Kita lihat saja bung. Baru juga nungul..
Kita lihat seperti apa bayi reborn ini tumbuh dan berkembang?

Kalau TVONE lebih bagus, lebih netral, dan lebih berimbang
dari Trans, saya lihat TV ONE. 

Omong-omong, banyak yang exodus ya?

Pastinya TVONE harus lebih maju dari sebelumnya --LATIVI. Dulu kan dia
terkenal dengan program2 dan film standar, juga acara malam yang nggak
bermutu itu. Eh sekarang TPI juga. MNC kacau.

Bung Satrio masih jadi produser "Jika Aku Menjadi"..?
Acara itu oke bung. Saya agak trenyuh juga waktu itu lihat yang
episode bapak dibelikan kaki palsu.

Selamat me-rajawali deh..

Salam!

http://refanidea.wordpress.com


--- In [email protected], Satrio Arismunandar
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> ASPEK SIMBOLIS PADA PELUNCURAN TVONE
>  
> Peluncuran TVOne pada persis "Hari Valentine", 14 Februari 2008,
mendapat perhatian khusus di kalangan para praktisi media TV. Stasiun
TV yang merupakan "metamorfosis" dari Lativi ini merekrut banyak
praktisi media dari stasiun TV lain, terutama dari Trans TV. Tak
heran, jika banyak crew News Trans TV yang mengamati acara peluncuran
itu lewat monitor di kantor Trans TV. Saya termasuk di antaranya. 
>  
> Sekilas, acara peluncuran itu secara teknis berlangsung lancar.
Namun, masalah yang lebih besar justru bukan di soal teknis. Saya
merasa kecewa dan amat menyesalkan, ketika acara peluncuran TVOne
sampai ke tayangan "wawancara" Presiden SBY oleh Pemred Karni Ilyas
dan presenter Tina Talisa. 
>  
> "Wawancara" dengan Presiden SBY, yang bersifat eksklusif dan
disiarkan langsung dari istana, ini semula dirancang sebagai credit
point, bahwa TVOne berhasil melakukan sesuatu yang belum pernah
dilakukan stasiun TV lain. 
>  
> Namun, bagi yang sempat menonton acara itu, mungkin bisa mengingat
format acara itu, di mana SBY duduk di tengah, seperti satu figur
sentral. Dia menjadi fokus atau pusat dari komposisi semua sosok yang
hadir di layar. Di sebelah kiri, ada Karni dengan postur tubuh agak
membungkuk (mungkin ini memang sosok fisik Karni). Di sebelah kanan,
ada Tina Talisa. Keduanya menghadap ke SBY.  
>  
> Kalau kita perhatikan isi pembicaraan mereka, maka sebutan
"wawancara" mungkin tidak tepat. Menurut saya, istilah yang lebih
tepat justru "melapor". Karni selaku Pemred seperti melapor ke SBY
tentang apa dan bagaimana TVOne. Program-program apa saja yang menjadi
andalan TVOne, dan sebagainya. 
>  
> Karni bahkan meminta pandangan SBY tentang tayangan-tayangan TV
tertentu, yang memberi kesempatan pada SBY untuk memberi "petunjuk,"
"arahan," dan "nasehat," tentang bagaimana seharusnya program TV
dikemas. Namun, Karni dan Tina tidak bertanya, misalnya, mengapa SBY
tidak hadir di sidang DPR untuk menjawab pertanyaan tentang kasus
BLBI, atau hal-hal lain yang menjadi kepedulian publik. 
>  
> Jika tujuannya cuma wawancara (dalam arti sebenarnya), sesungguhnya
kehadiran Karni tidak perlu di sana. Cukup Tina saja sebagai
reporter/presenter. Format gambar bisa menampilkan SBY dan Tina duduk
secara sejajar. Ini secara simbolis menunjukkan, antara media dan
penguasa ada jarak tertentu, ada independensi, dan kesetaraan. Atau,
jika toh Tina dianggap belum mampu atau terlalu yunior untuk
mewawancarai seorang Presiden, Karni bisa hadir sendiri dalam posisi
sebagai Pemred/jurnalis, yang mewawancarai seorang narasumber (SBY).
Tetapi, tetap dalam posisi kesejajaran, tidak satu mendominasi yang lain.
>  
> Dalam kasus peluncuran TVOne, hal ini tidak terjadi. Kesan yang saya
peroleh, yang terjadi adalah pimpinan redaksi TVOne, dengan didampingi
salah seorang reporter/presenter, melakukan audiensi, menghadap,
meminta arahan, dan petunjuk, dari penguasa tertinggi (Presiden).
Fakta bahwa pimpinan redaksi datang atas kemauan dan inisiatifnya
sendiri ke istana, sebagai simbol kekuasaan/penguasa, juga memiliki
makna simbolis tersendiri.
>  
> Ketika peluncuran Metro TV tahun 2001, ada juga kehadiran Presiden
Abdurrahman Wahid yang memberi sambutan. Bedanya dengan kasus TVOne,
waktu itu, Presiden Abdurrahman Wahid diundang datang ke
stasiun/studio Metro TV. Maka status Presiden adalah tamu yang
diundang, sama seperti puluhan tamu kehormatan lain, yang juga
diundang untuk melihat peluncuran Metro TV. Jadi, bukan pimpinan Metro
TV yang datang ke istana. Ini berbeda dengan kasus TVOne.  
>  
> Ini sekadar pandangan saya, sebagai praktisi media dan akademisi
yang concern dengan independensi media. Terutama, dalam fungsi media
untuk menjalankan kontrol sosial, termasuk kontrol terhadap kekuasaan
dan penguasa. Ini adalah isu-isu yang sepatutnya menjadi keprihatinan
kita bersama.
>  
> Satrio Arismunandar
> Jurnalis dan dosen jurnalistik    
> 
>   
> 
> 
> 
>      
____________________________________________________________________________________
> Looking for last minute shopping deals?  
> Find them fast with Yahoo! Search. 
http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?category=shopping
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke