Komen terakhir, mengingat ini sabtu dini hari dan besok sore acara itu
muncul di TV.

"Waspadai misi gereja di TV tanggal 15 Desember 2007 pukul 16.30-17-30
WIB, serentak di RCTI, Trans TV, TVRI, Judul "My Hope Indonesia"
diganti menjadi "Sebuah Penantian". Di India pernah diputar dengan
judul yang sama dan berhasil menghipnotis jutaan penduduknya. Sebarkan
ke teman-teman muslim. Jangan sampai kita terlena dengan acara itu.
Wass. (Ary Ginanjar)"

SMS diatas saya terima dari beberapa teman sejak Minggu, 9 Des'07
hingga saya menulis ini Selasa, 12 Des'07. Isinya 99% sama, hanya ada
perbedaan sedikit dengan maksud menyingkat kata atau karakter. Saya
tidak tahu dari mana sebenarnya SMS itu berasal. Pastinya di akhir SMS
tersebut ada tulisan "Ary Ginanjar" (AG) sebagai `notice' bagi
penerima bahwa sumber SMS berasal dari AG. Saya jadi ingat dulu ketika
Aa Gym masih dielu-elukan, dipuja sebagian besar ibu-ibu dan kaum muda
perempuan sebelum rating image-nya mulai menurun sejak peristiwa
poligami begitu mengganggu dan dikesankan sebagai dosa besar seorang
ulama di mata mereka. Saat itu sering saya terima SMS, "Jagalah hati
jangan kau nodai, jagalah hati lentera hidup ini. (Aa Gym)"Saya dapat
memahami bahwa hasrat Citizen Journalism masyarakat kita sekarang
demikian besar. Beberapa media cetak dan website seperti Republika,
Wikipedia (link), Yahoo!, BBC, menyediakan portal khusus atau halaman
untuk berbagi informasi dari dan untuk pembacanya. Tetapi apakah kita
bisa menyaring informasi-informasi tadi secara bijaksana? Informasi
apa yang `layak' untuk kita `share' kepada teman, rekan bisnis,
anggota milis; melalui media apa kita berbagi; dan sanggupkah kita
tetap menjunjung etika dalam berkomunikasi?

Dengan jujur saya akui bahwa pengetahuan saya tentang ilmu jurnalisme
teramat dangkal. Namun secara intensif saya mencoba belajar dari
milis-milis, blog, dan artikel-artikel yang saya baca. Bagaimana
`guru-guru' tadi mengajari saya mengenai cara mem-`posting',
`copy-paste', dan menanggapai tulisan dengan baik –kalau belum dapat
dikatakan tepat dan ideal– sesuai standar etika jurnalisme. Misalnya
saja yang mudah tapi sering lupa saya lakukan adalah mencantumkan
sumber tulisan dan nama penulis ketika mempublikasikan tulisan
tersebut pada media atau milis lain.

Bagi saya, mencantumkan sumber (source) artikel adalah bentuk
penghargaan dan terima kasih atas usaha –olah rasa dan olah pikir–
sang penulis.Tanpa bermaksud melanggar hak cipta -tulisan-tulisan yang
dilindungi oleh hukum untuk tujuan komersil– seringkali saya `copy'
artikel dari beberapa sumber untuk dipublikasikan ke media lain dengan
maksud berbagi wacana atau saya simpan di hardisk komputer untuk
`reference material' yang mungkin nanti bermanfaat dan bila teramat
panjang bisa dibaca di waktu luang.

Lalu apa hubungannya SMS `Ary Ginanjar', `Aa Gym' dan CJ?

Meskipun pesan melalui SMS mungkin tidak dapat dikategorikan sebagai
CJ, namun dalam menyampaikan informasi apapun idealnya kita dapat
menyaring dan menganalisis isi beritadengan baik. Apalagi saat kita
hendak mem-`forward' atau mendistribusikan info tadi kepada orang lain.

Semangat CJ harus diimbangi dengan pemahaman mengenai tingkat
keakuratan, kebenaran dan sumber informasi. Lebih-lebih jika isu yang
diangkat mengenai agama. Kita harus berhati-hati sekali.

Kembali pada poin SMS diatas tadi. Saat membacanya saya langsung
mengerutkan dahi karena isinya mengesankan sosialisasi tindakan
preventif kalau tidak bisa saya bilang sebagai `seruan suci'.

Setelah membaca saya lalu tersenyum sambil geleng-geleng.Sejenak saya
berpikir, bagaimana mungkin seorang SQ Trainer mengkhawatirkan sebuah
acara yang ditayangkan serentak di beberapa stasiun televisi dan
mengatakan bahwa acara tersebut dapat menghipnotis jutaan orang Muslim
hingga mereka terlena? Apalagi kata-kata di awal SMS itu terkesan
provokatif sekali, "Waspadai misi gereja…" Saya harap itu tidak
ditulis oleh AG sendiri.

Memangnya kenapa kalau Gereja dan umat Kristen atau Katholik hendak
berdakwah di TV dengan cara mereka dengan tujuan memberi pencerahan
pada umatnya dan mengajak umat beragama yang lain untuk mengikuti
ajaran agama mereka?

Bukankah umat Islam juga berdakwah melalui `media' zakat, infaq,
sodaqoh, dan hewan qurban, yang dibagi-bagikan kepada semua umat
beragama –selain hal tersebut juga merupakan keinginan untuk berbagi
kepada yang lain sebagai wujud syukur atas limpahan rizki dari Tuhan?

Apakah demikian lemahnya iman umat Islam sehingga begitu mudah terlena
hanya karena sebuah acara televisi? Apakah pemahaman umat muslim
tentang agama sedemikian dangkalnya sehingga perlu menyebarkan SMS
seperti itu agar tidak terlena?

Apakah seseorang yang menjatuhkan pilihan pada suatu keyakinan
kemudian menjalani kehidupan beragama –yang semua prosesnya dilakukan
dengan penuh kesadaran– dapat ditaklukkan begitu saja oleh hipnotis?

Agama manapun sepakat bahwa untuk mencapai kadar keimanan yang tinggi
dan memiliki prinsip-prinsip dasar kemanusiaan yang universal,
seseorang `harus' melewati proses sakit, lelah, dan berdarah-darah.

Sebuah pencarian dan pergumulan panjang sebagai proses pendewasaan dan
kematangan diri karena tidak ada satu orang pun yang bisa menjadi
besar secara mendadak. Apakah keimanan seseorang yang dibangun detik
demi detik, hari demi hari, minggu, bulan, bahkan puluhan tahun, bisa
begitu saja runtuh oleh hipnotis berdurasi satu jam? Apakah hipnotis
adalah metode `rekruitmen' yang efektif dalam menjaring umat lebih
banyak? Seberapakah efek –durasi waktu dan kekuatan pengaruh– hipnotis
dibandingkan dogma agama? Saya tak mampu menjawab semua pertanyaan
tersebut.

Namun opini dan kesimpulan saya saat ini yang tentunya tidak empiris
adalah: Hipnotis mampu memengaruhi sistem kesadaran seseorang sehingga
ia mau mengikuti anjuran atau arahan tertentu yang diinginkan oleh
pelaku hipnotis. Namun metode hipnotis –yang berdiri sendiri tanpa
kontribusi keilmuan lain– tidak bisa mengubah atau bahkan
mempertahankan keimanan dan keyakinan seseorang akan sebuah konsep tuhan. 

Kemudian seorang teman mengatakan bahwa ada sebagian umat yang bisa
pindah agama karena `pengaruh' satu karton mi instan atau sepaket
sembako. Saya tanggapi, "Itu kan mereka yang agamanya `perut' dan
tuhannya `sembako'. Logika beragama mereka adalah `Apa yang tuhan bisa
kasih pada saya?' Maka ketika ada yang mampu mengisi `kekosongan' iman
mereka yang letaknya di perut, maka sembako pun bisa jadi `tuhan'.
Saya jadi berlogika, nanti kalau Hindu kasih sembako, mereka jadi
Hindu. Kalau Buddha memberi mi-instan dan pakaian, mereka jadi Buddha.
Koruptor itu tuhannya `hawa nafsu' dan tidak sedikit yang mengaku
agamanya Islam.

Saya teringat pendapat W.S. Rendra dalam sebuah wawancara yang
kemudian artikelnyaditulis dengan judul: "W.S Rendra: Maqam Mereka
Masih Viagra". Berikut petikannya, 

Tanya: Fundamentalisme agama sedang mengalami gelombang pasang?

WS Rendra: Itu sudah dari dulu. Ku Klux Klan itu sejak abad ke-19
tidak juga reda. Pertentangan antara Buddha dan Buddha sudah ada sejak
zaman Sriwijaya. Begitu juga Hindu dan Hindu di India. Kelemahan
manusia itu kalau sudah beragama lalu ada nafsu kekuasaan politik.
Kalau sudah begitu, gampang waswas. Wah, ini ada Kristenisasi.
Seolah-olah Islamisasi itu beda dengan Kristenisasi.

 ***

Akhirnya saya temukan info terbaru mengenai kabar ini.

Klarifikasi dari Yudhistira ANM Massardi: SMS Ary Ginanjar

Sebagai "orang dalam" ESQ, dan barusan saya cek ke Ary Ginanjar,
ditegaskan di sini bahwa Ary Ginanjar sama sekali tidak pernah
menyebarkan SMS semacam itu. Jadi, SMS tersebut adalah sebuah FITNAH
yang ditujukan untuk mendiskreditkan Ary Ginanjar dan ESQ-nya. Selain
itu, tentu saja untuk menimbulkan "ketegangan" antaragama. Saya sangat
sedih melihat kenyataan bahwa masih banyak manusia Indonesia yang
bermental rendahan dan terus melakukan upaya adu-domba.Ayo kita
bersama-sama bangun sebuah Indonesia Baru yang bermartabat!Salam
sejahtera untuk semua. Yudhistira ANM Massardi
Pemimpin Redaksi Majalah alumni ESQ, NEBULAe-mail: [EMAIL PROTECTED] 

taken from:
http://media-jakarta.blogspot.com/2007/12/media-jakarta-klarifikasi-dari.html


***

NB: Oxford Dictionary Hypnosis: ·n. the induction of a state of
consciousness in which a person loses the power of voluntary action
and is highly responsive to suggestion or direction. ORIGIN C19: from
Gk hupnos `sleep' + -osis.

Hypnotize (also hypnotise): 

·v. produce a state of hypnosis in.- DERIVATIVES

hypnotizable adj.Hypnotic: 

·adj.1 of, producing, or relating to hypnosis.2 having a compelling or
soporific effect.3 Medicine (of a drug) sleep-inducing. 

·n.1 Medicine a sleep-inducing drug.2 a person under or open to
hypnosis.- DERIVATIVES hypnotically adv.- ORIGIN C17: from Fr.
hypnotique, via late L. from Gk hupnZtikos `causing sleep', from
hupnoun `put to sleep'. 

Citizen Journalism:

Nicholas Lemann, profesor di Columbia University Graduate School of
Journalism, New York City, Amerika Serikat, mencatat, bahwa kelahiran
jurnalisme publik dimulai melalui gerakan pada Pemilu 1988. Saat itu
publik mengalami erosi kepercayaan terhadap media-media mainstream
seputar pemilihan presiden AS.Oh May News mengalami sukses luar biasa
juga dipicu oleh pemilihan presiden Korsel. Lemann mencatat, situs ini
merupakan media terbesar yang menerapkan Citizen Journalism.

Citizen Journalism adalah perlawanan. Perlawanan terhadap hegemoni
dalam merumuskan dan memaknai kebenaran. Perlawanan terhadap dominasi
informasi oleh elite masyarakat. Akhirnya, perlawanan terhadap tatanan
peradaban yang makin impersonal. Namun, lebih dari itu, Citizen
Journalism adalah penemuan kembali kemanusiaan, persahabatan, dan
kekeluargaan. Setiap orang adalah subjek yang berhak merumuskan
sendiri kebutuhannya. 

salam, refanidea
http://refanidea.wordpress.com/2nd-opinion/hati-hati-sms-hipnotis-ary-ginandjar/

Kirim email ke