Begitulah, seperti mas Ph Terribilis katakan, para elite membuat 
lingkaran tertutup pmilik kekuasaan, dimana tak mungkin kelompok 
diluar (yang biasanya lemah) tak dapat mengakses kekuasaan.

Tentu saja, semua yang diluar lingkaran, se mampu apapun, tak diberi 
kesempatan ikut menggabung. Faktor kekuasaan yang mainly terdri dari 
unsur keuangan yang ditumpu kekuatan birokrasi (jajaran pemerintah, 
DPR, pemerintah daerah, polisi dan peradilan serta AB0, ditambah 
dengan kekuasaan informal, yakni melalui agama (MUI dan lembaga 
lembaga sejenis). mereka membentuk the ruling class, dan ini adalah 
sebuah bentuk oligarki, yang sangat typikal bagi negara negara 
berkembang, dari Timur Tengah sampai Latin Amerika.

Ke-maayoritas-an, juga agama, menjadi legalisasi daripada kekuasaan, 
karena itu, terjadi penindasan kaum minoritas (apakah agama, suku 
ataupun etnis), oleh kelompok mayoritas. dari sinilah kita pahami 
upaya teriak teriak oleh Salma Fe dkk, untuk selalu menonjokna 
kemayoritasan (legitimasi mengapa mesjid harus lebih banyak, dan 
selalu boleh dibangun).

Salam

Danardono




--- In [email protected], Patricia Devita Sihwardoyo 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Mas, ada juga sih orang kecil yang berkualitas tidak diberi 
kesempatan untuk memimpin! Termasuk kaum minoritas selalu ditutup 
kesempatannya. Dan yang bikin gregetan, kalau disangkut-pautkan 
dengan agama, jangan pilih dia sebab agamanya kafir. Hal ini yang 
sering terjadi di Indonesia, terlalu membeda-bedakan (too 
differently) dan tidak logis..!
> 
> Salam,
> 
> Patricia Devita
> 
> Phyllobates Terribilis wrote: 
> >             Betul sekali pak. Point 2 dan 3 adalah konsekuensi 
logis dari fanomena ini. Karena semua orang tahu dan sadar, bahwa 
hanya kekuasaan yang mengentaskan setiap orang yang melarat, menjadi 
warga yang dihormati (karena berharta), maka mereka berlomba menjadi 
kuasa. Bahwa kekuasaan mensyaratkan kriteria, tak lagi diindahkan. 
Yang tak mampupun ikut berkontes ria. Apalagi, kalau skenario ini 
mulai berjalan, semua berasal dari uang, dan berujung kepada uang. 
Semua dibeli. 
> >   Point 1, akan munculnya sebuah gerakan radikal, agak sulit di 
negeri ini, karena pengalaman masa lalu, setiap gerakan dengan 
kekerasan akan dengan mudah dihancurkan. Juga socio-demografis- 
geografis bangsa ini menyulitkan sebuah gerakan massal yang 
terkoordinir baik. Rakyat kecil akan sekedar melakukan perlawanan 
passif, dan mendukung sana sini, yang membeli suara mereka. 
> >   Karena yang dapat digapai rakyat kecil hanya saluran agama, 
maka kegiatan beragama akan lebih meningkat, karena disini mereka 
bisa membangun harapan akan datangnya keadilan. Sejak lebih dari 2000 
tahun, jauh sebelum Kristus, bangsa bangsa didunia telah merindukan 
seseorang yang mampu menciptakan keadilan. Ratu Adil atau messias. 
> >   Karena mereka kurang berpendidikan, perilaku beragama mereka 
makin kurang rational dan sangat emosional. Ke-frustasi- an mereka 
sering diungkapkan pada sesama rakyat kecil, karena ini lebih mudah, 
misalnya tawuran antar suku, kampung atau kelompok agama. 
> >   Peristiwa kekerasan di Poso, Sampit, palu, Maluku dan 
dimanapun, selalu terjadi antara rakyat kecil. saling menghujat agama 
juga terutama terjadi diantara rakyat kecil yang tak berpendidikan. 
Antara lain bung salma, haris, dan kawanannya. 
> >   Wassalam 
> > Lukas Kristanto < luke_christ_ [EMAIL PROTECTED] ca > wrote: 
> >           Mas Radityo, mbak Rulita & mas Phyllobates! 
> > Sebenarnya obsesi untuk berkuasa itu tidak hanya orang per orang 
lagi, tapi sudah merupakan obsesi kolektif (kelompok). Saya melihat 
di negeri kita ada kelompok yang merasa hebat dan benar --memaksakan 
diri untuk berkuasa, belum berkuasa saja sudah menindas kelompok 
kecil (minoritas). 
> > Sebenarnya, ilustrasi tadi mempunyai banyak pesan moral: 
> > 1. Orang kecil kalau terus ditindas dan dihina, apalagi tidak 
diberi peluang dan kesempatan akan bangkit untuk keluar dari 
ketidakberdayaannya , walau semangatnya hanya di tingkat 
mimpi/obsesi. Pemahat itu tidak tahan lagi, mungkin karena sering 
dihina dan diremehkan, maka seluruh hinaan itu terakumulasi 
dipikirannya sampai dia ingin jadi orang besar agar tidak diremehkan 
lagi. Tidak mustahil, ledakan kesumat semacam ini akan muncul pada 
orang-orang kecil menjadi sebuah pemberontakan, dan akan runyam jika 
menjadi pemberontakan masal. 
> > 2. Ilustrasi tadi menggambarkan, betapa ambisi untuk menjadi 
pemimpin terkadang tidak ukur oleh kemampuannya, seperti banyak 
terjadi sekarang --banyak anggota legislatif di daerah-daerah 
kapasitasnya di bawah standar. 
> > 3. Ketika orang sudah memperoleh kekuasaan, dia terus ingin 
menikmatinya, tidak ingin turun dari kekuasaan, dan ini cerita 
klasik --yang banyak sejarah mencatat hal semacam itu. Pertanyaannya 
hanya menyangkut dimana hati nurani itu diletakkan? 
> > Salam, 
> > Lukas Kristanto 
> > Rulita Damayanti wrote: 
> >> Pak Lukas, ceritanya menarik! Obsesi pemahat patung itu seperti 
obsesinya elite-elite politik di negeri kita. Mereka mimpi mempunyai 
kekuasaan, setelah berkuasa malah mabuk. Kekuasaan yang diperoleh 
tidak mau diruntuhkan, sehingga sikut sana, sikut sini. Tragisnya, 
yang tak punya kapasitas juga bermimpi, dan anehnya mereka pun bisa 
masuk lingkaran kekuasaan. 
> >> Pecahnya sebuah partai menjadi partai baru khan juga karena 
obsesi kekuasaan. Biasanya disebabkan di partai lama peluangnya 
semakin kecil, banyak pesaing atau mungkin karena sakit hati. Benar 
khan pak Lukas! 
> >> Salam, 
> >> RDM 
> >> Lukas Kristanto wrote: 
> >>> Ini hanya ilustrasi tentang seorang pemahat patung 
> >>> yang selalu meratapi nasibnya dan berobsesi menjadi 
> >>> orang besar tanpa berupaya. Tanpa disadari, kita juga 
> >>> suka berobsesi tanpa mengukur kapasitas diri kita. 
> >>> ------------ ------- 
> >>> Konon di pelosok desa yang terpencil, seorang pemahat 
> >>> patung melakukan aktivitas kesehariannya memahat 
> >>> batu-batu untuk dijadikan patung. Patung-patung yang 
> >>> sudah dibuat itu biasanya dibawa istrinya ke pasar 
> >>> untuk dijual disana. Aktivitas semacam ini berlangsung 
> >>> bertahun-tahun lamanya, dan itulah keseharian 
> >>> kehidupan sang pemahat. Seperti biasa di tengah-tengah 
> >>> aktivitasnya, sang pemahat selalu mengeluh, "mengapa 
> >>> nasibku tidak pernah berubah sejak dulu, hanya jadi 
> >>> seorang pemahat, mestinya aku harus menjadi orang 
> >>> hebat..!", katanya dalam hati dengan nada 
> >>> pemberontakan.. "Teman-teman sepermainanku dulu di 
> >>> waktu kecil banyak yang hidupnya tidak seperti aku, 
> >>> mereka lebih kaya dari aku dan punya kekuasaan", 
> >>> gumannya dengan kesal. 
> >>> Suatu ketika seorang raja berkunjung ke desa dimana 
> >>> pemahat tinggal, ini merupakan kunjungan pertama raja 
> >>> di desa itu, karena tidak pernah terjadi sebelumnya.. 
> >>> Masyarakat berbondong-bondong di sepanjang jalan untuk 
> >>> menyambut kehadiran sang raja. Berita kunjungan raja 
> >>> terdengar juga oleh sang pemahat, dan dia pun tergerak 
> >>> hatinya untuk melihat sang raja dan bergabung dengan 
> >>> kerumunan orang di sepanjang jalan desa. 
> >>> Pemahat itu penasaran, "bagaimana sih rupa raja itu, 
> >>> koq kedatangannya dinanti-nanti orang?, aku ingin 
> >>> tahu", katanya dalam hati penuh penasaran. 
> >>> Dan kemudian, lewatlah raja itu, dengan memakai 
> >>> pakaian kebesarannya yang indah berhiaskan 
> >>> lencana-lencana emas, mahkota yang juga dilapisi emas 
> >>> terekat di kepalanya. Sambil duduk di kereta kencana 
> >>> yang indah sang raja melambai-lambaikan tangannya 
> >>> kepada rakyat di jalanan itu, disampingnya sang 
> >>> permasuri yang cantik jelita juga menyungging senyum 
> >>> manis kepada setiap orang! Barisan pasukan berkuda 
> >>> mengawal raja baik di depan maupun di belakang kereta! 
> >>> Tak lama kemudian rombongan raja melewati jalanan 
> >>> dimana sang pemahat berdiri disitu. Dari dekat sang 
> >>> pemahat bisa melihat raja itu. Sang pemahat terpesona 
> >>> melihat sang raja, dia semakin membelalakan mata 
> >>> mengekspresikan kekagumannya dan berkata dalam 
> >>> hatinya, "enak ya jadi raja, mestinya aku juga jadi 
> >>> raja seperti dia, supaya aku dihormati orang, supaya 
> >>> aku berkuasa dan aku selalu disanjung dan 
> >>> ditunggu-tunggu banyak orang dimana-mana" . Rupanya 
> >>> sang pemahat berobsesi dan keinginannya kian 
> >>> meledak-ledak untuk menjadi raja. Dia terus melamun di 
> >>> tengah-tengah kerumunan orang banyak. 
> >>> Dalam perjalanan pulang ke rumah, sang pemahat terus 
> >>> membayangkan dirinya jadi raja, obsesinya semakin kuat 
> >>> hingga larut dalam ilusi yang tak disadarinya. Sampai 
> >>> di rumah, dia terus membayangkan jadi raja sampai 
> >>> akhirnya tertidur di kursi karena kecapekan. 
> >>> Karena begitu kuat obsesinya, tanpa disadari, 
> >>> terjawablah keinginannya itu dalam mimpi. Dalam 
> >>> tidurnya ia bermimpi menjadi raja besar, yang 
> >>> dihormati, ditakuti, dipuja-puja, dan bahkan banyak 
> >>> orang tunduk dan takluk padanya. Katanya; "aku 
> >>> sekarang adalah raja, aku sekarang punya kekuasaan dan 
> >>> kaya, tidak ada seorangpun yang berani melawan aku, 
> >>> tidak ada yang lebih berkuasa di atas aku, aku orang 
> >>> hebat", demikian raja baru ini sesumbar. 
> >>> Suatu ketika, dia teringat dengan pengalaman raja yang 
> >>> pernah berkunjung ke desanya, dia ingin melakukan hal 
> >>> yang sama untuk mengunjungi suatu desa, lalu dia 
> >>> perintahkan punggawa dan hulubalang mempersiapkan 
> >>> segala sesuatunya! 
> >>> Esok harinya, dengan rombongan yang sangat besar 
> >>> berkunjunglah raja baru ini ke suatu desa! Kedigdayaan 
> >>> seorang raja ia tunjukkan dengan pakaian raja yang 
> >>> lebih mewah dengan emas yang bergelantungan, dan 
> >>> kereta kencana yang seluruhnya dilapisi emas, tidak 
> >>> hanya membawa seorang permaisuri, 10 selirnya pun dia 
> >>> bawa. Dia merasa tampan dan perkasa. 
> >>> Namun, apa yang terjadi?, di luar dugaan, ternyata 
> >>> tidak seorang pun terlihat menyambut kedatangannya, 
> >>> dia tidak melihat segelintir rakyatpun 
> >>> berbondong-bondong menyambutnya! Dia terheran-heran, 
> >>> "ada apa ini,,,?" gumannya dengan penuh kekecewaan. 
> >>> Kemudian dia sadar, kalau cuaca hari itu sangat panas, 
> >>> terik matahari yang menyengat membuat banyak orang 
> >>> tidak mau keluar rumah menyambut dia. Orang-orang 
> >>> takut dengan sengatan panas matahari. Lalu raja itu 
> >>> berkata; "oh...ternyata ada yang lebih berkuasa dari 
> >>> saya, yaitu matahari, rakyat lebih takut kepada 
> >>> matahari daripada kepada saya", katanya. Karena 
> >>> matahari dianggap lebih hebat dari raja, maka akhirnya 
> >>> dia berobsesi lagi, dia ingin menjadi matahari.... ! 
> >>> Pemahat itu lalu jadi matahari. Tetapi dia semakin 
> >>> congkak, dia merasa lebih berkuasa dari siapapun. 
> >>> "Nah, aku sekarang paling berkuasa, tidak ada yang 
> >>> bisa menandingi aku", katanya. Kemudian dia obral 
> >>> panas matahari kemana-mana, sehingga banyak orang 
> >>> ketakutan, dia semakin mabuk dengan kekuasaanya. 
> >>> Namun, tiba-tiba gumpalan awan lewat di bawahnya, 
> >>> sehingga menutupi pancaran sinar matahari. Panas 
> >>> matahari tertahan oleh awan karena sinarnya tidak 
> >>> sampai ke bumi. Sang matahari kelabakan, karena 
> >>> kekuasaannya telah ditandingi oleh awan. Lalu 
> >>> bergumanlah sang matahari, "oh... ternyata ada lebih 
> >>> berkuasa dari aku, awan..! 
> >>> Kalau begitu aku jadi awan saja, karena lebih berkuasa 
> >>> dari matahari", katanya dengan emosi yang terbakar. 
> >>> Dan jadilah dia awan. 
> >>> Karena awan bisa menurunkan hujan, maka awan baru ini 
> >>> semakin congkak, dia turunkan hujan berlebihan, 
> >>> sehingga banjir dimana-mana, orang-orang ketakutan, 
> >>> dan sang awan senang melihatnya, dia merasa sangat 
> >>> berkuasa karena banyak orang ketakutan. Tetapi sang 
> >>> awan menjadi terdiam, ketika dia melihat sebongkah 
> >>> batu besar di tengah ladang tidak bergeming sedikitpun 
> >>> dengan air bah, pahadal banjir dimana-mana sudah 
> >>> menghanyutkan apa saja. Lalu ia berguman lagi; 
> >>> "oh...ternyata ada yang berkuasa di atas awan, yaitu 
> >>> batu, kalau begitu aku ingin jadi sebongkah batu 
> >>> saja". Maka jadilah ia batu. 
> >>> Ketika menjadi batu, dia merasa digdaya, air bah tidak 
> >>> dapat menghanyutkan dia, dan tidak ada seorangpun yang 
> >>> dapat merobohkan dia. Batu itu merasa kokoh berdiri 
> >>> dan tidak ada yang mampu mendorongnya, dia merasa 
> >>> perkasa. "Sekarang tidak ada yang bisa menandingi 
> >>> aku", katanya. Ditengah-tengah kemabukannya jadi batu, 
> >>> tiba-tiba tak diduga datanglah seorang pemahat 
> >>> mendatanginya, dengan cekatan dipahatlah batu itu 
> >>> menjadi patung. Sang batu shock, dan berguman keras; 
> >>> "oooooh ternyata ada yang lebih berkuasa di atas aku, 
> >>> yaitu pemahat, kalau begitu aku jadi pemahat saja 
> >>> supaya aku lebih berkuasa ketimbang batu". Dan jadilah 
> >>> dia pemahat patung. Seketika itu juga pemahat itu 
> >>> terbangun dari tidurnya, perjalanan mimpinya berkelana 
> >>> kemana-mana telah mengembalikan dia ke posisi semula 
> >>> sebagai sang pemahat..... ! 
> >>> Salam, 
> >>> Lukas Kristanto 
> >>> ____________ _________ _________ _________ _________ ____ 
> >>> Yahoo! Canada Toolbar: Search from anywhere on the web, and 
bookmark your favourite sites. Download it now at 
> >>> http://ca.toolbar. yahoo.com. 
> >>> 
> >> ____________ _________ _________ _________ _________ _________ _ 
> >> Sent from Yahoo! Mail - a smarter inbox http://uk.mail. 
yahoo.com 
> >> 
> > Be smarter than spam. See how smart SpamGuard is at giving junk 
email the boot with the All-new Yahoo! Mail. Click on Options in Mail 
and switch to New Mail today or register for free at http://mail. 
yahoo.ca 
> > ------------ --------- --------- --- 
> > Looking for last minute shopping deals?  Find them fast with 
Yahoo! Search. 
> > [Non-text portions of this message have been removed] 
> >      
> 
> 
> Send instant messages to your online friends 
http://au.messenger.yahoo.com
>


Kirim email ke