Wah menarik nih,
Banyak saya jumpai ketika diskusi tentang separatisme, arah diskusi hampir
dapat dipastikan mengarah pada negara seperti apa yang dapat mengikis
separatisme. Negara yang berlandaskan nation state kah? negara yang
berlandaskan agama kah? atau negara yang berlandaskan kapitalisme seperti yang
dianut dunia barat dan AS? atau negara komunis seperti uni sovyet di masa lalu?
Terlepas dari perdebatan rasional maupun ilmiah, jawaban yang paling
sederhana dan patut kita renungkan mungkin adalah, apapun negaranya setiap
orang (siapapun) menginginkan kehidupan bernegara yang mensejahterakan.
Kembali ke pernyataan Mas Danardono, kalau orang budha ingin mendirikan
negara budha, orang Konghucu ingin mendirikan negara Konghucu dst. Monggo wae.
Tapi pertanyaannya adalah apakah agama-agama itu memang meyerukan untuk
mendirikan negara berdasar agama mereka? ataukah hanya kekhawatiran sebagian
dari kita sebagaimana ungkapan mas Danar "Kalau negara pakai batas agama
sebagai batas negara, maka semua yang penduduknya muslim dijadikan satu, yang
penduduknya...." menurut saya hal ini adalah logika kekhawatiran tanpa latar
belakang historis. Lebih jauh lagi pertanyaannya, apakah agama-agama tersebut
memiliki konsep bernegara yang mensejahterakan tadi? Bukankah justru selama ini
penganut agama-agama tersebut manut wae pada aturan bernegara apapun yang
diterapkan pada mereka, sambil terus berharap aturan ini dan itu dapat
mensejahterakan mereka?
Disini saya pikir relevansi yang diserukan oleh HTI dengan selalu
menghubungkan berbagai masalah kehidupan bernegara (termasuk separatisme ini)
dengan solusi Islam dalam bentuk penerapan syariat Islam oleh Negara dan
menjaga kesatuan negara. Itu artinya bahwa HTI ingin mengopinikan bahwa Islam
bukan sekedar agama tapi juga ideologi yang memiliki konsep-konsep pengatur
seluruh aspek kehidupan yang akan mensejahterakan warga negaranya bukan hanya
muslim tapi juga non muslim...ini baru horreee.. hehehe
RM Danardono HADINOTO <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Kalau negara pakai batas agama sebagai batas negara, maka semua yang
penduduknya Muslim dijadikan satu, yang penduduknya Buddha jadi satu
(juga wilayah wilayah RI yang mayo Buddha gabung dengan negara
Buddha, sepertri Thailand), wilayah RI yang mayo Konghucu bergabung
dengan negara Konghucu, wilayah RI yang mayo Katholik, gabung dengan
negara Katholik, wilayah RI yang mayo Protestant seperti Minahasa
gabung dengan negara Kristen Protestant... horreee...
Di wilayah saya diam, sebuah pemukim menengah atas di jakarta,
kebanyakan non Muslim, kita keluarkan dari DKI, horreeee, juga
wilayah Kapuk, kelapa gading, Pluit, Glodok..
Ehh negara lain yang udah bikin negara Muslim mana ya? mau nggak ya
Malaysia gabung ama RI? nanti gak bisa lagi gebukin TKI? kan sayang?
Saudi mau gabung gak ya sama RI? Mereka pasti sayang minyaknya mau di
bagi bagi horrreee
--- In [email protected], "Mudatsir" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Bang Ikhsan,
> Walaupun Bang Ikhsan menulis "separatis" (dalam tanda kutip), kok
gak ada nada-nadanya kalau HTI itu "separatis" hanya karena ingin
mendirikan Negara Islam (Khilafah Islam).
> Kalau HTI ingin mendirikan Khilafah Islam dengan terlebih dahulu
melepaskan wilayah tertentu, kemudian baru didirikan Khilafah Islam,
baru dikatakan "separatis" (baik pakai tanda kutip atau tidak)
>
> Kenyataannya, perjuangan HTI adalah perjuangan untuk menyatukan
kembali serpihan negeri-negeri Islam yang kini tersekat oleh batas-
batas nasionalisme (nation state). Karena alasan inilah, HTI berseru
jangan sampai negeri yang sejatinya harus bersatu dengan negeri-
islam lainnya dipecah-pecah dalam bentuk separatisme wilayah.
>
> Perjuangan HTI (dan HT lain di seluruh dunia) untuk mendirikan
Khilafah Islam, yang terjadi bukanlah "separatisme", karena HTI tidak
akan pernah membiarkan separatisme terjadi di negeri-negeri muslim
yang seharusnya disatukan. So perjuangan HTI
bukanlah "separatisme". Kalau demikian, dimanakah
letak "separatisme" nya HTI ?
> Salam,
> =mds-
>
> Posted by: "Mohamad Ikhsan" [EMAIL PROTECTED] mohamad_ikhsan
> Sun Jul 15, 2007 10:42 pm (PST)
>
> HTI apa bukan tergolong "separatis" mau bikin negara Islam...? Hayo
> waspadai diri sendiri...
>
> Salam,
>
> --- In [email protected], "Mudatsir" <mudatsir.oke@> wrote:
> >
> > KANTOR JURUBICARA HIZBUT TAHRIR INDONESIA
> > Nomor: 117/PU/E/07/07; Jakarta, 12 Juli 2007 M
> >
> > PERNYATAAN HIZBUT TAHRIR INDONESIA
> > TENTANG
> >
> > Mewaspadai Gerakan Separatisme
> >
> >
> >
> > Gerakan separatisme tidak pernah mati. Bahkan akhir-akhir ini
> menunjukkan tanda-tanda menguat kembali. Belum reda heboh tampilnya
> penari cakalele yang mengibarkan bendera RMS di hadapan presiden SBY
> dalam acara Peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) XIV di
> Lapangan Merdeka, Ambon beberapa waktu lalu, disusul pengibaran
> bendera Bintang Kejora (bendera OPM) dalam Konfrensi Besar
Masyarakat
> Adat Papua. Ribuan orang yang hadir sontak berteriak ââ¬Å"Merdeka
> ââ¬Â¦!ââ¬Â. Tak lama kemudian di Aceh muncul lagi bendera dan
istilah GAM
> (Gerakan Aceh Merdeka) sebagai nama dan bendera partai lokal di
> Nangroe Aceh Darussalam (NAD).
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
---------------------------------
Moody friends. Drama queens. Your life? Nope! - their life, your story.
Play Sims Stories at Yahoo! Games.
[Non-text portions of this message have been removed]