Iya pertanyaan ini ditujukan kepada kaum fundamentalis juga.

Seperti yang saya pernah katakan dahulu, bahwa kaum Fundamentalis 
itu juga gak sama semua, gak jelek semuanya. Sama juga dengan kaum 
Liberalis. Dalam diri Rasulullah SAW itu ada sisi fundamental dan 
liberal. Tinggal kapan mesti fundamental kapan mesti liberal.

Kalau hanya diartikan Liberalis adalah kaum yang menyamakan semua 
agama, maka saya adalah fundamentalis.

Kalau hanya diartikan Fundamentalis adalah kaum yang menghalalkan 
darah kelompok lain, maka saya adalah Liberalis.

wassalam,
--- In [email protected], Nugroho Dewanto <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> 
> coba mbak lina tanya kaum fundamentalis.
> apakah mereka bisa bekerjasama dengan kelompok
> lain yang berbeda dengan mereka?
> 
> bukankah mereka selama ini yang bukan hanya
> gigih menolak bekerjasama tapi juga gemar menghina dan
> menyesatkan kelompok lain yang berbeda?
> 
> bahkan sudah berniat membunuh segala karena
> menganggap kelompok lain itu halal darahnya
> menurut tafsir yang mereka anut?
> 
> sebaliknya kelompok lain tak pernah sekalipun menganggap
> mereka sesat.
> 
> 
> At 11:32 AM 1/29/2008 +0000, you wrote:
> 
> 
> >--- In <mailto:ppiindia%
40yahoogroups.com>[email protected], 
> >"mediacare" <mediacare@> wrote:
> > >
> > > Tempo, Edisi. 49/XXXVI/28 Januari - 03 Februari 2008
> > >
> > > Nabi Pamungkas dan Nabi Sekunder
> > >
> > > Luthfi Assyaukanie
> > >
> > > Peneliti Freedom Institute dan Koordinator Jaringan Islam 
Liberal,
> >Jakarta
> > >
> > > Salah satu doktrin utama yang dijunjung tinggi kaum muslim 
adalah
> > > keyakinan tentang Muhammad sebagai nabi pamungkas (khatam
> > > al-nabiyyin). Begitu sucinya doktrin ini, para ulama 
berpandangan
> > > bahwa siapa saja yang melanggarnya dapat dianggap murtad atau
> >keluar
> > > dari Islam. Menurut hukum Islam (fikih), seorang yang murtad
> >haruslah
> > > dibunuh. Para ahli fikih sepakat bahwa pemerintahlah yang harus
> > > menjalankan hukuman, namun seorang ulama dari mazhab Syafi'i
> > > berpendapat bahwa hukuman itu bisa dilaksanakan secara 
individual
> >jika
> > > pemerintah tak mampu melaksanakannya.
> > >
> > > Mungkin karena doktrin fikih yang kaku itu, kaum muslim 
memusuhi
> >dan
> > > menyerang Ahmadiyah, sebuah aliran yang meyakini Mirza Ghulam 
Ahmad
> > > sebagai nabi. Baik di Pakistan (negara asal Ahmadiyah) maupun
> > > Indonesia, anggota Ahmadiyah dikecam, dikejar-kejar, dan 
properti
> > > mereka dirusak dan dibakar. Tanpa mau mengerti persoalan 
kompleks
> > > tentang konsep kenabian, kaum muslim meminta pemerintah 
membubarkan
> > > Ahmadiyah dan melarang sekte ini hidup di Indonesia.
> > >
> > > Doktrin khatam al-nabiyyin bukanlah milik kaum muslim saja, 
tapi ia
> > > juga milik semua agama. Setiap agama besar memiliki doktrin 
nabi
> > > pamungkas. Agama Yahudi menganggap Musa sebagai nabi pamungkas;
> >Agama
> > > Kristen menganggap Isa sebagai nabi pamungkas; dan agama Buddha
> > > menganggap Siddharta Gautama sebagai nabi pamungkas. Masing-
masing
> > > agama ini menjunjung tinggi doktrin khatam al-nabiyyin, dan 
akan
> > > menganggap siapa saja yang melanggarnya telah tersesat.
> > >
> > > Pada awal-awal kemunculan agama Kristen, kaum Yahudi menganggap
> > > pengikut Isa (Yesus) sebagai kaum heretik, karena mendaulat Isa
> >(bukan
> > > Musa) sebagai nabi pamungkas dan bahkan menganggapnya sebagai 
anak
> > > Tuhan. Begitu juga, pada masa-masa awal kemunculan Islam, kaum
> >Kristen
> > > di kawasan Bizantium (Kekristenan Timur) menganggap pengikut
> >Muhammad
> > > sebagai "sekte Kristen" yang sesat dan menyesatkan. Islam 
dianggap
> > > sekte sesat karena memperkenalkan nabi baru selain Isa, yakni
> > > Muhammad, sebagai nabi pamungkas.
> > >
> > > Sesat menyesatkan terhadap siapa saja yang menolak doktrin nabi
> > > pamungkas dalam suatu agama bukanlah unik milik Islam. Setiap 
agama
> > > baru selalu melewati proses semacam ini. Saya 
menyebutnya "proses
> > > heretisasi", yakni upaya menjauh dari pemahaman ortodoks. Jika
> >proses
> > > heretisasi berlangsung mulus, sebuah agama baru bakal muncul; 
jika
> > > tidak, konflik dan ketegangan akan terjadi.
> > >
> > > Proses heretisasi terjadi sepanjang sejarah. Orang-orang Yahudi
> > > menganggap Kristen sebagai agama heretis yang menyempal dari 
agama
> > > Yahudi. Begitu juga, kaum Kristen memandang Islam sebagai sekte
> >sesat
> > > yang menyempal dari agama Kristen. Pada gilirannya, kaum muslim
> > > menganggap Baha'i sebagai agama yang menyempal dari Islam. 
Baha'i
> > > tidak lagi dianggap sebagai bagian dari Islam karena para
> >pemeluknya
> > > tak mau menganggap Muhammad sebagai nabi pamungkas, tapi malah
> > > menjadikan pemimpin mereka, Baha'ullah, seorang alim dari 
Persia,
> > > sebagai gantinya.
> > >
> > > l l l
> > >
> > > Ahmadiyah, menurut saya, belum bisa dianggap sebagai agama 
baru,
> > > karena proses heretisasi dalam dirinya belum sempurna. Para
> >pengikut
> > > Ahmadiyah masih terbelah antara menerima Muhammad sebagai nabi
> > > pamungkas dan menganggap Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi baru.
> >Kecuali
> > > jika mereka sendiri yang mendeklarasikan Ahmadiyah sebagai 
agama
> >baru,
> > > tak seorang pun berhak menganggapnya demikian.
> > >
> > > Saya tidak tahu apakah ada anggota Ahmadiyah yang benar-benar
> > > menganggap Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi pamungkas. Setahu 
saya,
> > > dari sejumlah literatur tentang Ahmadiyah yang pernah saya 
baca,
> > > seluruh anggota Ahmadiyah di Indonesia tetap menganggap 
Muhammad
> > > sebagai nabi pamungkas, sedangkan Mirza Ghulam Ahmad dianggap
> >sebagai
> > > nabi sekunder yang kedudukannya lebih rendah daripada Nabi
> >Muhammad.
> > >
> > > Konsep nabi sekunder memang tidak dikenal dalam teologi Sunni.
> >Tapi,
> > > konsep itu dikenal secara luas dalam agama-agama lain, 
khususnya
> > > Yahudi dan Kristen. Orang-orang Yahudi, misalnya, menganggap 
Musa
> > > sebagai nabi pamungkas, tapi pada saat yang sama meyakini 
Isaiah,
> > > Jeremiah, Ezekiel, dan Daniel sebagai nabi juga, namun bersifat
> > > sekunder. Orang-orang Kristen menganggap Isa sebagai nabi
> >pamungkas,
> > > tapi pada saat yang sama bisa menerima Simon, James, Matius, 
dan
> > > Thomas sebagai nabi (rasul).
> > >
> > > Islam tidak mengadopsi teologi semacam itu, tapi mengembangkan
> > > doktrinnya sendiri tentang nabi sekunder. Kaum Syiah 
menyebutnya
> > > "imam", sedangkan kaum Sunni memiliki istilah yang beragam, 
seperti
> > > "wali", "ulama", dan "mujaddid" (pembaru). Baik imam maupun 
wali
> >(dan
> > > istilah lain dalam dunia Sunni) sesungguhnya memiliki posisi 
yang
> > > kurang-lebih sama dengan nabi sekunder dalam teologi Yahudi dan
> > > Kristen. Para imam dua belas (itsna asy'ariyah) bagi kaum 
Syi'ah
> > > memiliki kharisma dan posisi yang tak bisa disejajarkan dengan 
kaum
> > > muslim biasa. Kedudukan mereka hanya bisa dikalahkan oleh 
Muhammad,
> > > sang nabi pamungkas.
> > >
> > > Begitu juga, dalam dunia Sunni, para awliya (bentuk jamak dari
> >wali),
> > > ulama, maupun mujaddid memiliki kedudukan yang tinggi, 
disanjung,
> > > dihormati, dan didengar pandangan-pandangannya. Abdul Qadir
> > > al-Jailani, misalnya, adalah salah satu wali yang sangat 
dimuliakan
> > > kaum muslim Sunni. Begitu juga, Abu Hamid al-Ghazali merupakan
> >ulama
> > > yang menempati posisi sangat khusus di kalangan umat Islam. 
Begitu
> > > uniknya posisi Al-Ghazali sehingga Montgomery Watt, seorang
> >orientalis
> > > Inggris, menganggapnya sebagai muslim terbesar kedua setelah 
Nabi
> > > Muhammad.
> > >
> > > Mujaddid juga memiliki posisi unik yang bisa disejajarkan 
dengan
> > > konsep nabi sekunder dalam teologi Yahudi dan Kristen. Istilah
> > > mujaddid diperkenalkan oleh Nabi Muhammad sendiri dalam sebuah
> > > sabdanya: "Setiap 100 tahun Allah mengutus seorang mujaddid 
yang
> >akan
> > > memperbarui ajaran agama (Islam)." Tokoh Islam seperti Muhammad
> >Abduh
> > > (1849-1905), Ali Abd al-Raziq (1888-1966), dan Fazlur Rahman
> > > (1919-1988), adalah para pembaru Muslim yang dimaksudkan Nabi.
> >Tentu
> > > saja, istilah "100 tahun" tidak harus diartikan secara literal,
> >karena
> > > "100 tahun" yang dimaksud dalam hadis itu adalah masa yang
> >dibutuhkan
> > > suatu doktrin untuk menjadi kedaluwarsa. Dan itu harus 
diperbarui
> > > dalam setiap kurun waktu tertentu agar tetap segar.
> > >
> > > l l l
> > >
> > > Para teolog Sunni memang tidak menganggap wali atau ulama atau
> > > mujaddid sebagai nabi, tapi mereka memandang posisi mereka 
begitu
> > > tinggi, dan bahkan meletakkannya setingkat di bawah nabi. 
Ulama,
> > > misalnya, dianggap sebagai ahli waris para nabi (al-ulama 
waratsat
> > > al-anbiya).
> > >
> > > Sebenarnya, jika para pengikut Ahmadiyah menyebut Mirza Ghulam
> >Ahmad
> > > sebagai wali, atau ulama, atau mujaddid, pasti tidak akan ada
> >masalah.
> > > Sayangnya, mereka lebih memilih bersitegang dengan ortodoksi 
Sunni
> > > dengan tetap menggunakan istilah "nabi" untuk pemimpin mereka.
> > > Padahal, yang mereka maksudkan dengan nabi ketika menyebut 
Mirza
> > > Ghulam Ahmad sebetulnya adalah "wali" atau "mujaddid" dalam
> >pengertian
> > > kaum Sunni.
> > >
> > > Hal ini bisa dilihat, misalnya, dari cara mereka membeda-
bedakan
> >tiga
> > > istilah, yakni "nabi independen" (naby mustaqill), "nabi tidak
> > > independen" (naby ghayr mustaqill), dan "nabi bayangan" (naby
> > > al-dzill). Nabi independen adalah pemuka agama yang membawa 
risalah
> > > murni, seperti Musa, Isa, dan Muhammad. Nabi tidak independen
> >adalah
> > > pemuka agama yang meneruskan risalah nabi independen, seperti 
Harun
> > > (dalam kasus Musa) dan Paulus (dalam kasus Isa). Sementara nabi
> > > bayangan adalah pemuka agama yang menyebarluaskan risalah itu.
> > >
> > > Para pengikut Ahmadiyah Qadiyan memandang Mirza Ghulam Ahmad
> >sebagai
> > > naby ghayr mustaqill, sementara pengikut Ahmadiyah Lahore
> >menganggap
> > > Mirza sebagai naby al-dzill. Kedua sekte ini tetap menganggap
> >Muhammad
> > > sebagai nabi pamungkas (naby mustaqill) yang kedudukannya tak 
bisa
> > > digantikan oleh siapa pun.
> > >
> > > Ketegangan yang terjadi dalam menyikapi Ahmadiyah selama ini
> > > sesungguhnya dipicu oleh kesalahpahaman terhadap penggunaan 
istilah
> > > "nabi". Baik Ahmadiyah maupun Sunni sama-sama bersalah. 
Ahmadiyah
> > > bersalah karena menggunakan istilah yang tak bisa diterima 
dalam
> > > teologi Sunni. Kaum Sunni bersalah karena tak mau mengerti 
bahwa
> > > istilah nabi bisa dimaknai dengan beragam arti, tidak mesti 
hanya
> >satu
> > > makna saja seperti yang mereka pahami secara keliru selama
> >ini.*****
> >
> >Lina:
> >Lalu menurut Assyaukanie sendiri apa sih makna nabi yang beragam 
itu
> >dan apa dasarnya?
> >
> >Saya kira masalah Ahmadiyah dan MUI, bukan hanya terletak
> >pada "istilah nabi". Lebih dari itu. Apalagi kalau dibaca buku2
> >karya MGA itu sendiri.
> >
> >Saya tetap menghargai usaha Assyaukanie untuk mempertemukan agama-
> >agama, tapi juga jangan terlalu maksa menyama-nyamakan yang memang
> >tidak bisa disamakan.
> >
> >Saya pikir yang lebih penting adalah bagaimana supaya kita bisa
> >menghargai perbedaan sehingga bisa bekerja sama dalam membangun
> >negara ini. Kaum Islam Liberalis bisa bekerja sama dengan kaum
> >Fundamentalis dalam membangun negara ini tanpa harus menyinggung
> >perbedaan2 yang ada antara keduanya. Bisa gak, ya?
> >
> >wassalam,
> 
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke