--- In [email protected], "Yopie Peranginangin" <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
> >
> > Ah berarti saya toh yang dituduh antek Amrik sama Pak Yopie. :D
> > Malas ah meladeni orang ngaco yang percaya dukun. Not worth it at all.
> > PS. Pak Yopie pernah nggak berani mengkritik policy IMF, WB dan US
> > DIDEPAN PEJABAT2NYA? I did many times, and still are doing that
until now.
>
> Momentum untuk berbicara didepan para pejabat Lembaga-Lembaga lintah
darat
> (IMF, WB dan US) tersebut tidak pernah ada. Kalau ada kesempatan, bukan
> hanya kritik yang kami lakukan tapi meminta mereka untuk
meninggalkan bumi
> Indonesia. Akhirnya, kami hanya melakukan kritik dan makian terhadap
mereka
> dijalanan saja, karena sebatas itu yang dapat kami lakukan....
>
Oya? Semoga kalau anda mendapatkan kesempatan itu, anda tidak
mempermalukan diri sendiri. Anda tahu kan kalau Indonesia itu salah
satu member IMF dan waktu krisis memanfaatkan haknya buat mendapatkan
talangan dana.
Sekarang anda bilang dong ke pemerintah Indonesia: keluar dari
keanggotaan IMF dan WB. Itu lebih ampuh daripada marah berdasarkan emosi.
Btw, kalau WB, ADB, dan US mesti jauh2 dari bumi Indonesia, kemaren
Aceh tsunami itu memang bisa ditangani kita sendiri? Jangan egois.
Mentang2 melihat sisi buruknya, anda melupakan objektivitas.
Emang anda pikir orang2 yang kerja disana cuma barisan orang tolol?
Kalau Perkins ngawur dalam memproyeksi pertumbuhan demand listrik
Indonesia, pantas saja dia masih dipuja orang2, karena lebih
berdasarkan kebencian yang mengaburkan objektivitas dan logika.
Note: kalau anda memang membaca semua posting saya disini tentu anda
tahu kalau saya pernah tulis bahwa saya percaya bahwa persekongkolan
itu ada (makanya ada agen intelijen ditiap negara) tetapi saya tidak
langsung percaya kalau logikanya lemah sekali.
Pergerakan kapital internasional itu tidak dipengaruhi oleh satu dua
faktor (mungkin Pak Danar yang ahli dibidang financial investment bisa
lebih pas menjelaskannya). Kalau kita pikir bahwa IMF itu adalah
semata2 kepanjangan tangan para kapitalis AS, sehingga maksa2
privatisasi BUMN Indonesia spy bisa dicaplok mereka, kita lihat fakta:
-Indosat dibeli siapa?
-Telkom dibeli siapa?
-Satelindo dibeli siapa?
-Bank BCA dibeli siapa?
Ada perusahaan AS nggak disana? It's a matter of profit orientation
mechanism.
Lagian kalau seperti kata Perkins, bahwa tujuan IMF dan WB adalah
menjeratkan negara2 miskin kedalam utang, alangkah bodohnya mereka.
Kalau saya meminjamkan uang saya ingin uang saya kembali bukan
orangnya jadi nggak bisa bayar, sampe2 nanti saya harus memberikan
diskon utang.
Kalau saya lebih kuatir akan arus globalisasi yang terlalu besar, yang
bisa mematikan pemain2 kecil (ini pernah Pak Danar dan saya bahas
disini). Tapi itu hubungannya dg perdagangan LN. Dan memang US memang
mempraktekkan beberapa unfairness policies (dan saya katakan hal ini
didepan salah satu direktur US Treasury).
Orang mengkritik itu harus memenuhi 2 kaidah sekaligus: offense and
defense. Kritik pasti bersifat offense. Nah, bisakah kita defense our
critiques? Bukan dg melingkar2 dg permainan kata2 tetapi logikanya
kosong atau malah fakta mengatakan sebaliknya. Tetapi dg argumen
cerdas sehingga yang dikritik mau mikir apa kesalahannya.
Kalau menurut saya ada hal2 yang kita perlukan dari masyarakat
internasional. Kita tidak boleh egois dan emosi buta. Karena kalau
kita bertindak tidak adil (misalnya menasionalisasi perusahaan asing
di Indonesia) pikirkan dampaknya ke bangsa Indonesia lainnya:
exportir, perajin yang menjual karyanya ke LN, WNI yang sedang di LN,
aset2 perusahaan milik Indonesia di LN, dll. Memang anda rela kalau
Pertamina dicaplok begitu saja sama Cina dan Vietnam karena "mengeruk
kekayaan alam mereka"? Rakyat Indonesia itu banyak, bukan anda sendiri.
Yang perlu diperbaiki adalah internal kita dan kepandaian melihat
kedepan. IMF sudah keluar dari Indonesia. Kalau ada perbaikan, maka
itu karena pemerintah kita melakukan hal yang benar. Kalau ada
keburukan, maka itu juga karena masih banyak yang salah didiri kita.
Memang susah melihat jerawat dimuka sendiri.
> Masalahnya, banyak intelektual Indonesia yang seharusnya bekerja untuk
> kemaslahatan rakyat, tapi menjadi kaki tangan untuk melegitimasi
penetrasi
> program-program IMF, WB dan US, dengan berupaya membangun opini yang
> menyesatkan.
>
Dan itu contohnya saya? Hahahahaha....
Cara anda menyimpulkan saja sudah sangat lucu...
Tapi mungkin anda ini sudah sangat pinter.
Saya yang shallow ini mesti banyak belajar nih.
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/