ketidakadilan seperti apa yg Din maksud?
ketidakadilan seperti kemiskinan dan keterbelakangan?
kemiskinan bisa diatasi dengan cara mencerdaskan orang2...
nah masalahnya adalah orang2 yg anarkis itu tidak pernah mau
sekolah, mentok2nya mereka sekolah di pesantren dimana
kebebasan murid2nya dibelenggu...
gimana bisa maju? gimana bisa jadi orang cerdas? gimana
bisa modern bila dipenjara oleh agamanya sendiri?
harusnya Din sebagai orang pintar sudah tahu inti
masalahnya...

lucunya, Din sebagai dedengkot MUI mengakatan bahwa islam
di indonesia menghargai perbedaan agama...tapi disatu sisi
MUI pernah mengeluarkan fatwa anti pluralis, anti liberalis, dan
anti sukelar yang berujung pada meningkatnya radikalisme
islam indonesia...apakah itu berarti pendirian dia mudah
berubah?

atau karena di depan orang2 amrik, nyalinya ciut sehingga dia
cuma mengeluarkan cerita2 yg baik saja tentang indonesia?

hahaha...
semua pemimpin di indonesia benar2 pelawak!





--- In [email protected], "Ambon" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>
http://www.padangekspres.com/mod.php?mod=publisher&op=vi
ewarticle&artid=14542
>
>
> Radikalisme Islam Hanya Temporer
> * Din: Akan Berkurang Jika Ketidakadilan Diatasi
>
>
> Senin, 01-Mei-2006, 03:57:388 clicks
> Washington, Padek-Andil umat Islam sangat besar
mendorong demokrasi di Indonesia. Soal adanya gejala
radikalisme agama, tak perlu dikhawatirkan secara berlebihan
karena hal itu adalah gejala temporer yang akan berkurang jika
sumber-sumber penyebabnya diatasi, seperti kemiskinan,
keterbelakangan, dan ketidakadilan.
>
>
> Hal itu ditegaskan Ketua Umum PP Muhammdiyah Prof Dr Din
Syamsuddin, dalam diskusi publik yang diselengarakan
USINDO (persahabatan Amerika-Indonesia) di nasional press
club, Washington DC Sabtu (29/4).
>
> Din sangat nyakin, selama arus tengah Islam seperti
Muhammadiyah, NU, ormas besar lain, masih berpengaruh dan
berperan, maka Islam Indonesia tetap menjadi faktor efektif
Indonesia dan demokrasi Indonesia di masa depan. Oleh
karena itulah, lanjut Din, Muhammadiyah tengah berbenah diri
melakukan konsolidasi dan revitalisasi diri menjadi gerakan
kebudayaan dan peradapan dinamis dengan pusat-pusat
keunggulan strategis.
>
> Din juga menyatakan Negara Kesatuan Republik Indonesia
yang berdasarkan Pancasilah adalah bentuk final dan ideal bagi
rakyat Indonesia yang majemuk atas dasar suku, agama, dan
bahasa. Itu ditegaskannya ketika menjawab pertanyaan tentang
adanya ide negara Islam atau negara syariat Islam yang
diajukan sementara kalangan umat Islam di Indonesia.
>
> Menurut Din, negara Pancasila adalah ijtihad politik para
pendiri bangsa termasuk tokoh-tokoh Islam. Bahkan PP
Muhammadiyah waktu itu, Ki Bagus Hadikusumo, adalah orang
yang paling berjasa mengubah tujuh kata dengan kewajiban
menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya menjadi
kebutuhan. Tapi lanjut Din, tidak perlu alergi terhadap adanya
gagasan negara Islam maupun negara syariat Islam. Karena
dalam perspektif demokrasi, semua kelompok masyarakat
punya hak untuk berpendapat selama disalurkan lewat
mekanisme konstitusi di lembaga demoktrasi seperti DPR/MPR
.
>
> Ceramah dan dialog ketua Umum PP Muhammadiyah yang
juga wakil ketua umum MUI pusat ini disambut antusias para
tokoh Amerika yang terdiri dari mantan diplomat, anggota
kongres dan pengusaha. Mereka gencar bertanya tentang masa
depan demokrasi di Indonesia terkait kendala radikalisme
Islam.
>
> Dalam pertemuan dengan utusan khusus pemerintah AS
tentang kebebasan beragama, John Hanford, Din
meyakinkannya bahwa kebebasan beragama sangat ditunjang
tinggi oleh Islam, sambil menegaskan ayat Al Quran tentang
tidak ada paksaan dalam agama, karenanya umat Islam
Indonesia telah menunjukkan toleransi besar dalam hidup
berdampingan secara damai, sulit dibayangkan Indonesia
seperti sekarang ini tanpa toleransi umat Islam sebagai
kelompok mayoritas.
>
> Bahwa dewasa ini, menurut Din, lebih disebabkan karena
adanya segelintir orang di kalangan umat berbagai agama, baik
Islam maupu Kristen, yang fundamentalis dan kurang
memahami asas hidup konsistensi dalam masyarakat
majemuk, di samping masih lemahnya negara dalam
menegakkan hukum.
>
> Kunjungan 10 hari Din Syamsuddin masih berlanjut hari ini
dengan ceramah dan dialog bersama masyarakat Indonesia di
KBRI Washington, DC dan ceramah di almamaternya UCLA
tentang Islam dan "The Future of Democrasy in Indonesia: hari
ini (1/5). (zaz)
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>






***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]




SPONSORED LINKS
Cultural diversity Indonesian languages Indonesian language learn
Indonesian language course


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke