Sudahlah Mas Agus, gak perlu pertanyakan perikemanusiaan bagi polisi.. Semua tindakan mereka selalu dilandaskan pada prosedur..
Sekarang, polisi berani gak ungkap semua pihak yang terkait dengan apa yang dikatakan sebagai terorisme.. bukan hanya kalangan tertentu saja.. tapi juga (kalau & sangat mungkin ada) kalangan yang menyusup dan me-radikalisasi (bener gak nih istilahnya) kalangan tertentu tadi.. Jadi biar lebih fair gitu.. jangan seperti kasus Komando Jihad dll itu.. Yang ramai dibuka ke publik awam (saat itu) hanya keterlibatan (umat) Islam saja.. Mengenai keterlibatan (aparat) pemerintah hanya menjadi konsumsi kalangan terbatas.. Yang fair lah.. gak usah cape"-an.. secara nih.. CMIIW.. Wassalam, Irwan.K On 7/11/07, RM Danardono HADINOTO <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > At 05:27 PM 7/11/2007, you wrote: > > > > >Di mana perikemanusiaan anggota Densus 88? > > > > > **** Lhhooo dimana perikemanusiaan para terrorist? > > kalo polisi n4mbak rampok, lalu kita teriak mana perkemanusiaan polisi, > ya negeri ini penuh dengan rampok. Mungkin ini yang diingini mas Nizami > dkk? > [Non-text portions of this message have been removed]

