http://infoindonesia.wordpress.com



Haji Muhammad Soeharto telah
meninggal. Kematiannya cukup kontroversial. Ada yang menghujat, ada juga yang
memujinya. Terlebih dengan berbagai kasus korupsi para kroni-nya yang hingga
kini belum tuntas.



 



Meski demikian kita harus
berpikir jernih dan adil dengan menghargai jasa dan prestasinya. Apalagi
dibanding dengan pemerintahan yang ada sekarang.



 



Sebagai contoh berita dari www.riauinfo.com menyebutkan bahwa sebagian
warga berkata: "Di Zaman Pak Harto, Kita Tak Pernah Antre Beli
Minyak..." Yang lain berkomentar: ” kenaikan harga tidak pernah drastis
seperti sekarang”.



 



Memang pada zaman Soeharto,
boleh dikata tidak ada antrian warga yang kekurangan minyak tanah, gas,
premium, dan sebagainya. Zaman Soeharto jarang-jarang ada lonjakan kenaikan
harga sembako sampai lebih dari 100% hanya dalam hitungan minggu.



 



Pada zaman Soeharto, orang
miskin masih bisa menyekolahkan anak-anaknya di Perguruan Tinggi Negeri ternama
seperti UI, ITB, ITS, UGM, dan sebagainya karena biaya kuliah yang terjangkau.
Sekarang saat kabinet dipegang oleh para ekonom neoliberal, PTN dikomersilkan
sehingga dirubah jadi BHMN yang mencari untung. Untuk masuk UI, rakyat harus
bayar Rp 25 juta hingga 75 juta lebih hanya untuk uang masuk. Di Unmul ribuan
mahasiswa dilarang ujian karena tidak mampu membayar SPP yang biayanya sudah
tidak terjangkau.



 



Di zaman Soeharto, para petani
yang tidak punya tanah diberi 1-2 hektar tanah pertanian serta biaya hidup
selama setahun lewat proyek transmigrasi ke Sumatera, Kalimanta, Sulawesi, dsb.
Indonesia sempat swasembada beras di zaman Soeharto. Sekarang program
Transmigrasi ini nyaris berhenti. Indonesia yang negara ”Agraris” saat ini
justri mengimpor bahan pangan seperti kedelai, gandum, dsb dari negara
“Industri” macam Amerika Serikat.



 



Angka kejahatan karena masalah
ekonomi juga saat ini semakin meningkat. Penculikan jadi sering terjadi, belum
lagi pencurian besi menara PLN, rel kereta api, atau pun kabel pesawat telpon.



 



Begitu juga dengan kasus stress
atau bunuh diri karena ekonomi.



 



Walhasil dari segi kesejahteraan
rakyat, zaman Soeharto lebih baik. Mungkin rakyat tertekan, tapi mereka bisa
makan dan belajar dengan harga terjangkau.



 



Sekarang rakyat bebas bersuara,
tapi mereka banyak yang harus makan nasi aking atau gaplek karena harga sembako
yang kian meningkat. Yang tidak kuliah pun sekarang banyak karena PTN sudah
tidak terjangkau lagi oleh rakyat. Rakyat juga harus antri membawa jerigen agar 
bisa dapat minyak tanah.



 



 



http://cybernews.cbn.net.id/cbprtl/Cybernews/detail.aspx?x=Regional&y=Cybernews|0|0|11|631



Apa Kata Mereka



"Di Zaman Pak Harto, Kita
Tak Pernah Antre Beli Minyak..."



Regional Mon, 28 Jan 2008
09:17:00 WIB



 



Pekanbaru - Selain ada yang
memandang negatif, ternyata banyak warga memang positif masa kepemimpinan
Soeharto. Ini terungkap dari hasil rekaman yang dilakukan RiauInfo tentang
pendapat sejumlah warga di Pekanbarub terhadap masa kepemimpinan yang selama 32
tahun jadi presiden.



 



Umumnya warga menyebutkan
kondisi zaman Pak Harto jadi presiden lebih baik dibandingkan zaman sekarang.
Irwan (24) salah seorang warga Jalan Utama Pekanbaru mengatakan, salah satu
bukti zaman Pak Harto lebih baik, inflasi tidak pernah setinggi sekarang ini.
"Artinya kenaikan harga tidak pernah drastis seperti sekarang," jelas
mahasiswa Fekon, Universitas Riau ini.



 



Pendapat yang sama juga
disampaikan Ny Herawati (33) warga Jalan Sekuntum, Pekanbaru. Ibu dari 2 orang
anak ini menyebutkan, zaman Pak Harto dulu mendapatkan minyak tanah sangat
mudah. Tapi sekarang untuk mendapatkan minyak tanah harus antri dulu.
"Dulu mana pernah antri seperti sekarang ini," ungkapnya.



 



Makanya, dia berpendapat hidup
zaman Pak Harto lebih menyenangkan. Semua barang kebutuhan sehari-hari tersedia
sepenuhnya. Tidak perlu antri untuk mendapatkannya. Begitu pula halnya dengan
beras dan barang kebutuhan utama lainnya, tidak sulit mendapatkan dan harganya
tidak pernah melonjak tinggi.



 



Pendapat Nanang (42) warga Jalan
Pramuka, Rumbai, Pekanbaru, juga tak jauh berebda. Lelaki yang bekerja di
sebuah perusahaan swasta ini menyebutkan stabilitas keamanan juga sangat
terjamin di zaman Pak Harto. Tidak ada aksi unjuk rasa seperti sekarang ini
marak terjadi. "Kita
bisa hidup tenang tanpa dicekam ketakutan," tambahnya.(Ad)



 



Sumber: RiauInfo.com



 
===
Syiar Islam. Mari belajar Islam melalui SMS 
Untuk berlangganan ketik: REG SI ke 3252
Tarif Rp.1000 ,- + PPN content akan dikirim tiap hari 
 
Untuk berhenti ketik: UNREG SI kirim ke 3252. Sementara hanya dari Telkomsel 
http://www.media-islam.or.id





      
____________________________________________________________________________________
Looking for last minute shopping deals?  
Find them fast with Yahoo! Search.  
http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?category=shopping

Kirim email ke