mas irwan, setahu saya, ustad hilmy aminudin bin danu moh hasan sekarang menjadi ketua dewan syuro yang amat berpengaruh di pks.
beliau berteman akrab dengan suripto --tokoh yang dulu dikenal dekat dengan bakin. suripto yang di tahun 1980-an berdinas di depdiknas menolong hilmy sekolah ke arab saudi selepas hilmy dari tahanan opsus. suripto pula dengan kedudukannya di depdiknas yang berperan memajukan gerakan tarbiyah di sma-sma dan kampus-kampus tahun 1980-an. terus terang, soal-soal semacam ini yang menimbulkan pertanyaan tentang agenda tersembunyi pks. At 01:58 PM 8/29/2007 +0700, you wrote: >PKS *sama sekali* tidak ada kaitan dengan militer/intel? >Yang bener nih? Kalau dari tulisan di bawah, (masih) ada tuh.. :-| >Monggo yang lebih paham sharing pengetahuannya di sini.. > >http://swaramuslim.net/more.php?id=5152_0_1_0_M > >Wassalam, > >Irwan.K > >".. >Sementara penangkapan terhadap para elite Neo NII yang musyawarah >pembentukan strukturnya dilakukan di markas BAKIN (jalan Senopati, Jakarta >Selatan) seperti Adah Djaelani Tirtapradja, Danu Mohammad Hasan, Aceng >Kurnia, Tahmid Rahmat Basuki Kartosoewirjo, Dodo Muhammad Darda Toha >Mahfudzh, Opa Musthapa, Ules Suja'i, Saiful Iman, Djarul Alam, Seno alias >Basyar, Helmi Aminuddin Danu[11], Hidayat, Gustam Effendi (alias Ony), Abdul >Rasyid dan yang lain dengan jumlah sekitar 200 orang, mereka ditangkap >Laksus sejak akhir 1980 hingga pertengahan 1981. Namun dari sekitar 200 >orang anggota Neo NII yang ditangkap OPSUS tersebut, hanya sekitar 30 >elitenya saja yang dilanjutkan ke persidangan, selebihnya dibebaskan >bersyarat oleh OPSUS termasuk beberapa nama yang menjadi tokoh komando KW-9 >*[12]*, kecuali satu nama tokoh, yaitu Menlu kabinet Neo NII yang bernama >Helmi Aminuddin bin Danu. >.. >KesimpulanSecara substansi, makna kebangkitan Neo NII yang lahir berkat >dibidani dan buah karya operasi intelejen OPSUS tersebut, dengan demikian >hal tersebut *sangat tidak layak* untuk dinilai dan atau diatasnamakan >sebagai *wujud perjuangan politik berbasis ideologi Islam* (apalagi sampai >dikategorikan sebagai jihad suci fie sabilillah). > >Hakekat substansi dan orientasi kiprah gerakan reorganisasi yang dilakukan >para mantan tokoh sayap militer NII tersebut adalah lebih didorong oleh dan >dalam rangka memperoleh serta *memperturutkan syahwat duniawi* (materi dan >kedudukan politis) kemudian bertemu-bekerjasama (bersimbiosis mutualistis) >dengan para tokoh intelejen jahiliyah yang terkenal kebusukannya dan >terkenal pula kerakusannya terhadap dunia (syahwat duniawi). Dengan demikian >timbangan yang adil dan benar terhadap kasus Komando Jihad, Kebangkitan Neo >NII maupun Fundamentalisme Jihad para mantan tokoh sayap militer DI tersebut >merupakan wujud *perjuangan* atau *pengorbanan* yang *bathil*. >.. >* >[11] Helmi Aminuddin adalah putera Danu Mohammad Hasan, yang pada awal >1980-an membentuk komunitas Tarbiyah (Ikhwanul Muslimin versi Indonesia), >yang merupakan cikal-bakal PK (Partai Keadilan). Kini PK menjadi PKS (Partai >Keadilan Sejahtera).* >.." > >On 8/29/07, Nugroho Dewanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > > > hehmm apakah akp sama dengan pks? > > > > sulit sekali mencari tokoh akp yang berpoligami. > > sebaliknya kalangan pks gencar mengkampanyekan > > poligami. > > > > akp partai islam yang sudah membuktikan kesetiaan terhadap > > demokrasi sekuler dan cita-cita turki modern. tak ada agenda > > tersembunyi mengubah turki menjadi negara islam atau bergabung > > dengan khilafah. sebaliknya turki dibawah akp konsisten ingin > > menjadi bagian dari uni eropa. > > > > dia persis dengan partai-partai kristen di eropa yang juga tak > > memiliki agenda tersembunyi dan setia menjadi bagian dari > > sistem demokrasi sekuler. > > > > mungkin itu sebabnya partai keadilan malaysia dibawah anwar > > ibrahim dan wan azizah menoleh ke akp sebagai model. > > > > apakah pks demikian juga? > > > > > > At 03:06 PM 8/28/2007 +0000, you wrote: > > > > >Banyak yang 'menyamakan' ato setidak tidaknya > > >'membandingkan' partai AKP di Turki seperti > > >halnya PKS di Indonesia ( kebetulan nama/singkatan > > >AKP hampir sama artinya dengan PKS ). > > >Memang ada kemiripan lain, yaitu bahwa > > >kedua Partai tsb. merupakan hasil "evolusi" > > >dari bentuk yang lebih "eksklusif" menjadi > > >lebih "inklusif". > > > > > >*** > > > > > >Terlepas dari itu, dari segi 'milestone' > > >yang dicapai oleh politik Islam di Turki, > > >saya melihatnya lebih mirip dengan momen > > >munculnya ICMI di warnai oleh Monolitik > > >Pemerintahan Orde Baru dengan mesin politik > > >yang bernama Golkar dan ABRI dengan semua > > >jajaran aparat keamanannya sebagai 'preman' > > >pelindung kekuasaan. Sistem ini tidak > > >memperkenankan kekuatan politik lain: > > > > > >-> Kelompok 'Islam' maupun > > >-> Kelompok 'Nasionalis' mantan pendukung > > >Soekarno > > > > > >Kekuatan kelompok 'Nasionalis' waktu itu bisa > > >dikatakan sudah tidak kelihatan berarti. Oleh > > >karena itu fokus pemerintahan pak Harto dkk > > >adalah tinggal bagaimana mem'bonsai' politik > > >Islam supaya selama-lamanya "kerdil" dan > > >"bisa diatur". Oleh mereka kelompok-2 Islam > > >di"benturkan" dengan isu idoelogi Pancasila > > >dengan berbagai cara, including with very > > >dirty tricks, supaya ada alasan bagi "tukang > > >-tukang pukul" nya pak Harto memberangus > > >mereka. > > > > > >Alhamdulillah keadaan tiba-tiba berubah. > > >Berawal dari ide kecil beberapa Mahasiswa > > >Teknik Mesin Unbraw ( I happen to know mas > > >Erik, one of them ) untuk membentuk > > >suatu wadah bagi para intelektual Muslim > > >di Indonesia yang kemudian mendapat > > >sambutan dari BJ Habibie yang waktu itu > > >menjadi Menristek, bola salju mulai > > >menggelinding. > > > > > >Satu kunci strategis yang berhasil diperankan > > >ICMI waktu itu a.l. adalah seruan kepada para > > >intelektual Muslim Indonesia agar "melupakan" > > >masalah perbedaan/friksi ideologi dulu, > > >dan merubah prioritas agenda menjadi agenda > > >pemberdayaan & pencerdasan Ummat. > > > > > >Impactnya cukup besar. Waktu itu dengan "ajaib" > > >kita bisa menjumpai tokoh-tokoh Islam yang > > >dikenal tokoh "kanan" seperti Dr. Ir. Imaduddin > > >Abdurrahim ( yang pernah menjadi Ketua Yayasan > > >Pembina Masjid Salman ITB ) bisa duduk di dalam > > >forum yang sama dengan pejabat-2 yang dikenal > > >lebih "sekuler" dan dekat dengan pak Harto. > > > > > >There was no doubt, waktu itu pak Harto mulai > > >"mengurangi" kepercayaannya kepada ABRI dan > > >mulai mencari basis dukungan di kalangan > > >Islam, mencari "new political equilibrium". > > >ABRI pun mulai merasa "segan" mengusik kelompok > > >Islam. Sejak saat itu memang tidak kedengaran lagi > > >ada peristiwa kekerasan yang melibatkan "Islam" > > >berskala besar seperti di era 1980 an: > > >Jama'ah Imron (pembajakan pesawat Woyla & peristiwa > > >Cicendo), peristiwa Lampung, Peristiwa Tanjung Priok > > >dsb. Di tahun 1990, sudah jelas pengaruh "Ali Moertopo" > > >sudah bisa dikatakan habis. > > > > > >*** > > > > > >Momen itulah yang saya lihat pada saat ini berhasil > > >dicapai oleh Muslim Turki, untuk melepaskan diri > > >dari belenggu Militer Turki yang meng-claim diri > > >sebagai 'pengawal setia Sekularisme/Kemalisme'. > > > > > >Allahu Akbar, > > >sadaqa wa'dah > > >wa nashara abdah > > >wa a'azza jundah > > >wa hazamal ahzaba wahdah > > > > > >----( ihsan hm )------------------------------- > > > > > >note: > > >----- > > >namanya juga sejarah, tentu saja ICMI juga punya > > >kelemahan-2 an, yang kemudian membuat beberapa > > >orang tokoh seperti Amin Rais akhirnya memutuskan > > >keluar - karena ICMI beliau nilai "tidak berani" > > >mengritik seacra frontal kepada pemerintah Orba. > > > > > >( juga Emha yang kecewa dgn alasan serupa, karena > > >ICMI tidak berani mengritik kesewenang-2 an > > >pemerintah dalam menangani ganti rugi penduduk > > >yang tergusur proyek waduk Kedung Ombo; dan > > >tentu saja Gus Dur yang sejak semula 'anti' ICMI :) } > > > > > >August 28, 2007 > > > > > >------------------------------------------- > > >Ex-Islamist Gul elected Turkey's president > > >------------------------------------------- > > > > > >By Hidir Goktas and Paul de Bendern 37 minutes ago > > > > > >ANKARA (Reuters) - Foreign Minister Abdullah Gul was > > >elected Turkey's next president on Tuesday, the first > > >former Islamist to take the post in the secular but > > >predominantly Muslim country's modern history. > > > > > >"Abdullah Gul in the third round obtained an absolute > > >majority and was elected the 11th president of Turkey > > >with 339 votes," parliament speaker Koksal Toptan said > > >after the vote. > > > > > >The AK Party has 341 seats in the 550-seat chamber. > > >Two other candidates also stood for president. > > > > > >Gul has established himself as a respected diplomat > > >since the AK Party was first elected in 2002, securing > > >the launch of Turkey's European Union entry talks. He > > >pledges to be a leader for all Turks, but he is not to > > >the taste of a military which suspects the AK Party of > > >harboring a secret Islamist agenda. > > > > >[Non-text portions of this message have been removed] > > > >*************************************************************************** >Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia >yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. >http://groups.yahoo.com/group/ppiindia >*************************************************************************** >__________________________________________________________________________ >Mohon Perhatian: > >1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) >2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. >3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com >4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] >5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] >6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] > >Yahoo! Groups Links > > >

