Saudaraku, sampai kapan anda terus-terusan mencaci dan menuding orang-orang
yang berbeda pandangan denganmu? Aku sudah ingatkan, silahkan saja anda
bantah jika anda tidak setuju dengan saudara-saudara muslim yang berhaluan
liberal namun gunakan cara-cara yang baik. Atau mungkin anda sudah sangat
sulit untuk diingatkan? 

 

Apa yang anda kutip pun belum tentu benar. Bahkan dalam hal kecil dan sangat
teknis, tidak perlu melakukan bantahan dalam hal argumentasi dan substansi
dari tulisan tersebut. Saya ambil contoh, apa yang ditulis akmal yang sering
anda kutip/kirimkan tulisannya ke sini:   

 

"Lebih jauh, para penulis buku Fiqih Lintas Agama bahkan pernah menghujat
Imam Syafii sebagai penyebab kebekuan dalam ilmu fiqih masa kini. Padahal,
umat Islam menghormati Imam Syafii sedemikian rupa
tidak lain hanyalah karena ilmunya yang mendalam dan sangat
bermanfaat"

 

Paragraf itu, para penulis buku Fiqih Lintas Agama, dimana akmal menggunakan
kata Para Penulis, ada baiknya sebelum anda forward tulisan akmal tersebut
anda baca dulu buku Fiqih Lintas Agama. 

 

Pertama, Betul tidak disana Para penulis atau cuma seorang penulis saja yang
membahas metodologi Imam Syafe'i? Kalau Cuma seorang bagaimana sampai
digenelarisasi dengan kalimat para penulis? 

 

Kedua, betul tidak disana ada hujatan terhadap Imam syafe'i? Atau yang ada
kritik metodologi? 

 

2 hal ini kan berkaitan dengan teknis, apakah akmal dan anda sudah membaca
buku tersebut? Yang kedua apakah akmal punya persoalan dalam memahami teks
jika ternyata yang ada kritik bukan hujatan.

 

Jika ternyata setelah anda baca, ternyata Cuma seorang penulis yang membahas
metodologi imam syafe'i apakah yang dilakukan akmal bukan fitnah dengan
mengatakan para penulis?

 

Jika ternyata, setelah anda baca, ternyata yang dilakukan penulis tersebut
kritik terhadap metodologi imam syafe'i, bukan menghujat imam syafe'i, juga
apakah itu bukan fitnah?

 

Apakah anda akan ittiba (ikut) pandangan seseorang yang ternyata suka
memfitnah? Apakah fitnah tidak bertentangan dengan Al-quran dan sunnah
sebagaimana anda katakan anda tidak akan mengikuti pandangan orang yang
bertentangan dengan alquran dan sunnah?

 

Itu baru soal kecil, soal teknis membaca saja. Belum masuk pada substansi
pemikiran hamka, abu zaid atau an'na'im dll yang sering disebut-sebut
anda/akmal. 

 

Begitu saudaraku...

 

Salam,

Asnawi Ihsan

 

  _____  

From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf
Of si pitung
Sent: 24 Juni 2008 14:20
To: [email protected]
Subject: [ppiindia] Pernak-Pernik Perdebatan Tentang Buya Hamka (Bag. 3)

 

orang liberal emang hobi nyatut hehe..orangnye siy itu2 aje, dah ktauan dah
congornye

Pernak-Pernik Perdebatan Tentang Buya Hamka (Bag. 3)
oleh: AKMAL

assalaamu'alaikum wr. wb.

Perdebatan
tentang Buya Hamka, atau lebih tepatnya kasus pencatutan nama Buya
Hamka oleh kader-kader pluralis, sebenarnya bisa memberikan efek
bumerang pada para pengusung pluralisme itu sendiri. Biasanya, antara
pluralisme dan hermeneutika itu setali tiga uang. Dengan kata lain :
orangnya yang itu-itu juga. 
Kasus pencatutan nama Buya Hamka ini menunjukkan betapa tidak
konsistennya para pengusung hermeneutika dengan ajaran hermeneutika itu
sendiri.
Mereka yang memuja hermeneutika
biasanya menggambarkan ilmu tersebut sebagai bentuk penafsiran yang
paling komprehensif. Sederhananya, menurut hermeneutika, sebuah teks
harus diselidiki berdasarkan latar belakang penulisnya. Kekacauan
terjadi ketika mereka 'memaksakan diri' untuk menerapkan hermeneutika
pada Al-Qur'an. Padahal, telah kita yakini bersama bahwa Al-Qur'an
adalah wahyu Allah SWT, bukan karangan Nabi Muhammad saw., bukan pula
hasil kongkalikong Khalifah Utsman bin 'Affan ra. Dengan
menggunakan hermeneutika, maka semua ajaran Al-Qur'an dianggap relatif
sesuai jamannya. Ini sama saja dengan mengatakan bahwa seluruh (atau
sebagian) Al-Qur'an sudah usang dan tak bisa dipakai lagi.
Karena
hermeneutika, muncullah teori-teori 'liar'. Imam Syafii, misalnya,
dikenal sebagai ulama besar yang meletakkan dasar-dasar ushul fiqih yang
masih terpakai hingga sekarang. Di bawah 'tirani' hermeneutika,
Nasr Hamid Abu Zayd malah berkesimpulan bahwa Imam Syafii tidak lain
adalah ideolog Quraisy yang berusaha melestarikan hegemoni bangsanya
sendiri (yaitu klan Quraisy). Lebih jauh, para penulis buku Fiqih Lintas
Agama bahkan pernah menghujat Imam Syafii sebagai penyebab kebekuan dalam
ilmu fiqih masa kini. Padahal, umat Islam menghormati Imam Syafii sedemikian
rupa
tidak lain hanyalah karena ilmunya yang mendalam dan sangat
bermanfaat. Jika tak ada yang merevisi pemikiran Imam Syafii, itu
bukan karena adanya hegemoni Quraisy atau kesepakatan tak tertulis
untuk taqlid pada beliau, melainkan karena memang pemikiran
beliau sudah maju beberapa abad dari jamannya, dan kebetulan belum ada
yang merevisinya. Sebaliknya, Nasr Hamid Abu Zayd dan para penulis
buku Fiqih Lintas Agama sama sekali tidak menawarkan pola pikir yang
sebanding dengan warisan Imam Syafii.
Hermeneutika
adalah ilmu liar yang bisa seenaknya membentuk teori. Dalam
teori-teori Nasr Hamid Abu Zayd, setiap ulama digambarkan seolah-olah
memiliki agenda politik tersembunyi. Ironisnya, tak pernah ada di
antara pengikut hermeneutika yang membedah agenda politik di balik
teori-teori Nasr Hamid Abu Zayd. Itulah sebabnya para pengusung
hermeneutika sering disebut hipokrit oleh para cendekiawan Muslim.
Inkonsistensi
para pengusung hermeneutika terlihat jelas dalam kasus pencatutan nama
Buya Hamka. Mereka yang sering mencela 'tafsir literalis' ternyata
justru terjebak dalam lubang yang sama. Mereka hanya melakukan copy-paste
atas tulisan-tulisan Buya Hamka, kemudian menarik kesimpulan
berdasarkan pembacaan sekilas saja. Hal ini justru lebih memalukan
daripada 'tafsir literalis' terhadap ayat-ayat Al-Qur'an. Al-Qur'an
adalah bacaan sempurna yang berasal dari Kalam Allah SWT, sedangkan
Hamka hanyalah seorang manusia yang bisa salah dalam berkata-kata. 
Oleh karena itu, pembacaan literalis terhadap ayat-ayat Al-Qur'an masih
lebih cerdas daripada pembacaan literalis terhadap penafsiran Buya
Hamka.
Lebih parahnya lagi, kutipan-kutipan yang
mereka cantumkan justru memberikan gambaran yang sangat timpang. 
Mengenai hal ini sudah dibahas dalam artikel Pernak-Pernik Perdebatan
Tentang Buya Hamka (Bag. 1). Secara akademis, hal ini sangat memalukan,
apalagi dilakukan oleh seorang cendekiawan sekelas Ahmad Syafii Maarif.
Artikel Pernak-Pernik Perdebatan Tentang Buya Hamka (Bag. 2) menunjukkan
bahwa prinsip hermeneutika memang sama sekali tidak
digunakan oleh para pencatut dari kalangan pluralis. Mereka mengambil
sebagian penjelasan Buya Hamka, namun tidak menggunakan definisi yang
sama. Misalnya, mereka ambil penjelasan bahwa orang-orang Yahudi,
Nasrani dan Shabi'in juga bisa masuk surga, tapi lalai mengutip
penjelasan Hamka tentang ketiga nama agama tersebut. Sudah barang
tentu hasilnya sangat rancu. Mereka sama sekali tidak berusaha
mendekati pemikiran Buya Hamka, melainkan hanya sekedar copy-paste dan
menggunakan penafsiran liarnya sendiri.
Kasus
ini menunjukkan kepada kita bahwa hermeneutika adalah sebuah disiplin
ilmu yang sangat rapuh. Bahkan para pengusungnya pun tidak konsisten
dalam menggunakannya. Mereka terbiasa menggunakannya jika merasa
diuntungkan saja, kemudian meninggalkannya begitu saja dalam situasi
yang lain. Ayat-ayat Allah hendak mereka relatifkan sesuai tempat dan
jaman, sedangkan kata-kata manusia justru mereka telan bulat-bulat.
wassalaamu'alaikum wr. wb.

[Non-text portions of this message have been removed]

 



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke