--- irwank2k2 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> --- In [email protected], "Samudjo" > <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Berpuluh-puluh tahun kita dimanjakan dengan > keberlimpahan minyak > > bumi > > Kita lupa bikin transportasi masal, hanya karena > ingin menggenjot > > produksi kendaraan nasional > > Kita? Siapa yang diuntungkan dari berlimpahnya > minyak bumi dan > kekayaan alam Indonesia? Asing dan segelintir elit.. > yang terlihat > telah bersedekah dan kekayaannya melimpah.. tapi > meninggalkan > BUMN yang bangkrut? Dan hutang" itu harus dibayar > rakyat? > Saya rasa kebanyakan rakyat Indonesia tidak termasuk > kita di atas.. Iya. Itu migas sudah tahu terbatas, kok tega-teganya diekspor ke luar negeri. Akibatnya petani bawang rugi milyaran rupiah karena bawang mereka busuk tidak terangkut. Kendaraan pengangkut tak bisa jalan. Kendaraan nasional juga tidak ada. Yang ada kendaraan impor dan rakitan. > > Akhir-akhirnya kendaraan cuma dipakai untuk > bermacet-macet ria > > Sudah saatnya orientasi kita ubah untuk memenuhi > kebutuhan rakyat > > banyak > > Setuju.. > > > Sekedar solusi Busway saja sudah kita rasakan > sangat membantu > > Coba dari dulu cara berfikirnya seperti itu > > Tak perlu lagi kita investasi sekian puluh juta > untuk sebuah mobil > > Senilai dengan sekian hektar sawah atau kolam ikan > > Pelajaran sangat berharga > > Jangan lagi kita mau menghamba kepada kepentingan > kapitalis > > Tidak ada kata lain.. setuju.. > > > Yang bisanya bikin bangkrut negara > > Ini yang berat.. Mengembalikan kondisi keuangan > negara dari > kebangkrutan akibat penyalahgunaan kekuasaan > (korupsi, nyolong > khususnya yang gede"an) kepada kas negara.. > Gimana bisa mulai? Lah wong sebagian besar bocor-nya > karena > penyelundupan BBM saja, yang disuruh berhemat cuma > rakyat.. > > Weleh-weleh.. :-P > > > Samudjo > > Wassalam, > > Irwan.K > > === > > ----- Original Message ----- > > From: "Yopie Peranginangin" <[EMAIL PROTECTED]> > > To: "PRMST" > <[EMAIL PROTECTED]>; > > <[EMAIL PROTECTED]>; > <[email protected]> > > Sent: Wednesday, July 20, 2005 10:12 AM > > Subject: [ppiindia] Penghapusan (lagi) Subsidi > Minyak : Farid Gaban > > > > > > > Clear DayPenghapusan (lagi) Subsidi Minyak > > > > > > Farid Gaban | Pena Indonesia > > > > > > (Note: Artikel ini boleh dimuat di mana saja, > online atau offline, > > > secara cuma-cuma] > > > > > > Melalui Menteri Negara Pembangunan dan Kepala > Bappenas Sri Mulyani, > > > pemerintah mengatakan sedang menimbang > penghapusan lagi subsidi bahan > > > bakar minyak. Salah satu argumennya adalah > naiknya harga minyak di > > > pasaran internasional, yang membuat nilai > subsidi membengkak. > > > > > > Sekilas nampak logis menghapus subsidi dengan > dalih naiknya harga > > > minyak di pasaran internasional. Padahal, ini > argumen absurd. > > > > > > Bahan bakar adalah komoditas strategis. Bahan > bakar merupakan komponen > > > hampir setiap barang yang kita konsumsi dan > setiap jasa yang kita > > > nikmati. Layanan pendidikan atau kesehatan > dasar, misalnya, mengandung > > > unsur guru atau dokter, yang membutuhkan makan > dan transportasi untuk > > > berangkat kerja. Makanan harus dimasak. Pabrik > mie instan pun perlu > > > bahan bakar untuk memprosesnya, bahkan ubi pun > harus dimasak. > > > > > > Mendasarkan penghapusan subsidi kepada harga > minyak di pasaran > > > internasional sama saja dengan menyandarkan pola > konsumsi kita pada > > > standar internasional. Pemerintah memaksa rakyat > Indonesia, yang > > > rata-rata miskin, menjangkau harga produk dan > jasa yang setara dengan > > > orang di Amerika atau Eropa. Dan jelas mereka > takkan mampu. > > > > > > Penghapusan subsidi memangkas daya beli rakyat > terhadap produk dan > > > jasa. Makin tinggi harga minyak pasaran > internasional, dan makin > > > sedikit subsidi, makin rendah daya beli > masyarakat. Makin sulit mereka > > > memperoleh produk dan layanan, bahkan yang > kualitasnya sangat rendah > > > pun, jauh lebih rendah dari standar > internasional. Dan coba bayangkan > > > jika harga minyak di pasaran internasional > mencapai US$ 100 per barel > > > seperti diramalkan oleh sejumlah pakar. Haruskah > rakyat miskin > > > Indonesia membeli semua produk dan jasa yang > terikat pada minyak tanpa > > > subsidi? > > > > > > Subsidi adalah keharusan. Dan salah satu tugas > pemerintah yang hakiki > > > memang memberi kemudahan kepada rakyatnya, yang > salah satunya > > > mengambil bentuk pemberian subsidi. > > > > > > Dalam kebijakan publik kita mengenal ada dua > bentuk subsidi: subsidi > > > langsung dan subsidi tidak langsung. Subsidi > bahan bakar minyak selama > > > ini adalah subsidi tidak langsung, pemerintah > tidak membagi-bagikan > > > minyak secara langsung kepada rakyat, tapi > menopang harga minyak agar > > > tetap murah. Dan dengan harga minyak yang > relatif murah, rakyat bisa > > > mendapatkan produk dan layanan yang murah pula. > > > > > > Subsidi tak langsung seperti itu memang ada > kelemahannya, karena bisa > > > secara tidak proporsional dinikmati orang kaya, > pemilik mobil pribadi, > > > pemakai barang-bawang mewah yang boros energi. > Ini memang tidak adil. > > > > > > Pemerintah selama ini mencoba membuat koreksi > terhadap kemungkinan > > > ketidakadilan tadi, yakni dengan menyisihkan > dana kompensasi. Dana > > > ini, dalam teori, diberikan secara langsung: > beras, beasiswa, dan obat > > > untuk orang miskin. Tapi, kompensasi seperti itu > tidak mungkin > > > efektif, seperti sudah dikeluhkan selama ini. > > > > > > Dana kompensasi pada dasarnya merupakan bentuk > subsidi langsung, yakni > > > langsung kepada orang miskin. Ini membutuhkan > data yang akurat tentang > > > siapa orang miskin dan bagaimana subsidi itu > bisa disalurkan kepada > > > mereka secara "door to door". Distribusi dari > pintu ke pintu adalah > > > esensi subsidi langsung. > > > > > > Ada 100 juta lebih orang miskin di Indonesia > dengan standar pendapatan > > > di bawah US$ 2 per hari. Ada problem untuk > mendistribusikan kompensasi > > > kepada seratus juta orang tadi. Pekerjaan > raksasa yang muskil, belum > > > lagi memperhitungkan kebocoran dan korupsi di > sepanjang jalur > distribusi. > > > > > > Namun, ada problem yang lebih serius. Pemerintah > sendiri, seperti > > > diakui Kepala Bappenas Sri Mulyani, tak punya > data akurat tentang > === message truncated === Ingin belajar Islam? Mari bergabung milis Media Dakwah Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] ____________________________________________________ Start your day with Yahoo! - make it your home page http://www.yahoo.com/r/hs *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

