Terima kasih, Pak Batara, kisahnya amat menarik, walau cuma singkat saja. 
Bagaimana ya cara mendapatkan buku itu? Saya coba ke Gramedia tidak ada.
  Harapan saya, semoga kisah ini dapat ditambahkan dalam perjalanan sejarah 
Indonesia.

  Intinya, penyebaran agama langit (samawi) - baik itu Islam maupun 
Kristen (Katholik/Protestan) -  di Nusantara dan di manapun di pelbagai
pelosok dunia sebenarnya tidak berjalan dengan damai, tetapi penuh 
pertumpahan darah dan jalan kekerasan. Dan itu terjadi di semua wilayah. Dengan 
memahami  kisah sejarah yang sebenar-benarnya, tanpa ditutup-tutupi, semoga 
kita 
semua bisa lebih arif dalam meniti perjalanan di masa depan.
   
  Juga perlu sedikit untuk memperjelas, ketiga haji yang mengislamkan
wilayah Minangkabau sebelumnya beraliran Hanafi karena mereka ikut
pasukan Turki yang menduduki Makah. Kemudian ketiga haji tersebut
diindoktrinasi aliran Wahabi, lalu melanjutkan perjuangannya untuk
mengislamkan Sumatra Barat. Akan lebih menarik apabila ada kisah semasa
Sumatra menganut Hindu. Sepertinya peninggalan Hindu/Budha di Sumatra 
sudah musnah tak bersisa ya?
   
  Biar lebih lengkap, kalau bisa ditambahkan riset pustaka di Belanda. Mungkin 
rekan-rekan kita seperti Oom Danny Lim, Mang Ucup, Ida Khouw, teman-teman di 
Ranisi, dan lainnya yang  mukim di Belanda bisa membantu. Soalnya kalau saya 
baca di catatan kaki, pak Parlindungan Siregar  hanya akan meminta T.B. 
Simatupang, Ali Budiarjo, SH dan dr. Wiliater  Hutagalung untuk memberi 
masukan-masukan dan koreksi terhadap naskah buku  tersebut. Relevansinya apa ya 
pak sederet tokoh-tokoh tersebut dengan sejarah pengislaman di Minangkabau dan 
pengislaman/pengkristenan  di Tanah Batak (Sumut)?
   
  Juga ingin saya tambahkan, jauh sebelum masuknya aliran Hambali di 
Minangkabau, pada 1128 telah menyebar aliran Syi'ah yang menjalar dari
Aceh. Jadi sekira 700 tahun sebelum terjadi Perang Paderi. Pada waktu 
itu, laksamana Nazimudin Al-Kamil mengadakan gerakan militer dari pantai Aceh 
ke sungai Kampar Kanan dan Kiri, untuk menguasai hasil lada di daerah tersebut. 
Nazimudin gugur saat ekspedisi pada 1128. Daerah sungai Kampar dikuasai oleh 
pedagang-pedagang asing yang menganut aliran Syi'ah, dan disokong oleh dinasti 
Fathimiah di Mesir. Mereka ingin memonopoli hasil lada. Hasil lada itu diangkut 
ke bandar  Perlak, terus dibawa ke pasaran Gujarat.
   
  Pada 1513, Tuanku Burhanudin Syah di Pariaman yang dikuasai Aceh, mulai
mengislamkan daerah Minangkabau secara intensif. Burhanudin adalah putra
sultan Syamsul Syah dari Mahkota Alam, yang ikut mendirikan kesultanan
Aceh. Para tokoh setempat dididik menjadi ulama yang kemudian akan
menyebarkan ajaran Syi'ah di antara penduduk Minangkabau. Para pengajar
didatangkan dari Kambayat, Gujarat. Pengawasan terhadap pendidikan ulama
di Pariaman, sampai 1697, dilakukan oleh Tuanku Burhanudin Syah turun
temurun. Sementara sebagian tidak senang dengan pengislaman yang dilakukan
Tuanku Burhanudin Syah. 
   
  Pada 1803, tiga tokoh beraliran Wahabi bermazhab Hambali, Haji Piobang, 
Haji Sumanik, dan Haji Miskin, membentuk gerakan pembersihan agama. 
Gerakan mereka disponsori oleh Abdullah ibn Saud di Riyadh. Sebagai catatan,
ketiga haji tersebut pernah menjadi tentara di Turki. Timbullah ketegangan 
antara golongan kaum adat, penganut aliran Syi'ah dan para pengikut 
gerakan Wahabi. Akhirnya mereka berhasil membasmi kaum Hindu dan 
kaum Syi'ah di Minangkabau, nyaris tak tersisa. Di Irak, pada 1801,
gerakan Wahabi juga sibuk memberantas kaum Syi'ah, dan berhasil
merebut Karbala. Masjid-masjid Syi'ah dan makam-makam keturunan Hasan
Husein, cucu Nabi Muhammad, dibumihanguskan. Pada 1802, tentara Wahabi
di bawah pimpinan Abdullah ibn Saud, putra Abdul Aziz ib Saud, berhasil
merebut kota Makah dan Madinah, serta mengusir tentara Turki dari
jazirah Arab. Karena pembebasan kota Makah dan Madinah dari kekuasaan
Turki yang beraliran Hanafi itu, maka gerakan Wahabi menjadi terkenal
di dunia internasional. 
   
  Ketiga haji asal Minangkabau yang ikut dalam pasukan Turki yang menduduki 
Makah dan Madinah, ditangkap kelompok Wahabi. Karena mereka adalah orang 
asing, bukan orang Turki, mereka tidak dibunuh. Ketiga orang tersebut 
segera diindoktrinasi dalam gerakan Wahabi, lalu melepas aliran Hanafi-nya.  
Sekembalinya dari Makah pada 1803, mereka membentuk gerakan Wahabi di 
Minangkabau.

  Timbullah ketegangan antara golongan kaum adat, penganut Hindu, penganut 
aliran 
Syi'ah dan para pengikut gerakan Wahabi. Puncaknya, meletuslah Perang Padri.
Akhirnya mereka berhasil membasmi kaum adat, umat Hindu, dan pengikut
aliran Syi'ah di Minangkabau, nyaris tak tersisa.
   
  salam,
   
  RD
   
  _________________________________________________________________
   
  Tuanku Rao: Teror Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak 
  oleh: Batara R. Hutagalung 
 
Perang Paderi (Ada yang berpendapat kata ini berasal dari Pidari di 
Sumatera Barat, dan ada yang berpendapat kata Paderi berasal dari 
kata Padre, bahasa Portugis, yang artinya pendeta, dalam hal ini 
adalah ulama) di Sumatera Barat berawal dari pertentangan antara 
kaum adat dengan kaum ulama. Sebagaimana seluruh wilayah di Asia 
Tenggara lainnya, sebelum masuknya agama Islam, agama yang dianut 
masyarakat di Sumatera Barat juga agama Buddha dan Hindu. Sisa-sisa 
budaya Hindu yang masih ada misalnya sistem matrilineal (garis ibu), 
yang mirip dengan yang terdapat di India hingga sekarang. Masuknya 
agama Islam ke Sumatera Utara dan Timur, juga awalnya dibawa oleh 
pedagang-pedagang dari Gujarat dan Cina. 
   
  Setelah kembalinya beberapa tokoh Islam dari Mazhab Hambali yang 
ingin menerapkan alirannya di Sumatera Barat, timbul pertentangan 
antara kaum adat dan kaum ulama, yang bereskalasi kepada konflik 
bersenjata. Karena tidak kuat melawan kaum ulama (Paderi), kaum adat 
meminta bantuan Belanda, yang tentu disambut dengan gembira. Maka 
pecahlah Perang Paderi yang berlangsung dari tahun 1816 sampai 1833.
 
Selama berlangsungnya Perang Paderi, pasukan kaum Paderi bukan hanya 
berperang melawan kaum adat dan Belanda, melainkan juga menyerang 
Tanah Batak Selatan, Mandailing, tahun 1816 - 1820 dan kemudian 
mengIslamkan Tanah Batak selatan dengan kekerasan senjata, bahkan di 
beberapa tempat dengan tindakan yang sangat kejam. 
   
  Sebelum masuknya agama Islam dan Kristen ke Tanah Batak, selain agama 
asli Batak yaitu Parmalim, seperti di hampir di seluruh Nusantara, agama yang 
berkembang di Sumatera Utara adalah agama Hindu dan Buddha. Sedangkan di 
Sumatera Barat pada abad 14 berkembang aliran Tantra Çaivite (Shaivite) 
Mahayana dari agama Buddha, dan hingga tahun 1581 Kerajaan Pagarruyung di 
Minangkabau masih beragama Hindu. 
  
Agama Islam yang masuk ke Mandailing dinamakan oleh penduduk setempat 
sebagai Silom Bonjol (Islam Bonjol) karena para penyerbunya datang 
dari Bonjol. Seperti juga di Jawa Timur dan Banten rakyat setempat 
yang tidak mau masuk Islam, menyingkir ke utara dan bahkan akibat 
agresi kaum Paderi dari Bonjol, tak sedikit yang melarikan diri 
sampai Malaya. 
   
  Penyerbuan Islam ke Mandailing berawal dari dendam keturunan marga 
Siregar terhadap dinasti Singamangaraja dan seorang anak hasil 
incest (hubungan seksual dalam satu keluarga) dari keluarga 
Singamangaraja X. 
   
  Ketika bermukim di daerah Muara, di Danau Toba, Marga Siregar sering 
melakukan tindakan yang tidak disenangi oleh marga-marga lain, 
sehingga konflik bersenjatapun tidak dapat dihindari. Raja Oloan Sorba 
Dibanua, kakek moyang dari Dinasti Singamangaraja, memimpin penyerbuan 
terhadap pemukiman Marga Siregar di Muara. Setelah melihat kekuatan 
penyerbu yang jauh lebih besar, untuk menyelamatkan anak buah dan 
keluarganya, peminpin marga Siregar, Raja Porhas Siregar meminta Raja 
Oloan Sorba Dibanua untuk melakukan perang tanding -satu lawan satu- 
sesuai tradisi Batak. Menurut tradisi perang tanding Batak, rakyat 
yang pemimpinnya mati dalam pertarungan satu lawan satu tersebut, 
harus diperlakukan dengan hormat dan tidak dirampas harta bendanya 
serta dikawal menuju tempat yang mereka inginkan. 
   
  Dalam perang tanding itu, Raja Porhas Siregar kalah dan tewas di 
tangan Raja Oloan Sorba Dibanua. Anak buah Raja Porhas ternyata tidak 
diperlakukan seperti tradisi perang tanding, melainkan diburu oleh 
anak buah Raja Oloan sehingga mereka terpaksa melarikan diri ke 
tebing-tebing yang tinggi di belakang Muara, meningggalkan keluarga 
dan harta benda. Mereka kemudian bermukim di dataran tinggi Humbang. 
Pemimpin Marga Siregar yang baru, Togar Natigor Siregar mengucapkan 
sumpah, yang diikuti oleh seluruh Marga Siregar yang mengikat untuk 
semua keturunan mereka, yaitu: Kembali ke Muara untuk membunuh Raja 
Oloan Sorba Dibanua dan seluruh keturunannya. 
   
  Dendam ini baru terbalas setelah 26 generasi, tepatnya tahun 1819, 
ketika Jatengger Siregar –yang datang bersama pasukan Paderi, di 
bawah pimpinan Pongkinangolngolan (Tuanku Rao)- memenggal kepala 
Singamangaraja X, keturunan Raja Oloan Sorba Dibanua, dalam penyerbuan 
ke Bakkara, ibu kota Dinasti Singamangaraja. 
   
  Ibu dari Pongkinangolngolan adalah Gana Sinambela, putri dari 
Singamangaraja IX sedangkan ayahnya adalah Pangeran Gindoporang 
Sinambela adik dari Singamangaraja IX. Gindoporang dan Singamangaraja 
IX adalah putra-putra Singamangaraja VIII. Dengan demikian, 
Pongkinangolngolan adalah anak hasil hubungan gelap antara Putri Gana 
Sinambela dengan Pamannya, Pangeran Gindoporang Sinambela. 
  Gana Sinambela sendiri adalah kakak dari Singamangaraja X. Walaupun 
terlahir sebagai anak di luar nikah, Singamangaraja X sangat mengasihi 
dan memanjakan keponakannya. Untuk memberikan nama marga, tidak 
mungkin diberikan marga Sinambela, karena ibunya bermarga Sinambela. 
Namun nama marga sangat penting bagi orang Batak, sehingga 
Singamangaraja X mencari jalan keluar untuk masalah ini. 
  
Singamangaraja X mempunyai adik perempuan lain, Putri Sere Sinambela, 
yang menikah dengan Jongga Simorangkir, seorang hulubalang. Dalam 
suatu upacara adat, secara pro forma Pongkinangolngolan "dijual" 
kepada Jongga Simorangkir, dan Pongkinangolngolan kini bermarga 
Simorangkir. 
   
  Namun kelahiran di luar nikah ini diketahui oleh 3 orang Datu 
(tokoh spiritual) yang dipimpin oleh Datu Amantagor Manurung. Mereka 
meramalkan, bahwa Pongkinangolngolan suatu hari akan membunuh 
pamannya, Singamangaraja X. Oleh karena itu, Pongkinangolngolan harus 
dibunuh. 
   
  Sesuai hukum adat, Singamangaraja X terpaksa menjatuhkan hukuman mati 
atas keponakan yang disayanginya. Namun dia memutuskan, bahwa 
Pongkinangolngolan tidak dipancung kepalanya, melainkan akan 
ditenggelamkan di Danau Toba. Dia diikat pada sebatang kayu dan 
badannya dibebani dengan batu-batu supaya tenggelam. 
   
  Di tepi Danau Toba, Singamangaraja X pura-pura melakukan pemeriksaan 
terakhir, namun dengan menggunakan keris pusaka Gajah Dompak ia 
melonggarkan tali yang mengikat Pongkinangolngolan, sambil menyelipkan 
satu kantong kulit berisi mata uang perak ke balik pakaian 
Pongkinangolngola. Perbuatan ini tidak diketahui oleh para Datu, 
karena selain tertutup tubuhnya, juga tertutup tubuh Putri Gana 
Sinambela yang memeluk dan menangisi putra kesayangannya. 
  Tubuh Pongkonangolngolan yang terikat kayu dibawa dengan rakit ke 
tengah Danau dan kemudian di buang ke air. Setelah berhasil melepaskan 
batu-batu dari tubuhnya, dengan berpegangan pada kayu 
Pongkinangolngolan berhasil mencapai sungai Asahan, di mana kemudian 
di dekat Narumonda, ia ditolong oleh seorang nelayan, Lintong 
Marpaung. 
   
  Setelah bertahun-tahun berada di daerah Angkola dan Sipirok, 
Pongkinangolngolan memutuskan untuk pergi ke Minangkabau, karena 
selalu kuatir suatu hari akan dikenali sebagai orang yang telah 
dijatuhi hukuman mati oleh Raja Batak. 
   
  Di Minangkabau ia mula-mula bekerja pada Datuk Bandaharo Ganggo 
sebagai perawat kuda. Pada waktu itu, tiga orang tokoh Islam Mazhab 
Hambali, yaitu Haji Miskin, Haji Piobang dan Haji Sumanik baru kembali 
dari Mekkah dan sedang melakukan penyebaran Mazhab Hambali di 
Minangkabau, yang menganut aliran Syi'ah. Haji Piobang dan Haji 
Sumanik pernah menjadi pewira di pasukan kavaleri Janitsar Turki. 
  Gerakan mereka mendapat dukungan dari Tuanku Nan Renceh, yang 
mempersiapkan tentara untuk melaksanakan gerakan Mazhab Hambali, 
termasuk rencana untuk mengislamkan Mandailing. 
  
Tuanku Nan Renceh yang adalah seorang teman Datuk Bandaharo Ganggo, 
mendengar mengenai nasib dan silsilah dari Pongkinangolngolan. Ia 
memperhitungkan, bahwa Pongkinangolngolan yang adalah keponakan 
Singamangaraja X dan sebagai cucu di dalam garis laki-laki dari 
Singamangaraja VIII, tentu sangat baik untuk digunakan dalam rencana 
merebut dan mengIslamkan Tanah Batak. Oleh karena itu, ia meminta 
kawannya, Datuk Bandaharo agar menyerahkan Pongkinangolngolan 
kepadanya untuk dididik olehnya. 
   
  Pada 9 Rabiu'ulawal 1219 H (tahun 1804 M), dengan syarat-syarat 
Khitanan dan Syahadat, Pongkinangolngolan diislamkan dan diberi nama 
Umar Katab oleh Tuanku Nan Renceh. Nama tersebut diambil dari nama 
seorang Panglima Tentara Islam, Umar Chattab. Namun terselip juga asal 
usul Umar Katab, karena bila dibaca dari belakang, maka akan terbaca: 
Batak! 
   
  Penyebaran Mazhab Hambali dimulai tahun 1804 dengan pemusnahan 
keluarga Kerajaan Pagarruyung di Suroaso, yang menolak aliran baru 
tersebut. Hampir seluruh keluarga Raja Pagarruyung dipenggal 
kepalanya oleh pasukan yang dipimpin oleh Tuanku Lelo, yang nama 
asalnya adalah Idris Nasution. Hanya beberapa orang saja yang dapat 
menyelamatkan diri, di antaranya adalah Yang Dipertuan Arifin Muning 
Alamsyah yang melarikan diri ke Kuantan dan kemudian meminta bantuan 
Belanda. Juga putrinya, Puan Gadis dapat menyelamatkan diri, dan pada 
tahun 1871 menceriterakan kisahnya kepada Willem Iskandar. 
   
  Umar Katab alias Pongkinangolngolan Sinambela kembali dari Mekkah dan 
Syria tahun 1815, di mana ia sempat mengikuti pendidikan kemiliteran 
pada pasukan kavaleri janitsar Turki. Oleh Tuanku Nan Renceh ia 
diangkat menjadi perwira tentara Paderi dan diberi gelar Tuanku Rao. 
Ternyata Tuanku Nan Renceh menjalankan politik divide et impera 
seperti Belanda, yaitu menggunakan orang Batak untuk menyerang Tanah 
Batak. 
   
  Penyerbuan ke Tanah Batak dimulai pada 1 Ramadhan 1231 H 
(tahun 1816 M), dengan penyerbuan terhadap benteng Muarasipongi yang 
dipertahankan oleh Marga Lubis. 5.000 orang dari pasukan berkuda 
ditambah 6.000 infanteri meluluhlantakkan benteng Muarasipongi, dan 
seluruh penduduknya dibantai tanpa menyisakan seorangpun. Kekejaman 
ini sengaja dilakukan dan disebarluaskan untuk menebarkan teror dan 
rasa takut agar memudahkan penaklukkan. Setelah itu, satu persatu 
wilayah Mandailing ditaklukkan oleh pasukan Paderi, yang dipimpin 
oleh Tuanku Rao dan Tuanku Lelo, yang adalah putra-putra Batak
sendiri. Selain kedua nama ini, ada sejumlah orang Batak yang telah 
masuk Islam, ikut pasukan Paderi menyerang Tanak Batak, yaitu Tuanku 
Tambusai (Harahap), Tuanku Sorik Marapin (Nasution), Tuanku 
Mandailing (Lubis), Tuanku Asahan (Mansur Marpaung), Tuanku 
Kotapinang (Alamsyah Dasopang), Tuanku Daulat (Harahap), Tuanku 
Patuan Soripada (Siregar), Tuanku Saman (Hutagalung), Tuanku Ali 
Sakti (Jatengger Siregar), Tuanku Junjungan (Tahir Daulay) dan Tuanku 
Marajo (Harahap). 
   
  Penyerbuan terhadap Singamangaraja X di Benteng Bakkara, dilaksanakan 
tahun 1819. Orang-orang Siregar Salak dari Sipirok dipimpin oleh 
Jatengger Siregar ikut dalam pasukan penyerang, guna memenuhi sumpah 
Togar Natigor Siregar dan membalas dendam kepada keturunan Raja Oloan 
Sorba Dibanua, yaitu Singamangaraja X. Jatengger Siregar menantang 
Singamangaraja untuk melakukan perang tanding. Walaupun sudah berusia 
lanjut, namun Singamangaraja tak gentar dan menerima tantangan 
Jatengger Siregar yang masih muda. Duel dilakukan dengan menggunakan 
pedang di atas kuda. 
  
Duel yang tak seimbang berlangsung tak lama. Singamangaraja kalah dan 
kepalanya dipenggal oleh pedang Jatengger Siregar. Terpenuhi sudah 
dendam yang tersimpan selama 26 generasi. Kepala Singamangaraja X 
ditusukkan ke ujung satu tombak dan ditancapkan ke tanah. Orang-orang 
marga Siregar masih belum puas dan menantang putra-putra 
Singamangaraja X untuk perang tanding. Sebelas putra-putra 
Singamangaraja memenuhi tantangan ini, dan hasilnya adalah 7 – 4 untuk
kemenangan putra-putra Singamangaraja. Namun setelah itu, penyerbuan 
terhadap Benteng Bakkara terus dilanjutkan, dan sebagaimana di 
tempat-tempat lain, tak tersisa seorangpun dari penduduk Bakkara, 
termasuk semua perempuan yang juga tewas dalam pertempuran. 
   
  Penyerbuan pasukan Paderi terhenti tahun 1820, karena berjangkitnya 
penyakit kolera dan epidemi penyakit pes. Dari 150.000 orang tentara 
Paderi yang memasuki Tanah Batak tahun 1818, hanya tersisa sekitar 
30.000 orang dua tahun kemudian. Sebagian terbesar bukan tewas di 
medan petempuran, melainkan mati karena berbagai penyakit. 
  
Untuk menyelamatkan sisa pasukannya, tahun 1820 Tuanku Rao bermaksud 
menarik mundur seluruh pasukannya dari Tanah Batak Utara, sehingga 
rencana pengIslaman seluruh Tanah Batak tak dapat diteruskan. Namun 
Tuanku Imam Bonjol memerintahkan agar Tuanku Rao bersama pasukannya 
tetap di Tanah Batak, untuk menghadang masuknya tentara Belanda. 
Ketika keadaan bertambah parah, akhirnya Tuanku Rao melakukan 
pembangkangan terhadap perintah Tuanku Imam Bonjol, dan memerintahkan 
sisa pasukannya keluar dari Tanah Batak Utara dan kembali ke Selatan. 
   
  Enam dari panglima pasukan Paderi asal Batak, yaitu Tuanku Mandailing, 
Tuanku Asahan, Tuanku Kotapinang, Tuanku Daulat, Tuanku Ali Sakti dan 
Tuanku Junjungan, tahun 1820 memberontak terhadap penindasan asing 
dari Bonjol/Minangkabau dan menanggalkan gelar Tuanku yang dipandang 
sebagai gelar Minangkabau. Bahkan Jatengger Siregar hanya menyandang 
gelar tersebut selama tiga hari. Mereka sangat marah atas perilaku 
pasukan Paderi yang merampok dan menguras Tanah Batak yang telah 
ditaklukkan. Namun hanya karena ingin balas dendam kepada 
Singamangaraja, Jatengger Siregar menahan diri sampai terlaksananya 
sumpah Togar Natigor Siregar dan ia behasil membunuh Singamangaraja X. 
  Mansur Marpaung (Tuanku Asahan) dan Alamsyah Dasopang (Tuanku 
Kotapinang) dengan tegas menyatakan tidak mau tunduk lagi kepada 
Tuanku Imam Bonjol dan Tuanku Nan Renceh, dan kemudian mendirikan 
kesultanan/kerajaan sendiri. Marpaung mendirikan Kesultanan Asahan 
dan mengangkat dirinya menjadi sultan, sedangkan Dasopang mendirikan 
Kerajaan Kotapinang, dan ia menjadi raja. 
   
  Tuanku Rao tewas dalam pertempuran di Air Bangis pada 5 September 
1821, sedangkan Tuanku Lelo (Idris Nasution) tewas dipenggal 
kepalanya dan kemudian tubuhnya dicincang oleh Halimah Rangkuti, 
salah satu tawanan yang dijadikan selirnya. 
   
  http://www.indonesia.faithfreedom.org/forum/viewtopic.php?t=4737 
 
---------------- -----------------------------
Catatan: 
Tulisan ini merupakan cuplikan dari buku yang ditulis oleh 
Mangaradja Onggang Parlindungan Siregar, "Pongkinangolngolan 
Sinambela gelar Tuanku Rao, Terror Agama Islam Mazhab Hambali di 
Tanah Batak", Penerbit Tanjung Pengharapan, Jakarta, 1964. 
 
Tuanku Lelo/Idris Nasution adalah kakek buyut dari Mangaraja 
Onggang Parlindungan ( hlm. 358). Dari ayahnya, Sutan Martua Raja 
Siregar, seorang guru sejarah, M.O. Parlindungan memperoleh warisan 
sejumlah catatan tangan yang merupakan hasil penelitian dari Willem 
Iskandar, Guru Batak, Sutan Martua Raja dan Residen Poortman. 
  
Sebenarnya ia hanya bermaksud menulis buku untuk putra-putranya. 
Buku tersebut memuat banyak rahasia keluarga, termasuk kebiadaban 
yang dilakukan oleh Tuanku Lelo tersebut. Mayjen TNI (purn.) T.Bonar 
Simatupang menilai, bahwa tulisan tersebut banyak mengandung sejarah 
Batak, yang perlu diketahui oleh generasi muda Batak. Parlindungan 
Siregar setuju untuk menerbitkan karyanya untuk publik. Parlindungan 
Siregar meminta T.B. Simatupang, Ali Budiarjo, SH dan dr. Wiliater 
Hutagalung memberi masukan-masukan dan koreksi terhadap naskah buku 
tersebut.
   
  =============================


                
---------------------------------
Do you Yahoo!?
 Everyone is raving about the  all-new Yahoo! Mail.

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke