On 7/26/05, fauziah swasono <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> --- In [email protected], irwank <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> > Mengacu pada tulisan di atas dan sebelumnya, anda menulis:
> >
> > "..
> > IMO,
> > Banyak kasus terjadi karena pasien datang tanpa dilengkapi kartu
> > Gakin. Seharusnya pemerintah mewajibkan keluarga miskin mempunyai
> > kartu Gakin ini walau belum perlu ke RS. 
> >
> > Hal ini berlaku di negara2 lain. Disini kalau kita datang ke RS/dokter
> > tanpa membawa kartu asuransi siap2 aja jatuh miskin. Setiap penduduk
> > wajib ikut asuransi kesehatan walau seringkali dalam setahun saya
> > tidak menggunakan sama sekali. Tapi setiap orang siap kalau memerlukan
> > jasa RS/dr.
> > .."
> >
> > Poinnya:
> > * Setiap penduduk wajib..
> >    Ini artinya ada aturan/policy pemerintah. Di Indonesia ada gak?
> > * Kartu gakin (harus) sudah siap di tangan keluarga, baik perlu atau
> > tidak ke dokter/RS.
> >    Anda ini menggambarkan sesuatu (rakyat) yang ideal.
> >    Sementara administrator negara kita sendiri masih kaya' sekarang?
> >    Apa pula ini.. :-)
> 
> Tepat Pak Irwan,
> justru itu kan pertanyaan saya. Karena saya baca pemerintah memberikan
> kartu Askes gratis bagi orang miskin (baru2 ini kan mulainya?), apakah
> sudah jalan? Poin saya bukan membandingkan tetapi kita bisa belajar
> dari negara lain. 

Begini ya mbak/bu.. dalam tulisan anda, "Seharusnya pemerintah mewajibkan 
keluarga miskin mempunyai kartu Gakin ini walau belum perlu ke RS".
bisa muncul pertanyaan, sudahkah kewajiban itu dilakukan pemerintah?
Kalau sudah, sudah sampaikah pada pihak yang berhak mendapatkannya 
(dalam hal ini keluarga/orangtua bayi ini)?

Berikutnya: "Disini kalau kita datang ke RS/dokter tanpa membawa kartu asuransi 
siap2 aja jatuh miskin. Setiap penduduk wajib ikut asuransi kesehatan walau 
seringkali dalam setahun saya tidak menggunakan sama sekali."
Dalam bahasan ini kan, beliau ini bisa dikategorikan miskin(?). 
Bukan baru tahap siap" jatuh miskin (artinya sebelumnya bukan dari
kalangan miskin).
Jangankan mereka berpikir untuk ikut asuransi kesehatan. Untuk makan saja kita 
tidak tahu, apakah pendapatannya cukup atau tidak.

Yang dibilang 'pembelajaran' di atas kalau sekedar dalam wacana dan tidak sedang
membahas kasus barangkali masih bisa dipahami. Tapi ini kan kasusnya
sudah terjadi
dengan infrastruktur (aturan, dll) yang belum memadai; dan saya tidak
setuju kalau
kalangan bawah yang disalahkan. Amat mungkin kalangan bawah belum sadar akan
kewajiban(?) memiliki gakin apalagi asuransi kesehatan .

Saya sendiri belum bisa membantu secara langsung, tapi yang pasti tidak berani
menyalahkan mereka yang pemahamannya relatif kurang. Mestinya kan pengelola 
negara dan kaum intelektual bisa mengerti kondisi mereka bukan malah
menyalahkan,
kenapa sampai gak punya gakin, atau kenapa baru diurus setelah di RS, dll..

> Kok jadinya anda marah2 sih? Terus terang saya
> bingung. Atau anda ketularan Pak Nizami yang merasa paling care sama
> orang miskin dan menganggap orang lain ignorant?
> (Semoga Tuhan menerima amal ibadahnya)

Kalau selama ini (dari thread") kelihatannya saya marah, saya minta maaf.
Sudah sifat/bawaan saya kali ya.. tapi untuk topik ini, Mbak/Bu Fau aja kali 
yang memang sensitif (garing?). Apakah saya mengatakan seperti yang 
Mbak/Bu Fau sangkakan di atas?
 
> Kalau anda bilang administrator kita masih kacau, maka itu sisi yang
> harus kita soroti. Bukankah DPR minta naik gaji? Bagaimana kalau kita
> bikin petisi ramai2 untuk disampaikan pada DPR bahwa ada yang tidak
> beres dalam penanganan asuransi kesehatan orang miskin?

Saya rasa itu bukan cuma pikiran saya sendiri. Yang pasti saya setuju kalau ada 
yang bisa membawa aspirasi ini ke pihak terkait. Maklum saya ini belum punya 
channel yang memadai. Paling banter cuma lewat milis. :-)
 
> Saya harap anda tidak terlalu bias menjudge bahwa saya hidup enak
> disini dan lupa dg penderitaan orang miskin di Indonesia. Sekali lagi
> -poin saya adalah kita belajar dari bangsa lain. Dalam bbrp kasus
> kesulitan sebenarnya bisa direduksi.

Tulisan ini anda tujukan untuk siapa? 
Adakah saya menuding anda demikian?

> Contohnya kasus Pak Effendy ini. Akhirnya ybs mendapatkan kartu gakin.
> Makanya saya tanya: kenapa nggak dari sebelumnya? Kurang
> sosialisasikah? Banyak biaya silumankah? Hambatan administrasikah?
> Kalau kita mau memikirkan masalah ini, saya yakin akan ada perbaikan
> walau sedikit (demi sedikit).

Seperti yang saya bilang, kalaupun saya belum bisa membantu langsung,
saya tidak mau menyalahkan mereka (kalangan bawah). 
Sampai infrastrukturnya memadai. Kalau aturan, administrator sudah siap,
ternyata mereka masih 'malas' juga untuk mengikutinya, saya rasa baru pantas
kalau mereka 'disalahkan' dan disadarkan.
 
> Kita ini punya banyak masalah, nggak perlu disebutkan. Dan itu tidak
> bisa diperbaiki dalam semalam. Tidak bisa kita mimpi bahwa tiba2 semua
> RS mempunyai bed-patient ratio yg cukup, tiba2 semua orang sakit bisa
> tertangani di RS, tiba2 semua penduduk dicover asuransi, dll. Apa
> kalau kita cuma marah2 akan membantu? Apalagi kalau marah2nya udah
> kemana2....

Ya Mbak/Bu.. masukannya berharga nih.
Minimal buat saya pribadi, mudah"an bisa lebih memperbaiki cara penyampaian
ide dan tulisan (meskipun di milis).

> Saya tidak tahu sejauh mana anda mengerti seluk beluk asuransi, tetapi
> silahkan tanya pada orang yang mendesain atau menghitung asuransi
> (bukan sales), hal ini sangat rumit. Negara2 majupun sampe sekarang
> masih menuai kritik soal sistem pelayanan kesehatan dan asuransinya.

Saya cuma anggota masyarakat biasa yang gak tahu banyak soal asuransi.
Yang pasti, ikut asuransi kesehatan butuh biaya.. sementara banyak di antara
kita yang sekedar untuk makan saja masih susah. Masa' masih diminta kesadaran
untuk ikut asuransi kesehatan segala.. :-p
 
> Berikut saya copy-kan cuplikan imel teman saya:
> -----------
> Memang moral hazard yang tidak diharapkan. Di belahan lain, yang
> ditakutkan sebenarnya malah dokternya (minta pemeriksaan aneh-aneh
> mumpung dibayarin asuransi, atau RS beli alat-alat canggih karena
> coverage asuransi), tetapi di kita ndilalah kok yang muncul malah dari
> pasiennya. Belum nanti kalau model Jembrana diberlakukan, ada risiko
> doctor-shopping (berulang kali periksa ke banyak dokter, tanpa sebab
> yang signifikan).
> 
> ---------------------

Klo soal moral hazard memang gak gampang. Sekedar ilustrasi, waktu ditanggung
100% biaya kesehatan oleh perusahaan, datang ke dokter gigi gak jadi masalah..
tinggal bawa badan dan antri.. :-)
Tapi begitu pindah perusahaan dan cuma ditanggung 80%, rasanya lumayan juga..
jadi lebih hati"/mandiri menjaga kesehatan. Ini masuk moral hazard bukan ya? :-p
 
> > Makanya saya bilang, jangan coba" ngebandingin kenyamanan hidup di
> > LN dengan apa yang dialami masyarakat kebanyakan. Ini jelas gak fair.
> 
> 
> Terus terang saya jadi bingung salahnya dimana.. Rasanya saya nggak
> bilang: Makanya jangan jadi orang miskin atau makanya pindah ke negara
> maju. Nggak kan?

Kalo bingung cari pegangan.. :-p
Masa' sih Mbak/Bu Fau bingung, gak percaya ah..
Coba lihat tulisan saya di atas deh.
 
> Jangan galak2 Pak...

Lagi, terima kasih Mbak/Bu.. 
Kalau boleh saya nyampaikan saran, tolong jangan terlalu sensitif/garing.. 
Ya, kalau tidak diterima juga gpp koq.. :D
 
> wassalam,
> 
> fau

-- 
Wassalam,

Irwan.K
Jakarta, Indonesia


***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke