ASPEK SIMBOLIS PADA PELUNCURAN TVONE
 
Peluncuran TVOne pada persis “Hari Valentine”, 14 Februari 2008, mendapat 
perhatian khusus di kalangan para praktisi media TV. Stasiun TV yang merupakan 
“metamorfosis” dari Lativi ini merekrut banyak praktisi media dari stasiun TV 
lain, terutama dari Trans TV. Tak heran, jika banyak crew News Trans TV yang 
mengamati acara peluncuran itu lewat monitor di kantor Trans TV. Saya termasuk 
di antaranya. 
 
Sekilas, acara peluncuran itu secara teknis berlangsung lancar. Namun, masalah 
yang lebih besar justru bukan di soal teknis. Saya merasa kecewa dan amat 
menyesalkan, ketika acara peluncuran TVOne sampai ke tayangan “wawancara” 
Presiden SBY oleh Pemred Karni Ilyas dan presenter Tina Talisa. 
 
“Wawancara” dengan Presiden SBY, yang bersifat eksklusif dan disiarkan langsung 
dari istana, ini semula dirancang sebagai credit point, bahwa TVOne berhasil 
melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan stasiun TV lain. 
 
Namun, bagi yang sempat menonton acara itu, mungkin bisa mengingat format acara 
itu, di mana SBY duduk di tengah, seperti satu figur sentral. Dia menjadi fokus 
atau pusat dari komposisi semua sosok yang hadir di layar. Di sebelah kiri, ada 
Karni dengan postur tubuh agak membungkuk (mungkin ini memang sosok fisik 
Karni). Di sebelah kanan, ada Tina Talisa. Keduanya menghadap ke SBY.  
 
Kalau kita perhatikan isi pembicaraan mereka, maka sebutan “wawancara” mungkin 
tidak tepat. Menurut saya, istilah yang lebih tepat justru “melapor”. Karni 
selaku Pemred seperti melapor ke SBY tentang apa dan bagaimana TVOne. 
Program-program apa saja yang menjadi andalan TVOne, dan sebagainya. 
 
Karni bahkan meminta pandangan SBY tentang tayangan-tayangan TV tertentu, yang 
memberi kesempatan pada SBY untuk memberi “petunjuk,” “arahan,” dan “nasehat,” 
tentang bagaimana seharusnya program TV dikemas. Namun, Karni dan Tina tidak 
bertanya, misalnya, mengapa SBY tidak hadir di sidang DPR untuk menjawab 
pertanyaan tentang kasus BLBI, atau hal-hal lain yang menjadi kepedulian 
publik. 
 
Jika tujuannya cuma wawancara (dalam arti sebenarnya), sesungguhnya kehadiran 
Karni tidak perlu di sana. Cukup Tina saja sebagai reporter/presenter. Format 
gambar bisa menampilkan SBY dan Tina duduk secara sejajar. Ini secara simbolis 
menunjukkan, antara media dan penguasa ada jarak tertentu, ada independensi, 
dan kesetaraan. Atau, jika toh Tina dianggap belum mampu atau terlalu yunior 
untuk mewawancarai seorang Presiden, Karni bisa hadir sendiri dalam posisi 
sebagai Pemred/jurnalis, yang mewawancarai seorang narasumber (SBY). Tetapi, 
tetap dalam posisi kesejajaran, tidak satu mendominasi yang lain.
 
Dalam kasus peluncuran TVOne, hal ini tidak terjadi. Kesan yang saya peroleh, 
yang terjadi adalah pimpinan redaksi TVOne, dengan didampingi salah seorang 
reporter/presenter, melakukan audiensi, menghadap, meminta arahan, dan 
petunjuk, dari penguasa tertinggi (Presiden). Fakta bahwa pimpinan redaksi 
datang atas kemauan dan inisiatifnya sendiri ke istana, sebagai simbol 
kekuasaan/penguasa, juga memiliki makna simbolis tersendiri.
 
Ketika peluncuran Metro TV tahun 2001, ada juga kehadiran Presiden Abdurrahman 
Wahid yang memberi sambutan. Bedanya dengan kasus TVOne, waktu itu, Presiden 
Abdurrahman Wahid diundang datang ke stasiun/studio Metro TV. Maka status 
Presiden adalah tamu yang diundang, sama seperti puluhan tamu kehormatan lain, 
yang juga diundang untuk melihat peluncuran Metro TV. Jadi, bukan pimpinan 
Metro TV yang datang ke istana. Ini berbeda dengan kasus TVOne.  
 
Ini sekadar pandangan saya, sebagai praktisi media dan akademisi yang concern 
dengan independensi media. Terutama, dalam fungsi media untuk menjalankan 
kontrol sosial, termasuk kontrol terhadap kekuasaan dan penguasa. Ini adalah 
isu-isu yang sepatutnya menjadi keprihatinan kita bersama.
 
Satrio Arismunandar
Jurnalis dan dosen jurnalistik    

  



      
____________________________________________________________________________________
Looking for last minute shopping deals?  
Find them fast with Yahoo! Search.  
http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?category=shopping

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke