Saya menjadi percaya ketika seorang teman mengatakan bahwa orang2 
Ahmadi itu orang yang rajin dan pandai mengemas barang "dagangannya"
sedemikian  rupa menyerupai reklame pil Tuntas di Indonesia yang 
bunyinya TAS ... TAS  ...  TAS.

Saya dapat membaca kemana arah tujuan thesaintsnow dengan tulisannya 
ini. Tujuannya nanti adalah untuk melegitimasi MGA sebagai Mahdi 
yang ditunggu-tunggu karena Isa as sudah benar2 wafat dan tidak akan 
bangkit dari kubur. Lalu yang disebut Mahdi adalah seseorang yang 
membawa sifat2 Isa as, yaitu Bahaulah (menurut gol Bahai) dan MGA 
(menurut Ahmadiyah), dan Imam2 yang masih grahib bagi Syiah.

Saya jadi teringat akan 12 butir kesepakatan Ahmadiyah dengan MUI, 
dimana akhirnya Ahmadiyah (harus) mengakui bahwa MGA bukanlah Nabi 
agar bisa di terima oleh main stream Islam. Dan saya jadi 
menghubungkan dengan hal Mahdi ini. Ahmadi bersepakat utk tidak 
mengakui MGA sbg nabi, tapi mereka berjuang untuk melegitimasi MGA 
sebagai Mahdi.

Sedangkan bagaimana pendapat ahli sunnah, saya baca dari pendapat 
HAMKA bahwa ahli sunnah tidak pernah menempatkan masalah datang 
kembalinya Nabi Isa as ini sebagai suatu hal prinsipiil (tidak 
termaktub dalam Rukun Iman) karena banyaknya hadist2 dhaif bahkan 
palsu tentang turunnya Isa as ini dan karena memang AlQur'an tidak 
memberikan keterangan yang jelas akan hal ini. Sayangnya hadist2 
palsu ini kemudian dipakai oleh Syiah, Bahai dan Ahmadiyah dan 
dihubung2kan dengan ayat2 AlQur'an yang menjelaskan "Sesungguhnya 
Aku mewafatkan engkau dan mengangkatkan engkau kepadaKu.". Bagi 
Syiah, Bahai, Ahmadiyah hal ini menjadi keyakinan yang prinsipiil, 
karena keyakinan ini menjadi cikal bakal keyakinan akan mahdi-mahdi 
mereka. 

wassalam,
--- In [email protected], "Thesaints Now" <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> Perlu diketahui bahwa AHMADIYAH tidaklah SALAH menganggap MGA 
sebagai
> penyempurnaan janji RASULULLAH saw akan kedatangan NABIULLAH ISA 
as yang
> kedua kali.
> 
> Karena AHMADIYAH PERCAYA NABI ISA as Israili telah WAFAT lebih 
kurang 2000
> tahun yang lalu maka landasan TAFSIR AHMADIYAH mempercayai MGA 
adalah
> berdasarkan keyakinan akan KEWAFATAN ISA as. Konsekuensinya 
AHMADIYAH tidak
> akan mengakui NABI ISA yang sudah wafat itu akan bangkit lagi dari 
kubur
> atau turun dari langit terbang ke bumi.
> 
> Jika ISA AS Israili sudah wafat maka kedatangan NABIULLAH ISA yang
> dijanjikan Rasulullah saw itu harus ditakwilkan karena ISA AS 
ISRAILI yang
> sudah WAFAT tidak akan bangkit lagi dari kubur atau menurut 
AHMADIYAH tidak
> naik ke langit sehingga tidak akan turun dari langit terbang 
bersama
> malaikat dan dilihat oleh seluruh umat.
> 
> Dari sisi ini ada PERSAMAAN di antara AHMADIYAH dan SUNNI maupun 
SYIAH bahwa
> sebenarnya Mereka mengenal ADANYA NABI SEKUNDER yang akan datang 
setelah
> RASULULLAH saw yaitu NABI ISA as.
> 
> Dari segi FUNGSI kedatangan seorang NABI, kita bisa mengatakan 
sebenarnya
> TIDAK ADA yang BERBEDA FUNGSINYA baik NABI ISA as itu turun dari 
langit
> maupun datang dari UMAT ISLAM. Fungsi KENABIAN itu adalah 
meneruskan misi
> dan risalah yang dibawa RASULULLAH SAW. Dan Kenabian itu TIDAK 
membatalkan
> KEPAMUNGKASAN KENABIAN RASULULLAH SAW.
> 
> PERBEDAAN besar SUNI dan AHMADIYAH bukan terletak dari AKAN DATANG 
atau
> TIDAKNYA NABI sekunder setelah RASULULLAH SAW tetapi dari cara 
datangnya.
> 
> MAYORITAS SUNNI menunggu kedatangan NABI ISA as yang dijanjikan 
RASULULLAH
> saw yaitu NABI ISA as ISRAILI yang dulu dianggap naik ke langit 
dan masih
> hidup lebih dari 2000 tahun yang lalu dan nanti katanya akan turun 
lagi
> terbang ke bumi.
> 
> SEDANGKAN AHMADIYAH karena percaya NABI ISA AS menurut QURAN dan 
HADITS
> sudah WAFAT dan menurut AKAL serta ILMU pengetahuan ANTARIKSA juga
> mendukungnya, maka konsekuensinya janji Rasulullah akan datangnya 
NABIULLAH
> ISA as itu harus ditakwilkan dan datang dari antara UMAT ISLAM 
sendiri. HAL
> ini juga menurut AHMADIYAH selaras dengan sejarah kenabian, dimana 
KAUM
> YAHUDI gagal mengenali NABI ELIA yang dinubuatkan akan turun dari 
langit
> untuk menjadi pembuka jalan BAGI AL MASIH tetapi ternyata 
kedatangan ELIA
> yang dijanjikan itu sempurna dari KAUM YAHUDI  yaitu pada WUJUD 
NABI YAHYA
> yang dikuatkan oleh AL MASIH ISA ibnu MARYAM Sendiri.
> 
> Kesimpulannya :  sebenarnya KONSEP NABi sekunder yang akan 
meneruskan
> risalah NABI MUHAMMAD saw bukanlah hal yang tidak DIKENAL bahkan 
boleh
> dikatakan menjadi bagian dari kepercayaan SUNNI maupun SYIAH jauh 
sebelum
> AHMADIYAH hadir.
> 
> Saya pikir Luthfi juga mengetahui Keyakinan yang dipegang oleh 
Kaum Sunni
> maupun Syiah bahwa ada NABI sekunder yang akan mengikuti ajaran 
ISLAM,
> ajaran Rasulullah saw yang akan datang setelah Rasulullah saw 
wafat yaitu
> NABIULLAH ISA.
> 
> Jadi sebenarnya SUNNI, SYIAH dan AHMADIYAH SAMA dalam hal ini 
meyakini
> adanya NABI sekunder yang akan datang setelah Rasulullah saw. 
Bedanya
> hanyalah pada perwujudannya saja. Jadi dalam kasus AHMADIYAH di 
Indonesia
> yang SALAH dan keliru adalah kaum SUNI yang menolak dan melupakan 
keyakinan
> ADA NABI sekunder yang akan datang sesudah NABI MUHAMAD saw yang 
tidak
> membatalkan KEPAMUNGKASAN NABI MUHAMMAD SAW. Keyakinan ini bahkan 
sudah
> menjadi bagian dari ISLAM ribuan tahun lamanya jauh sebelum 
AHMADIYAH
> berdiri.
> 
> Kita sendiri mau percaya yang mana ?
> 
> Percaya NABI ISA as masih hidup di langit sudah lebih dari 2000 
tahun yang
> lalu dan kemudian Menunggu NABI ISA as turun dari langit terbang 
ke bumi
> untuk nanti diimani oleh umat manusia sebagai NABi dan hakim yang 
ADIL?
> 
> Percaya Nabi Isa as sudah wafat sebagaimana manusia dan nabi-nabi 
lainnya
> dan terkubur di bumi. Dengan demikian karena ISA as sudah wafat 
maka NABI
> ISA as tidak akan pernah akan datang lagi. Kepercayaan akan 
datangnya nabi
> ISA as kedua kali harus ditinggalkan?
> 
> Atau menurut AHMADIYAH.
> NABI Isa as sudah wafat sehingga janji kedatangan NABIULLAH Isa as 
yang
> kedua kali harus ditakwilkan sebagaimana NABI ISA as sendiri 
menakwilkan
> Kedatangan Elia yang kedua dalam wujud NABI YAHYA?
> 
> Untuk hal ini saya rasa semua dipersilahkan untuk memilih dan 
tidak perlu
> ada satu pihak ingin MEMAKSAKAN KEHENDAKNYA kepada yang lain 
apalagi ingin
> menghancurkan dan Membubarkan yang lain yang BERBEDA 
PENAFSIRANNYA.......
> 
> 
> 
> On 1/29/08, mediacare <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> >   Tempo, Edisi. 49/XXXVI/28 Januari - 03 Februari 2008
> >
> > Nabi Pamungkas dan Nabi Sekunder
> >
> > Luthfi Assyaukanie
> >
> > Peneliti Freedom Institute dan Koordinator Jaringan Islam 
Liberal, Jakarta
> >
> > Salah satu doktrin utama yang dijunjung tinggi kaum muslim adalah
> > keyakinan tentang Muhammad sebagai nabi pamungkas (khatam
> > al-nabiyyin). Begitu sucinya doktrin ini, para ulama berpandangan
> > bahwa siapa saja yang melanggarnya dapat dianggap murtad atau 
keluar
> > dari Islam. Menurut hukum Islam (fikih), seorang yang murtad 
haruslah
> > dibunuh. Para ahli fikih sepakat bahwa pemerintahlah yang harus
> > menjalankan hukuman, namun seorang ulama dari mazhab Syafi'i
> > berpendapat bahwa hukuman itu bisa dilaksanakan secara 
individual jika
> > pemerintah tak mampu melaksanakannya.
> >
> > Mungkin karena doktrin fikih yang kaku itu, kaum muslim memusuhi 
dan
> > menyerang Ahmadiyah, sebuah aliran yang meyakini Mirza Ghulam 
Ahmad
> > sebagai nabi. Baik di Pakistan (negara asal Ahmadiyah) maupun
> > Indonesia, anggota Ahmadiyah dikecam, dikejar-kejar, dan properti
> > mereka dirusak dan dibakar. Tanpa mau mengerti persoalan kompleks
> > tentang konsep kenabian, kaum muslim meminta pemerintah 
membubarkan
> > Ahmadiyah dan melarang sekte ini hidup di Indonesia.
> >
> > Doktrin khatam al-nabiyyin bukanlah milik kaum muslim saja, tapi 
ia
> > juga milik semua agama. Setiap agama besar memiliki doktrin nabi
> > pamungkas. Agama Yahudi menganggap Musa sebagai nabi pamungkas; 
Agama
> > Kristen menganggap Isa sebagai nabi pamungkas; dan agama Buddha
> > menganggap Siddharta Gautama sebagai nabi pamungkas. Masing-
masing
> > agama ini menjunjung tinggi doktrin khatam al-nabiyyin, dan akan
> > menganggap siapa saja yang melanggarnya telah tersesat.
> >
> > Pada awal-awal kemunculan agama Kristen, kaum Yahudi menganggap
> > pengikut Isa (Yesus) sebagai kaum heretik, karena mendaulat Isa 
(bukan
> > Musa) sebagai nabi pamungkas dan bahkan menganggapnya sebagai 
anak
> > Tuhan. Begitu juga, pada masa-masa awal kemunculan Islam, kaum 
Kristen
> > di kawasan Bizantium (Kekristenan Timur) menganggap pengikut 
Muhammad
> > sebagai "sekte Kristen" yang sesat dan menyesatkan. Islam 
dianggap
> > sekte sesat karena memperkenalkan nabi baru selain Isa, yakni
> > Muhammad, sebagai nabi pamungkas.
> >
> > Sesat menyesatkan terhadap siapa saja yang menolak doktrin nabi
> > pamungkas dalam suatu agama bukanlah unik milik Islam. Setiap 
agama
> > baru selalu melewati proses semacam ini. Saya menyebutnya "proses
> > heretisasi", yakni upaya menjauh dari pemahaman ortodoks. Jika 
proses
> > heretisasi berlangsung mulus, sebuah agama baru bakal muncul; 
jika
> > tidak, konflik dan ketegangan akan terjadi.
> >
> > Proses heretisasi terjadi sepanjang sejarah. Orang-orang Yahudi
> > menganggap Kristen sebagai agama heretis yang menyempal dari 
agama
> > Yahudi. Begitu juga, kaum Kristen memandang Islam sebagai sekte 
sesat
> > yang menyempal dari agama Kristen. Pada gilirannya, kaum muslim
> > menganggap Baha'i sebagai agama yang menyempal dari Islam. Baha'i
> > tidak lagi dianggap sebagai bagian dari Islam karena para 
pemeluknya
> > tak mau menganggap Muhammad sebagai nabi pamungkas, tapi malah
> > menjadikan pemimpin mereka, Baha'ullah, seorang alim dari Persia,
> > sebagai gantinya.
> >
> > l l l
> >
> > Ahmadiyah, menurut saya, belum bisa dianggap sebagai agama baru,
> > karena proses heretisasi dalam dirinya belum sempurna. Para 
pengikut
> > Ahmadiyah masih terbelah antara menerima Muhammad sebagai nabi
> > pamungkas dan menganggap Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi baru. 
Kecuali
> > jika mereka sendiri yang mendeklarasikan Ahmadiyah sebagai agama 
baru,
> > tak seorang pun berhak menganggapnya demikian.
> >
> > Saya tidak tahu apakah ada anggota Ahmadiyah yang benar-benar
> > menganggap Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi pamungkas. Setahu 
saya,
> > dari sejumlah literatur tentang Ahmadiyah yang pernah saya baca,
> > seluruh anggota Ahmadiyah di Indonesia tetap menganggap Muhammad
> > sebagai nabi pamungkas, sedangkan Mirza Ghulam Ahmad dianggap 
sebagai
> > nabi sekunder yang kedudukannya lebih rendah daripada Nabi 
Muhammad.
> >
> > Konsep nabi sekunder memang tidak dikenal dalam teologi Sunni. 
Tapi,
> > konsep itu dikenal secara luas dalam agama-agama lain, khususnya
> > Yahudi dan Kristen. Orang-orang Yahudi, misalnya, menganggap Musa
> > sebagai nabi pamungkas, tapi pada saat yang sama meyakini Isaiah,
> > Jeremiah, Ezekiel, dan Daniel sebagai nabi juga, namun bersifat
> > sekunder. Orang-orang Kristen menganggap Isa sebagai nabi 
pamungkas,
> > tapi pada saat yang sama bisa menerima Simon, James, Matius, dan
> > Thomas sebagai nabi (rasul).
> >
> > Islam tidak mengadopsi teologi semacam itu, tapi mengembangkan
> > doktrinnya sendiri tentang nabi sekunder. Kaum Syiah menyebutnya
> > "imam", sedangkan kaum Sunni memiliki istilah yang beragam, 
seperti
> > "wali", "ulama", dan "mujaddid" (pembaru). Baik imam maupun wali 
(dan
> > istilah lain dalam dunia Sunni) sesungguhnya memiliki posisi yang
> > kurang-lebih sama dengan nabi sekunder dalam teologi Yahudi dan
> > Kristen. Para imam dua belas (itsna asy'ariyah) bagi kaum Syi'ah
> > memiliki kharisma dan posisi yang tak bisa disejajarkan dengan 
kaum
> > muslim biasa. Kedudukan mereka hanya bisa dikalahkan oleh 
Muhammad,
> > sang nabi pamungkas.
> >
> > Begitu juga, dalam dunia Sunni, para awliya (bentuk jamak dari 
wali),
> > ulama, maupun mujaddid memiliki kedudukan yang tinggi, disanjung,
> > dihormati, dan didengar pandangan-pandangannya. Abdul Qadir
> > al-Jailani, misalnya, adalah salah satu wali yang sangat 
dimuliakan
> > kaum muslim Sunni. Begitu juga, Abu Hamid al-Ghazali merupakan 
ulama
> > yang menempati posisi sangat khusus di kalangan umat Islam. 
Begitu
> > uniknya posisi Al-Ghazali sehingga Montgomery Watt, seorang 
orientalis
> > Inggris, menganggapnya sebagai muslim terbesar kedua setelah Nabi
> > Muhammad.
> >
> > Mujaddid juga memiliki posisi unik yang bisa disejajarkan dengan
> > konsep nabi sekunder dalam teologi Yahudi dan Kristen. Istilah
> > mujaddid diperkenalkan oleh Nabi Muhammad sendiri dalam sebuah
> > sabdanya: "Setiap 100 tahun Allah mengutus seorang mujaddid yang 
akan
> > memperbarui ajaran agama (Islam)." Tokoh Islam seperti Muhammad 
Abduh
> > (1849-1905), Ali Abd al-Raziq (1888-1966), dan Fazlur Rahman
> > (1919-1988), adalah para pembaru Muslim yang dimaksudkan Nabi. 
Tentu
> > saja, istilah "100 tahun" tidak harus diartikan secara literal, 
karena
> > "100 tahun" yang dimaksud dalam hadis itu adalah masa yang 
dibutuhkan
> > suatu doktrin untuk menjadi kedaluwarsa. Dan itu harus diperbarui
> > dalam setiap kurun waktu tertentu agar tetap segar.
> >
> > l l l
> >
> > Para teolog Sunni memang tidak menganggap wali atau ulama atau
> > mujaddid sebagai nabi, tapi mereka memandang posisi mereka begitu
> > tinggi, dan bahkan meletakkannya setingkat di bawah nabi. Ulama,
> > misalnya, dianggap sebagai ahli waris para nabi (al-ulama 
waratsat
> > al-anbiya).
> >
> > Sebenarnya, jika para pengikut Ahmadiyah menyebut Mirza Ghulam 
Ahmad
> > sebagai wali, atau ulama, atau mujaddid, pasti tidak akan ada 
masalah.
> > Sayangnya, mereka lebih memilih bersitegang dengan ortodoksi 
Sunni
> > dengan tetap menggunakan istilah "nabi" untuk pemimpin mereka.
> > Padahal, yang mereka maksudkan dengan nabi ketika menyebut Mirza
> > Ghulam Ahmad sebetulnya adalah "wali" atau "mujaddid" dalam 
pengertian
> > kaum Sunni.
> >
> > Hal ini bisa dilihat, misalnya, dari cara mereka membeda-bedakan 
tiga
> > istilah, yakni "nabi independen" (naby mustaqill), "nabi tidak
> > independen" (naby ghayr mustaqill), dan "nabi bayangan" (naby
> > al-dzill). Nabi independen adalah pemuka agama yang membawa 
risalah
> > murni, seperti Musa, Isa, dan Muhammad. Nabi tidak independen 
adalah
> > pemuka agama yang meneruskan risalah nabi independen, seperti 
Harun
> > (dalam kasus Musa) dan Paulus (dalam kasus Isa). Sementara nabi
> > bayangan adalah pemuka agama yang menyebarluaskan risalah itu.
> >
> > Para pengikut Ahmadiyah Qadiyan memandang Mirza Ghulam Ahmad 
sebagai
> > naby ghayr mustaqill, sementara pengikut Ahmadiyah Lahore 
menganggap
> > Mirza sebagai naby al-dzill. Kedua sekte ini tetap menganggap 
Muhammad
> > sebagai nabi pamungkas (naby mustaqill) yang kedudukannya tak 
bisa
> > digantikan oleh siapa pun.
> >
> > Ketegangan yang terjadi dalam menyikapi Ahmadiyah selama ini
> > sesungguhnya dipicu oleh kesalahpahaman terhadap penggunaan 
istilah
> > "nabi". Baik Ahmadiyah maupun Sunni sama-sama bersalah. Ahmadiyah
> > bersalah karena menggunakan istilah yang tak bisa diterima dalam
> > teologi Sunni. Kaum Sunni bersalah karena tak mau mengerti bahwa
> > istilah nabi bisa dimaknai dengan beragam arti, tidak mesti 
hanya satu
> > makna saja seperti yang mereka pahami secara keliru selama 
ini.*****
> >
> > mediacare
> > http://www.mediacare.biz
> >
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> >
> > 
> >
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke