hahahah, dibelokkan langsung untuk meruntuhkan pancasila,  cerdik pandai
sekali mbak aris.

bukannya yg janji koar koar produksi chitosan itu dosen ipb yg punya bisnis
sendiri di tangerang ?  seoralh chitosan adalah penemuan murni IPB, padahal
di luar negeri juga udah diteliti.

btw, kalau ini urusan publik, mengapa harus dikonsumsi untuk pribadi ?

khilafah HT dan konsepnya kemana nih, kok ditaruh dilaci.  nunggu jihad
ofensif lagi ?  gak lah yauw.

salam,
Ari Condro

On 4/6/06, aris solikhah <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> He he he he, mas Ari.. mas Ari , pasti ada kalau regulasinya, ntar klo ada
> khalifah sudah ada, biar saja beliau mutusin berapa dana untuk perawatan
> bangunan dll. Klo masalah pakarnya biar IPB yang nanganin. Kontruksi
> bangunan biar ITB dan PT lain yang nanganin.
>
>   Iya.... terkait chitosan...secara pribadi aris kurang sreg. Wilayah
> abu-abu banyak, secara moralitas.. . Ah sangat bertentangan dengan nurani.
> Ada banyak hal khusus yang aris ketahui tentang chitosan ini yang membuat
> aris makin guilty, sementara ini untuk konsumsi pribadi 
> saja.Dilematisjuga......
>
>
>   Oleh karena itu kalau ada tugas buat press release tentang chitosan
> sebagai pengganti formalin, dengan halus aris  tolak. Ada juga distilat asap
> dari asap cair arang tempurung kelapa yang dalam pengkajian bisa sebagai
> alternatif pengganti formalin, insektisida dan desinfektan. But,... karena
> dalam tahap penelitian. ya tunggu saja.....
>
>   Kita bagian publikasi penelitian dan penemuan, tapi semua juga
> diserahkan juga pada Pemerintah dan industri untuk mengadopsi atau
> tidak....berharap pada pemerintah yang berpegang teguh Pancasila sekarang...
> ah... banyak hopeless-nya. Setuju kan mas Ari....
>
>   salam,
>   aris
>
> Ari Condro <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>   ada solusi Islam buat rayap ini gak, mbak Aris ??? atau dulu solusi
> Islam
> buat masalah chitosan yg gak jelas justrugnan produksinya. jgn jgn para
> penjual makanan kita udah back to basic sekarang ini, dia diam pakai
> formalin lagi. lha wong belum ada alternatifnya ta iyeee...
>
>
> salam,
> Ari Condro
>
> On 4/6/06, aris solikhah wrote:
> >
> > http://www.gatra.com/artikel.php?id=93533
> > Rayap yang Serang Istana, Jenis Paling Bahaya
> >
> > Bogor, 5 April 2006 17:06
> > Peneliti IPB mengungkapkan, struktur atas bangunan Istana Merdeka, di
> > Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, yang jadi kediaman resmi
> Presiden
> > Susilo Bambang Yudhoyono, ternyata diserang jenis rayap paling
> berbahaya.
> >
> > "Jenis raya yang menyerang bangunan atas Istana Merdeka itu adalah
> > `Coptotermes curvignathus`, yakni jenis rayap paling berbahaya,"
> demikian
> > disampaikan juru bicara tim peneliti rayap dari Laboratorium Hasil Hutan
> > Pusat Studi Ilmu Hayati (PSIH) Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Dr Ir
> M
> > Surjono Surjokusumo, MSF, PhD di Bogor, Rabu.
> >
> > Ia mengemukakan hal itu bersama anggota tim peneliti rayap lainnya
> yakni,
> > Dr Ir Naresworo Nugroho, Ir Yudi Rismayadi, MSi,Ir Niken Subekti, MSi,
> Dr Ir
> > Farah Diba dan Ir Arinana, Msc pada diskusi terbatas berkaitan dengan
> > potensi serangan rayap pada bangunan dengan sejumlah wartawan di Kampus
> IPB
> > Darmaga.
> >
> > Bersama sejawatnya, Prof Dr Ir Rudolf Christian Tarumingkeng, MF, PhD, M
> > Surjono Surjokusumo, pekan lalu mengungkapkan bahwa Istana Merdeka
> mengalami
> > kerusakan pada bagian plafon bangunan yang berunsur kayu akibat diserang
> > koloni rayap.
> >
> > "Beberapa waktu lalu saya dan pak Rudi (Rudolf) diundang ke Istana
> Merdeka
> > untuk memastikan apa benar istana diserang oleh koloni rayap, dan
> ternyata
> > benar. Plafon di Istana Merdeka, tepatnya di ruangan yang biasa
> dipergunakan
> > presiden menerima tamu, jatuh. Yang utuh hanya rangka alumuniumnya
> saja,"
> > kata guru besar Fakultas Kehutanan (Fahutan) IPB yang segera purna-tugas
> > itu.
> >
> > Dengan kondisi tingkat keseriusan ancaman kerusakan lebih parah lagi
> pada
> > Istana Merdeka, kata dia, tim peneliti rayap PSIH IPB kini sudah
> mematangkan
> > konsep, sekaligus langkah aksi untuk dapat memberantas koloni-koloni
> rayap,
> > yang setiap satu koloninya terdiri atas jutaan rayap.
> >
> > "Rekomendasi kita adalah hendaknya rehabilitasi Istana Merdeka jangan
> > dilakukan sebelum ada langkah `sterilisasi rayap`," katanya.
> >
> > Langkah "sterilisasi" tersebut, menurut dia, adalah menghabisi koloni
> > rayap di setiap area yang ada pada dan di sekitar area bangunan Istana
> > Merdeka yang menurut jadwal pada bulan Mei mendatang akan mulai
> dikerjakan.
> >
> > Sementara itu, Yudi Rismayadi, anggota peneliti yang langsung melakukan
> > observasi di Istana Merdeka mengemukakan bahwa struktur atas pada gedung
> > dimana Presiden Yudhoyono dan keluarga tinggal, sudah sangat parah
> akibat
> > serangan koloni rayap jenis paling berbahaya itu.
> >
> > "Terjadi pelapukan-pelapukan pada unsur kayu di bagian atas Istana
> > Merdeka, dan itu amat berbahaya jika akhirnya runtuh," katanya.
> >
> > Untuk itu, kata dia, diperlukan metode penanganan gabungan, yakni dengan
> > membasmi koloni rayap dengan zat yang mematikan, serta metode "sentricon
> > coloni elimination system", yakni cara baru pengendalian rayap dengan
> metode
> > umpan.
> >
> > Keunggulan metode "sentricon" itu, yakni memberantas tuntas koloni
> rayap,
> > tidak merusak bangunan serta ramah lingkungan.
> >
> > Beberapa tahapan dari metode "sentricon" itu, kata Yudi Rismayadi,
> > pertama: stasiun "sentricon" dan kayu umpan ditempatkan di lokasi
> strategis
> > di sekitar bangunan gedung, kedua: pemeriksaan stasiun umpan secara
> periodik
> > untuk memantau aktivitas rayap.
> >
> > Ketiga, rayap yang menyerang kayu umpan dipindahkan ke dalam umpan rayap
> > beracun dan keempat, secara periodik umpan racun diperiksa sampai koloni
> > rayap akhirnya tereliminasi.
> >
> > Pengamanan ganda
> > Pada bagian lain, ia juga menjelaskan bahwa melihat perkembangan rayap
> > yang kini menyerang bangunan-bangunan penting seperti Istana Presiden,
> > bangunan berukuran besar dan gedung-gedung tinggi, diperlukan sebuah
> > pengamanan yang lebih.
> >
> > "Artinya, kalau bangunan seperti Istana Merdeka, yang merupakan simbol
> > negara dan bangsa Indonesia, jelas diperlukan pengamanan ganda (agar
> tidak
> > diserang rayap)," katanya.
> >
> > Ia mengatakan, saat ini rayap tidak hanya populer menyerang kayu sebagai
> > bagian konstruksi bangunan rumah tinggal sederhana, namun telah merambah
> > dengan menyerang bangunan vital seperti Istana Kepresidenan, gedung
> > bertingkat tinggi, yang dari segi konstruksi hampir dikatakan aneh dapat
> > terserang rayap, apalagi dilengkapi kayu awet kelas satu, basement
> dengan
> > lantai "slab" beton bertulang, atau sangat minimal menggunakan kayu
> sebagai
> > komponen struktural bangunan.
> >
> > Pada bangunan bertingkat tinggi itu, katanya, rayap menyerang
> > komponen-komponen kayu sebagai bagian dari ornamen bangunan seperti
> > furnitur, kitchen set dan yang lainnya.
> >
> > "Bahkan, pada beberapa kasus serangan rayap menghabiskan dokumen-dokumen
> > yang berada di dalam gedung, menghancurkan wallpaper, merusak parquet,
> dan
> > bahan bangunan baru seperti gipsum, dan kondisi itu mengubah hama rayap
> yang
> > populer dari hama kayu menjadi hama bangunan," katanya.
> >
> > Pasalnya, kata dia, rayap tidak hanya menyerang struktur kayu, tetapi
> juga
> > mengganggu bangunan secara keseluruhan.
> >
> > "Oleh karena itu, tidak aneh jika keruginan yang diakibatkan rayap tidak
> > kurang dari Rp 2,7 triliun," katanya. [TMA, Ant]
> >
> >
> >
> > pustaka tani
> > nuraulia
> >
> >
> > ---------------------------------
> > New Yahoo! Messenger with Voice. Call regular phones from your PC and
> save
> > big.
> >
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> >
> >
> >
> >
> >
> ***************************************************************************
> > Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia
> > yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
> > http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
> >
> >
> ***************************************************************************
> >
> __________________________________________________________________________
> > Mohon Perhatian:
> >
> > 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg
> otokritik)
> > 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> > 3. Reading only, http://dear.to/ppi
> > 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> > 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> > 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
> >
> > Yahoo! Groups Links
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
>
>
> ***************************************************************************
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia
> yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
> http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
>
> ***************************************************************************
> __________________________________________________________________________
> Mohon Perhatian:
>
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> 3. Reading only, http://dear.to/ppi
> 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
>
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> pustaka tani
>   nuraulia
>
>
> ---------------------------------
> How low will we go? Check out Yahoo! Messenger's low  PC-to-Phone call
> rates.
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
>
>
> ***************************************************************************
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia
> yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
> http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
>
> ***************************************************************************
> __________________________________________________________________________
> Mohon Perhatian:
>
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> 3. Reading only, http://dear.to/ppi
> 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
>
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>
>
>
>


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke