hehe..masa' cendekiawan yg tersohor ntu jarang bc alquran siy, pantesan
tulisannye ngawur aje ye
susah dah, congor asal njeplak tp kaga ade isinye
Antara Abraham dan Nabi Ibrahim as.
oleh: AKMAL
assalaamualaikum wr. wb.
Pada
tanggal 25 Nopember 2007 malam, JakTV menyiarkan sebuah film tentang
Abraham, seorang tokoh yang sangat dikenal baik oleh umat Nasrani dan
Yahudi di seluruh dunia. Karakter ini merujuk
pada Nabi Ibrahim as. yang juga dikenal baik oleh umat Islam, meskipun
dengan berbagai perbedaan yang cukup mendasar. Karena
adanya perbedaan-perbedaan itulah saya tertarik untuk menonton film
tersebut, meski dengan sisa-sisa tenaga akibat kurang tidur selama dua
hari terakhir.
Tokoh
agung yang satu ini memang sangat perlu dibahas, mengingat belum lama
ini ditemukan sebuah istilah yang beredar di masyarakat, yaitu Abrahamic
faiths, yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti agama-agama
Ibrahim. Istilah ini merujuk pada agama Islam, Nasrani, dan Yahudi. Istilah
ini juga belum lama ini digunakan oleh Azyumardi Azra dalam kolom
Resonansi di surat kabar Republika, yang memunculkan tanggapan yang
cukup keras dari seorang ulama spesialis ghazwul fikri, yaitu Adian Husaini.
Masalah
terbesar adalah ketika kita harus (atau lebih tepatnya : diarahkan dan
dipaksa) untuk mengakui bahwa Nabi Ibrahim as. adalah nenek moyang dari
tiga agama. Tindakan memfitnah Nabi Ibrahim
as. sebagai penganut agama Yahudi dan Nasrani sudah dikecam sejak
jauh-jauh hari, dan seseorang yang sudah terlanjur dicap sebagai
cendekiawan Muslim seperi Azyumardi Azra seharusnya sudah membaca
peringatan keras seperti di bawah ini :
Ataukah
kamu mengatakan bahwa Ibrahim, Ismaiil, Ishaq, Yaqub dan anak cucunya
adalah penganut agama Yahudi atau Nasrani? Katakanlah : Apakah kamu
lebih mengetahui ataukah Allah, dan siapakah yang lebih zalim dari pada
orang yang menyembunyikan persaksian dari Allah yang ada padanya? Dan Allah
sekali-kali tiada lengah dari apa yang kamu kerjakan.
(Q.S. Al-Baqarah [2] : 140)
Persaksian
dari Allah pada ayat di atas, menurut terjemahan versi Depag, adalah
keterangan yang terdapat dalam Injil dan Taurat. Tepat lima ayat sebelumnya,
yaitu di ayat ke-135 dalam surah yang sama, kita diperintahkan untuk mengikuti
agama Nabi Ibrahim as., bukan Nasrani ataupun Yahudi. Semestinya dua ayat ini
saja sudah dengan jelas menunjukkan kepada kita bahwa ketiga agama ini tidaklah
sama.
Bagi
saya, tidak ada masalah bagaimana umat lain memahami kisah Nabi Ibrahim
as., atau bagaimana kisah tersebut diceritakan dalam kitab sucinya
masing-masing. Yang perlu dipahami adalah bahwa
kisah Nabi Ibrahim as. dalam Al-Quran sangat berbeda dengan yang
digambarkan dalam film semalam. Menjelang Idul Adha, kisah Nabi Ibrahim as.
banyak diceritakan, terutama dalam episode penyembelihan Ismail as..
Sayangnya,
JakTV tidak memberikan penjelasan bahwa film yang ditayangkannya
memiliki perbedaan-perbedaan yang sangat serius dengan konsep Islam. Kalau
kita tidak berhati-hati, maka bisa jadi umat Islam yang masih awam
dengan agamanya sendiri, terutama anak-anak, akan mengalami kebingungan
dalam memahami kisah Nabi Ibrahim as. Karena
itu, adalah merupakan sebuah kewajiban moral yang saya bebankan pada
diri saya sebagai penulis untuk menceritakan sebagian kisah Nabi
Ibrahim as. dengan menggarisbawahi titik-titik perbedaan mencolok
dengan film In The Beginning semalam. Untuk
membedakan, saya akan menggunakan nama Abraham ketika membicarakan
tokoh dalam film, sedangkan Nabi Ibrahim as. hanya akan saya gunakan
untuk menjelaskan kisah sebenarnya sebagaimana dijelaskan di dalam
Al-Quran.
Dikisahkan, Abraham sedang menceritakan asal-usul peradaban umat manusia kepada
para pengikutnya. Mereka duduk mendengarkan, sedangkan pemimpinnya sedang
bercerita dengan penuh penghayatan. Yang dikisahkan pertama sekali adalah
tentang penciptaan langit dan bumi. Konon, alam semesta dan manusia pertama
diciptakan dalam enam hari, sedangkan hari ketujuh digunakan Tuhan untuk
beristirahat.
Ini adalah perbedaan yang sangat serius dalam masalah aqidah. Semua
yang memeluk agama Islam, tidak boleh tidak, harus menolak pendapat
yang mengatakan bahwa Allah SWT perlu beristirahat setelah menciptakan
alam semesta. Lelah adalah sifat yang sangat
tidak tepat untuk disandangkan kepada Allah, karena ia menunjukkan
kelemahan yang sangat manusiawi. Padahal, Sang Khaliq tentu berbeda dengan
makhluk-makhluk-Nya.
Selanjutnya,
sebagaimana dikisahkan oleh Abraham, Tuhan menciptakan Taman Eden di
bumi untuk Adam dan teman satu-satunya sesama manusia, yaitu Hawa (Eve).
Mereka hidup bahagia di sana, sampai suatu ketika Hawa terperdaya oleh hasutan
seekor ular. Ular itu mengajak Hawa untuk memakan buah yang telah dinyatakan
terlarang oleh Tuhan. Hawa tergoda, kemudian mengajak Adam untuk ikut serta
dalam perbuatan terlarangnya itu. Akhirnya
Tuhan pun mengusir keduanya (dengan bantuan badai dan petir) dari Taman
Eden, dan sang ular pun dikutuk untuk berjalan dengan perutnya untuk
selama-lamanya dan mengembara di tempat-tempat yang buruk.
Menurut
Al-Quran, Adam as. dan Hawa dibiarkan tinggal di surga dengan satu
perintah untuk menjauhi sejenis pohon yang terlarang. Tidak ada ular di sana,
hanya ada Iblis yang sejak awal sudah dengki pada Adam as. Iblis
kemudian menipu Adam dan Hawa, sehingga mereka melakukan perbuatan yang
dilarang oleh Allah SWT, dan kemudian Allah pun murka pada keduanya. Al-Quran
sama sekali tidak menyinggung siapa yang duluan melakukan perbuatan
terlarang, namun dijelaskan bahwa Adam as.-lah yang memohon ampun
kepada Allah atas perbuatan keduanya. Mereka pun diusir dari surga dan
dipindahkan ke Bumi.
Di
kemudian hari, ketika Abraham dan istrinya (Sarah) sudah mulai lanjut
usia, mereka berdua bersedih hati karena belum juga dikaruniai
keturunan. Tuhan berbicara kepada Abraham, menjanjikan seorang putra yang akan
diberikan kepadanya. Merasa
bahwa dirinya takkan mampu memberi Abraham seorang anak, Sarah memaksa
suaminya untuk menikah lagi dengan seorang budaknya, yaitu Hajar
(Hagar). Pada awalnya Abraham menolak habis-habisan ide tersebut, tapi Sarah
berhasil meyakinkannya. Dalam
film, dijelaskan bahwa Abraham hanya mencintai satu perempuan saja,
yaitu Sarah, namun Sarah bersikeras agar jangan sampai dirinya menjadi
penghalang bagi terwujudnya janji Tuhan.
Nabi Ibrahim as. memang memiliki dua orang istri. Yang satu kelak melahirkan
Ishaq as., sedangkan yang satunya lagi melahirkan Ismail as. Akan
tetapi, Al-Quran tidak pernah memberi kesan bahwa Nabi Ibrahim as.
adalah seorang lelaki yang anti-poligami sehingga harus dipaksa-paksa
oleh Sarah untuk menikahi Hajar. Di sisi lain,
cara Sarah membujuk Abraham dalam film itu sangat aneh, karena sebagai
istri seorang Nabi yang mulia, ia seharusnya tahu bahwa dirinya atau
siapa pun juga takkan mampu menghalangi rencana Tuhan. Al-Quran tidak
pernah menjelaskan tentang blunder sehebat ini dalam keluarga Nabi Ibrahim
as. Di
sisi lain, perlu diingat pula bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani
seringkali mengungkit-ungkit kisah tentang masa lalu Hajar sebagai
seorang budak hanya untuk merendahkan keturunannya. Dengan
demikian, kaum Bani Israil sebagai keturunan Nabi Ishaq as. merasa
lebih tinggi derajatnya daripada bangsa Arab yang berasal dari
keturunan Nabi Ismail as. Kesombongan inilah yang menyebabkan Bani Israil
susah sekali menerima dakwah Rasulullah saw. Mereka hanya dengki karena Nabi
yang dijanjikan ternyata tidak berasal dari kalangan mereka sendiri.
Perkembangan
berikutnya, karena kedua istri Abraham tidak akur, maka Abraham pun
menyuruh pergi Hajar dengan membawa serta Ishmael. Hajar marah-marah karena
Abraham menelantarkannya, namun ia tetap membiarkannya pergi.
Kisah
ini bertentangan dengan Al-Quran yang menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim
as. mengantarkan anak dan istrinya sampai ke lembah tandus yang kini
bernama Mekkah, dan tidak menelantarkannya. Hajar pun tidak pernah dikisahkan
marah-marah kepada Nabi Ibrahim as., apalagi sampai membentak-bentaknya seperti
dalam film. Terakhir, Nabi Ibrahim as. mendoakan anak dan istrinya sebelum ia
meninggalkannya di lembah tersebut.
Peristiwa disembelihnya Isaac juga perlu menjadi sorotan. Dalam film, Tuhan
memerintahkan Abraham untuk mengorbankan Isaac. Isaac kemudian dibaringkan di
atas batu, kemudian Abraham mengambil sebilah pisau untuk menyelesaikan
tugasnya. Ayah
dan anak itu kemudian saling bertukar pandang, dengan mata yang
sama-sama memancarkan perasaan takut, sedih, gusar, bercampur menjadi
satu.
Umat Islam percaya bahwa yang diperintahkan untuk disembelih adalah Nabi
Ismail as., dan bukan Nabi Ishaq as. Perbedaan
sikap antara Isaac (karakter dalam film) dengan Nabi Ismail as. (dalam
Al-Quran) sangat mencolok, karena justru Ismail as.-lah yang
menguatkan hati ayahnya untuk melaksanakan apa pun yang Allah SWT
perintahkan padanya. Bahkan Ismail as. meminta
sang ayah agar tidak ragu-ragu dalam menjalankan tugasnya, dan jangan
sampai kasih sayangnya sebagai seorang ayah membuatnya ragu pada
kebaikan Allah.
Masa
lalu Hajar sebagai budak, terusirnya Hajar dan Ishmael, dan
pengorbanan Isaac, ketiganya juga sering dijadikan argumen bagi Bani
Israil untuk mendiskreditkan umat Islam. Dengan
bersandar pada tiga kisah ini, mereka berkesimpulan bahwa Bani Israil
berasal dari orang yang terpilih dan memiliki darah yang mulia, berbeda
dengan Rasulullah saw.. yang berasal dari keturunan seorang budak.
Sampai
di sini, karena kelelahan akibat kuliah seharian dan nyaris tak tidur
selama dua hari berturut-turut, saya tidak menyaksikan kelanjutan film
itu. Bagaimana pun, saya yakin kisahnya takkan sama dengan yang diceritakan
oleh Al-Quran. Barangkali umat Islam, Yahudi dan Nasrani sama-sama merujuk
pada tokoh yang sama, namun dengan konsep yang sangat berbeda. Ini
sama seperti anak kecil yang menganggap tugas-tugas sekolah sebagai hal
yang merampas masa mudanya, sementara orang tuanya justru menganggap
hal itu sebagai hal yang akan menjamin hidupnya kelak. Perbedaan konsep antara
ketiga agama itu sangat jelas. Dalam
Islam, mengatakan bahwa Allah SWT perlu istirahat adalah suatu
perbuatan yang sangat terkutuk, sementara Yahudi dan Nasrani tidak
berpendapat demikian. Islam tak pernah
menyandarkan sifat buruk kepada Nabi Ibrahim as., misalnya sifat
seorang lelaki tak bertanggung jawab yang mengusir anak istrinya ke
negeri yang jauh. Di sisi lain, umat Yahudi dan Nasrani mungkin memiliki
konsep yang berbeda tentang Nabi-Nabinya.
Dan yang jelas, dalam Islam, hanya ada satu Abrahamic faith, yaitu Islam.
Orang lain boleh tidak setuju, dan memang tak ada urgensinya sama sekali untuk
memaksa umat Non-Muslim sepakat dalam hal ini. Setidaknya,
janganlah kaum 'cendekiawan' membuat kecerobohan di muka publik hanya
lantaran jarang membaca Al-Quran. Kalau ini dibiarkan terus-menerus,
bisa dibayangkan betapa rusaknya keadaan umat ini.
wassalaamualaikum wr.. wb.
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/