duh mas nizam nggak sadar kalo ada asap tentu ada api, gimana rakyat nggak 
antri minyak wong persoalan yang kita hadapi sekarang adalah akibat persoalan 
kepentingan bangsa diputuskan dalam keadaan buru-buru mengejar target 
pembangunan suharto dengan melaksanakan berbagai kebijakan tanpa berpikir 
eksesnya. Ya kalau sekarang antri minyak karena hutang buatan siapa ya? SBY 
bisa saja mungkin cari utangan untuk nombok subsidi tapai kan nanti rakyat juga 
yang menderita, mari kita tingkatkan percaya diri bahwa kita sebagai bangsa 
yang bernyali besar siap menebus dosa nenek-moyang dan tentu memperbaiki diri 
dengan mempusatkan pendidikan generasi muda saat ini. mari kita harus jebolkan 
pendidikan harus menjadi nomor satu program pemerintah dan ekonomi program 
nomor dua. artinya cukup makan tapi pendidikan terbaik harus diberikan kepada 
generasi muda.

Lina Dahlan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:          Mungkin ini konsekwensinya. 
Harga yang harus dibayar. Bbrp pengamat 
menilai reformasi kebablasan. Kalo saya bilang Indonesia ini masih 
dalam masa transisi: belum menemukan jati diri (masih ABG). 
Demokrasi macam apa yang sesuai dengan Indonesia, Indonesia masih 
mencari.

Repotnya, tujuh turunan anak cucu kita harus mbayar hutang 
utk 'kemudahan' nenek moyangnya yang tak pernah antre beli minyak 
dll.

Kesalahan Soekarno dan Soeharto sama: kelamaan memerintah (jadi 
penguasa). Menurut pengamat (juga), kroni2nya Soeharto yang gak mau 
Soeharto mengundurkan diri, padahal Soehartonya dah merasa cape dan 
mau mundur. Jadi, Soeharto terperangkap dalam situasinya sendiri. 
Seorang jendral yang tegas tidak dapat bersikap tegas terhadap 
kroni2nya.

Namun bagaimanapun uang rakyat memang harus dikembalikan. Ini 
warisan Soeharto kepada anak-anaknya: untuk mengembalikan uang 
rakyat. Mungkinkah?

Nampaknya Harmoko, Habibi..gak nampak (gak diterima oleh keluarga 
SOeharto?). Begitu juga Mbak Mega tak menampakkan diri (lagi keluar 
negeri). Mayangsari aja dateng tuh...:-))

wassalam,
--- In [email protected], Phyllobates Terribilis 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Yang mas Nizami katakan ini, banyak dikatakan oleh rakyat kecil 
yang saya jumpai, kuli bangunan yang me-reno rumah saya, supir supir 
taxi, dan pedagang pedagang kecil. Ibu ibu kenalan istri saya juga 
berani nyetir mobil sendiri sampai larut malam.
> 
> Umat Islam dan Non Islam kala itu MENYATU, tak ada dikotomi 
Islam-Non Islami seperti sekarang. Terror mengatasnamakan agama juga 
tak terjadi. Juga MUI masih dibawah kendali.
> 
> Walau kita sebagai pengamat ekonomi dunia, harus jujur mengakui, 
bahwa keberhasilan ekonomi pembangunan beliau adalah 1000% akibat 
support Barat dan USA yang membanjiri perekonomian kita dengan dana 
investasi dan pinjaman. Juga dari sisi pertahanan.
> 
> Presiden presiden setelah beliau, tak mempunyai nasib semujur 
pak Harto dalam membangun ekonomi. Kini Barat menjaga jarak dengan 
kita, sejak 11 September, Selain itu lahan investasi kini meluas 
sampai ke RRT dan negara negara ex komunis, yang menjadi alternatif 
bagi barat, AS dan Uni Eropa. 
> 
> Dizaman pak Harto Indonesia adalah SATU satunya alternatif 
investasi, karena Asia timur kala masih merupakan musuh Barat 
(sampai Natal 1989). Mau tak mau, Barat hanya dapat berpaling ke 
Indonesia (selain Philippina yang amburadul, dan Thailand serta 
Malaysia).
> 
> Kalau kita mau jujur juga, benih korupsi dimulai dizaman bung 
Karno, yakni dengan adanya nasionalisasi perusahaan perusahaan asing 
oleh perwira perwira AD. Contoh mencuat adalah Pertamina. Bea cukai 
dan imigrasi sangat merajalela berkorupsi dibawah bung Karno. 
Memang, skala korupsi menjadi dahsyat dibawah pak Harto. Tetapi, 
kini, korupsi masih merajalela tetapi perekonomian rakyat amburadul, 
ekonomi makro masih OK.
> 
> Beberapa pengamat menilai ini semua adalah reformasi kebablasan. 
Juga otoda berkembang menjadi ajaib. Negara federal bukan, negara 
kesatuan bukan lagi.
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> A Nizami <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> 
> http://infoindonesia.wordpress.com
> 
> Haji Muhammad Soeharto telah
> meninggal. Kematiannya cukup kontroversial. Ada yang menghujat, 
ada juga yang
> memujinya. Terlebih dengan berbagai kasus korupsi para kroni-nya 
yang hingga
> kini belum tuntas.
> 
> Meski demikian kita harus
> berpikir jernih dan adil dengan menghargai jasa dan prestasinya. 
Apalagi
> dibanding dengan pemerintahan yang ada sekarang.
> 
> Sebagai contoh berita dari www.riauinfo.com menyebutkan bahwa 
sebagian
> warga berkata: "Di Zaman Pak Harto, Kita Tak Pernah Antre Beli
> Minyak..." Yang lain berkomentar: ” kenaikan harga tidak pernah 
drastis
> seperti sekarang”.
> 
> Memang pada zaman Soeharto,
> boleh dikata tidak ada antrian warga yang kekurangan minyak tanah, 
gas,
> premium, dan sebagainya. Zaman Soeharto jarang-jarang ada lonjakan 
kenaikan
> harga sembako sampai lebih dari 100% hanya dalam hitungan minggu.
> 
> Pada zaman Soeharto, orang
> miskin masih bisa menyekolahkan anak-anaknya di Perguruan Tinggi 
Negeri ternama
> seperti UI, ITB, ITS, UGM, dan sebagainya karena biaya kuliah yang 
terjangkau.
> Sekarang saat kabinet dipegang oleh para ekonom neoliberal, PTN 
dikomersilkan
> sehingga dirubah jadi BHMN yang mencari untung. Untuk masuk UI, 
rakyat harus
> bayar Rp 25 juta hingga 75 juta lebih hanya untuk uang masuk. Di 
Unmul ribuan
> mahasiswa dilarang ujian karena tidak mampu membayar SPP yang 
biayanya sudah
> tidak terjangkau.
> 
> Di zaman Soeharto, para petani
> yang tidak punya tanah diberi 1-2 hektar tanah pertanian serta 
biaya hidup
> selama setahun lewat proyek transmigrasi ke Sumatera, Kalimanta, 
Sulawesi, dsb.
> Indonesia sempat swasembada beras di zaman Soeharto. Sekarang 
program
> Transmigrasi ini nyaris berhenti. Indonesia yang negara 
”Agraris” saat ini
> justri mengimpor bahan pangan seperti kedelai, gandum, dsb dari 
negara
> “Industri” macam Amerika Serikat.
> 
> Angka kejahatan karena masalah
> ekonomi juga saat ini semakin meningkat. Penculikan jadi sering 
terjadi, belum
> lagi pencurian besi menara PLN, rel kereta api, atau pun kabel 
pesawat telpon.
> 
> Begitu juga dengan kasus stress
> atau bunuh diri karena ekonomi.
> 
> Walhasil dari segi kesejahteraan
> rakyat, zaman Soeharto lebih baik. Mungkin rakyat tertekan, tapi 
mereka bisa
> makan dan belajar dengan harga terjangkau.
> 
> Sekarang rakyat bebas bersuara,
> tapi mereka banyak yang harus makan nasi aking atau gaplek karena 
harga sembako
> yang kian meningkat. Yang tidak kuliah pun sekarang banyak karena 
PTN sudah
> tidak terjangkau lagi oleh rakyat. Rakyat juga harus antri membawa 
jerigen agar bisa dapat minyak tanah.
> 
> http://cybernews.cbn.net.id/cbprtl/Cybernews/detail.aspx?
x=Regional&y=Cybernews|0|0|11|631
> 
> Apa Kata Mereka
> 
> "Di Zaman Pak Harto, Kita
> Tak Pernah Antre Beli Minyak..."
> 
> Regional Mon, 28 Jan 2008
> 09:17:00 WIB
> 
> Pekanbaru - Selain ada yang
> memandang negatif, ternyata banyak warga memang positif masa 
kepemimpinan
> Soeharto. Ini terungkap dari hasil rekaman yang dilakukan RiauInfo 
tentang
> pendapat sejumlah warga di Pekanbarub terhadap masa kepemimpinan 
yang selama 32
> tahun jadi presiden.
> 
> Umumnya warga menyebutkan
> kondisi zaman Pak Harto jadi presiden lebih baik dibandingkan 
zaman sekarang.
> Irwan (24) salah seorang warga Jalan Utama Pekanbaru mengatakan, 
salah satu
> bukti zaman Pak Harto lebih baik, inflasi tidak pernah setinggi 
sekarang ini.
> "Artinya kenaikan harga tidak pernah drastis seperti sekarang," 
jelas
> mahasiswa Fekon, Universitas Riau ini.
> 
> Pendapat yang sama juga
> disampaikan Ny Herawati (33) warga Jalan Sekuntum, Pekanbaru. Ibu 
dari 2 orang
> anak ini menyebutkan, zaman Pak Harto dulu mendapatkan minyak 
tanah sangat
> mudah. Tapi sekarang untuk mendapatkan minyak tanah harus antri 
dulu.
> "Dulu mana pernah antri seperti sekarang ini," ungkapnya.
> 
> Makanya, dia berpendapat hidup
> zaman Pak Harto lebih menyenangkan. Semua barang kebutuhan sehari-
hari tersedia
> sepenuhnya. Tidak perlu antri untuk mendapatkannya. Begitu pula 
halnya dengan
> beras dan barang kebutuhan utama lainnya, tidak sulit mendapatkan 
dan harganya
> tidak pernah melonjak tinggi.
> 
> Pendapat Nanang (42) warga Jalan
> Pramuka, Rumbai, Pekanbaru, juga tak jauh berebda. Lelaki yang 
bekerja di
> sebuah perusahaan swasta ini menyebutkan stabilitas keamanan juga 
sangat
> terjamin di zaman Pak Harto. Tidak ada aksi unjuk rasa seperti 
sekarang ini
> marak terjadi. "Kita
> bisa hidup tenang tanpa dicekam ketakutan," tambahnya.(Ad)
> 
> Sumber: RiauInfo.com
> 
> ===
> Syiar Islam. Mari belajar Islam melalui SMS 
> Untuk berlangganan ketik: REG SI ke 3252
> Tarif Rp.1000 ,- + PPN content akan dikirim tiap hari 
> 
> Untuk berhenti ketik: UNREG SI kirim ke 3252. Sementara hanya dari 
Telkomsel 
> http://www.media-islam.or.id
> 
> __________________________________________________________
> Looking for last minute shopping deals? 
> Find them fast with Yahoo! Search. 
http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?
category=shopping
> 
> 
> 
> 
> 
> ---------------------------------
> Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>



                         

       
---------------------------------
 5, 50, 500, 5000 - Store N number of mails in your inbox. Click here.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke