--- In [email protected], Al-Badruuni Enterprise <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Hahaha... > > Anda sendiri yang bikin judul begitu.....makanya jangan selalu jadi 'Provokator'.... >
Ha ha ha bukan ente, anak hadramaut, dan sobat ente amrozy + kartosuwiryo yang provokator?. Baca nihh dari milis sebelah: Akhirnya ada seorang doktor yang mempertahankan thesisnya mengenai Islam syari'at dengan suma cum laude. Haedar Nashir secara dialektik telah menemukan bahwa kalau gerakan untuk mempraktekkan Islam syari'at itu diteruskan dengan cara-cara seperti sekarang ini, maka yang kalah bukan masyarakat yang statistis adalah Islam tetapi pada hakekatnya adalah Islam Moderat sampai Islam Abangan, melainkan Islam garis keras tersebut. Pohon tumbuh kuat bukan karena banyaknya cabang-cabang, dahan-dahan, ranting-ranting, daun-daun dan lain sebagainya itu, melainkan karena pokok pohonnya yang menjadi besar. Artinya Agama Islam dapat menjadi kuat di Indonesia bilamana mengikuti dan memanfaatkan arus utama yang ada dimasyarakat itu. Maksudnya para pemuka Islam harus mengikuti strategi yang telah ditemukan dan dicontohkan oleh salah seorang dari Walisongo, yaitu Sunan Kalijogo. Beliau tidak memaksakan syari'at Islam kepada masyarakat yang sudah berkebudayaan tinggi serta berfalsafah kuat (ketika itu orang Jawa dengan kepercayaan Kejawennya), melainkan lewat jalan yang lembut dengan menciptakan cerita wayang dimana ajaran-ajaran diselipkan kedalamnya,menciptakan tembang-tembang serta suluk-suluk yang maknanya ke-Islaman, menciptakan kebiasaan-kebiasaan yang bernuansa Islam, seperti Sekaten di Jogja dls. Sunan Kalijogo tidak melarang dan menghilangkan penghormatan leluhur yang pergi berkunjung kemakamnya, melainkan memasukkan do'a-do'a serta shalawat- shalawat yang bernuansa Islam. Hanya dengan mempraktekkan tasawuf dengan pengertian luas (dan bukan syari'at) agama Islam dapat masuk kemasyarakat Indonesia. Memang istilah-istilah Arabnya kemudian diucapkan sesuai dengan lidah daerah, tetapi ajarannya masuk. Ini dapat kita dengar pada waktu mereka tahlilan, terutama di Jogjakarta, untuk menghormati arwah leluhur yang telah meninggal dunia (misalnya pada hari-hari ke 7, 40, 100 dan 1000 setelah wafatnya). Tahlilan inipun unsur Islam yang dimasukkan kedalam adat Jawa (memperingati hari wafat). Hasilnya? Islam masuk ke masyarakat Jawa. Memang masyarakat Jawa sesuai dengan hurufnya (huruf Jawa), kalau dipangku (sandangan yang menjadikan huruf vokal menjadi konsonan) mati. Tetapi jangan coba-coba untuk dengan kekerasan melawannya, mereka akan melawan dengan gigih, tetapi dengan cara mereka. Artinya sesuai dengan sifat ke-Jawa-annya, perlawanan mereka bentuknya halus, tetapi definitif. Ini juga dapat dilihat dari senjata mereka. Senjata perang mereka bukan besar-besaran dan berat-beratan untuk mengganyang musuhnya melainkan hanya kecil dan ringan, yaitu keris. Dengan senjata seperti ini dibutuhkan kelincahan dan bergerak sesuai dengan gerakan musuhnya, tetapi tidak mengadu senjata. Inilah cara bertahan hidup dan memenangkan peperangan dari orang Jawa. Kembali ke disertasi Haedar Nashir "Gerakan Islam Syari'at Reproduksi Salafiyah Ideologis". Saya setuju sekali kalau para santri disekolahkan ke universitas- universitas yang maju (syukur kalau bisa di luar negeri), sebab jangan sampai mereka hanya menjadi jago kandang, menjadi katak dalam tempiurung, tetapi berpandangan luas. Contohnya sudah banyak, misalnya Gus Dur, Ahmad Syafi'i Ma'arif dan masih banyak lagi. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh Koentyo Soekadar >From: "Ambon" <[EMAIL PROTECTED]> >Reply-To: [EMAIL PROTECTED] >To: <Undisclosed-Recipient:;> >Subject: [nasional-list] Islam Syariat Bisa Berubah >Date: Fri, 27 Oct 2006 00:50:46 +0200 > >http://www.gatra.com/artikel.php?id=98724 > > >Islam Syariat Bisa Berubah > > >Masalah serius harus kita hadapi jika gerakan Islam syariat seperti yang >dilakukan Hizbut Tahrir Indonesia, Majelis Mujahidin Indonesia, dan Komite >Penegakan Syariat Islam Sulawesi Selatan menjadi arus kuat di Indonesia. >Masalahnya, Islam akan berwajah lebih rigid, doktriner, dan elitis, yang >dapat melahirkan kultur santri baru yang semakin ortodoks. Ia juga sangat >memungkinkan terjadinya perluasan fragmentasi yang melahirkan generasi >Islam abangan yang lebih besar. Bahkan bisa muncul kecenderungan ekstrem >berupa arus baru konversi kepemelukan Islam ke agama lain yang dirasa lebih >memberi kenyamanan beragama daripada tetap berada dalam Islam yang serba >syariat dan berwajah ideologis. > >Itulah temuan Haedar Nashir dalam disertasi "Gerakan Islam Syari'at >Reproduksi Salafiyah Ideologis", yang dipertahankan di Universitas Gadjah >Mada, Yogyakarta, 20 September lalu. Disertasi yang tampaknya >mengkhawatirkan menguatnya gerakan Islam syariat itu menyebutkan bahwa yang >dimaksud gerakan Islam syariat adalah gerakan Islam yang bercorak ideologis >dengan memperjuangkan Islam secara formal dalam negara. Gerakan ini muncul >dengan militan karena dorongan keyakinan dan paham keagamaan yang ingin >mencetak ulang (reproduksi) tipe ideal zaman Nabi dan generasi salaf >al-shalih (generasi terbaik sesudah Nabi) secara harfiah dan formal. > >Disertasi salah satu Ketua PP Muhammadiyah itu sulit disanggah. >Referensinya sangat kaya, metodologinya sangat ketat. Tujuh guru besar >penguji yang terdiri dari Miftah Thoha, Sunyoto Usman, Tadjuddin Noer >Effendi, Amin Abddullah, Azyumardi Azra, Ali Haidar, dan saya memberi >yudisium kelulusan dengan predikat cum laude tanpa dissenting opinion. >Ketika menguji pun, saya tak mempersoalkan temuan ilmiah yang telah >dibingkai dengan konsep dan metodologi yang ketat itu. Saya hanya >mengemukakan fakta bahwa meskipun gerakan itu dikatakan didorong oleh >keyakinan, dalam kenyataan sejarah, sikap dan militansi penganut gerakan >Islam syariat seperti itu bisa berubah atau diubah oleh situasi tertentu. > >Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Ahmad Syafi`i Ma`arif, pada masa mudanya >adalah orang yang mencitakan berdirinya negara Islam Indonesia. Tetapi, >setelah nyantri ke Universitas Chicago dan berguru kepada Prof. Fazlur >Rahman, dia berubah sangat drastis dan menjadi penentang gerakan Islam >syariat. > >Mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada mulanya mengidolakan >gerakan Al-Ikhwan al-Muslimin, sebuah gerakan Islam radikal yang pernah >membunuh Presiden Anwar Sadat di Mesir karena dianggap kurang membela >Islam, Bahkan, karena kekagumannya pada gerakan itu, ketika masih belia, >Gus Dur pernah membangun organisasi "Al-Ikhwan" itu di Jombang. Tetapi, >setelah belajar ke Mesir, Irak, dan bekerja di Eropa selama beberapa tahun, >Gus Dur pulang ke Indonesia dengan visi pluralisme yang sangat liberal dan >sangat anti-formalisasi Islam dalam kehidupan kenegaraan. > >Banyak juga tokoh lain yang tadinya menggelorakan gerakan Islam syariat >menjadi berubah dan sangat akomodatif terhadap yang serba "non- Islam" >setelah menjadi anggota DPR atau masuk ke kabinet. Mereka bahkan menjadi >sangat fasih menerangkan bahwa negara Pancasila adalah negara yang sudah >final. > >Perubahan seperti itu juga terjadi pada organisasi politik yang dulu >jelas-jelas mengusung "semacam" gerakan Islam syariat. Minimal ada tiga >parpol yang pada masa-masa awal reformasi menegaskan diri sebagai parpol >Islam yang akan memperjuangkan berlakunya syariat Islam, mengubah Pasal 29 >UUD 1945, bahkan ada yang menyatakan akan memperjuangkan berlakunya >substansi Piagam Jakarta. Tetapi, setelah agenda itu dipertarungkan melalui >mekanisme demokrasi di DPR dan MPR, sekarang parpol-parpol itu berubah >diam. Mereka "sadar" dan ikut mengatakan bahwa negara Pancasila memang >final sebagai pilihan yang secara demokratis tak bisa dilawan. > >Maka, kalau kita memang takut akan menguatnya gerakan Islam syariat, >minimal ada tiga situasi yang bisa mengubah gerakan itu. Pertama, >menyekolahkan mereka ke universitas yang maju agar wawasannya lebih luas >dan akomodatif seperti yang dialami Syafi`i Ma`arif, Gus Dur, dan >lain-lain. > >Kedua, memberi kesempatan dan tempat bagi mereka di lembaga demokrasi >seperti DPR. Sebab, kalau kalah dalam pertarungan di sana, mereka takkan >bisa berbuat apa-apa dan tetap harus terikat dengan segala konsekuensi >keputusan yang telah diambil secara demokratis. > >Ketiga, memberi jabatan penting pada tokoh mereka. Sebab, dalam >kenyataannya, setelah tawar-menawar jabatan, tak sedikit di antara mereka >yang tiba-tiba berubah dan mengatakan secara sama dengan yang kita inginkan >bahwa untuk bangsa yang majemuk seperti Indonesia, negara Pancasila adalah >pilihan final. > >Menyambung tanya-jawab saya dengan promovendus pada ujian promosi doktor >itu, Miftah Thoha menutup pertanyaan kepada Haedar Nashir. "Apakah Ustad >Anu yang sangat keras dalam gerakan Islam syariat bisa berubah jika menjadi >pejabat tinggi atau gubernur?" tanya Miftah. "Ya, ada kemungkinan berubah," >jawab Haedar. Nah. > >Moh. Mahfud MD >Anggota DPR-RI >[Kolom, Gatra Nomor 48 Beredar Kamis, 12 Oktober 2006] > ><< 37.jpg >> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

