Kamis, 04 Agt 2005
Keyakinan
Oleh: A. Mustofa Bisri
Salah satu hak manusia paling asasi adalah keyakinan. Kita bisa
mengajak orang untuk meyakini apa yang kita yakini, tapi tak bisa
memaksakannya. Nabi Ibrahim as dengan segala kebijaksanaannya tidak
bisa membuat ayahnya sendiri meyakini keyakinannya, meski keyakinannya
itu benar.
Nabi Luth as dengan segala kesantunannya tak mampu membuat istrinya
mengimani apa yang diimaninya, meski keyakinannya tersebut benar.
Demikian pula, Nabi Nuh dengan segala kewibawaannya tak dapat membuat
istri serta anaknya beriman.
Sebaliknya, Firaun dengan segala kekuasaan dan keganasannya tak mampu
memaksakan kepercayaannya kepada Asiya, istrinya. (Lihat contoh yang
diberikan Allah dalam Q 66: 10-11)
Mau contoh lagi?
Nabi Muhammad SAW dengan segala kearifan, kesantunan, kewibawaan,
keamanahan, kefasihan, dan kasih sayangnya tak mampu membuat pamannya
beriman. Bahkan, paman yang sekaligus tetangga dekat dan pernah
berbesanan dua anak ('Utbah Ibn Abdul 'Uzza Ibn Abdul Muthalib atau
yang terkenal dengan Abu Lahab pernah menjadi suami Ruqayyah, putri
Nabi Muhammad, dan anaknya yang lain, 'Utaibah, menjadi suami putri
Rasulullah lainnya, Ummi Kultsum. Keduanya menceraikan istri-istrinya
atas perintah Abu Lahab) sangat memusuhi Nabi.
Ketika Nabi Muhammad SAW seperti hendak "memaksa" karena -dan dengan-
kasih sayangnya yang agung, Allah yang mengutusnya justru
memperingatkan: "Innaka laa tahdii man ahbabta, walaakinaLlaha yahdii
man yasyaa…" Sungguh engkau tidak akan dapat memberi hidayah (membuat
iman) orang yang engkau sayangi (sekalipun); tapi Allah memberi
hidayah kepada orang yang Ia kehendaki (Q 28: 56).
Hidayah adalah hak prerogatif Allah. Kita hanya bisa mengajak orang
meyakini kebenaran yang kita yakini benar. Tapi, apakah orang yang
kita ajak tersebut terajak atau tidak, itu bukanlah di tangan kita.
Apabila dengan kasih sayang saja Rasulullah SAW tidak mampu
"memaksakan" keyakinan kebenaran, bahkan kepada orang yang paling
dekat, apalagi pemaksaan dengan kebencian.
Sebagai orang Islam, saya wajib mengajak orang untuk meyakini
kebenaran Islam. Mengajak ke jalan Tuhan Yang Mahaesa. Dan, Allah
telah memberi arahan cara mengajak ke jalan-Nya. Yaitu, dengan hikmah,
dengan bijaksana, dan nasihat yang baik. Bila perlu berbantahan,
berbantah dengan cara yang lebih baik.
Tuhan lebih mengetahui tentang siapa yang sesat dari jalan-Nya.
Apabila disakiti, membalas pun harus sama, tidak berlebih. Namun,
apabila bersabar, justru lebih baik. ( Baca Q. 16: 125-126)
Saya tidak mungkin bisa mengajak dengan bijaksana apabila saya
mengedepankan nafsu saya. Saya harus berpikir cermat agar ajakan saya
tidak justru membuat orang lari dari jalan Allah. Satu dan lain hal,
karena orang tidak hanya mendengarkan tuturan saya, melainkan lebih
melihat kelakuan saya. Meski ajakan saya secara lisan benar dan baik,
apabila perilaku saya tidak mendukung, apalagi berlawanan dengan
ajakan saya itu, tentu malah cemoohan yang akan saya dapatkan.
Saya meyakini agama saya adalah agama yang benar, agama yang penuh
kasih sayang, rahmatan lil 'aalamiin. Tapi, saya tidak cukup hanya
menggembar-gemborkan hal itu ke sana ke mari, sedangkan perilaku saya
justru tidak mencerminkan kebenaran, tidak mencerminkan kasih sayang
sebagaimana yang dicontohkan pemimpin agung saya, Nabi Muhammad SAW.
Karena rahmat Allah, Nabi Muhammad SAW berperilaku lemah lembut kepada
orang. Seandainya beliau kaku dan kasar budi, firman Allah, pastilah
orang-orang akan lari menjauhi beliau (baca Q 3: 159). Dan, otomatis
Islam pun akan dijauhi.
Syukurlah, Rasulullah SAW, seperti dicatat sejarah, adalah pribadi
teladan yang benar-benar lemah lembut, penuh kasih sayang, pemurah,
dan penuh perhatian. Beliau tidak hanya menebar cahaya kebenaran, tapi
juga menabur kasih sayang dan menyebar kedamaian. Kehadiran beliau
benar-benar rahmatan lil 'aalamiin.
Bagi orang Islam, terutama yang ingin mengajak ke jalan Allah dan
memuliakan agama-Nya, tidak ada yang lebih baik daripada mengikuti
jejak dan contoh Nabi Muhammad SAW. Dan, mengikuti jejak serta
mencontoh Nabi Muhammad SAW kiranya tidak terlalu sulit bagi mereka
yang benar-benar manusia, yang mengerti manusia, dan yang memanusiakan
manusia. Sebab, Rasulullah SAW adalah manusia yang paling manusia,
yang amat paham manusia, dan sangat memanusiakan manusia.
Karena itu, seandainya pun -dalam menegakkan kebenaran- beliau pernah
membenci manusia yang tidak benar, tidak pernah kebenciannya
membawanya untuk berlaku tidak adil sesuai firman Tuhan yang
mengutusnya. ("Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian orang-
orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi
dengan adil. Dan, janganlah sekali-kali kebencian kalian terhadap
sesuatu kaum mendorong kalian untuk berlaku tidak adil…" Q 5: 8)
Saya membayangkan, beliau pasti bersedih jika melihat umatnya yang
mengaku sangat mencintainya -dan dengan dalih membelanya- melakukan
tindakan-tindakan yang sama sekali tidak pernah beliau ajarkan serta
contohkan. Apalagi bila hal itu bisa mencoreng kemuliaan agamanya. (*)
http://search.jawapos.com/index.php?act=detail_tgl&id=183583
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
<font face=arial size=-1><a
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12hauqi7l/M=320369.6903865.7846595.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1123176262/A=2896110/R=0/SIG=1107idj9u/*http://www.thanksandgiving.com
">Help save the life of a child. Support St. Jude Children¿s Research
Hospital</a>.</font>
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/