mengatakan antara lain "Saudara- > saudaraku, syukur alhamdulillah, perjuangan kami sudah tercapai." > > Tidak puas dengan itu, para demonstran memaksa menyegel sekolah. > Persis di pintu masuk mereka membangun tembok setinggi 160 cm persis > sehingga orang tidak bisa masuk lagi. Selama seminggu sekolah, > dengan lebih dari 2.000 murid, tutup. Sekarang sekolah sudah buka > kembali, tetapi murid dan guru harus masuk dari belakang, dengan > jalan kaki jauh. Tembok di depan pintu masuk, resmi tetap berdiri. > > Sebagai latar belakang, ruang serba guna sekolah itu sejak 1992 - > atas dasar surat rekomendasi Nomor 192/ Pem/VII/1992 Kepala Desa > Karang Tengah - dipakai pada hari Sabtu/ Minggu dan hari raya besar > oleh 8.975 anggota umat Paroki Bernadet Ciledug untuk misa kudus > karena umat belum berhasil membangun gereja. > > Nah, tiga bulan lalu, tanggal 29 Juli 2004, Kantor Departemen Agama > Kota Tangerang mengirim surat yang meminta agar kegiatan keagamaan > dihentikan di sekolah itu. Tanggal 30 Agustus, Lurah Karang Tengah > mencabut surat rekomentasinya dulu. Sejak itu ibadat umat Katolik > Ciledug mulai diganggu. Usaha umat untuk berdialog, minta agar boleh > meneruskan ibadat sementara belum ditemukan tempat alternatif, > dikandaskan tanggal 3 Oktober lalu itu. > > > Mengapa kejadian ini saya tuliskan untuk dimuat di sini? Saya sudah > tidak tahan melihat kepicikan dan intoleransi di belakang kejadian- > kejadian seperti itu. > > Ciledug bukan kejadian satu-satunya. Dua bulan lalu Bupati Bandung > per surat serentak menutup 12 tempat ibadat serupa di Bandung. > Kekerasan terhadap gereja-gereja berjalan terus, de- ngan rata-rata > satu kejadi- an per minggu. Sejak 1990 sudah lebih dari 500 gereja > diserang. Apakah ini perkara kecil? > > Alasan Kristenisasi bagi saya sangat tidak meyakinkan. Bahwa di sana > sini ada orang masuk tidak perlu disangkal. Tetapi kalau melihat > statistik Indonesia, maka selama 30 tahun ini, tidak ada pertambahan > signifikan umat kristiani di negara ini. Jadi seberapa jauh > signifikasi kasus-kasus itu? > > Kebenaran adalah kebalikan. Di gereja Ciledug, dan di kebanyakan > gereja di seantero Indonesia, sama sekali tidak dilakukan > kristenisasi apa pun. Sama sekali tidak terjadi umat beragama lain > di sekeliling gereja, atau sekolah, diajak masuk Kristiani. Saya > curiga bahwa isu kristenisasi dipakai secara sengaja untuk membangun > emosi. > > Lalu terjadi kekerasan, pemaksaan, perusakan, kadang-kadang (ratusan > kali) penghancuran. Orang bisa melakukannya dengan impunity (tidak > terjerat hukum), karena serangan terhadap gereja di Jawa dan di > beberapa pulau lain di Indonesia, dibiarkan saja. Di Ciledug malah > Kantor Depag yang menjadi perintis pencekikan ibadat salah satu > umat! > > Saya bertanya, kita hidup di negara apa? Omongan tentang toleransi, > tentang persatuan (ingat iklan bagus-bagus di TVRI), tentang > Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi lelucon cemooh. Dan para pemimpin, > kaum intelektual, para suara hati bangsa, di mana suara mereka? > Tutup telinga, tutup mata, tutup mulut. > > > > Undang-undang dasar kita dengan tegas menyatakan bahwa "orang bebas > memeluk agama dan beribadat menurut agamanya" (Pasal 28E, dan lihat > Pasal 29, 2.). Tetapi sejak puluhan tahun, umat minoritas dihalang- > halangi terus kalau minta izin mendirikan rumah ibadat, juga apabila > jelas-jelas ada umat. Surat Keputusan Bersama 35 tahun lalu sudah > menjadi sarana untuk mensabotase kebebasan beribadat. > > Katanya, jangan membangun rumah ibadat di tengah-tengah umat > beragama lain. Tetapi minoritas mau membangun rumah sudah pasti di > tengah-tengah mayoritas. Tidak mungkin di tengah hutan. Izin > membangun gereja tidak diberikan, atau perlu waktu 20 tahun. Tetapi > kalau sementara ini umat beribadat di tempat seadanya, ia diancam > dan dilarang. > > Saya juga meragukan bahwa itu semua sekadar masalah masyarakat > lokal. "Perjuangan kami sudah tercapai!", ujar Camat di depan > gerbang sekolah Sang Timur yang baru dirusakkan. Perjuangan apa? > Siapa punya? Siapa "kami" itu? Benarkah desas-desus bahwa ada > jaringan orang-orang ekstrem yang sampai meresap ke administrasi > lokal, yang sudah memutuskan untuk secara dingin mencekik kehidupan > beragama minoritas di negara Pancasila? > > Kezaliman terhadap peribadatan minoritas sudah melampaui batas dan > mengancam membuat percuma usaha tulus banyak pihak di agama > mayoritas maupun agama-agama minoritas untuk membangun hubungan yang > toleran, berdasarkan salah percaya. Pertanyaan saya: Apakah > pelecehan kebutuhan religius minoritas yang paling sederhana akan > terus berlangsung dengan impunity? > > Penulis adalah rohaniwan, guru besar di Sekolah Tinggi Filsafat > Driyarkara di Jakarta > > SUARA PEMBARUAN DAILY > Last modified: 19/10/04 > > > > > > > > > *************************************************************************** > Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih > Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc > *************************************************************************** > __________________________________________________________________________ > Mohon Perhatian: > > 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) > 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. > 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; > 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] > 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] > 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] > 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] > > > > Yahoo! Groups SponsorADVERTISEMENT > > > --------------------------------- > Yahoo! Groups Links > > To visit your group on the web, go to: > http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ > > To unsubscribe from this group, send an email to: > [EMAIL PROTECTED] > > Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. > > > > --------------------------------- > Do you Yahoo!? > Yahoo! Mail Address AutoComplete - You start. We finish. > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > > > > > *************************************************************************** > Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih > Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc > *************************************************************************** > __________________________________________________________________________ > Mohon Perhatian: > > 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) > 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. > 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; > 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] > 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] > 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] > 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] > > Yahoo! Groups Links > > > > > > > > ------------------------------------------------- WebMail fr�n Tele2 http://www.tele2.se ------------------------------------------------- ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> $9.95 domain names from Yahoo!. Register anything. http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

