Salah satu pencerahan yang diberikan oleh AHMADIYAH adalah UMAT ISLAM jangan mau PERCAYA NABI ISA as masih HIDUP di langit, SUDAH 2000 tahun lebih hingga saat ini. JANGAN Percaya juga NABI ISA yang sudah WAFAT itu bakalan turun lagi terbang dari langit untuk DIIMANI umat ISLAM. Kepercayaan seperti itu adalah PEMBODOHAN PIKIRAN.
Yang lainnya setahu saya, ahmadiyah bersikap dan mendukung pandangan berikut. Jika tidak ada serangan terhadap keber-agamaan-nya, tidak ada alasan umat islam untuk menyatakan JIHAD dengan PEDANG/PERANG. JIHAD terbesar adalah mengendalikan diri sendiri dari merugikan orang lain, setelah itu menganjurkan kebaikan kepada orang lain. Sampaikan Nasehat dengan Penuh BIJAK. Tidak Ada PAKSAAN yang boleh diberlakukan terhadap orang untuk memilih dan menjalankan keyakinan agama sesuai dengan kepercayaannya. Semua warga negara di masa damai berstatus sama kecuali terbukti ada yang bermaksud jahat. Dengan demikian JIZYAH sebagaimana diberlakukan pada masa perang untuk menjamin kesetiaan NON-MUSLIM, DIHAPUSKAN. Semuanya sama, bayar pajak sebagai warga negara yang punya hak yang sama. Soal Perbedaan Pandangan diserahkan kepada setiap warga negara untuk memilih mana yang disukainya. Masing-masing boleh menganjurkan agamanya untuk disebarkan kepada orang lain. Tidak ada yang DILARANG untuk mendakwahkan agamanya masing-masing. Namun tentu saja dengan cara yang SOPAN sesuai dengan kehidupan berbangsa dan bernegara yang bermartabat. Masih banyak lagi mungkin PANDANGAN POSITIF yang bisa diHARAPKAN dari AHMADIYAH untuk kebaikan semua umat manusia. Yang jelas lagi dibeberapa Wilayah, AHMADIYAH telah mencanangkan 1000 kantung Darah untuk disumbangkan dalam beberapa BULAN. Mudah-mudahan DARAH Orang AHMADIYAH masih DIHALALKAN dan tidak DIHARAMKAN oleh MUI cs.sehinggabisa digunakan bagi kegiatan kemanusiaan. *))))))) On 1/29/08, Phyllobates Terribilis <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Wah, suatu cara pandang yang menarik: setiap agama menutup sejarah > kenabian dengan nabi mereka, dan meingimani telah memperbaharui agama > sebelumnya. Tak heran kalau agama agama di design untuk gempur gempuran.. > > Hanya bangsa bangsa yang cerdas dan maju tak lagi mengurusi gempur > gempuran agama, tetapi membangun hidup yang tertata rapi. Sementara bangsa > yang terbelakang asyik mimpi agama, agar melupakan kegagalan dalam hidup > nyata.. > > > mediacare <[EMAIL PROTECTED] <mediacare%40cbn.net.id>> wrote: > Tempo, Edisi. 49/XXXVI/28 Januari - 03 Februari 2008 > > Nabi Pamungkas dan Nabi Sekunder > > Luthfi Assyaukanie > > Peneliti Freedom Institute dan Koordinator Jaringan Islam Liberal, Jakarta > > Salah satu doktrin utama yang dijunjung tinggi kaum muslim adalah > keyakinan tentang Muhammad sebagai nabi pamungkas (khatam > al-nabiyyin). Begitu sucinya doktrin ini, para ulama berpandangan > bahwa siapa saja yang melanggarnya dapat dianggap murtad atau keluar > dari Islam. Menurut hukum Islam (fikih), seorang yang murtad haruslah > dibunuh. Para ahli fikih sepakat bahwa pemerintahlah yang harus > menjalankan hukuman, namun seorang ulama dari mazhab Syafi'i > berpendapat bahwa hukuman itu bisa dilaksanakan secara individual jika > pemerintah tak mampu melaksanakannya. > > Mungkin karena doktrin fikih yang kaku itu, kaum muslim memusuhi dan > menyerang Ahmadiyah, sebuah aliran yang meyakini Mirza Ghulam Ahmad > sebagai nabi. Baik di Pakistan (negara asal Ahmadiyah) maupun > Indonesia, anggota Ahmadiyah dikecam, dikejar-kejar, dan properti > mereka dirusak dan dibakar. Tanpa mau mengerti persoalan kompleks > tentang konsep kenabian, kaum muslim meminta pemerintah membubarkan > Ahmadiyah dan melarang sekte ini hidup di Indonesia. > > Doktrin khatam al-nabiyyin bukanlah milik kaum muslim saja, tapi ia > juga milik semua agama. Setiap agama besar memiliki doktrin nabi > pamungkas. Agama Yahudi menganggap Musa sebagai nabi pamungkas; Agama > Kristen menganggap Isa sebagai nabi pamungkas; dan agama Buddha > menganggap Siddharta Gautama sebagai nabi pamungkas. Masing-masing > agama ini menjunjung tinggi doktrin khatam al-nabiyyin, dan akan > menganggap siapa saja yang melanggarnya telah tersesat. > > Pada awal-awal kemunculan agama Kristen, kaum Yahudi menganggap > pengikut Isa (Yesus) sebagai kaum heretik, karena mendaulat Isa (bukan > Musa) sebagai nabi pamungkas dan bahkan menganggapnya sebagai anak > Tuhan. Begitu juga, pada masa-masa awal kemunculan Islam, kaum Kristen > di kawasan Bizantium (Kekristenan Timur) menganggap pengikut Muhammad > sebagai "sekte Kristen" yang sesat dan menyesatkan. Islam dianggap > sekte sesat karena memperkenalkan nabi baru selain Isa, yakni > Muhammad, sebagai nabi pamungkas. > > Sesat menyesatkan terhadap siapa saja yang menolak doktrin nabi > pamungkas dalam suatu agama bukanlah unik milik Islam. Setiap agama > baru selalu melewati proses semacam ini. Saya menyebutnya "proses > heretisasi", yakni upaya menjauh dari pemahaman ortodoks. Jika proses > heretisasi berlangsung mulus, sebuah agama baru bakal muncul; jika > tidak, konflik dan ketegangan akan terjadi. > > Proses heretisasi terjadi sepanjang sejarah. Orang-orang Yahudi > menganggap Kristen sebagai agama heretis yang menyempal dari agama > Yahudi. Begitu juga, kaum Kristen memandang Islam sebagai sekte sesat > yang menyempal dari agama Kristen. Pada gilirannya, kaum muslim > menganggap Baha'i sebagai agama yang menyempal dari Islam. Baha'i > tidak lagi dianggap sebagai bagian dari Islam karena para pemeluknya > tak mau menganggap Muhammad sebagai nabi pamungkas, tapi malah > menjadikan pemimpin mereka, Baha'ullah, seorang alim dari Persia, > sebagai gantinya. > > l l l > > Ahmadiyah, menurut saya, belum bisa dianggap sebagai agama baru, > karena proses heretisasi dalam dirinya belum sempurna. Para pengikut > Ahmadiyah masih terbelah antara menerima Muhammad sebagai nabi > pamungkas dan menganggap Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi baru. Kecuali > jika mereka sendiri yang mendeklarasikan Ahmadiyah sebagai agama baru, > tak seorang pun berhak menganggapnya demikian. > > Saya tidak tahu apakah ada anggota Ahmadiyah yang benar-benar > menganggap Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi pamungkas. Setahu saya, > dari sejumlah literatur tentang Ahmadiyah yang pernah saya baca, > seluruh anggota Ahmadiyah di Indonesia tetap menganggap Muhammad > sebagai nabi pamungkas, sedangkan Mirza Ghulam Ahmad dianggap sebagai > nabi sekunder yang kedudukannya lebih rendah daripada Nabi Muhammad. > > Konsep nabi sekunder memang tidak dikenal dalam teologi Sunni. Tapi, > konsep itu dikenal secara luas dalam agama-agama lain, khususnya > Yahudi dan Kristen. Orang-orang Yahudi, misalnya, menganggap Musa > sebagai nabi pamungkas, tapi pada saat yang sama meyakini Isaiah, > Jeremiah, Ezekiel, dan Daniel sebagai nabi juga, namun bersifat > sekunder. Orang-orang Kristen menganggap Isa sebagai nabi pamungkas, > tapi pada saat yang sama bisa menerima Simon, James, Matius, dan > Thomas sebagai nabi (rasul). > > Islam tidak mengadopsi teologi semacam itu, tapi mengembangkan > doktrinnya sendiri tentang nabi sekunder. Kaum Syiah menyebutnya > "imam", sedangkan kaum Sunni memiliki istilah yang beragam, seperti > "wali", "ulama", dan "mujaddid" (pembaru). Baik imam maupun wali (dan > istilah lain dalam dunia Sunni) sesungguhnya memiliki posisi yang > kurang-lebih sama dengan nabi sekunder dalam teologi Yahudi dan > Kristen. Para imam dua belas (itsna asy'ariyah) bagi kaum Syi'ah > memiliki kharisma dan posisi yang tak bisa disejajarkan dengan kaum > muslim biasa. Kedudukan mereka hanya bisa dikalahkan oleh Muhammad, > sang nabi pamungkas. > > Begitu juga, dalam dunia Sunni, para awliya (bentuk jamak dari wali), > ulama, maupun mujaddid memiliki kedudukan yang tinggi, disanjung, > dihormati, dan didengar pandangan-pandangannya. Abdul Qadir > al-Jailani, misalnya, adalah salah satu wali yang sangat dimuliakan > kaum muslim Sunni. Begitu juga, Abu Hamid al-Ghazali merupakan ulama > yang menempati posisi sangat khusus di kalangan umat Islam. Begitu > uniknya posisi Al-Ghazali sehingga Montgomery Watt, seorang orientalis > Inggris, menganggapnya sebagai muslim terbesar kedua setelah Nabi > Muhammad. > > Mujaddid juga memiliki posisi unik yang bisa disejajarkan dengan > konsep nabi sekunder dalam teologi Yahudi dan Kristen. Istilah > mujaddid diperkenalkan oleh Nabi Muhammad sendiri dalam sebuah > sabdanya: "Setiap 100 tahun Allah mengutus seorang mujaddid yang akan > memperbarui ajaran agama (Islam)." Tokoh Islam seperti Muhammad Abduh > (1849-1905), Ali Abd al-Raziq (1888-1966), dan Fazlur Rahman > (1919-1988), adalah para pembaru Muslim yang dimaksudkan Nabi. Tentu > saja, istilah "100 tahun" tidak harus diartikan secara literal, karena > "100 tahun" yang dimaksud dalam hadis itu adalah masa yang dibutuhkan > suatu doktrin untuk menjadi kedaluwarsa. Dan itu harus diperbarui > dalam setiap kurun waktu tertentu agar tetap segar. > > l l l > > Para teolog Sunni memang tidak menganggap wali atau ulama atau > mujaddid sebagai nabi, tapi mereka memandang posisi mereka begitu > tinggi, dan bahkan meletakkannya setingkat di bawah nabi. Ulama, > misalnya, dianggap sebagai ahli waris para nabi (al-ulama waratsat > al-anbiya). > > Sebenarnya, jika para pengikut Ahmadiyah menyebut Mirza Ghulam Ahmad > sebagai wali, atau ulama, atau mujaddid, pasti tidak akan ada masalah. > Sayangnya, mereka lebih memilih bersitegang dengan ortodoksi Sunni > dengan tetap menggunakan istilah "nabi" untuk pemimpin mereka. > Padahal, yang mereka maksudkan dengan nabi ketika menyebut Mirza > Ghulam Ahmad sebetulnya adalah "wali" atau "mujaddid" dalam pengertian > kaum Sunni. > > Hal ini bisa dilihat, misalnya, dari cara mereka membeda-bedakan tiga > istilah, yakni "nabi independen" (naby mustaqill), "nabi tidak > independen" (naby ghayr mustaqill), dan "nabi bayangan" (naby > al-dzill). Nabi independen adalah pemuka agama yang membawa risalah > murni, seperti Musa, Isa, dan Muhammad. Nabi tidak independen adalah > pemuka agama yang meneruskan risalah nabi independen, seperti Harun > (dalam kasus Musa) dan Paulus (dalam kasus Isa). Sementara nabi > bayangan adalah pemuka agama yang menyebarluaskan risalah itu. > > Para pengikut Ahmadiyah Qadiyan memandang Mirza Ghulam Ahmad sebagai > naby ghayr mustaqill, sementara pengikut Ahmadiyah Lahore menganggap > Mirza sebagai naby al-dzill. Kedua sekte ini tetap menganggap Muhammad > sebagai nabi pamungkas (naby mustaqill) yang kedudukannya tak bisa > digantikan oleh siapa pun. > > Ketegangan yang terjadi dalam menyikapi Ahmadiyah selama ini > sesungguhnya dipicu oleh kesalahpahaman terhadap penggunaan istilah > "nabi". Baik Ahmadiyah maupun Sunni sama-sama bersalah. Ahmadiyah > bersalah karena menggunakan istilah yang tak bisa diterima dalam > teologi Sunni. Kaum Sunni bersalah karena tak mau mengerti bahwa > istilah nabi bisa dimaknai dengan beragam arti, tidak mesti hanya satu > makna saja seperti yang mereka pahami secara keliru selama ini.***** > > mediacare > http://www.mediacare.biz > > [Non-text portions of this message have been removed] > > --------------------------------- > Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search. > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > [Non-text portions of this message have been removed]

