IKRA:
Diskontinyitas sejarah itu dengan mudah bisa kita lihat dalam
perjalanan sejarah itu sendiri. Di zaman modern kita sekarang ini
saja telah terjadi diskontinyuitas yang global ketika Tembok Berlin
runtuh dan rezim komunis menyatakan dirinya bangkrut di man-mana
lalu membuang sejarah pembangunan ekonomi yang berdasarkan pandangan
Dialektika Materialisme Histories itu. Jadi, Runtuhnya Tembok Berlin
itu sebuah tonggak simbolis berakhirnya sebuah perjalanan sejarah di
Uni Soviet, Eropah Timur, dan kemudian disusul oleh RRC --- terutama
di bidang sejarah politik ekonomi Marxis/Komunis.
RMDH: ah ini namanya bukan diskontuinitas! Runtuhnya tembok Berlin,
diikuti oleh pembangunan system kapitalistis di seluruh negara2 ex
komunis, adalah justeru KONTINUITAS hitoria! Ini adalah hukum
dialektika. Yang anda maksudkan adalah pemutusan ideologi
sebbelumnya, TETAPi bukan diskontinuitas historia. Ini tak mungkin.
Sebab, justeru pergantian system politis ekonomis ini adalah
SAMBUNGAN y<a reaksi dariupada apa yang terjadi sebelumnya. Tanpa ada
sambungan, takkan ada reaksi seperti ini.
IKRA:
Cuma, ironisnya, mereka yang melakukan diskontinyuitas itu semua kok
malah kembali ke sistem yang mereka putus dahulu itu, yaitu kembali
kepada politik ekonomi kapitqalis. Mestinya mereka mencari
alternatif baru di luar Marxisme/Komunis maupun Kapitalis, bukannya
melanjutkan apa yang dulu sudah diskontinyuitasi ketika memilih
sistem atau politik Ekonomi Marzis/Komunis.
RMDH: Nah inilah, apa yang anda paparkan, BUKTI, bahwa historia itu,
dalam long run episode, adalah sebuah KESATUAN. Jaringan kejadian
yang saling terkait.
IKRA:
Jadi, memang, Manifesto Komunis-nya Karl Marx dulu itu ditulis untuk
melakukan diskontinyuitas terhadap perjalanan sejarah sebelumnya,
artinya mereka memasuki zaman baru, dunia baru. Cuma selakanya di
dunia baru dan zaman baru itu mereka bangkrut --- pemerataan bukan
berupa pemerataan kemakmuran melainkan pemerataan kemiskinan, juga
tidak ada demokrasi dan tidak ada HAM; itulah pangkal kebangkrutan
mereka. Maka itu tidak bisa diteruskan.Diskontinyuitas!
Timbulnya Manifesto Komunis juga adalah reaksi logis dari kejadian2
sebelumnya, jadi merupakan matarantai bersambung historia. takj ada
diskontinuitas disini.
IKRA:
Demikian juga halnya ketika kita memproklamasikan Kemerdekaan kita
dari penjajahan Belanda, kita melakukan diskontinyuitas terhadap
perjalanan sejarah sebelumnya --- dari menjalani sejarah sebagai
bvangsa terjajah akhirnya menjalani sejarah sebagai bangsa yang
merdeka. Untungnya kita tidak kembali ke sistem kerajaan-kerajaan
yang jumlahnya banyak seperti dahulu kala itu, melainkan kita
melakukan diskontinyuitas terhadap sejarah nenekmoyang kita itu,
kita tidak mau mewarisi sistem pemerintah modelk nenekmyang kita
itu, karenanyalah kita memasuki dunia baru dan zaman baru yaitu
dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.
RMDH:
Juga kemerdekaan Indonesia 1945 adalah reaksi kesinambungan dari
nasib bangsa Indonesia dijajah Belanda dan Jepang. Indonesia tak
memulai sejarahnya dari 0! Lihatlah, istana kepresidenan kita adalah
bangunan yang dibuat untuk pera gubernur jendral Belanda. Bank
Indonesia adalah sambungan dari de Javasche Bank, dll.
Pimpinan TNI banyak yang berasal dari KNIL dan memakai pada walyna
system kemiliteran KNIL, juga kepangkatan.. apanya yang diskontinue?
Kedudukan Jakarta dipusat negara, adalah sambungan dari peran
Batavia. Dominasi TNI di Jawa adalah sambungan dari system
kemiliteran KNIL yang berkomando di Batavia!
Gubernur2 sudah ada dizaman Belanda. System perbankan kita,
perusahaan2 negara, Kereta Api, semua sambungan dari zaman Belanda.
Apa yang diskontinue?
IKRA:
Sejarah memang penuh dengan penggalan-penggalan yang ada pangkal
awalnmya tapi juga akan ada ujung akhirnya. Maka, perjalanan sejarah
tidaklah merupakan sebuah garus linear yang tunggal, melainkan garis-
0garis yang terputus-putus berjajar menjadi jalur-jalur yang punya
pangkal awal dan punya ujung akhir.
RMDH: Tak ada garis putus dalam sejarah. Semuanya bersambungan. Dari
Majapahit ke negara2 Islam di Jawa, dari sana ke masa kolonialisme
VOC, lalu ke Hindia Belanda. Datang zaman Jepang yang juga sambungan
dari politik internasional kala itu (coba pelajari, mengapa Jepang
menyerang AS danb sekutu? mengapa Jepang ingin kuasai kawasan
Pacific). Kalau anda analitis dalam mempelajari sejarah anda akan
ketemukan, bahwa tak ada garis putus dalam hiostoria, kecuali missing
link mengenai asalmuasal Manusia.
IKRA:
Tadinya saya berharap dengan tumbangnya Suharto maka itulah ujung
akhir politik ekonomi Kapitalisme Neoliberal di Indonesia. Tapi
nyatanya Habibie, Gus Dur, Mega dan bahkan SBY masih meneruskan
politik ekonomi yang sama. Maka kita akan menjalanan jalur yang sama
dengan yang pernah dijalani oleh Suharto dulu itu: adanya proses
konglomeratisasi yang melahirkan segelintir orang kaya-raya, tapi
juga di lain fihak akan tetap ada yang hidup di bawah garis
kemiskinan dan dalam tindihan pengangguran yang tercatat maupun yang
terselubung. Sebalian lainnya lagi hidup di antara kedua ekstrimitas
itu. Persis di zaman Suharto dulu, jadi kita meneruskan apa yang
sudah dimulai oleh Suharto ketika dia menerima sistem dan bantuan
yang ditawarkan oleh "Berkeley Mafia" dari AS itu. Ilmu ekonomi yang
dipakai di zaman SBY ini juga sama: Kapitlasime Neoliberal. Tidak
terjadi diskontinyuitas, meskipun sudah sempat memutuskan hubungan
dengan IMF.
RMDH: perkembangan politik sosial ekonomi Indonesia, seperti juga
TIAP negara, adalah matarantai proses yang berkesinambunagn, takkan
ada titik akhir, tanpa sambungan. Neo liberalisme atau system pasar
bebas adalah system yang juga berkuasa di Indonesia dizaman Hindia
belanda. Ekonomi dunia adalah ekonomi pasar, yang terutama menentukan
harga commodities kita, kopi, teh, karet, dlsb.
IKRA:
Contoh-contoh lainnya dalam perjalanan sejarah bisa Anda cari
sendiri.
RMDH: Tapi kajilah secara ilmiah.
IKRA:
Kalau pada tingkatan perorangan, sudah saya contohkan apa yang
terjadi pada kedua putera saya itu. Juga apa yang terjadi pada diri
saya, saya akhirnya sampai kepada keputusan (sekian puluh tahun yang
lalu!) bahwa saya dibebani oleh cita-cita orang tua saya, sedangkan
ideal saya sama sekali lain, maka sejak menyadari itu saya
menyatakan "putus" dengan orang tua saya dan membina diri pribadi
saya sesuai dengan ideal saya yang tidak sesuai lagi dengan ideal
yang dicangkokkan ke dalam diri saya oleh orang tua orangtua saya.
Ini juga sebuah perjalanan "sejarah hidup" seorang individu yang di
dalamnya ada diskontinyuitas! Memang, berat dan tidak mudah, tetapi
harus saya lakukan, dan saya berhasil melakukannya. Dibutuhkan
ketegaran jiwa untuk semua ini!
RMDH: Nonsense, kalau anda katakan anak2 anda berkembang fully
terlepas dari perkembangan sejarah anda. Anak2 anda akan berkembang
lain daripada perkembangan anak2 lain dengan background lain. Anak2
kulit putih di US akan berkembang lain daripada anak2 Black Amerivan,
Hispanics, Asian dll.
Anak2 anda mewarisi bahasa yang anda pakai, budaya anda, cara anda
makan dan minum, tata perilaku anda, dll. Bahwa sang ayah petani,
tetapi anaknya dokter atau insinyur ini BUKAN bukti diskontinuitas.
Bush adalah contoh terbaik kontinuitas hiostorai sebuah keluarga.
Mas, jangan bikin bingung pakde Riadi.
Salam
RM D Hadinoto
--- In [EMAIL PROTECTED], "Ikranagara" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Diskontinyitas sejarah itu dengan mudah bisa kita lihat dalam
> perjalanan sejarah itu sendiri. Di zaman modern kita sekarang ini
> saja telah terjadi diskontinyuitas yang global ketika Tembok Berlin
> runtuh dan rezim komunis menyatakan dirinya bangkrut di man-mana
> lalu membuang sejarah pembangunan ekonomi yang berdasarkan
pandangan
> Dialektika Materialisme Histories itu. Jadi, Runtuhnya Tembok
Berlin
> itu sebuah tonggak simbolis berakhirnya sebuah perjalanan sejarah
di
> Uni Soviet, Eropah Timur, dan kemudian disusul oleh RRC ---
terutama
> di bidang sejarah politik ekonomi Marxis/Komunis.
>
> Cuma, ironisnya, mereka yang melakukan diskontinyuitas itu semua
kok
> malah kembali ke sistem yang mereka putus dahulu itu, yaitu kembali
> kepada politik ekonomi kapitqalis. Mestinya mereka mencari
> alternatif baru di luar Marxisme/Komunis maupun Kapitalis, bukannya
> melanjutkan apa yang dulu sudah diskontinyuitasi ketika memilih
> sistem atau politik Ekonomi Marzis/Komunis.
>
> Jadi, memang, Manifesto Komunis-nya Karl Marx dulu itu ditulis
untuk
> melakukan diskontinyuitas terhadap perjalanan sejarah sebelumnya,
> artinya mereka memasuki zaman baru, dunia baru. Cuma selakanya di
> dunia baru dan zaman baru itu mereka bangkrut --- pemerataan bukan
> berupa pemerataan kemakmuran melainkan pemerataan kemiskinan, juga
> tidak ada demokrasi dan tidak ada HAM; itulah pangkal kebangkrutan
> mereka. Maka itu tidak bisa diteruskan.Diskontinyuitas!
>
> Demikian juga halnya ketika kita memproklamasikan Kemerdekaan kita
> dari penjajahan Belanda, kita melakukan diskontinyuitas terhadap
> perjalanan sejarah sebelumnya --- dari menjalani sejarah sebagai
> bvangsa terjajah akhirnya menjalani sejarah sebagai bangsa yang
> merdeka. Untungnya kita tidak kembali ke sistem kerajaan-kerajaan
> yang jumlahnya banyak seperti dahulu kala itu, melainkan kita
> melakukan diskontinyuitas terhadap sejarah nenekmoyang kita itu,
> kita tidak mau mewarisi sistem pemerintah modelk nenekmyang kita
> itu, karenanyalah kita memasuki dunia baru dan zaman baru yaitu
> dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.
>
> Sejarah memang penuh dengan penggalan-penggalan yang ada pangkal
> awalnmya tapi juga akan ada ujung akhirnya. Maka, perjalanan
sejarah
> tidaklah merupakan sebuah garus linear yang tunggal, melainkan
garis-
> 0garis yang terputus-putus berjajar menjadi jalur-jalur yang punya
> pangkal awal dan punya ujung akhir.
>
> Tadinya saya berharap dengan tumbangnya Suharto maka itulah ujung
> akhir politik ekonomi Kapitalisme Neoliberal di Indonesia. Tapi
> nyatanya Habibie, Gus Dur, Mega dan bahkan SBY masih meneruskan
> politik ekonomi yang sama. Maka kita akan menjalanan jalur yang
sama
> dengan yang pernah dijalani oleh Suharto dulu itu: adanya proses
> konglomeratisasi yang melahirkan segelintir orang kaya-raya, tapi
> juga di lain fihak akan tetap ada yang hidup di bawah garis
> kemiskinan dan dalam tindihan pengangguran yang tercatat maupun
yang
> terselubung. Sebalian lainnya lagi hidup di antara kedua
ekstrimitas
> itu. Persis di zaman Suharto dulu, jadi kita meneruskan apa yang
> sudah dimulai oleh Suharto ketika dia menerima sistem dan bantuan
> yang ditawarkan oleh "Berkeley Mafia" dari AS itu. Ilmu ekonomi
yang
> dipakai di zaman SBY ini juga sama: Kapitlasime Neoliberal. Tidak
> terjadi diskontinyuitas, meskipun sudah sempat memutuskan hubungan
> dengan IMF.
>
> Contoh-contoh lainnya dalam perjalanan sejarah bisa Anda cari
> sendiri.
>
> Kalau pada tingkatan perorangan, sudah saya contohkan apa yang
> terjadi pada kedua putera saya itu. Juga apa yang terjadi pada diri
> saya, saya akhirnya sampai kepada keputusan (sekian puluh tahun
yang
> lalu!) bahwa saya dibebani oleh cita-cita orang tua saya, sedangkan
> ideal saya sama sekali lain, maka sejak menyadari itu saya
> menyatakan "putus" dengan orang tua saya dan membina diri pribadi
> saya sesuai dengan ideal saya yang tidak sesuai lagi dengan ideal
> yang dicangkokkan ke dalam diri saya oleh orang tua orangtua saya.
> Ini juga sebuah perjalanan "sejarah hidup" seorang individu yang di
> dalamnya ada diskontinyuitas! Memang, berat dan tidak mudah, tetapi
> harus saya lakukan, dan saya berhasil melakukannya. Dibutuhkan
> ketegaran jiwa untuk semua ini!
>
> Ikra.-
>
>
>
>
>
>
> --- In [EMAIL PROTECTED], dicky riyadi <[EMAIL PROTECTED]>
> wrote:
> >
> > Pak Ikranagara..... mohon maaf, saya mendukung Anda...
> diskontinuitas itu perlu, sangat perlu...
> >
> > munkin Anda perlu menjelaskan buat Pak RM Danardhono, biar tidak
> menganalogikan sejarah dengan menabrak pohon segala...
> >
> > masak kita harus mengingat-ingat pohonnya,...., kan yg penting
> kita hati-hati saja.... bukan mengingat pohonnya an sich......,
> sebab masih banyak pohon lagi.........
> >
> > sejarah tdk perlu menyalahkan pada pribadi soeharto, melainkan
> bahwa setiap presiden terbuka peluang menjadi sosok jahat maupun
> baik...
> >
> >
> >
> >
> > Ikranagara <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> > Bagaimana membangun masa depan kalau tidak tahu masa lalu?
> >
> > Bisa saja! Dengan melakukan diskontinuiti terhadap masa lalu!
> >
> > Generasi baru jangan mau dibebani masa lalu orangtuanya, agar
bisa
> > bebas dalam membangun masa depannya sesuai dengan idelnya
sendiri,
> > dan bukan ideal orang tuanya. Itulah sebabnya manusia punya otak
> > yang tergolong yahut di bandingkan makhluk lainnya.
> >
> > Pendidikan orang tua itu baik, tetapi untuk batas tertentu kita
> > harus berani menyetopnya, kalau tidak maka kita akan dibebani
> hasil
> > brainwashed orang tua itu. Ya, pendidikan itu banyak sekali unsur
> > brain washednya.
> >
> > Kata kunci: DISKONTINYUITAS! ini juga saya berikan kepada kedua
> > putera saya, dan mereka masing-masing menjsadi dirinya sendiri
> yang
> > bebas dari orang tuanya --- alangkah bahagianya saya sebagai
orang
> > tua!
> >
> > Tapi apa yang dilakukan presiden-presiden kita sesudah Suharto di
> > bidang ekonomi? Tidak berani melakukan diskontinyuitas, akibatnya
> > kita akan mengulang jalan yang sudah pernah dilalui oleh Suharto
> di
> > bidang ekonomi. Kesenjangan ekonomi, kemiskinan dan pengangguran
> > akan menjadi hantu yang kalau suidah tiba saatnya maka menjelma
> jadi
> > momok amuk-amukan lagi!
> >
> > Ikra.-
> >
> >
> >
> >
> > --- In [EMAIL PROTECTED], "rm_danardono"
> <[EMAIL PROTECTED]>
> > wrote:
> > >
> > >
> > > >>>>kalo ada apa-apa, dulu selalu menyalahkah bung karno, nah
> > > sekarang gantian nyalahkan semuanya pada pak harto.
> > > >
> > > > emang gampang sih menyalahkan..<<<<<<
> > >
> > > RMDH: lha iya too..bung Karno juga nyalahkan Belanda! Gus Dur
> > > nyalahkan Megawati..Suharto nyalahkan bung Karno..
> > > Lha anda kira siapa yang salah? Jan Pieterzoon Coen?
> > >
> > > Mas Rahmat ya betul dong, belajar dari sejarah. Gimana mau
> bangun
> > > masa depan, kalau masa lalu aja gak tahu? Lha ilmu alam itu
> gimana
> > > menggenmangkannya? kan juga dengan experiment2? Secara ilmiah
> > namanya
> > > empirik. kalau anda nabrak pohon kemarin dulu, masa mau lupain,
> > lalu
> > > besok nabrak lagi?
> > >
> > > Piyee to?
> > >
> > > RMDH
> > >
> > >
> > > --- In [EMAIL PROTECTED], dicky riyadi
<[EMAIL PROTECTED]>
> > > wrote:
> > > >
> > > > memang paling mudah menengok masa lalu, daripada bersiap ke
> masa
> > > depan.
> > > >
> > >
> > >
> > >
> > > > > RG Nur Rahmat <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > > >
> > > > Untungnya, anak cucu kita tahu apa itu kebenaran. Kenapa kita
> > bisa
> > > tengkurap begini. Sejarah itu sangat penting. Kalau tidak pasti
> > dia
> > > akan dimakamkan di TMP Kalibata.
> > > >
> > > > fatur <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > > > Adakah kita pernah peduli atas korban-korban setelah tanggal
> > > KERAMAT itu?
> > > > Apakah anda pernah mengakui ada berjuta umat manusia tak
> berdosa
> > > mati
> > > > sia-sia atas nama kemanusian?
> > > > Apakah pemerintah pernah mengakui? Pembantaian, intimidasi,
> > > > penghancuran..suharto tetap pahlawan.
> > > > Apa utungnya andai suharto terlibat? Para korban sudah
> terlanjur
> > > menderita
> > > > mas.
> > > >
> > > > _____
> > > >
> > > > From: Ambon [mailto:[EMAIL PROTECTED]
> > > > Sent: Tuesday, October 26, 2004 5:14 AM
> > > > To: Undisclosed-Recipient:;
> > > > Subject: [ppiindia] G30S, Terlibatkah Soeharto?
> > > >
> > > > * http://www.kompas.com/kompas-cetak/0410/27/opini/1350653.htm
> > > > Rabu, 27 Oktober 2004
> > > >
> > > > G30S, Terlibatkah Soeharto?
> > > >
> > > > SETIAP kali memasuki bulan September dan Oktober, ingatan
> selalu
> > > menerawang
> > > > jauh ke belakang, tepatnya ke peristiwa Gerakan 30 September
> > (G30S)
> > > tahun
> > > > 1965 yang sampai kini masih tetap menyimpan misteri.
> > > > Ada pepatah yang menyatakan bahwa orang yang menguasai
> > informasi,
> > > akan
> > > > menguasai dunia. Pepatah itu tidak mengada-ada, karena
> kenyataan
> > > itulah yang
> > > >
> > > > terjadi pada Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan
> Darat
> > > (Kostrad)
> > > > Mayor Jenderal Soeharto sewaktu Peristiwa G30S terjadi.
> > > > Ia adalah satu-satunya perwira tinggi Angkatan Bersenjata
> > Republik
> > > Indonesia
> > > >
> > > > (ABRI) yang tahu persis tentang apa yang terjadi pada tanggal
> 1
> > > Oktober 1965
> > > >
> > > > dini hari itu. Data yang telah dipublikasikan selama ini
> > > menyebutkan, pada
> > > > tanggal 30 September 1965 malam, Soeharto telah diberi
> informasi
> > > oleh
> > > > Kolonel Infanteri Abdul Latief, Komandan Brigade Infanteri I
> > > Jayasakti Kodam
> > > >
> > > > V Jaya, bahwa akan dilakukan penjemputan paksa terhadap para
> > > jenderal
> > > > pimpinan teras Angkatan Darat, termasuk Panglima Angkatan
> Darat
> > > Jenderal
> > > > Ahmad Yani, untuk dihadapkan kepada Presiden Soekarno.
> > > > ===========================
> > > >
> > > >
> > > > [Non-text portions of this message have been removed]
> > > >
> > > >
> > > >
> > > >
> > > >
> > >
> >
>
*********************************************************************
> > *
> > > *****
> > > > Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan.
Menuju
> > > Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
> www.ppi-
> > > india.uni.cc
> > > >
> > >
> >
>
*********************************************************************
> > *
> > > *****
> > > >
> > >
> >
>
_____________________________________________________________________
> > _
> > > ____
> > > > Mohon Perhatian:
> > > >
> > > > 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali
> sbg
> > > otokritik)
> > > > 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan
> > dikomentari.
> > > > 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
> > > > 4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
> > > > 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> > > > 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> > > > 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
> > > >
> > > > Yahoo! Groups Links
> > > >
> > > >
> > > >
> > > >
> > > >
> > > >
> > > >
> > > >
> > > >
> > > >
> > > > ---------------------------------
> > > > Do you Yahoo!?
> > > > Yahoo! Mail Address AutoComplete - You start. We finish.
> > > >
> > > > [Non-text portions of this message have been removed]
> > > >
> > > >
> > > >
> > > >
> > > >
> > > >
> > > >
> > >
> >
>
*********************************************************************
> > *
> > > *****
> > > > Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan.
Menuju
> > > Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
> www.ppi-
> > > india.uni.cc
> > > >
> > >
> >
>
*********************************************************************
> > *
> > > *****
> > > >
> > >
> >
>
_____________________________________________________________________
> > _
> > > ____
> > > > Mohon Perhatian:
> > > >
> > > > 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali
> sbg
> > > otokritik)
> > > > 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan
> > dikomentari.
> > > > 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
> > > > 4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
> > > > 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> > > > 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> > > > 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
> > > >
> > > >
> > > >
> > > > Yahoo! Groups Sponsor
> > > > Get unlimited calls to
> > > >
> > > > U.S./Canada
> > > >
> > > >
> > > > ---------------------------------
> > > > Yahoo! Groups Links
> > > >
> > > > To visit your group on the web, go to:
> > > > http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
> > > >
> > > > To unsubscribe from this group, send an email to:
> > > > [EMAIL PROTECTED]
> > > >
> > > > Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms
of
> > > Service.
> > > >
> > > >
> > > >
> > > > [Non-text portions of this message have been removed]
> >
> >
> >
> >
> >
> >
>
*********************************************************************
> ******
> > Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju
> Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-
> india.uni.cc
> >
>
*********************************************************************
> ******
> >
>
_____________________________________________________________________
> _____
> > Mohon Perhatian:
> >
> > 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg
> otokritik)
> > 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan
> dikomentari.
> > 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
> > 4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
> > 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> > 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> > 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
> >
> >
> >
> > Yahoo! Groups SponsorADVERTISEMENT
> >
> >
> > ---------------------------------
> > Yahoo! Groups Links
> >
> > To visit your group on the web, go to:
> > http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
> >
> > To unsubscribe from this group, send an email to:
> > [EMAIL PROTECTED]
> >
> > Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of
> Service.
> >
> >
> >
> > [Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/