Ma'af - saya sebtulnya tidak ingin berdiscussi tentang poly-gamy atau 
poly-andry. Menurut saya ini adalah sifat dari alam yg tidak dapat kita kuasai 
atau bendung.
   
   
  Poly-partners adalah sifat alam untuk mencari atau menciptakan keturunan yg 
lebih baik dari yg sebelumnya. Hanya agama yg berasal dari middle-east judaism, 
islam, kristianity etc yg mengatur penghidupan kita utk hidup dgn multi 
partners. Kebanyakan peraturan polygami jikalau kalian perhatikan dgn teliti 
sekali adalah peraturan sosial dari daerah middle-east untuk melindungi kaum 
hawa. 
  Didalam injil [judaism purwa] kalian akan menemukan peraturan dimana saudara 
diharuskan mengambil isteri kakak atau adik jikalau kakak atau adik meninggal. 
Didalam agama islam peraturan dikoreksi dgn diperbolehkan mengambil isteri 
resmi sampai empat - ini mungkin disebabkan kekurangan laki2 karena mati 
perang.   
  Sewaktu setelah WW2 Germany perbandingan prya : wanita = 1 : 7 karena tentara 
pada mati - sewaktu ini poly-gamy dilarang oleh gereja - tetapi laki2 punya 
multiple partners.  Jikalau tidak ada pelarangan pasti akan polygamy. Diwaktu 
ini banyak anak2 lahir tanpa ayah [ dikatankan mati didalam perang - tetapi 
siapa yg tahu]
  Didaerah agama hindu dan budha, konfucianism  - polygami adalah normal. 
Dinegara2 ini sewaktu musim kelaparan /perang banyak laki2 dan wanita2 di"jual" 
kepada yg beruang. Kaum laki2 biasanya menjadi budak dan wanita jadi gundik. 
Didalam agama hindu memang keluarga wanita diharuskan membayar dowry kepada 
kel. suami - tetapi ini hanya berlaku untuk keluarga2 yg beruang. Untuk yg lain 
- apalagi dari kasta rendahan wanita2 itu adalah sex object. Jadi hasilnya 
polygamy kembali. Tanpa polygamy ini mungkin wanita2 mati kelaparan.
   
  Sekarang kita melihat masyarakat dari suku2 yg tidak pernah mendapat 
pendidikan moral dari agama2 dari sumeria/mesir ini [incl. hindu/budism, muslim 
etc] Ini kita lihat dikepulauan pacific. Disini bukan polygamy yg banyak tetapi 
poly-andry yg dominant.  Kenapa ? - oleh karena kaum laki2 today naik kapal 
untuk memancing dilaut - malam2nya mungkin tidak kembali - apalagi jikalau 
harus perang. Jadi keluarga berada dikeliling ibu yg dpt hidup dgn multiple 
partners - system matriarchal, lineal etc diciptakan. -  ini sifat yg kita 
lihat diantara penduduk Indonesia sebagai keturunan suku pacific islander.
  Dibenua Africa didaerah dimana agama kristen dan islam tidak masuk dan dimana 
agama setempat dominant, Matriarchal juga berkembang. Benua Africa sedari jaman 
CE selalu merupakan benua yg sering berperang. Didalam peperangan ini banyak 
terjadi perampokan wanita2 dan korban2 ini dijadikan isteri - tetapi juga 
banyak laki2 dari suatu kampung mati karena perang ini dan kaum pemimpin 
mengambil multiple isteri.  Tetapi didalam masyarakat ini kita sering menemukan 
suami "perantau" yg disetiap kampung atau desa punya isteri - sebalikny wanita2 
yg menetap disuatu desa dapat menerima multiple suami perantau tsb. Jadi 
polyandry dan polygamy berkembang. Sifat ini kita sekarang ketemukan didalam 
semua suku2 africa. Penghidupan dgn multiple partners adalh umum.
  Dibenua America diantara pribumi asli benua ini - peraturan polygami dan 
polyandry itu tidak ada - tetapi hidup dgn multiple partners - wanita atau 
priya itu ada. Sama dgn adanya peperangan atau kesulitan2 lain, dan adanya 
kekurangan wanita atau laki2 sifat poly-partners keluar. Dibagian utara 
didaerah inuit / eskimo dimana kaum hawa kurang maka poly-andry berkembang atau 
isteri menerima multiple partners utk mencegah keributan didalam masyarakat.
   
  Sekarang dgn adanya viagra dan pil atau obat2an lain saya kira sifat multiple 
partners di dunia berkembang. Ini sexual-revolution yg mulai diEuropah sudah 
menyebar keseluruh dunia "barat"  Yg tidak berubah hanya ethic sipil - 
perkawinan dimana tetap ditentukan hanya satu suami dan satu isteri. Tetapi 
secara umum dan tergantung dari individue multiple partners adalah kejadian 
sehari2.
   
  DiIndonesia dgn adanya kebudayaan keturunan dari pacific islanders dimana 
keluarga berputar sekitar ibu rumah,  Multiple partners sedari ratusan tahun 
adalah umum -  Karena itu diJawa ada istilah  - pasaran randa , pasaran janda 
dan pasaran perawan.  Istilah randa ini, yg didalam kebudayaan lain sebelum 
sexual revolution, merupakan sesuatu tidak terhormat.- di Jawa malah merupakan 
wanita yg "direbutkan".  Jikalau kalian pelajari sosiology pulau Jawa - kita 
pun dididik - bahwa untuk memberikan penerangan hidup - perdagangan, arisan, 
pertanian pendidikan anak2 etc -  kita harus berbicara dgn kaum wanita dan 
bukan dgn kaum laki2. 
  Hanya agama islam dan kristen memberikan peraturan polygamy atau polyandry 
dan hanya pendidikan kita yg mencegah kita hidup dgn multiple partners.  By 
nature kita semua bersedia untuk hidup dgn multiple partners. Inilah sifat alam 
yg dapat kita lihat diantara binatang2 yg kita ternak.  Kekuatan hormon tidak 
dpt dibendung. Dgn adanya ilmu pharmacy sex modern peraturan ethic dan moral 
dari masyarakat akn berubah. Agama apapun tidak akan dapat membendung aliran 
hormon2 didalam tubuh kita - mereka hanya dpt memperlambat.
   
  Andreas

RM Danardono HADINOTO <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          --- In [email protected], aris solikhah <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> 
> Mas Ikhsan, maaf mas, apa pun status saya, saya suka atau tidak 
>terhadap poligami. Tidak akan mempengaruhi dan merubah status hukum 
>perbolehan poligami dari Allah. Jadi abaikan apa pun status 
aris.......

DH: Allah lagi, Allah lagi di-bawa bawa..

---> "Bagi perempuan yang setuju berpoligami, Musdah juga 
mempersilakannya. "Tapi jangan dengan alasan pandangan agama," 
pungkas dia..."

Suami Berpoligami Rentan Tularkan Penyakit Seksual
Melly Febrida - detikcom

Jakarta - Alasan suami berpoligami agar terhindar dari penyakit 
seksual sepertinya bakal usang. Sebab suami berpoligami justru rentan 
4-5 kali menularkan penyakit kelamin dan kanker mulut rahim kepada 
para istrinya.

Minimal, si istri kerap dihampiri si putih alias keputihan. Pendapat 
tersebut, kata Musdah Mulia dari Yayasan Jurnal Perempuan, 
disampaikan seorang dokter dalam buku 'Berbagi Suami'.

"Perempuan yang suaminya berpoligami itu bisa ditularkan penyakit 
seksual," kata Musdah dalam jumpa pers mengenai poligami di Yayasan 
Jurnal Perempuan, Jalan Tebet Barat 8, Jakarta Selatan, Sabtu 
(9/12/2006).

Musdah juga menyatakan, selain menyebabkan penyakit kelamin, poligami 
juga bisa menimbulkan konflik internal di keluarga, serta 
meningkatkan angka kekerasan domestik.

Selama ini suami yang berpoligami selalu beralasan mencari ridho 
Allah. Namun apakah itu hanya bisa dicapai dengan poligami?

"Suami yang berpoligami biasanya melakukan kebohongan kepada 
istrinya. Kalau poligami dianggap sunnah Rasul tapi dilakukan dengan 
kebohongan, jelas itu haram," katanya.

Menurut dia, suami yang memilih berpoligami umumnya untuk memenuhi 
kepentingan biologisnya. Perempuan hanya dianggap sebagai obyek 
seksual, dan budaya seperti itu perlu diubah.

"Kalau seperti itu, yang perlu dibangun adalah manajemen syahwat, 
supaya suami-suami tidak menghambur-hamburkan spermanya dan menjaga 
supaya tidak affair," kata dia.

Lalu apa yang harus dilakukan ke depan? Selain mengubah pandangan 
budaya patriarki yang memandang istri hanya sebagai obyek seksual, 
kata Musdah, juga harus ditanamkan pandangan terhadap perempuan untuk 
berkata "tidak untuk laki-laki yang sudah menikah".

"Karena itu tidak etis. Dan perlu juga diubah pandangan tidak takut 
menjadi perawan tua. Jadi silakan berpoligami, tapi jangan pernah 
menggunakan agama sebagai legitimasi," tegas Musdah.

Bagi perempuan yang setuju berpoligami, Musdah juga 
mempersilakannya. "Tapi jangan dengan alasan pandangan agama," 
pungkas dia. (umi/sss)



         


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke