--- In [email protected], Danardono HADINOTO 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
<deleted>
> ------------------------------------------------------------  
> LD: Iya mbah, kalo mbah belum menangkap samasekali, itu karena 
> adanya keterbatasan pada pendengaran
>  
> DH: Itulah, jadi kalau saya debat debatan engan si akhli msuik 
teman saya tadi, mengenai kesumbangan alatz gamelan, akan konyol, 
karena akal saya tak mampu memberikan judgement yang sebenarnya.

LD: betul. Sejauh itu menyangkut panca indera manusia akan terjadi 
hal-hal demikian.
> 
> -----------------------------------------------------------------  
> LD: Masalahnya Keilahian bukanlah masalah alam bawah sadar, ini 
> hanya sebuah konsep yang bisa dinalar oleh akal.Budaya memang 
> berbeda, itulah perlunya SATU kitab suci yang diharapkan bisa 
> menyatukan konsep keilahian. Kalau perbedaan budaya dijadikan 
> alasan, kenapa tidak diturunkan agama2/kitab2 suci yang sesuai 
> budaya manusia saja? 
>  
> DH: Alam arwah, alam bathiniah, hanya dapat ditangkap dengan 
seluruh kesadaran kita, atas dan abwah sadar. Ini yang sulit. SATU 
KItab Suci buat semua akan bagus, kalau mungkin,mBak. Tetapi berapa 
tahun manusia hidup setelah Kitab Pertama muncul: Vedda?

LD: betul bhw alam arwah, alam bathiniyah hanya dapat ditangkap 
dengan seluruh kesadaran atas dan bawah kita. Sulit? Saya rasa 
tidak, asal kita MAU. QS30(59):"Demikianlah Allah mengunci mati hati 
orang-orang yang tidak (mau) memahami." 
Kemauan dan kesadaran adalah jalan pembuka dari segala 
tabir/kesulitan. Masalahnya Mbah, dalam dunia yang sudah terlalu 
materialistis ini, kesadaran akan mengenal Ilahi dianggap urusan 
yang tidak diperlukan karena memang ini tidak bersifat materialis. 
Sejauh meyakini bahwa kita percaya Tuhan (spt kaum agnostic), sudah 
cukup. Sejauh kita berbuat baik kepada sesama manusia sudah cukup. 
Untuk dunia yang materialis, ini memang sudah cukup. Tapi, kita 
manusia (yang seharusnya mengontrol dunia bukan malah mengikuti 
maunya dunia yang materialis saja)menyadari bhw kita punya sisi 
rohani yang tidak berhenti mencari mengenalNya meski dicegah oleh 
kebutuhan duniawi kita. Kalau kita hidup dan memenuhi panca indera 
kita dengan segala duniawi saja, otomatis akal akan menduniawi juga 
dan akan memutuskan,"alam bathiniyah adalah hal sulit"...:-). 
Kesadaran menjadi mati (artinya hati telah dikuci mati olehNya).

Satu kitab suci itulah idealnya. Satu Tuhan itulah idealnya. Satu 
Kebenaran itulah idealnya. Absolut. Mungkin ataupun tidak, tidaklah 
menghapuskan Kebenaran ideal tsb. Ia tetap berada disana. Menunggu 
manusia yang MAU menjemputnya. 

Tidak masalah berapa tahun manusia hidup setelah kitab-kitab suci 
muncul, karena ada SATU Kitab Suci pamungkas yang kesuciannya 
terjaga olehNya. Jaminan ini telah dikukuhkan dalam Kitab Suci itu 
sendiri. Selama manusia bisa membaca, tak masalah kan?

> -----------------------------------------------------------------
> LD:
> Bagaimana mungkin akal yang besar melebihi 'Arasy dan tak dapat 
> dihinggakan oleh ilmu pengetahuan (yang telah mbah katakan 
> diatas 'jelas') menjadi kembali blur dengan mengatakan akal 
dibatasi > banyak parameter (pengetahuan?)? Bapak petani tersebut 
> pengetahuannya, tingkat informasi sangat terbatas sehingga akalnya 
> hanya menerima dari hal2 yg terbatas pula. Itu suatu hal yg logis; 
> memang bukan berantakan.
>  
> DH: Akankah kita latakan: "Wah jangan ngomong deh sama si petani 
itu, abis dia akalnya cupet?" kalau akalnya saja tak mencernakan 
pendaratan di bulan, bagaimana ia mau sampai pada hakekat Ilahi? 
Akal lagi kan yang ter-seok seok?

LD: Sekali lagi bukan akalnya cupet. Namun infromasi yang diterima 
akal petani tentang pendaratan di bulan itu amat terbatas. Andai 
petani tersebut diberi informasi scr terus menerus tentang hakekat 
ilahi secara bertahap dari syariat, tarikat, hakikat, insyaallah dia 
akan sampai ke ma'rifat kepada Tuhan. Hal ini juga berlaku kan bagi 
ilmu-ilmu lain kan?, bagaimana ada dokter spesialis Jantung, ya krn 
dokter ts memberikan informasi lebih soal jantung kedalam akalnya, 
sehingga dia menjadi ahli jantung. 

Bukankah pernah ada seorang (dokter?) mengatakan bahwa semua manusia 
lahir (normal)itu adalah cerdas, gak ada yang bodoh.

> -------------------------------------------------------------
> 
> LD: Mungkin memang keilahian tidak tercernakan oleh ilmu 
> pengetahuan, tapi tercernakan oleh akal. Mengapa kita percaya 
Tuhan > itu ada kalau akal kita tidak bisa mencerna keberadaanNya?  
Bukankah kata mang Ucup adalah gebleg bagi orang yang percaya tapi 
tidak pake akal?
> >  
> DH: Kita balik pertanyaannya mBak, "mungkinkah kita TAK percaya 
Ilahi hanya karena akal kita tak sampai"?
> dapatkah akalnya mang Ucup meraih hakekat Ilahi? Wauu saya akan 
sujud dihadapannya..dia sama dengan Kristus kalau begitu.

LD: Jawabannya adalah "mungkin" karena akal kita tidak pernah sama 
sekali diberi informasi ttg Dia secara benar.

Saya rasa mang Ucup bisa mengenal (bukan meraih) hakikat Ilahi kalau 
proses-prosesnya telah dilalui. Tak ada yang bisa meraih hakikat 
Ilahi, meski itu seorang Yesus or seorang Muhammad SAW.

Mbah, Jangan pernah sujud (=menyembah) kepada manusia seberapa 
hebatnya dia. Sujudlah kepada Dia, Sang Hakikat.

Oooh..jadi selama ini mbah memahami Kristus telah meraih HAKIKAT 
Ilahi karena itu mbah bersujud kepada Kristus? Adakah Kristus 
mencipta Bumi ini? Adakah Kristus Pencipta Manusia? Adakah Kristus 
mencipta dirinya sendiri? Salah satu hakikat Ilahi adalah Dia Maha 
Pencipta: mampu mencipta Bumi, mahluk, dll.

He..he...itu juga wajar, karena akal mbah memang telah 
diinformasikan dengan hal-hal demikian...sehingga..turun ke hati dan 
mengkristal di sana.

>  
> salam
>  
> danardono
> 
wassalam,




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
<font face=arial size=-1><a 
href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12hq6ofc7/M=323294.6903899.7846637.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1123223151/A=2896130/R=0/SIG=11llkm9tk/*http://www.donorschoose.org/index.php?lc=yahooemail";>Give
 underprivileged students the materials they need to learn. Bring education to 
life by funding a specific classroom project  
</a>.</font>
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke