Tinggalkan Jas, Tanggalkan Dasi

Gerakan menghemat energi membawa efek samping penting. Cara berpakaian 
pejabat disesuaikan: fungsi mengalahkan gengsi.

***-
Maksudnya adalah sebagai konsekuensi menghemat energi, tapi gerakan 
mencopot jas dan dasi ternyata punya arti penting tersendiri. Gerakan hemat 
energi yang dicetuskan melalui Instruksi Presiden Nomor 10 Tahun 2005 
mungkin saja tak efektif mencapai sasaran. Itu masih harus kita lihat 
nanti. Namun sekarang efek "budaya" penting sudah langsung dihasilkan, 
walaupun tidak disengaja dan tidak dimaksudkan sebagai tujuan. Diam-diam 
telah terjadi semacam revolusi tata krama busana yang dimulai dari 
lingkungan Istana Presiden.
Pada mulanya adalah instruksi untuk menghemat pemakaian listrik, suhu kamar 
di Istana Kepresidenan dan kantor pemerintah lain tak perlu diatur terlalu 
dingin. Cukup sampai 25 derajat Celsius, Wakil Presiden Jusuf Kalla 
menegaskan. Karena itu para pejabat dibebaskan dari aturan memakai pakaian 
komplet. Boleh copot dasi dan meninggalkan jas di lemari supaya tidak 
merasa kepanasan, yang sebenarnya akibat ulahnya sendiri itu. Bukan cuma 
dibebaskan, bahkan dilarang membungkus tubuhnya dengan jas.
Instruksi ini seakan-akan mengesankan negara terlalu mengatur gaya hidup 
pribadi para pejabatnya. Memang mengatur, tapi bukan dalam semangat 
mengekang, melainkan justru bersifat deregulasi, atau liberalisasi cara 
berpakaian dalam jam kerja. Mungkin karenanya orang akan bergurau tentang 
gerakan Islib baru, kependekan dari "istana liberal", khusus dalam soal 
dress code. Tidak apa-apa, tak ada kepribadian nasional yang dikesampingkan 
dalam hal itu. Yang terjadi adalah sekadar rasionalisasi yang memang 
dibutuhkan, yaitu penyesuaian kehidupan material dengan tekanan biaya 
ekonomi. Itulah hakikat efisiensi.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla harus 
bangga karena memelopori terobosan ini. Sejak zaman kolonial--berulang kali 
telah dicoba--kita tak berhasil keluar dari masalah "pakaian sipil lengkap" 
yang sebenarnya tidak sesuai dengan iklim tropis negeri ini. Ketidakcocokan 
juga ada dalam soal biaya: setelan jas pejabat harganya bisa Rp 10 juta 
lebih, dasi selembar sampai Rp 1 juta. Lalu, agar tidak kegerahan, AC semua 
ruangan dan mobil dipasang sedingin mungkin, yang makan ongkos dan 
menghabiskan energi pula. Konyol bukan?
Mungkin kita masih terpengaruh pada peribahasa warisan kolonial bahwa 
busana menunjukkan harkat pemakainya. Lalu keliru diterapkan untuk 
meningkatkan gengsi. Padahal, pada bangsa yang sama juga berlaku ungkapan 
sebaliknya, de kleren maken den man niet, bukan pakaian yang menentukan 
diri seseorang. Wibawa dipancarkan dari sikap dan perilakunya. Biarlah 
setelan lengkap itu, sampai ke tuxedo dan dasi kupu-kupu, dipakai 
resepsionis hotel internasional, pramugara udara, atau pelayan restoran 
besar saja.
Kita sudah capek melihat sidang DPR, misalnya, dipenuhi campur aduk jenis 
jas, mulai dari jas tweed hingga yang bercorak kotak-kotak, atau blazer 
berkancing metal, yang biasanya dipakai untuk musim gugur, berburu rubah, 
atau ke klub golf di Eropa sana. Syukurlah, sekarang kemeja biasa boleh, 
batik lengan pendek juga oke dipakai dalam sidang kabinet. Tentu saja 
berkaus oblong atau berkemban bagi menteri perempuan tak dibenarkan. 
Berpakaian sederhana bukan berarti tak mampu membeli. Di Singapura, yang 
jauh lebih kaya, para pemimpin juga lebih sering berkemeja biasa saja.
Kita tak ingin meramal apakah akhirnya gerakan penghematan energi bisa 
berguna, dan saat ini tak ingin ikut berdebat tentang efeknya pada 
pertumbuhan ekonomi. Namun, apa pun jadinya, gunanya kini bagi pendobrakan 
kode berbusana sudah jelas ada, dan harus diluaskan serta dijaga 
kelangsungannya. ***/***

(Opini Majalah TEMPO, 18 Juli 2005)



[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke