Saudaraku...
Yang penulis hendak sampaikan adalah jika Quran hanya mitos, berarti tidak
ada wahyu, jika tidak ada wahyu berati tidak ada Tuhan. Berati juga tidak
ada kebenaran, karena kebenaran hanya akan menjadi asumsi manusia semata.
Suatu saat, perzinahan tidak akan diharamkan, karena sudah memenuhi kaidah
kebenaran menurut manusia kebanyakan. Demikian pula dengan yang lainnya.

Hat-hatilah terhadap jebakan yang tidak terlihat. Apa yang menjadi tujuan
pendapat tersebut.?Adalah mengajak manusia untuk tidak mempercayai
Tuhan.Nauzubillah.

Waspadalah-waspadalah.............!


----- Original Message -----
From: "Ambon" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <Undisclosed-Recipient:;>
Sent: Friday, April 15, 2005 12:43 PM
Subject: [ppiindia] Alquran Sebagai Mitos


>
> http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=802
>
> Alquran Sebagai Mitos
> Oleh Rony Subayu
> 11/04/2005
> Dalam konteks Alquran sebagai mitos, saya berpendapat bahwa makna
denotatif Alquran (baca: ayat muamalah) adalah bersifat lokal-temporal yang
cuma diperuntukkan bagi masyarakat di mana Alquran turun. Sedang unsur yang
universal dan relevan untuk semua tempat dan jaman ada pada makna
konotatifnya.
>
> Ketika Mohammed Arkoun membangun proyek prestisiusnya, "kritik akal
Islam", yang terwakili dalam karyanya "Pour de la raison Islamique" (Menuju
Kritik Akal Islam), yang dalam edisi Arabnya berjudul "Tarikhiyyat al-Fikr
al-Araby al-Islamy," ia mengajukan tiga term yang sangat asing di telinga
para sarjana muslim dalam rangka membedah sejarah sistem pemikiran
Arab-Islam, yaitu "yang terpikirkan" (le pensable/thinkable), "yang tak
terpikirkan" (l`impinse/unthinkable) dan "yang belum terpikirkan"
(l`impensable/not yet thought). Apa yang dimaksud dengan "thinkable" adalah
hal-hal yang mungkin sudah dipikirkan umat Islam, karena jelas dan boleh
dipikirkan. Sedang "unthinkable" adalah hal-hal menyangkut praktik kehidupan
yang tidak ada kaitannya dengan ajaran agama. Dan "not yet thought" adalah
hal-hal yang belum pernah dipikirkan umat Islam.
> Menurut Arkoun, ketika Alquran tampil dalam bentuk oral dan belum terjelma
ke dalam sebuah mushaf resmi, segala hal dipandang dan direspon sebagai
thinkable. Namun, keadaan berubah drastis manakala Alquran di-vermak menjadi
korpus resmi tertutup atau mushaf resmi Usmani di bawah pengawasan Khalifah
Usman serta adanya upaya sistematisasi konsep sunah dan pembakuan ushul fiqh
oleh Imam Syafi`i kepada standar tertentu. Pada era itu, ranah-ranah yang
tadinya thinkable berubah menjadi unthinkable.
>
> Konsekuensi logis dari "pergeseran" ini ialah terjadinya proses
"penjarakan" antara Alquran dengan realitas. Akibatnya, Alquran menjadi
macan ompong yang gagap merespon tantangan modernitas dengan pelbagai
persoalan yang ditimbulkannya. Alquran hanya diperas dalam tumpukan
literatur tafsir yang cuma bisa menjelaskan dunia, tapi tak mampu
mengubahnya. Alquran tidak lebih dari "warisan antik" dari abad VII M yang
sesekali dikenang, dilombakan, dilantunkan dan diperingati dalam
seremoni-seremoni. Alquran sudah beranjak jauh dari tujuannya semula sebagai
"kitab pencerahan" (kitab munir). Dan tragisnya -kata Arkoun lagi-, daerah
"yang tak terpikirkan" itu terus saja melebar.
>
> Mushaf Usmani yang menonjolkan bahasa Quraisy dan bercirikan mono-bacaan
(Qira`at Hafish an Ashim) pada gilirannya menyimpan cacat tersendiri, yaitu
hilangnya kemungkinan menafsir atau membaca Alquran dari pelbagai optik;
projek penafsiran Alquran tidak diperkenankan keluar dari koridor mushaf
Usmani. Oleh karenanya, kitab-kitab tafsir yang tersebar di dunia Islam
secara massif diproduksi dengan merujuk mushaf Usmani sebagai patokan.
Situasi ini semakin pelik manakala Syafi`i membuat rumusan sistem hukum
Islam kepada Alquran, sunah, ijmak dan qiyas. Untuk menentukan sebuah makna
atau hukum dalam Alquran, seseorang harus melewati prosedur ini secara
hierarkis. Ketika Alquran tidak memberikan informasi, sunah menjadi rujukan,
berikutnya ijmak, qiyas dan seterusnya.
>
> Bersandar pada mushaf Usmani dan kaidah konvensional yang dibuat Syafi`i
dalam kegiatan penafsiran merupakan prosedur legal-konvensional yang secara
hampir sepakat diyakini umat Islam. Kemungkinan pendekatan atau mekanisme
lain di luar prosedur legal dipandang sebagai bid`ah dan harus ditolak.
>
> Di sinilah titik kegelisahan Arkoun, dengan konsepnya tentang "yang tak
terpikirkan", ia hendak mencairkan kebekuan prosedur legal-konvensional ini.
Dengan konsepnya tersebut, Arkoun hendak melegalkan pendekatan lain dalam
pembacaan Alquran seperti antropologi, sosiologi, psikologi, hermeneutika,
semiotika dan disiplin keilmuan lainnya yang dulu belum pernah ada atau
digunakan di era skolastik Islam. Untuk sekedar turut berpartisipasi
mempersempit area unthinkable ini, saya mencoba menawarkan sebuah pendekatan
baru yang sangat berbau modern, yaitu membaca Alquran sebagai mitos.
>
> Sebelum Alquran dikenai sebuah pendekatan, menentukan kedudukan Alquran
secara ontologis merupakan suatu hal yang sangat perlu. Apa itu Alquran? Ini
adalah pertanyaan ontologis yang sempat diajukan oleh Arkoun dan Abu Zayd
sebelum melangkah lebih jauh pada penerapan sebuah metodologi pembacaan
Alquran baru yang hendak diusungnya. Bagi saya, Alquran adalah mitos. Apa
yang saya maksud dengan "mitos" di sini bukanlah cerita tentang kehidupan
dewa-dewi yang abstrak, irasional dan penuh hayal, melainkan mitos dalam
arti Barthesian, yakni sebuah tipe wacana atau tuturan. Bagi Barthes, Myth
is a social usage of language. (Barthes: 1983). Dalam konsepsi Barthesian,
wacana (discourse) adalah tipe penggunaan bahasa yang bisa mengambil bentuk
lisan (parole) maupun tulisan (langue). Jadi, Alquran dalam bentuknya yang
oral maupun tekstual (mushaf) sama-sama merupakan mitos.
>
> Mitos adalah sebuah wacana khas yang hendak menyampaikan pesan secara tak
langsung. Atau dalam bahasa semiotisnya, menyampaikan makna konotatif sebuah
tanda melalui unsur denotatifnya. Apa yang diacu atau signifikan dalam mitos
adalah segi konotatifnya. Sedang unsur denotatifnya hanyalah tanda perantara
sekunder yang berfungsi sebagai jembatan untuk mengantar kepada makna
konotatif. Sebagai mitos, literalisme Alquran (baik dalam bentuk parole atau
langue) yang biasa dibaca, dilantunkan dan dijadikan dalil oleh umat Islam
pada umumnya, tidak lebih merupakan "pembungkus" semata dari pesan Tuhan
yang sesungguhnya. Dus, pesan universal Alquran tidaklah terletak pada makna
literalnya, tapi makna yang bersemayam di balik yang literal itu.
>
> Dalam konteks Alquran sebagai mitos, saya berpendapat bahwa makna
denotatif Alquran (baca: ayat muamalah) adalah bersifat lokal-temporal yang
cuma diperuntukkan bagi masyarakat di mana Alquran turun. Sedang unsur yang
universal dan relevan untuk semua tempat dan jaman ada pada makna
konotatifnya. Sebagai misal, perintah jilbab dalam Alquran sebagaimana
diisyaratkan oleh makna denotatifnya, tidaklah berarti bahwa seluruh umat
Islam wajib memakai jilbab, tapi makna konotatif dari perintah tersebut
adalah: Pertama, pemakaian busana untuk menutup aurat ditentukan oleh
standar "kepantasan" budaya masing-masing layaknya jilbab yang menjadi
standar kepantasan masyarakat Arab waktu itu. Ini makna konotatif yang
mungkin kita temukan pada lapisan pertama. Kedua, keharusan umat Islam
"menghormati tradisinya" masing-masing sebagaimana masyarakat Arab memandang
jilbab sebagai tradisi. Dan ini makna yang bersemayam pada lapisan
berikutnya. Kedua makna konotatif inilah -untuk sementara waktu- yang
merepresentasikan universalitas ayat jilbab. Tentu, masih diandaikan adanya
tumpukan makna yang terendap dan harus terus digali dalam ayat jilbab ini.
>
> Bila dicari padananya dalam khazanah keilmuan tafsir, konsep mitos a la
Barthesian ini analog saja dengan konsep ta`wil yang modus operandi-nya
menggali makna di balik yang tersurat (bathin). Namun ada benang merah yang
tetap membedakan antara mitos dengan ta`wil: Pertama, ta`wil umumnya hanya
beroperasi pada ayat-ayat yang teridentifikasi sebagai mutasyabihat.
Sementara mitos beroperasi pada semua yang disebut "tanda" (sign), termasuk
kategori muhkamat atau mutasyabihat dalam Alquran. Kedua, dalam dunia
penafsiran, ta`wil lebih akrab digunakan oleh kaum sufi. Memang, ta`wil di
tangan kaum sufi diaplikasikan sepenuhnya pada ayat yang muhkamat maupun
mutsyabihat. Hanya saja makna bathin yang diacu kerap kali berhenti pada
lapisan pertama. Sedangkan mitos tidak berhenti pada makna di lapisan
pertama, tapi mengungkap terus kemungkinan makna terdalam yang mengendap
dalam lapisan geologis tanda; dalam hal ini ialah mengungkap makna yang
paling dalam dari Alquran.
>
> Semua ayat, baik yang bernuansa hukum, teologis, eskatologis, kosmologis
maupun yang berkategori makiyah-madaniyah, muhkam-mutasyabih,
muthlaq-muqayyad, nasikh-mansukh dan seterusnya masih diandaikan menyimpan
setumpuk makna menurut konsepsi mitos. Di sinilah, saya kira, kelebihan dan
efektivitas pendekatan teori mitos pada pembacaan Alquran. Dengan mitos,
pintu pluralisme penafsiran akan terus terbuka lebar dan tidak terjadi lagi
"restriksi makna" dalam kalimatullah yang konon tidak akan pernah habis
ditulis dengan tujuh lautan tinta sekalipun.[]
>
>
> Rony Subayu, adalah Direktur The Qoweng Institute Jakarta
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
>
>
>
***************************************************************************
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia
yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
>
***************************************************************************
> __________________________________________________________________________
> Mohon Perhatian:
>
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
> 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
>
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>
>
>




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
DonorsChoose. A simple way to provide underprivileged children resources 
often lacking in public schools. Fund a student project in NYC/NC today!
http://us.click.yahoo.com/5F6XtA/.WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke