Salom, Pengelihatan ekonomi makronya lumayan (saya bukan ahli ekonomi). Coba tolong di analisis alternate ekonomi masa depan untuk RI yang sedikit-banyak dapat membantu mayoritas penduduk untuk memperoleh kelayakan hidup di negeri "gordel van smaragd".
From: Phyllobates Terribilis Sent: Monday, January 28, 2008 5:02 AM To: [email protected] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] Subject: Re: [ppiindia] Di Zaman Pak Harto, Kita Tak Pernah Antre Beli Minyak.. Yang mas Nizami katakan ini, banyak dikatakan oleh rakyat kecil yang saya jumpai, kuli bangunan yang me-reno rumah saya, supir supir taxi, dan pedagang pedagang kecil. Ibu ibu kenalan istri saya juga berani nyetir mobil sendiri sampai larut malam. Umat Islam dan Non Islam kala itu MENYATU, tak ada dikotomi Islam-Non Islami seperti sekarang. Terror mengatasnamakan agama juga tak terjadi. Juga MUI masih dibawah kendali. Walau kita sebagai pengamat ekonomi dunia, harus jujur mengakui, bahwa keberhasilan ekonomi pembangunan beliau adalah 1000% akibat support Barat dan USA yang membanjiri perekonomian kita dengan dana investasi dan pinjaman. Juga dari sisi pertahanan. Presiden presiden setelah beliau, tak mempunyai nasib semujur pak Harto dalam membangun ekonomi. Kini Barat menjaga jarak dengan kita, sejak 11 September, Selain itu lahan investasi kini meluas sampai ke RRT dan negara negara ex komunis, yang menjadi alternatif bagi barat, AS dan Uni Eropa. Dizaman pak Harto Indonesia adalah SATU satunya alternatif investasi, karena Asia timur kala masih merupakan musuh Barat (sampai Natal 1989). Mau tak mau, Barat hanya dapat berpaling ke Indonesia (selain Philippina yang amburadul, dan Thailand serta Malaysia). Kalau kita mau jujur juga, benih korupsi dimulai dizaman bung Karno, yakni dengan adanya nasionalisasi perusahaan perusahaan asing oleh perwira perwira AD. Contoh mencuat adalah Pertamina. Bea cukai dan imigrasi sangat merajalela berkorupsi dibawah bung Karno. Memang, skala korupsi menjadi dahsyat dibawah pak Harto. Tetapi, kini, korupsi masih merajalela tetapi perekonomian rakyat amburadul, ekonomi makro masih OK. Beberapa pengamat menilai ini semua adalah reformasi kebablasan. Juga otoda berkembang menjadi ajaib. Negara federal bukan, negara kesatuan bukan lagi. A Nizami <[EMAIL PROTECTED]> wrote: http://infoindonesia.wordpress.com Haji Muhammad Soeharto telah meninggal. Kematiannya cukup kontroversial. Ada yang menghujat, ada juga yang memujinya. Terlebih dengan berbagai kasus korupsi para kroni-nya yang hingga kini belum tuntas. Meski demikian kita harus berpikir jernih dan adil dengan menghargai jasa dan prestasinya. Apalagi dibanding dengan pemerintahan yang ada sekarang. Sebagai contoh berita dari www.riauinfo.com menyebutkan bahwa sebagian warga berkata: "Di Zaman Pak Harto, Kita Tak Pernah Antre Beli Minyak..." Yang lain berkomentar: â? kenaikan harga tidak pernah drastis seperti sekarangâ?. Memang pada zaman Soeharto, boleh dikata tidak ada antrian warga yang kekurangan minyak tanah, gas, premium, dan sebagainya. Zaman Soeharto jarang-jarang ada lonjakan kenaikan harga sembako sampai lebih dari 100% hanya dalam hitungan minggu. Pada zaman Soeharto, orang miskin masih bisa menyekolahkan anak-anaknya di Perguruan Tinggi Negeri ternama seperti UI, ITB, ITS, UGM, dan sebagainya karena biaya kuliah yang terjangkau. Sekarang saat kabinet dipegang oleh para ekonom neoliberal, PTN dikomersilkan sehingga dirubah jadi BHMN yang mencari untung. Untuk masuk UI, rakyat harus bayar Rp 25 juta hingga 75 juta lebih hanya untuk uang masuk. Di Unmul ribuan mahasiswa dilarang ujian karena tidak mampu membayar SPP yang biayanya sudah tidak terjangkau. Di zaman Soeharto, para petani yang tidak punya tanah diberi 1-2 hektar tanah pertanian serta biaya hidup selama setahun lewat proyek transmigrasi ke Sumatera, Kalimanta, Sulawesi, dsb. Indonesia sempat swasembada beras di zaman Soeharto. Sekarang program Transmigrasi ini nyaris berhenti. Indonesia yang negara â?Agrarisâ? saat ini justri mengimpor bahan pangan seperti kedelai, gandum, dsb dari negara â?oIndustriâ? macam Amerika Serikat. Angka kejahatan karena masalah ekonomi juga saat ini semakin meningkat. Penculikan jadi sering terjadi, belum lagi pencurian besi menara PLN, rel kereta api, atau pun kabel pesawat telpon. Begitu juga dengan kasus stress atau bunuh diri karena ekonomi. Walhasil dari segi kesejahteraan rakyat, zaman Soeharto lebih baik. Mungkin rakyat tertekan, tapi mereka bisa makan dan belajar dengan harga terjangkau. Sekarang rakyat bebas bersuara, tapi mereka banyak yang harus makan nasi aking atau gaplek karena harga sembako yang kian meningkat. Yang tidak kuliah pun sekarang banyak karena PTN sudah tidak terjangkau lagi oleh rakyat. Rakyat juga harus antri membawa jerigen agar bisa dapat minyak tanah. http://cybernews.cbn.net.id/cbprtl/Cybernews/detail.aspx?x=Regional&y=Cybernews|0|0|11|631 Apa Kata Mereka "Di Zaman Pak Harto, Kita Tak Pernah Antre Beli Minyak..." Regional Mon, 28 Jan 2008 09:17:00 WIB Pekanbaru - Selain ada yang memandang negatif, ternyata banyak warga memang positif masa kepemimpinan Soeharto. Ini terungkap dari hasil rekaman yang dilakukan RiauInfo tentang pendapat sejumlah warga di Pekanbarub terhadap masa kepemimpinan yang selama 32 tahun jadi presiden. Umumnya warga menyebutkan kondisi zaman Pak Harto jadi presiden lebih baik dibandingkan zaman sekarang. Irwan (24) salah seorang warga Jalan Utama Pekanbaru mengatakan, salah satu bukti zaman Pak Harto lebih baik, inflasi tidak pernah setinggi sekarang ini. "Artinya kenaikan harga tidak pernah drastis seperti sekarang," jelas mahasiswa Fekon, Universitas Riau ini. Pendapat yang sama juga disampaikan Ny Herawati (33) warga Jalan Sekuntum, Pekanbaru. Ibu dari 2 orang anak ini menyebutkan, zaman Pak Harto dulu mendapatkan minyak tanah sangat mudah. Tapi sekarang untuk mendapatkan minyak tanah harus antri dulu. "Dulu mana pernah antri seperti sekarang ini," ungkapnya. Makanya, dia berpendapat hidup zaman Pak Harto lebih menyenangkan. Semua barang kebutuhan sehari-hari tersedia sepenuhnya. Tidak perlu antri untuk mendapatkannya. Begitu pula halnya dengan beras dan barang kebutuhan utama lainnya, tidak sulit mendapatkan dan harganya tidak pernah melonjak tinggi. Pendapat Nanang (42) warga Jalan Pramuka, Rumbai, Pekanbaru, juga tak jauh berebda. Lelaki yang bekerja di sebuah perusahaan swasta ini menyebutkan stabilitas keamanan juga sangat terjamin di zaman Pak Harto. Tidak ada aksi unjuk rasa seperti sekarang ini marak terjadi. "Kita bisa hidup tenang tanpa dicekam ketakutan," tambahnya.(Ad) Sumber: RiauInfo.com === Syiar Islam. Mari belajar Islam melalui SMS Untuk berlangganan ketik: REG SI ke 3252 Tarif Rp.1000 ,- + PPN content akan dikirim tiap hari Untuk berhenti ketik: UNREG SI kirim ke 3252. Sementara hanya dari Telkomsel http://www.media-islam.or.id __________________________________________________________ Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search. http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?category=shopping --------------------------------- Never miss a thing. Make Yahoo your homepage. [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed]

