http://www.jurnalperempuan.com/yjp.jpo/?act=artikel%7C0%7CX
Jumat, 17 Juni 2005
Sistem Negeri Kita: Picu Pemerkosaan?
Oleh Soe Tjen Marching
Mungkin budaya yang dipromosikan oleh sistem hukum dan pemerintah kita saat ini
adalah budaya yang memicu pemerkosaan. Baru-baru ini, dalam surat elektronik
[EMAIL PROTECTED] yang saya terima pada tanggal 23 Maret yang lalu, terdapat
kisah tentang seorang gadis Bengkulu yang telah mengalami percobaan
pemerkosaan. Perempuan ini dengan beraninya mempertahankan diri, tapi malah
dijadikan tersangka karena pembelaan dirinya.
Beginilah cerita singkatnya: Pada hari jum'at tanggal 11 Maret 2005, tak lama
sesudah korban keluar rumah untuk mengambil daun pisang, pelaku membekap mulut
korban dan menyeret korban sampai ke kebun. Pelaku, yang telah dikenal korban
sejak kecil, lalu melepaskan baju korban yang mencoba melarikan diri namun
terjatuh dan langsung ditangkap oleh pelaku. Si korban berusaha menyelamatkan
diri dengan menebas pelaku tersebut dengan pisau yang dia pakai untuk memotong
daun pisang. Tebasan pertama mengenai buah zakar dan tebasan berikut mengenai
punggung kiri pelaku.
POLRESTA Bengkulu Utara menyatakan bahwa perempuan belia berumur 15 tahun ini,
tidak hanya menjadi korban, tetapi juga tersangka kasus aniaya. Karena itulah
si korban harus mendekam dalam penjara walaupun ?penganiayaan? tersebut sama
sekali tak direncanakan dan merupakan pembelaan diri semata. Namun, beginilah
sistem di negeri kita. Dalam kasus-kasus pemerkosaan ataupun pelecehan seksual,
bila perempuan tidak cukup membela diri, masyarakat akan mencurigai bahwa si
perempuan dengan sukarela menghendaki hubungan seksual tersebut. Bila sang
perempuan membela diri seperti yang dilakukan oleh perempuan belia dari
Bengkulu ini, dakwaanlah yang harus dihadapi.
Penyudutan perempuan seperti inilah yang seringkali mendorong pemerkosaan
terjadi. Lebih-lebih lagi, perempuanlah yang sering dituding sebagai pembangkit
birahi, seakan sumber masalah adalah ekspresi sensualitas perempuan itu
sendiri. Memang, menurut persepsi masyarakat kita, pelecehan seksual dan
pemerkosaan adalah persoalan seks. Karena itulah ekspresi seksualitas yang
sering dipermasalahkan: ciuman bibir di depan umum menjadi urusan negara.
Tetapi, pelecehan seksual dan pemerkosaan lebih merupakan masalah kekerasan dan
dominasi daripada masalah seks semata. Pemerkosaan biasanya tidak dilakukan
hanya untuk memuaskan birahi. Pemicu pemerkosaan hampir selalu disertai
keinginan pelaku untuk memperlihatkan dominasi. Bila birahi seksual tidak
disertai keinginan ini, aktifitas seksual tidak akan menjadikan pasangan
sebagai korban, namun sebagai pihak yang menyetujui dan menikmati adanya
hubungan tersebut. Hubungan menjadi mutual dan sejajar (bagaimanapun birahinya
kedua belah pihak ini). Yang menjadi masalah adalah, ketika birahi tidak
disertai rasa hormat sehingga tidak mengindahkan apakah si pasangan menghendaki
hubungan tersebut atau tidak.
Karena itulah, pemerkosaan dan pelecehan seksual banyak terjadi pada tempat
dimana derajat antara lelaki dan perempuan begitu berbeda, dimana suara
perempuan jarang didengar. Pelecehan, pemerkosaan, penjualan perempuan dan
kekerasan terhadap perempuan banyak didapati di negara-negara yang belum
memperhatikan hak-hak perempuan. Sebaliknya, di negara-negara yang lebih
terbuka akan seksualitas dan birahi namun derajat perempuan lebih dihargai,
pelecehan terhadap perempuan seringkali jauh lebih rendah. Di Jepang, misalnya,
pada awal tahun 1970-an, saat tata krama pergaulan antar sex amat dibatasi
sehingga senda gurau antara lelaki dan perempuan yang bukan keluarga atau suami
istri dianggap tabu, tercatat adanya 5464 pelaku pemerkosaan. Namun, pada tahun
1995, ketika pergaulan antar lawan jenis dan ekspresi seksualitas lebih
terbuka, hanya ada 1160 pelaku yang dilaporkan.
Kurangnya penghargaan terhadap perempuanlah yang seringkali menjerumuskan
perempuan sebagai alat pemuas lelaki dan menjadikan seks bukanlah lagi hubungan
mutual yang dinikmati dan disetujui oleh perempuan, namun sebagai alat kontrol.
Ideologi negeri kita tampaknya masih mendukung situasi seperti ini. Lelakilah
yang dianggap sebagai kepala keluarga. Lelakilah yang memulai hubungan asmara,
karena perempuan yang menunjukkan rasa tertarik pada pria biasanya dicap
murahan. Lelakilah yang biasanya mengambil inisiatif dan mempunyai kekuasaan
materi. Hal ini memanjakan lelaki dengan kontrol berlimpah dan menyebabkan
adanya keinginan dari lelaki untuk semakin mendominasi hubungan seksual:
penolakan perempuan sama dengan penghinaan yang harus dibalas dengan kekerasan.
Mitos-mitos lainpun bermunculan: ?Tidak? dari seorang perempuan berarti ?Ya?;
perempuan lebih menikmati hubungan seksual bila dipaksa; aktifitas seksual
perempuan disebut sebagai pelayanan.
Begitu meresapnya ideologi yang mendukung pemerkosaan dalam budaya kita ini,
sampai-sampai pencegahan pelecehan seksual dan pemerkosaan yang disarankan
pemerintah justru secara tidak langsung makin memicu merajalelanya pemerkosaan.
Pada harian Kompas, tanggal 20 Desember tahun lalu, disebutkan bagaimana
Presiden kita amat risih pada penayangan pusar perempuan. Dalam kesempatan itu,
Menko Kesra Alwi Sihab menyampaikan pesan dari Presiden bahwa tayangan seperti
ini selayaknya dihindari dari seluruh stasiun televisi.
Beberapa pihak yang ingin meresmikan adanya undang-undang pornografipun
bersorak akan pernyataan ini. Tetapi, tidak disadari oleh pemerintah kita bahwa
pernyataan-pernyataan seperti ini yang justru dapat mempertahankan budaya
pelecehan terhadap perempuan. Dengan menyalahkan pusar perempuan sebagai sumber
pelecehan seksual terhadap perempuan itu sendiri, pelaku pelecehan seksual dan
perkosaan akan mendapat angin. Persepsi bahwa korban pemerkosaan adalah
perempuan penggoda akan berlanjut.
Menjadikan tubuh perempuan sebagai sumber tuduhan adalah faktor yang dapat
mendorong eksploitasi perempuan. Hal ini sering tidak ada kaitannya dengan
ekspresi seksualitas perempuan yang terbuka, seperti menunjukkan pusar
tersebut. Bagaimanapun tertutupnya cara berpakaian perempuan tidaklah
mempengaruhi berkurangnya pelecehan seksual ataupun pemerkosaan. Di Saudi
Arabia yang perempuannya diharuskan memakai gaun yang menutupi aurat mereka,
angka pemerkosaan jauh lebih tinggi daripada di beberapa negara lain yang
perempuannya berpakaian terbuka. Berapa TKW kita yang telah mengalami pelecehan
seksual dan perkosaan di negeri ini?
Jaman Victoria dan Puritanisme di Eropa dimana dogma agama Kristiani begitu
konservatifnya sehingga terdapat pelarangan perempuan untuk menunjukkan mata
kaki mereka, bahkan dipenuhi oleh pelecehan-pelecehan seksual, kekerasan
terhadap perempuan dan berbagai perkosaan yang tidak dilaporkan. Sedangkan di
jaman modern di benua yang sama, dimana para perempuan dapat lebih terbuka cara
berpakaiannya dan dapat jauh lebih bebas berekspresi (termasuk ekspresi
seksual), angka perkosaan justru jauh lebih rendah, karena derajat perempuan
lebih dihargai.
Karena itu, sekali lagi, pelecehan dan pemerkosaan adalah masalah kekerasan dan
perendahan derajat perempuan daripada masalah seksualitas semata. Tidak
seimbangnya kedudukan antara lelaki dan perempuanlah yang dapat mendorong
kriminalitas ini terjadi. Mungkin pemerintah sudah seharusnya lebih
memperhatikan pendidikan, derajat, dan tingkat ekonomi perempuan daripada pusar
mereka.
Soe Tjen Marching Doktor sastra perempuan, Monash University ? Australia,
sekarang tinggal di London. Versi yang hampir sama telah dimuat di harian
Kompas, 16 Mei 2005.
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/