Mbak Lina, untuk menanggapi ini agar bisa diresponse langsung oleh penulisnya 
saya sarankan untuk bergabung di milis JIL. 



  ----- Original Message ----- 
  From: Lina Dahlan 
  To: [email protected] 
  Sent: Tuesday, January 29, 2008 6:32 PM
  Subject: [ppiindia] Re: Nabi Pamungkas dan Nabi Sekunder



  --- In [email protected], "mediacare" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  >
  > Tempo, Edisi. 49/XXXVI/28 Januari - 03 Februari 2008
  > 
  > Nabi Pamungkas dan Nabi Sekunder
  > 
  > Luthfi Assyaukanie
  > 
  > Peneliti Freedom Institute dan Koordinator Jaringan Islam Liberal, 
  Jakarta
  > 
  > Salah satu doktrin utama yang dijunjung tinggi kaum muslim adalah
  > keyakinan tentang Muhammad sebagai nabi pamungkas (khatam
  > al-nabiyyin). Begitu sucinya doktrin ini, para ulama berpandangan
  > bahwa siapa saja yang melanggarnya dapat dianggap murtad atau 
  keluar
  > dari Islam. Menurut hukum Islam (fikih), seorang yang murtad 
  haruslah
  > dibunuh. Para ahli fikih sepakat bahwa pemerintahlah yang harus
  > menjalankan hukuman, namun seorang ulama dari mazhab Syafi'i
  > berpendapat bahwa hukuman itu bisa dilaksanakan secara individual 
  jika
  > pemerintah tak mampu melaksanakannya.
  > 
  > Mungkin karena doktrin fikih yang kaku itu, kaum muslim memusuhi 
  dan
  > menyerang Ahmadiyah, sebuah aliran yang meyakini Mirza Ghulam Ahmad
  > sebagai nabi. Baik di Pakistan (negara asal Ahmadiyah) maupun
  > Indonesia, anggota Ahmadiyah dikecam, dikejar-kejar, dan properti
  > mereka dirusak dan dibakar. Tanpa mau mengerti persoalan kompleks
  > tentang konsep kenabian, kaum muslim meminta pemerintah membubarkan
  > Ahmadiyah dan melarang sekte ini hidup di Indonesia.
  > 
  > Doktrin khatam al-nabiyyin bukanlah milik kaum muslim saja, tapi ia
  > juga milik semua agama. Setiap agama besar memiliki doktrin nabi
  > pamungkas. Agama Yahudi menganggap Musa sebagai nabi pamungkas; 
  Agama
  > Kristen menganggap Isa sebagai nabi pamungkas; dan agama Buddha
  > menganggap Siddharta Gautama sebagai nabi pamungkas. Masing-masing
  > agama ini menjunjung tinggi doktrin khatam al-nabiyyin, dan akan
  > menganggap siapa saja yang melanggarnya telah tersesat.
  > 
  > Pada awal-awal kemunculan agama Kristen, kaum Yahudi menganggap
  > pengikut Isa (Yesus) sebagai kaum heretik, karena mendaulat Isa 
  (bukan
  > Musa) sebagai nabi pamungkas dan bahkan menganggapnya sebagai anak
  > Tuhan. Begitu juga, pada masa-masa awal kemunculan Islam, kaum 
  Kristen
  > di kawasan Bizantium (Kekristenan Timur) menganggap pengikut 
  Muhammad
  > sebagai "sekte Kristen" yang sesat dan menyesatkan. Islam dianggap
  > sekte sesat karena memperkenalkan nabi baru selain Isa, yakni
  > Muhammad, sebagai nabi pamungkas.
  > 
  > Sesat menyesatkan terhadap siapa saja yang menolak doktrin nabi
  > pamungkas dalam suatu agama bukanlah unik milik Islam. Setiap agama
  > baru selalu melewati proses semacam ini. Saya menyebutnya "proses
  > heretisasi", yakni upaya menjauh dari pemahaman ortodoks. Jika 
  proses
  > heretisasi berlangsung mulus, sebuah agama baru bakal muncul; jika
  > tidak, konflik dan ketegangan akan terjadi.
  > 
  > Proses heretisasi terjadi sepanjang sejarah. Orang-orang Yahudi
  > menganggap Kristen sebagai agama heretis yang menyempal dari agama
  > Yahudi. Begitu juga, kaum Kristen memandang Islam sebagai sekte 
  sesat
  > yang menyempal dari agama Kristen. Pada gilirannya, kaum muslim
  > menganggap Baha'i sebagai agama yang menyempal dari Islam. Baha'i
  > tidak lagi dianggap sebagai bagian dari Islam karena para 
  pemeluknya
  > tak mau menganggap Muhammad sebagai nabi pamungkas, tapi malah
  > menjadikan pemimpin mereka, Baha'ullah, seorang alim dari Persia,
  > sebagai gantinya.
  > 
  > l l l
  > 
  > Ahmadiyah, menurut saya, belum bisa dianggap sebagai agama baru,
  > karena proses heretisasi dalam dirinya belum sempurna. Para 
  pengikut
  > Ahmadiyah masih terbelah antara menerima Muhammad sebagai nabi
  > pamungkas dan menganggap Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi baru. 
  Kecuali
  > jika mereka sendiri yang mendeklarasikan Ahmadiyah sebagai agama 
  baru,
  > tak seorang pun berhak menganggapnya demikian.
  > 
  > Saya tidak tahu apakah ada anggota Ahmadiyah yang benar-benar
  > menganggap Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi pamungkas. Setahu saya,
  > dari sejumlah literatur tentang Ahmadiyah yang pernah saya baca,
  > seluruh anggota Ahmadiyah di Indonesia tetap menganggap Muhammad
  > sebagai nabi pamungkas, sedangkan Mirza Ghulam Ahmad dianggap 
  sebagai
  > nabi sekunder yang kedudukannya lebih rendah daripada Nabi 
  Muhammad.
  > 
  > Konsep nabi sekunder memang tidak dikenal dalam teologi Sunni. 
  Tapi,
  > konsep itu dikenal secara luas dalam agama-agama lain, khususnya
  > Yahudi dan Kristen. Orang-orang Yahudi, misalnya, menganggap Musa
  > sebagai nabi pamungkas, tapi pada saat yang sama meyakini Isaiah,
  > Jeremiah, Ezekiel, dan Daniel sebagai nabi juga, namun bersifat
  > sekunder. Orang-orang Kristen menganggap Isa sebagai nabi 
  pamungkas,
  > tapi pada saat yang sama bisa menerima Simon, James, Matius, dan
  > Thomas sebagai nabi (rasul).
  > 
  > Islam tidak mengadopsi teologi semacam itu, tapi mengembangkan
  > doktrinnya sendiri tentang nabi sekunder. Kaum Syiah menyebutnya
  > "imam", sedangkan kaum Sunni memiliki istilah yang beragam, seperti
  > "wali", "ulama", dan "mujaddid" (pembaru). Baik imam maupun wali 
  (dan
  > istilah lain dalam dunia Sunni) sesungguhnya memiliki posisi yang
  > kurang-lebih sama dengan nabi sekunder dalam teologi Yahudi dan
  > Kristen. Para imam dua belas (itsna asy'ariyah) bagi kaum Syi'ah
  > memiliki kharisma dan posisi yang tak bisa disejajarkan dengan kaum
  > muslim biasa. Kedudukan mereka hanya bisa dikalahkan oleh Muhammad,
  > sang nabi pamungkas.
  > 
  > Begitu juga, dalam dunia Sunni, para awliya (bentuk jamak dari 
  wali),
  > ulama, maupun mujaddid memiliki kedudukan yang tinggi, disanjung,
  > dihormati, dan didengar pandangan-pandangannya. Abdul Qadir
  > al-Jailani, misalnya, adalah salah satu wali yang sangat dimuliakan
  > kaum muslim Sunni. Begitu juga, Abu Hamid al-Ghazali merupakan 
  ulama
  > yang menempati posisi sangat khusus di kalangan umat Islam. Begitu
  > uniknya posisi Al-Ghazali sehingga Montgomery Watt, seorang 
  orientalis
  > Inggris, menganggapnya sebagai muslim terbesar kedua setelah Nabi
  > Muhammad.
  > 
  > Mujaddid juga memiliki posisi unik yang bisa disejajarkan dengan
  > konsep nabi sekunder dalam teologi Yahudi dan Kristen. Istilah
  > mujaddid diperkenalkan oleh Nabi Muhammad sendiri dalam sebuah
  > sabdanya: "Setiap 100 tahun Allah mengutus seorang mujaddid yang 
  akan
  > memperbarui ajaran agama (Islam)." Tokoh Islam seperti Muhammad 
  Abduh
  > (1849-1905), Ali Abd al-Raziq (1888-1966), dan Fazlur Rahman
  > (1919-1988), adalah para pembaru Muslim yang dimaksudkan Nabi. 
  Tentu
  > saja, istilah "100 tahun" tidak harus diartikan secara literal, 
  karena
  > "100 tahun" yang dimaksud dalam hadis itu adalah masa yang 
  dibutuhkan
  > suatu doktrin untuk menjadi kedaluwarsa. Dan itu harus diperbarui
  > dalam setiap kurun waktu tertentu agar tetap segar.
  > 
  > l l l
  > 
  > Para teolog Sunni memang tidak menganggap wali atau ulama atau
  > mujaddid sebagai nabi, tapi mereka memandang posisi mereka begitu
  > tinggi, dan bahkan meletakkannya setingkat di bawah nabi. Ulama,
  > misalnya, dianggap sebagai ahli waris para nabi (al-ulama waratsat
  > al-anbiya).
  > 
  > Sebenarnya, jika para pengikut Ahmadiyah menyebut Mirza Ghulam 
  Ahmad
  > sebagai wali, atau ulama, atau mujaddid, pasti tidak akan ada 
  masalah.
  > Sayangnya, mereka lebih memilih bersitegang dengan ortodoksi Sunni
  > dengan tetap menggunakan istilah "nabi" untuk pemimpin mereka.
  > Padahal, yang mereka maksudkan dengan nabi ketika menyebut Mirza
  > Ghulam Ahmad sebetulnya adalah "wali" atau "mujaddid" dalam 
  pengertian
  > kaum Sunni.
  > 
  > Hal ini bisa dilihat, misalnya, dari cara mereka membeda-bedakan 
  tiga
  > istilah, yakni "nabi independen" (naby mustaqill), "nabi tidak
  > independen" (naby ghayr mustaqill), dan "nabi bayangan" (naby
  > al-dzill). Nabi independen adalah pemuka agama yang membawa risalah
  > murni, seperti Musa, Isa, dan Muhammad. Nabi tidak independen 
  adalah
  > pemuka agama yang meneruskan risalah nabi independen, seperti Harun
  > (dalam kasus Musa) dan Paulus (dalam kasus Isa). Sementara nabi
  > bayangan adalah pemuka agama yang menyebarluaskan risalah itu.
  > 
  > Para pengikut Ahmadiyah Qadiyan memandang Mirza Ghulam Ahmad 
  sebagai
  > naby ghayr mustaqill, sementara pengikut Ahmadiyah Lahore 
  menganggap
  > Mirza sebagai naby al-dzill. Kedua sekte ini tetap menganggap 
  Muhammad
  > sebagai nabi pamungkas (naby mustaqill) yang kedudukannya tak bisa
  > digantikan oleh siapa pun.
  > 
  > Ketegangan yang terjadi dalam menyikapi Ahmadiyah selama ini
  > sesungguhnya dipicu oleh kesalahpahaman terhadap penggunaan istilah
  > "nabi". Baik Ahmadiyah maupun Sunni sama-sama bersalah. Ahmadiyah
  > bersalah karena menggunakan istilah yang tak bisa diterima dalam
  > teologi Sunni. Kaum Sunni bersalah karena tak mau mengerti bahwa
  > istilah nabi bisa dimaknai dengan beragam arti, tidak mesti hanya 
  satu
  > makna saja seperti yang mereka pahami secara keliru selama 
  ini.***** 

  Lina:
  Lalu menurut Assyaukanie sendiri apa sih makna nabi yang beragam itu 
  dan apa dasarnya? 

  Saya kira masalah Ahmadiyah dan MUI, bukan hanya terletak 
  pada "istilah nabi". Lebih dari itu. Apalagi kalau dibaca buku2 
  karya MGA itu sendiri. 

  Saya tetap menghargai usaha Assyaukanie untuk mempertemukan agama-
  agama, tapi juga jangan terlalu maksa menyama-nyamakan yang memang 
  tidak bisa disamakan.

  Saya pikir yang lebih penting adalah bagaimana supaya kita bisa 
  menghargai perbedaan sehingga bisa bekerja sama dalam membangun 
  negara ini. Kaum Islam Liberalis bisa bekerja sama dengan kaum 
  Fundamentalis dalam membangun negara ini tanpa harus menyinggung 
  perbedaan2 yang ada antara keduanya. Bisa gak, ya?

  wassalam,



   


------------------------------------------------------------------------------


  No virus found in this incoming message.
  Checked by AVG Free Edition. 
  Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.19.15/1248 - Release Date: 28/01/2008 
21:32


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke