Sedih juga melihat sebagian rakyat kita yang miskin mati karena busung lapar atau karena tidak mendapat layanan kesehatan seperti cerita di bawah ini.
Menurut saya, ini tak lebih karena sistem ekonomi yang memanjakan kelompok konglomerat dan Multi Nasional Company, terutama untuk sektor publik dan pertambangan. Akibatnya, keuntungan perusahaan dari eksploitasi kekayaan alam kita yang seharusnya masuk ke kas negara untuk memakmurkan rakyat, jatuh ke segelintir konglomerat dan pengusaha asing. Sebagai contoh, blok minyak Cepu yang dikabarkan punya cadangan migas senilai 2 milyar barrel atau sekitar Rp 1000 trilyun, diserahkan ke perusahaan asing. Lebih dari 60 trilyun rupiah diberikan setiap tahun ke kapitalis lewat bunga SBI/Obligasi negara serta para spekulan valas untuk "menstabilkan" nilai rupiah karena sistem "floating rate". Pelayanan kesehatan atau usaha mensejahterakan rakyat? Urutan ke berapa ya? PEMULUNG NAIK KRL BAWA MAYAT ANAK DIAMANKAN POLISI - TEBET - Seorang pemulung panik karena tidak punya uang sewa ambulans untuk mengubur jenazah anak perempuannya yang meninggal karena muntaber. Ia nekat membopong mayat balitanya untuk dimakamkan di Bogor dengan menumpang KRL di Stasiun Tebet Jakarta Selatan, pemulung itu diamankan ke kantor polisi, Minggu siang. Kisah mengharukan ini menimpa Supriono,38, bapak dua anak. Putri bungsunya yang meninggal dunia pada Minggu pagi (5/6) bernama Nur Khoirun Nisa, berusia 3 tahun 2bulan. Melihat anak kesayangannya meninggal, pria yang biasa mencari barang bekas di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, menjadi sedih. Supriono pun nekat membawa jenazah putrinya untuk dimakamkan didekat rumah temannya di Bogor, tetapi menyewa ambulans atau mobil untuk membawa mereka ke Bogor, juga butuh biaya yang tidak sedikit. Bersama Nurizki Saleh,6, anak pertamanya, ia memutuskan pergi ke stasiun KA Tebet dengan tujuan Bogor. Tubuh kaku Nur Khoirun Nisa yang memakai kaos bergambar Dora diselimuti lalu digendong pakai kain. Di Stasiun Tebet, calon penumpang yang saat itu sedang menunggu kedatangan kereta api tidak menaruh rasa curiga terhadap Supriono. Heboh pun muncul saat seorang pedagang teh botol yang hendak naik kereta api secara tak sengaja melihat wajah Nur Khoirin Nisa dibalik gendongan kain. Anak bapak sakit kok ditutupin pakai kain, kata penjual teh botol. Dengan polosnya, Supriono mengaku kalau anaknya sudah meninggal. Mendengar jawaban itu, pedagang teh botol kaget dan ia langsung berteriak mayat, ada orang membawa mayat, dalam waktu singkat, puluhan calon penumpang di Stasiun KA Tebet pun geger. Seorang warga menghubungi Polsek Tebet, Supriono yang merasa dirinya tidak bersalah akhirnya dimintai keterangan di Polsek Tebet. kepada petugas, duda yang megaku mendapat penghasilan Rp.10.000 per hari dari usahanya memungut barang bekas itu berterus terang bahwa anaknya meninggal karena muntah berak. Tapi saya tidak punya uang untuk menguburnya. Jenazah anak saya mau dimakamkan di Bogor, kata Supriono. Dijumpai di RSCM, pria in menambahkan, kedua anaknya itu merupakan buah pernikahan dengan Turiyem. Karena tidak kuat hidup miskin, Turiyem mengajukan cerai. Anak-anak ikut sama Supriono. Takdir rupanya berkehendak lain, putri pertamanya meninggal akibat sakit. http://www.poskota.co.id/poskota/headline_contents.asp?id=5295&file=index Bacalah artikel tentang Islam di: http://www.nizami.org __________________________________ Discover Yahoo! Use Yahoo! to plan a weekend, have fun online and more. Check it out! http://discover.yahoo.com/ *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

